Sisilia Maharani awalnya adalah seorang gadis yang cantik, ceria dan baik hatinya. Walaupun Sisilia anak tunggal tapi tidak membuat dia jadi manja.
Setahun lalu Sisilia baru ditinggal mamanya karena sakit. Inilah titik awal kesengsaraan dalam kehidupannya dimulai. Keluarga yg dulunya cukup harmonis mulai terganggu dengan adanya perempuan laen dalam kehidupan papanya. Satu per satu masalah mulai timbul dalam hidup Sisil, baik masalah pribadi dengan pacarnya, Handoko juga masalah dengan papanya.
Bagaimana dengan pacarnya yg bernama Handoko?
Apakah Handoko seorang laki-laki yg bertanggungjawab dan bisa diharapkan?
Apakah papanya Sisilia akan menikah lagi? Bagaimana nanti dengan mama tirinya?
Akankah Sisil menemukan kebahagiaan?
Yuukk kita ikuti saja kisahnya yaa.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Dhenok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Cinta pada pandangan pertama
Danu membawa mobilnya melaju dengan kecepatan sedang menuju cafe kembali. Sebab mobil Johan masih di parkiran cafe. Tadi siang mereka berjanjian untuk bertemu di cafe.
Johan masih memikirkan keadaan Sisil. Terbayang dalam benaknya Sisil yang asyik berjoged. Gak menyangka kalau Sisil suka berjoged. Johan tersenyum sendiri.
Danu yang mengemudi melirik sekilas dari ujung matanya.
"Si bos senyum-senyum sendiri! " Danu berkata dalam hatinya sambil ikutan tersenyum juga.
"Sepertinya bos lagi seneng nih! " ucap Danu sambil tetap fokus nyetir.
"Senenglah bro! " Johan menepuk pundak Danu.
"Ciieeee yang lagi bucin berat...! " Danu meledek Johan sambil tertawa.
"Yang bucin gue doang kali bro! " Johan tertawa juga.
"Buruan tembak bro! Nanti lepas dari bidikan bisa manyun...! " Danu kembali tergelak. Dia tidak menyangka Johan bisa sangat menyayangi gadis itu. Padahal gadis itu sendiri belum mengetahuinya.
"Ngomong-ngomong nemu dimana tuh cewek bro? " akhirnya Danu yang penasaran bertanya juga.
"Di bank tempat dia kerja bro! " Johan tersenyum.
"Gue suka dari pertama lihat dia.... mungkin yang dibilang orang cinta pada pandangan pertama kali bro... " Johan dan Danu tergelak bersama.
"Tapi kayanya gue yang bucin sendiri....tuh cewek kan belum tau bro! " ucap Johan lagi.
"Mudah-mudahan jangan sampai bertepuk sebelah tangan bos! " Danu menimpali sambil tetap fokus nyetir. Johan mengiyakan dalam hatinya. Dia tidak membayangkan andaikan Sisil menolaknya.
Waktu perjalanan yang cukup panjang dikarenakan macet, mobil Danu pun memasuki parkiran cafe. Johan langsung turun dari mobil Danu dan pamit langsung pulang.
"Gue langsung Dan. Makasih untuk hari ini bro! " Johan kembali menepuk pundak Danu yang tetap berada di belakang kemudi.
"Siap bro!! " Danu tersenyum. Kemudian langsung menjalankan mobilnya pulang.
Johan pun menaiki mobilnya dan mengendarainya pulang ke rumah.
*
*
Di rumah, bu Wiwid dan pak Herry sedang makan malam bersama.
"Johan belum pulang, Ma? " tanya pak Herry sambil terus makan. Masakan bu Wiwid memang selalu enak dan mengunggah selera.
"Belum Pa. Mungkin sebentar lagi juga pulang. " sahut bu Wiwid makan menemani suaminya.
"Oya... Johan jadi gak tinggal di apartement? Kalau jadi Papa mau suruh orang untuk bersih-bersih kesana. " tanya pak Herry kembali.
"Rasanya jadi deh Pa! Dia udah pengen dari bulan lalu pindah kesana, cuma Mama masih larang dia. Ntar Mama kesepian gak ada dia! " bu Wiwid agak memonyongkan bibirnya.
"Kan ada papa, Ma! Masa Papa dianggurin?! " pak Herry meledek istrinya.
"Ya gak gitu juga kali Pa....... kan kalau ada Johan lebih ramai rumah ini!" bu Wiwid memasang muka cemberut nya. Pak Herry jadi gemes lihat muka istrinya.
"Ada apa nih ribut-ribut? " Johan yang baru masuk rumah langsung nimbrung dan duduk di meja makan.
