Arully Beena sosok seorang gadis yang dilahirkan tanpa ayah. Ibunya korban kebejatan seorang laki-laki yang tidak mau bertanggung jawab. Dia lahir dengan perekonomian yang begitu sulit sehingga ia terjebak dalam kelompok anak-anak punk di kotanya.
Bagaimana Beena bisa melewati kehidupan yang begitu keras sampai ia bisa menemukan jati dirinya melalui pertemuannya dengan sosok bocah cilik yang membawanya berhijrah dengan tulus.
Bagaimana pula kisah percintaannya dengan seorang laki-laki yang begitu sempurna di matanya dengan menikah paksa karena terjebak oleh situasi.
"Anggap pernikahan kita semalam tak pernah ada. Aku tidak pantas menjadi istrimu. Aku hanya gadis punk yang hanya singgah tanpa rencana. Terima kasih sudah menolongku." Arully Beena.
Ikuti kisahnya sampai selesai ya!
Tinggalkan jejakmu like, komen dan subcribe teman-teman!💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 Ternyata Berry
Berry menoleh ke sumber suara lalu melirik ke arah Beena.
"Biar Beyza di sini saja Tante. Kasihan kalau Beyza ikut Berry jadi engga ada teman." Seloroh Beena tidak ingin jauh dari Beyza.
"Terus siapa yang mau ngurus? Nambah beban saja!" Ujarnya datar.
"Tante kan ada Beena? Makanya Beyza tetap di sini biar Beena ada temannya." Beena memberi alasan.
"Kamu mikir engga sih? Nampung orang itu butuh duit. Sekarang aja kamu pengangguran level 5 mana bisa bantu biar dapur ngebul? Yang ada nambah beban terus!" Rena mulai perhitungan karena keadaan.
Deg
Ucapan Rena menampar Beena yang cukup tenang menghadapinya. Beena masih bersikap sabar untuk bisa tinggal di rumahnya sendiri, demi almarhum ibunya.
"Tante tidak usah khawatir soal uang. Nanti aku yang transfer." Ujar Berry menengahi.
"Ooh memang kamu punya uang banyak?" Tanya Rena remeh.
"Tante jangan meremehkanku masalah uang aku tidak akan habis tujuh turunan." Ucap Berry sombong.
Bagi Berry untuk menghadapi Rena memang harus menyombongkan diri agar tidak ditindas dan bersikap semaunya.
Rena terdiam. Menatap Berry penuh selidik. Dia tidak percaya Berry memiliki uang banyak sementara dari penampilan saja Berry kurang menyakinkan.
"Kenapa, Tante ga percaya kalau aku punya banyak uang? Mana nomor rekening Tante, biar aku TF sekarang, buat kehidupan Beena dan Beyza selama tinggal bersama Tante." Berry mengeluarkan ponselnya siap untuk mentransfer uangnya.
"Aku engga butuh TF-TF an segala. Kalau mau ngasih langsung saja." Ujarnya dingin.
"Kenapa, Tante ga punya rekening?" Tanya Berry tersenyum, mengejek. Hal ini membuat rona di wajah Rena berubah.
"Punya tapi ribet kalau harus ke ATM." Ujarnya bohong. Padahal selama ini Rena tidak memiliki tabungan di bank. Ia lebih senang menyimpannya langsung di bawah kasur atau di bawah lipatan baju.
"Rena sudah dong! Kamu jangan membebani orang lain untuk menghidupi ponakan kamu sendiri. Masalah Beyza biar aku yang tanggung. Ke anak kecil aja kamu perhitungan begitu. Berry maaf sikap adik Om ya! Jangan dimasukin ke hati. Makasih sudah mau perhatian sama ponakan Om." Ujar Radit menengahi, ia merasa tidak enak hati dengan tamu ponakannya.
"Iya Om, Berry pulang dulu. Titip mereka!" Pamit Berry pada Radit. Ia lega karena ada orang yang diandalkan menjaga wanitanya.
Radit mengangguk, mengantarnya sampai teras. Melihat mobil yang dibawa Berry, Radit menduga teman ponakannya itu bukan lah orang sembarangan.
