Di selamatkan oleh iblis saat nyaris di lecehkan oleh para bandit, seorang gadis kini harus menghadapi kenyataan kelam. ia bebas dari ancaman manusia, namun kini takdirnya terikat pada penghuni neraka. kontrak telah di tandatangani, dan meski iblis itu menjadi pelindungnya, harga yang harus di bayar jauh lebih besar dari sekedar nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewaC1nta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. Lembah Seribu Bunga (bagian pertama)
Su Ying dan Guan Xian akhirnya sampai di tempat persembunyian rahasia keluarga Guan. Sebuah lembah yang terkurung oleh gunung-gunung tinggi, seolah sengaja di sembunyikan oleh langit dari pandangan dunia yang rakus.
Jalan masuknya hanyalah mulut goa sempit yang nyaris tenggelam oleh tumbuhan liar yang merambat. Namun,begitu melangkah ke dalam, udara dingin yang menyesakkan di luar seolah tertinggal di belakang.
Suasana di dalamnya jauh berbeda. Begitu mereka keluar dari lorong goa yang gelap, sebuah pemandangan indah terbentang, seolah mereka baru saja melintasi gerbang menuju bumi yang lain. Jalan setapak di bawah kaki mereka di penuhi bunga-bunga yang berbeda, menebarkan aroma yang mampu menenangkan hati yang paling gelisah sekalipun. Di tempat ini, waktu seakan berhenti berputar.
Guan Xian berhenti melangkah. ia menatap hamparan lembah itu dengan binar mata yang belum pernah di lihat Su Ying sebelumnya. Sikapnya yang semula dingin, kaku dan penuh kewaspadaan, tiba-tiba runtuh begitu saja. Ia berubah menjadi sosok yang periang, seolah beban berat di pundaknya menguap terbawa angin lembah.
"Lihatlah tempat ini, Su Ying! Ini seperti surga" serunya.
Suaranya yang lepas menggema di lembah itu, memantul di antara tebing-tebing tinggi yang mengepung mereka. Untuk sejenak, ia bukan lagi seorang pengawal yang di utus ayahnya untuk menyelamatkan Su Ying, melainkan seorang gadis yang telah lama merindukan rumah.
Su Ying menatapnya dengan senyum tipis yang getir. tempat ini memang indah, sebuah pelabuhan tenang yang seolah mampu menjanjikan keamanan. Namun, kisah memilukan yang terjadi beberapa waktu lalu masih menghantui perasaannya seperti kabut yang enggan pergi. Ia hanya bisa terpaku diam, menatap Guan Xian yang tampak begitu lepas dan bahagia di depannya.
Guan Xian menoleh ke arah Su Ying. Tawa ringannya perlahan mereda saat ia menangkap ekspresi yang terpancar dari wajah wanita itu. Ia tahu, luka di hati seringkali lebih sulit sembuh dari pada luka di kulit.
"Jangan sedih," ucap Guan Xian dengan nada lembut, namun mantap. "Di tempat ini kamu akan aman dari mereka. Tidak ada seorangpun yang bisa menemukan tempat rahasia ini. Bahkan Dewa pun harus tersesat sebelum bisa menginjakkan kaki di lembah ini."
Su Ying menghela napas panjang, membiarkan angin lembah memainkan ujung rambutnya yang halus. Ia hanya mengangguk pelan tanpa menjawab.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan sekejap.
Tiba-tiba, sebuah suara tawa menggelegar memecah keheningan dari atas kepala mereka, di susul oleh kata-kata yang penuh ejekan tajam.
"Hahahaha... Apakah kau sedang membacakan sebuah dongeng, gadis ingusan?"
Sosok itu melompat dari dahan pohon yang tinggi. Gerakannya begitu ringan seolah-olah ia tidak memiliki berat badan, meluncur perlahan di udara sebelum akhirnya mendarat dengan anggun tepat di hadapan Guan Xian.
Dia adalah Zhao Yun. Sang iblis yang terikat kontrak gelap dengan Su Ying. Sosok yang kehadirannya selalu membawa aroma maut kemana pun ia pergi.
Guan Xian tersentak, tangannya secara insting bergerak ke hulu pedangnya. Namun, tekanan udara di sekitar Zhao Yun begitu berat, membuat gerakan Guan Xian terasa lambat dan sulit.
"Siapa kau?!" tuntut Guan Xian. "Bagaimana kau bisa menerobos masuk ke lembah ini?"
Zhao Yun tidak langsung menjawab. Ia hanya tertawa kecil sambil berbalik perlahan membelakangi Guan Xian, seolah menganggap serangan wanita itu bukan sebuah ancaman yang berarti. Dengan gerakan yang sangat elegan, ia mengeluarkan sebilah kipas dari balik lengan bajunya.
"srak"
Kipas itu terbuka dengan satu sentakan pergelangan tangan. Zhao Yun mengipasi dirinya santai di tengah lembah yang dingin itu.
"Siapa aku?" jawab Zhou Yun. Matanya yang tajam kini melirik ke arah Su Ying yang masih berdiri membeku. "Kamu tanya saja pada gadis di sampingmu," lanjutnya dingin
Zhao Yun melangkah maju mendekati Guan Xian. Di wajahnya tergambar senyum kecil yang tidak bisa di artikan dengan kata-kata, sebuah senyum yang hanya di miliki oleh predator saat melihat mangsa yang terpojok.
"Kamu telah mencuri mangsaku" katanya lagi. Suaranya pelan, namun memiliki nada yang bergetar seperti suara petir di kejauhan; berat mengancam, dan penuh dengan aura kematian.
...****************...