Tina dan Vivi adalah saudara kandung, anak dari
pak Budi dan bu Lasma. Kehidupan mereka cukup teramat susah dan menderita. Dikarenakan ketidak mampuan mereka, pada akhirnya mereka hanya tinggal disebuah gubuk
kecil tepat diarea persawahan. Bukan hanya itu saja, mereka tinggal disebuah desa yang sangat
pelosok sekali, jauh dari kecamatan apa lagi dari kota. Bayangkan saja, sekolah SMP dan SMA
saja harus menempuh jarak waktu sekitar 3 jam lebih dari desa mereka. Hingga anak pedesaan itu, setelah lulus dari SD harus ngekos dikecamatan demi melanjutkan pendidikan mereka. Mereka diusia dini sudah harus mandiri dan rela berpisah dengan orang tua, tetapi mengabdi pada pemilik kos yang terkadang pemilik kosnya tidak memiliki perasaan.
Budak, iyah budak, kata-kata itulah cocok dirasakan dan dialami Tina selama ngekos dikecamatan. Dirinya sungguh menderita dan tidak hentinya mengerjakan pekerjaan rumah,
dan malah sering dapat hinaan dan omelan.
Semua itu terjadi demi dikarenakan ngekos gratis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maminya nathania bortum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part.13 pasrah dengan keadaan
Vivipun shock mendengar kondisi ayahnya, tidak terasa air mata Vivi mengalir mmembasahi kedua pipinya.Tanda disadari oleh Vivi, selulernya terjatuh ke lantai dari genggamanya.
Vivi menatap langit-langit atap kamarnya, terlihat jelas masih mengalir yang begitu deras air matanya. Dirinya sesekali menarik nafasnya begitu
dalam. Hari ini tepat sebulan dirinya berada di kota Jakarta bersama Angel, sudah berapa hari ini dirinya diajari Angel cara dandan dan berpakaian
menarik. Sebenarnya Vivi, berharap bukan hanya ingin merubah dirinya cantik saja tetapi lebih memberikanya pekerjaan dengan cepat.
Vivi hanya mengandalkan Angel, sebab Vivi tidak
punya siapa-siapa di Jakarta selain Angel.
Vivi juga tidak memahami lika-liku kota Jakarta, i
itu dikarenakan dirinya belum pernah kemana-mana selain didesanya yang sangat pelosok.
Jika hal apapun yang terjadi dengan dirinya, Vivi hanya bisa pasrah dengan keadaan. Dirinya harus
sabar menunggu sampai Angel menetapkanya
bekerja disebuah perusahaan ternama milik temanya itu. Dirinya bisa apa? selain sabar dan pasrah mengikuti sesuai prosedur Angel.
Dilain tempat di kosan Tina adiknya Vivi, masih pagi-pagi sekali Tina tersentak dari tidurnya yang sangat pulas. Bagaimana tidak, seruan nenek sihir yang sangat melengking menembus ke gendang telinga Tina dengan sangat jelas.
"Tina, Tinabangun, bangun seru nenek!" seru nenek sembari menggedor pintu kamarnya dengan sangat keras. Sudahlah jangan dilama-lamakan, apa tidak cukup istirahatmu seharian mengurung diri dikamar? sekarang sudah waktunya kamu harus mengingat semua tugas-tugasmu dirumah ini!" seru si nenek sihir dari balik pintu kamar Tina.
"Ya saya sudah bangun nek, bentar lagi Tina turun", jawab Tina sembari memberesi tempat tidurnya.
" Eeeeehhh, tidak ada kata nanti, segera turun laksanakan pekerjaanmu semuanya! sahut si nenek berseru dengan nada tinggi dari balik pintu
kamarnya.
Pintu kamar yang sudah terbuka, menghentikan
niat Tina untuk berbicara lagi. Tina langsung menunduk lemas melihat wajah bengis sinenek
yang berdiri didepan kamarnya dengan tatapan tajam ke arah dirinya.
Itulah akibat dirimu dikasih hati, malah minta jantung, kamu Tina! Kamu benar-benar tidak tahu diri ya, seolah-olah bersikap seperti nyonya di rumah ini dan kerjamu apakah cukup hanya
makan tidur disini?
"Tinapun mendengus dan mengelus-elus dadanya
perlahan-lahan. Dasar nenek sihir bicara sembarangan, bisanya selalu menyakiti hati", gumam Tina sembari turun tangga ikut sinenek ke lantai dasar.
"Sudahlah ibu, ibu ini selalu asal bicara. Sebaiknya kita mulai pekerjaanya biar kelar selesai", imbuh kak kost sembari memandang wajah ibunya itu.
Apa dirimu takut dimarahi lagi oleh suamimu?
ingat, semakin kamu membiarkan wanita desa itu
selalu dibela oleh suamimu disitu juga kamu akan
menyesal nak! karena wanita desa itu kelak seperti nyonya dirumah ini dan kamu yang akan tersingkir.
Tinapun hanya menunduk lewat mendengar gerutuan sinenek yang berhasil selalu melukai batin dan hati Tina. Dirinya seolah mengabaikan perkataan nenek, dengan sigap membereskan seluruh ruangan rumah. Tidak sampai tiga jam, pekerjaan Tina pun selesai dengan sebagai rutinitasnya setiap paginya.
"Hugh, akhirnya selesai juga", gumam Tina sembari berjalan ketempat tidur anak-anak kakak kostnya untuk dimandikan.
"Tina, suara melengking itu terdengar jelas yang menjengkelkan Tina yang sedang berseru memanggilnya. Ada apa lagi sih nenek sihir?"
gumam Tina sembari mengerutkan dahinya.