...----------------...
Berry memarkirkan mobilnya di garasi. Rumah mewah berlantai 2 itu terlihat sepi. Hanya tukang kebun yang baru saja selesai memanen hasil kebun yang ada di belakang rumahnya.
"Mang Supri panen?" Tanya Berry menghampiri tukang kebun tersebut.
Dia tidak segan membantu Mang supri mengangkat karung yang berisi buah-buahan hasil perkebunan.
"Iya Den. Ini ada mangga, gandaria, jambu, rambutan. Kata juragan mami sebagian dibagi ke para tetangga. Sebagian lagi buat keluarga dan kerabat."Jelas Mang Supri.
"Nanti Mang Supri misahin buat keluarga Mamang juga ya! Oiya tolong pisahin juga buat teman-temanku, 2 kantong plastik merah ya, Mang!"
"Siap Den!'
"Oke aku masuk dulu ya Mang."
Berry masuk rumah dengan santai, ia tidak menduga maminya ada di rumah.
"Berry kamu kemana aja sayang!" Sapa Mami senang melihat putra semata wayangnya bisa pulang.
Berry menghentikan langkahnya lalu mendaratkan tubuhnya di sofa. Ia meraih tangan Maminya untuk dicium.
"Tumben Mami ada di rumah?"
"Iya tapi sayangnya saat Mami di rumah kamu yang engga ada. Kemana saja sih?"
"Aku masih di bumi Allah, Mi."
"Masya Allah Ber, kamu gitu amat jawab pertanyaan Mami."
"Lah emang harus gimana sih, Mi?"
"Jawab dengan benar sayang. Bumi Allah kan luas?"
"Di markas Mi."
"Kamu masih gaul dengan para pemuda gergajulan engga jelas itu? Berry....Berry berubahlah, Nak!"
"Maaf Mi selama Mami masih sibuk dengan dunia Mami, Berry engga bisa keluar dari sana. Ada atau tidaknya anak-anak punk di kota ini bergantung pada Berry karena Berry ketuanya, Mi." Jelas Berry memberi syarat juga pada Maminya.
"Kalau gitu bubarkan, Nak!" Titah Maminya yang merasa tidak suka anaknya terlibat dengan dunia punk.
"Mami bersedia meninggalkan pekerjaan Mami demi Berry, enggak bisa, kan? Jadi maaf Berry juga engga bisa meninggalkan dunia Berry. Maaf Mi, Berry capek mau istirahat!" Ujar Berry beranjak dari tempat duduknya.
"Berry tunggu....Mami belum selesai bicara! Oke Mami ngalah. Mami akan berhenti dari perusahaan Papi. Tapi kamu yang harus menggantikan Mami!" Mami berusaha untuk mengalah.
Berry menghentikan langkahnya lalu menghampiri Maminya dengan pelan.
"Mi Berry ga ada basic ke perusahaan. Cita-cita Berry bukan jadi pengusaha Mi. Berry pengen jadi seorang musisi dan desainer grafis. Mengertilah Mi." Berry memohon pada Maminya agar lebih mengerti.
"Kamu yang harus mengerti Mami. Basic akan kamu peroleh setelah kamu menempuh pendidikan. Makanya kenapa Mami suruh kamu kuliah? Itu untuk mengembangkan pola pikirmu." Jelas Mami penuh harap.
"Sudahlah Mi. Kita memang tidak pernah saling menemukan titik temu. Berry mau istirahat saja."
"Berry...Ber tunggu, Nak!" Berry tidak menghiraukan teriakan Maminya.
Mami tercenung tidak menyangka sikap putranya akan seperti itu pada dirinya. Ia harus berusaha lagi agar bisa meluluhkan putranya untuk bisa memimpin perusahaan. Karena harapannya hanya pada putra semata wayangnya.
ini mah mau masukin hotel prodeo lagi kan ktnya udah biasa......
hadooohh jadinyav kasian si beena alamat bakal di kekesek yeu mah sm ibunya elzan
Tapi dari sini kayaknya bakal susah dapat restu si Beena,Awal pertemuan dengan Mertua aja udah ada salah paham gitu..