"Kamu sudah pulang nak? Sudah makan belum? Sini Mama sendokin! " bu Wiwid langsung mengambil piring dan menyendok nasi.
"Dikit aja Ma, Johan masih kenyang! " Johan tidak enak hati menolak piring yang sudah disodorkan mamanya.
"Papa nanya, kamu jadi tinggal di apartment gak? Kalo jadi Papa mau suruh orang untuk dibersihin dulu." bu Wiwid mengulang pertanyaan suaminya.
"Jadi Pa! Biar nanti orang Johan aja yang bersihin Pa! " Johan sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Ada rengginang. Siapa yang bawa Ma? Atau Mama beli? " Johan melihat di sudut meja makan ada rengginang mentah yang belum digoreng.
"Ohh itu... bik Darmi yang bawa."
"Sudah balik bik Darmi, Ma? " tanya Johan lagi.
"Sudah tadi sore. " bu Wiwid menjawab sambil membereskan makanan yang masih tersisa.
Setelah selesai makan, mereka duduk di ruang keluarga yang letaknya tidak terlalu jauh dari meja makan.
"Oiya Han... teman Mama yang namanya bu Rani mau ngenalin anak perempuan nya ke kamu? Kamu ada waktu gak? " tanya bu Wiwid menatap anaknya.
"Waktu kalau mau dibuat ada sih Ma! Ini maksudnya apa Ma, pake mau dikenalin segala?! " Johan bertanya penuh selidik. Dia paling males denger Mama nya mau kenalin si A, ntar si B, entah siapa lagi nanti.
"Kenalan aja dulu..... sapa tau cocok kan bisa pacaran jadinya.. " bu Wiwid tersemyum.
"Anak gadisnya model lho! Pasti cantik! " bu Wiwid mempromosikan anak temannya.
Ahh Mama, Johan gak mau kalau dijodohkan! Berapa kali sih Johan bilang sama Mama, Johan gak mau! " kesal Johan terhadap Mamanya.
*Iya Mama.... sekarang udah gak jaman Siti Nurbaya Ma! " Papa Herry menyambung.
"Kamu udah boleh punya pacar Han! Udah 31. Dulu Mama sama Papa umur segitu udah nikah! " bu Wiwid jadi tersenyum mengingat waktu muda.
"Iya dulu Mama kamu ngebet minta nikah Han! " Papa Herry terkekeh mengingat jaman dulu.
"Issh Papa....malu-maluin aja! " bu Wiwid tersipu malu.
"Biar rumah ini rame sama anak kecil Pa! " bu Wiwid menyambung.
"Lha kita juga bisa bikin anak kecil Ma! " pak Herry menggoda istrinya. Dia sangat menyayangi istrinya. Dalam susah dan senang istrinya selalu mendukungnya.
"Papa apaan sih!! " bu Wiwid sedikit berteriak. Wajah bu Wiwid sudah merah kaya kepiting rebus. Mereka walaupun sudah tua tapi tetap masih mesra.
Johan tertawa melihat kekonyolan kedua orang tuanya.
"Ma, umur 31 buat jaman sekarang mah masih muda. Lagipula Johan bisa cari sendiri kok! " Johan kembali memberi pengertian sama Mamanya.
"Maksud Mama kenalan aja Han.... " bu Wiwid tetap gak patah semangat.
"Oke.... oke.....kenalan aja yaa! Jangan minta yang lain ya! Terus Johan gak mau kalo tuh cewek macem-macem lho Ma! " Johan menegaskan ke Mama nya.
"Iya, hanya kenalan aja! Mama juga gak tau orangnya kaya gimana! " bu Wiwid menyetujui permintaan Johan.
"Ketemu di kantor aja Ma. Tapi sebelumnya kabarin Johan dulu kalau mau datang! Jangan mendadak! " Johan kembali memberitahu Mama nya.
"Oke nanti Mama kabarin lebih dulu. " jawab bu Wiwid.
"Johan masuk kamar dulu ya Pa, Ma.....mau mandi terus istirahat. " pamit Johan.
Pak Herry dan bu Wiwid menganggukkan kepalanya.
"Kita juga yuukk Ma, masuk kamar juga! Udah lama nih gak bikin anak kecil! " pak Herry terkekeh menggoda istrinya.
"Ahh Papa!! " bu Wiwid tersipu malu sambil mengapit lengan suaminya mesra. Mereka memasuki kamar untuk beristirahat. Mereka adalah keluarga harmonis dan hangat. Begitulah perlakuan pak Herry terhadap istrinya yang sangat disayanginya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=