Ya nek, apa nenek sedang memanggil saya?
Tentu saja saya memanggil kamu, emangnya siapa lagi yang bernama Tina dirumah selain kamu?
atau ada disini setan bernama Tina, hem ?
nenek itu bertanya dengan seruan melengking yang mampu memekakkan gendang telinga Tina pagi ini. Sekalipun sudah sering mendengarnya tetapi tetap saja melukai hati dan batin Tina.
Ya maaf nek, ada apa nenek memanggil saya?
"Apakah dirimu sudah menyelesaikan semua pekerjaan rumah? sehingga kamu berhenti sejenak? nenek sihir itu bertanya penuh selidik.
"Sudah nek, tinggal naik keatas ganti seragam dan makan", sahut Tina sembari menaiki tangga mau naik keatas menuju kamarnya.
"Tunggu, dengarkan saya! selesai kamu berpakaian langsung makan, setelah itu hidangkan makanan kami dimeja makan, baru bisa
berangkat kesekolah, paham?
Tina pasrah hanya mengangguk lemah, dirinya merasa si nenek terlalu berlebihan. Tetapi apa dayanya , selain menurut dan pasrah lagi dengan
keadaan. Setelah selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah lengkap, Tinapun buru-buru turun kebawah dan menyantap sarapan pagi.
"Tina, buruan hidangkan makanan, nenek sudah lapar dan menunggu di meja makan dari tadi, cepatkanlah sedikit makan itu!" seru nenek duduk
dimeja makan dan menatap tajam kearah Tina.
"Ya nek, sahut singkat Tina".
"Dasar nenek sihir, kerjanya bisanya hanya memerintah saja, dirinya tidak bisa apa ?mengambil sendiri, kan punya tangan dan masih sehat bisa gerak". gumsm Tina sembari meneguk segelas air mineral yang hangat.
Tiba-tiba :
Tinnn...tinn tinn, Tina yuk buruan, nanti kita telat piket lagi", Aldi berseru dari luar sembari meminggirkan motornya.
"Hey anak muda! duluan saja dirimu Tina akan
menyusul dikarenakan masih ada pekerjaan yang
harus dikerjakan", seru si nenek menjawab dari meja makan penuh kejengkelan.
"Sudah Tina berangkat saja, saya dengar kalian piket nanti bisa telat kalian. Masalah menghidangkan makanan dimeja, kami masih bisa mengambil sendiri kok", sindir pak kost sembari melirik ke si nenek ibu mertuanya".
Tinapun langsung mengangguk, sembari langsung
berpamitan. "Rasakan nenek sihir, kali ini kemenangan berpihak lagi padaku", Tinapun bergumam sembari melirik sinenek yang kelihatanya sangat jengkel tingkat dewa.
"Apakah semuanya sudah beres pekerjaanmu,Tina?" ujar Aldi bertanya sembari menjalankan motornya.
"Sebenarnya sih belum, tinggal menghidangkan makanan di meja makan, eehh tiba-tiba dirimu
datang jadi gak jadi deh", sahut Tina dengan senyum tipis diraut wajahnya.
"Bagus dong kalau begitu, itu artinya saya menyelamatkanmu lagi. Setidaknya bisa mengurangi sedikit pekerjaanmu", imbuh Aldi menjawab sembari curi-curi pandang dari kaca spion untuk memandang Tina.
Tina terdiam sejenak, terlihat sesekali menghela
nafasnya dalam-dalam. Tina tidak tahu haruskah
senang atau tidak, yang jelas perasaan dan hati Tina seperti bercampur aduk.
Al, terima kasih sudah baik terhadap saya.
Tetapi, sebenarnya saya kurang nyaman jika dirimu selalu bonceng saya. Saya takut orang-orang berfikir buruk terhadap kita, dan saya takut juga orang-orang berprasangka buruk tentang kita.
Tina, Tina jadi wanita itu jangan terlalu lemah kenapa? sebenarnya awal dirimu duduk disampingku, jujur saya tidak respek.
Tetapi, karena teman-teman kelas mengejek dan membulimu, saya keadaan terpaksa turun tangan karena mengganggu kenyamananku juga.
Saya melihat dirimu kusam, lesu, kesakitan dan menangis, saya kasihan terhadapmu.
Pada saat itu, saya bukan hanya marah terhadap mereka tetapi juga denganmu, saya tidak suka kamu itu terlalu lemah.
Banyak cowok, cewek mendekati saya disekolah. Tetapi, hati saya belum bisa menerima mereka semua sebagai teman dikarena saya tidak menyukai manusia terlalu naif. Masih sulit bagi saya untuk beradaptasi disini.
"Untuk itu Tin, seharusnya dirimu ikut saja apa yang saya katakan. Patuh saja, kenapa? saya ini sudah baik mau menjadi temanmu, saya ingin dirimu tumbuh dengan berkarakter kuat. Jangan mau selalu ditindas, baik boleh saja, nurut boleh saja, tetapi melihat letaknya juga, jangan sampai mau diinjak-injak orang. Tidak semua apa kata orang didengar, banyak orang ingin melihat kita terluka dan hancur, Tina . Untuk itu, harus pintar-pintar menghadapi watak-watak orang, jangan mau selalu menuruti keinginan orang, sementara dirimu terluka akan hal itu", imbuh Aldi menasehati Tina dengan rasa iba bercampur sedikit jengkel.
Mengerti kan, apa maksud saya Tina?
bersambung
sungguh menarik ceritanya
pagi menyapa tur
good job dekq
seperti sinetron ahhhh