Berawal dari bermusuhan kemudian menjadi teman dekat. Rahma Dewanti dan teman-temannya memutuskan melanjutkan kuliah ke ibu kota setelah lulus SMA. Untuk meraih mimpi mereka.
Setelah sampai di ibu kota, ternyata Rahma tidak sengaja bertemu dengan ayah kandungnya. Selain itu dia juga menjadi korban pemerkosaan oleh teman dekat sendiri.
Kisah ini dibumbui dengan kisah cinta anak muda yang menguras emosi dan air mata.
Sanggupkah Rahma menjalani hidupnya setelah terjadi pemerkosaan? Akankah dia bisa menggapai mimpinya untuk menjadi orang sukses? Yuk baca kisah selengkapnya di Menggapai Mimpi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AYi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
"Siang, Pak!" sapa Agus sambil memasuki kantor.
"Hmm! Dari mana kamu!" Manajer itu menjawab dengan pertanyaan.
"Makan siang, Pak! Wolon!" jawab Agus santai.
Wolon : istirahat.
Agus sudah lama mengenal pak Hendra, jadi dia tahu seperti apa sifat orang nomor satu di kebun itu. Agus dengan santainya duduk di tempatnya, kemudian kembali bekerja.
"Mana Susilo? Sudah jam berapa ini? Seharusnya jadi atasan itu kasih contoh baik pada bawahan, kok malah ngular!" cerca pak Hendra.
Setelah pak Hendra mengomel sendiri, tak lama kemudian pak Susilo datang.
"Siang, Pak! Tumben panas-panas begini mau datang kemari?" sapa pak Susilo mendekati pak Hendra.
"Kamu dari mana saja? Jam istirahat sudah berakhir sejak tadi, kamu baru datang!" pak Hendra melanjutkan omelannya.
"Namanya angka satu, mau makan harus cari dulu. Kalau Bapak enak, ada istri yang menyediakan makan untuk Bapak. Saya? Keliling perkebunan ini untuk mencari warung yang masakannya enak." jawab pak Susilo dengan gerutuan.
"Alasan!" sahut pak Hendra.
"Aku dengar kamu punya kerani baru. Mana berkas lamarannya?" sambungnya.
"Itu kerani baru!" jawab pak Susilo sambil menunjuk ke arah Rahma.
"Berkas lamaran nggak ada, Pak! Dia itu dulu BHL berondolan dan kebetulan dia pandai jadi aku suruh handle kerjaan Sophia. Kalau Agus yang handle semua, kasihan!" jawab pak Susilo memberikan alasannya kenapa tidak ada berkas lamaran.
"Kenapa kasihan? Selama ini jika ada kerani lainnya yang cuti, dia yang handle semuanya," jawab pak Hendra.
"Kasihan! Nanti dia semakin tidak ada waktu untuk cari pasangan hidupnya!" jawab pak Susilo dengan mimik wajah serius.
Rahma yang mendengar perkataan pak Susilo hanya bisa menahan tawanya. Lain halnya dengan Agus, dia kesal selalu menjadi bahan ejekan para atasannya.
"Kamu belum dapat juga, Gus?" tanya pak Hendra pindah sasaran interogasi.
"Ck, Pak Susilo yang mau cari bini muda kali. 'Kan dia jablay!" jawab Agus santai.
"Kalian berdua memang cocok jadi partner kerja! Sama-sama angka satu. Hahaha!" ejek pak Hendra sambil tertawa terbahak-bahak.
Rahma tersenyum saja mendengar obrolan mereka bertiga. Karyawan lainnya hanya diam menekuri pekerjaan mereka, tidak ada yang berani komentar.
"Sudah bercandanya! Aku mau tahu alasan kamu kenapa memasukkan kerani ke sini tanpa surat lamaran?" pak Hendra kembali ke mode sangar.
"Dia itu pandai, Pak! Bukti hasil kerja sudah ada, untuk apalagi berkas lamaran?" pak Susilo menjawab dengan pertanyaan.
"Berapa umur kamu?" tanya pak Hendra pada Rahma.
Rahma yang merasa bukan dirinya yang ditanya hanya diam saja, melanjutkan pekerjaannya.
"Hei, budek kamu ya! Aku tanya, berapa umur kamu sekarang?" pak Hendra marah karena merasa diabaikan oleh karyawannya.
"Rahma, berapa umur kamu?" pak Susilo ikut bertanya.
Rahma langsung gelagapan karena mendengar kata kasar dari pak Hendra.
"U-umur sa-saya 17 tahun, Pak!" jawab Rahma ketakutan.
"17 tahun. Kapan? Kapan tepatnya umur kamu 17 tahun?" tanya pak Hendra lagi.
"Du-dua Minggu lagi."
"Kamu dengar itu Susilo? Umurnya belum genap 17 tahun tapi dia sudah bekerja. Bagaimana kalau orang Disnaker mendengar perusahaan ini mempekerjakan anak di bawah umur? Kamu mau bunuh aku, hah?" ujar pak Hendra penuh dengan amarah.
"Tanpa surat lamaran itu menyalahi prosedur, ada peraturan kenapa dilanggar. Bisa-bisa aku langsung dipecat Pak Edward kalau sampai beliau tahu." lanjutnya.
"Ma-maaf, Pak! Saya tidak berpikir sampai ke sana. Hari itu dalam pikiran saya hanya bagaimana mendapatkan kerani yang pandai secepatnya," jawab pak Susilo ketakutan.
"Kalau kamu suka sama dia, harusnya kamu bisa berpikir. Dia pantasnya jadi anak kamu bukan bini kamu. Cari mangsa yang lebih dewasa dari dia. Masih di bawah umur kamu incar juga!" kata pak Hendra makin kesal.
Pak Susilo merasa ditelanjangi dengan kata-kata pak Hendra. Memang pak Susilo suka dengan Rahma sehingga dia menempatkan Rahma di kantornya. Akan tetapi alasan utamanya memang karena kepandaian yang dimiliki Rahma.
Rahma mendengar perdebatan kedua orang atasannya menjadi panik dan bingung menjadi satu, sehingga dia tidak bisa konsentrasi melakukan pekerjaannya.
"Bukan itu alasan utamanya, Pak! Rahma anaknya pandai juga cekatan dalam bekerja. Jaman sekarang susah mencari karyawan yang seperti itu. Lagian dua Minggu lagi Rahma dinyatakan lulus SMA. Sekarang tinggal suruh dia buat surat lamaran kerja, sudah beres masalah!" jawab pak Susilo panjang dan lebar.
"Dia belum lulus SMA sudah kamu pekerjakan! Kamu memang gila Susilo! Orang Disnaker akan melakukan kunjungan kesini dua hari lagi. Bisa-bisa aku dipecat tidak hormat kalau seperti ini!" sahut pak Hendra.
"Kalau begitu seminggu ini, Rahma tidak usah ke kantor dulu. Gampang 'kan?" kata pak Susilo memberikan sarannya.