Wrenny Saragih, wanita berusia 30 tahun yang mewujudkan ambisinya menjadi pengacara di hadapkan pada kisah masa lalu yang mengganggu Hidupnya.
Dominic Sinatria, lelaki bodoh yang menganggap istrinya juga mencintainya.
Alur maju mundur. Diharapkan jika membaca harus teliti di setiap narasi.
Enjoy it ! Thanks....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
NOSTALGIA.
Langkah kaki bersepatu hitam menginjak rerumputan perlahan. Mendekati ke arah sumber suara yang menarik perhatiannya. Terdengar suara jeritan beberapa mahasiswi perempuan yang meneriakkan kata :
"TERIMA !"
"TERIMA !"
"TERIMA !"
Terlihat dari radius 25 meter dari balik pohon rindang tempatnya mengintip, ada segerombolan mahasiswi yang bertepuk tangan menyaksikan seorang mahasiswa dan mahasiswi sedang berdiri berhadapan. Di tangan mahasiswa yang terlihat tampan meskipun dari kejauhan itu, ada buket bunga warna merah. Si gadis mahasiswi yang ada di depannya hanya bisa tersenyum haru dengan menutup kedua bibirnya. Tidak tahu harus mengatakan apa.
"Kalinda, kamu mau nerima cinta dari aku kan??" Ungkap si mahasiswa ganteng itu meyakinkan.
Setelah bisa menguasai emosi dalam jiwanya si gadis mahasiswi yang bernama Kalinda itu mengangguk.
"Iya, aku terima cinta kamu Dominic "
Tangan cantik milik Kalinda menyambut buket bunga mawar merah pemberian mahasiswa yang bernama Dominic itu. Mereka resmi menjadi pasangan kekasih dan para mahasiswi yang menonton bersorak ikut bahagia dengan pasangan kekasih yang baru jadian itu.
Gadis itu mengira acara memyatakan cinta dengan model begini hanya ada di acara reality show televisi. Rupanya, ada juga orang yang menerapkannya dalam kehidupan nyata.
Mereka, Kalinda dan Dominic berpelukan. Setelah say good bye dengan para mahasiswa yang masih terpana dengan adegan romantis itu bubar dengan sendirinya.
Gadis itu menghela nafas seraya tersenyum miris. Saat mahasiswi seperti dirinya mati-matian mendapatkan beasiswa, berjuang merantau untuk mendapat pendidikan yang layak, mengejar cita-cita, para mahasiswa Seperti Dominic dan Kalinda dengan mudahnya memutuskan berpacaran. Bahkan berbuat semaunya di Kampus. Apa mereka tidak akan di tegur Dekan dan Rektor?
Mana mungkin mereka akan di tegur? Dari penampilan keduanya, terlihat jelas jika mereka dari kalangan menengah keatas. Kalinda cantik, dan Dominic juga ganteng. Keduanya serasi dan di tunjang dengan kendaraan milik Dominic yang sepertinya berharga fantastis. Modelnya sporty dengan warna merah menyala. Ini universitas swasta. Apapun bisa terjadi kalau punya banyak uang.
Tapi uang adalah masalah besar dirinya saat ini. Dia hanya bisa makan dua kali sehari dan jarang makan siang. Pagi, dia sarapan nasi goreng jatah dari kosan. Itupun rasanya seperti nasi sisa kemarin. Siang hanya terisi air yang diambil dari galon di Kosan. Jika air habis saat di kampus, gadis itu mengisinya dengan air minum yang di sediakan gratis di kampus. Malamnya, dirinya biasa makan nasi kucing atau makan mi instan di campur nasi. Kalau kepepet hanya nasi dan kecap.
Itulah alasan gadis itu nekat belajar hingga ke Jakarta. Meskipun Jakarta adalah kota impian yang bisa menipu banyak orang dengan gemerlapnya, tapi suatu saat gadis itu yakin jika suatu saat bisa menaklukkannya. Dia hanya tinggal bersabar, mengatur strategi agar uang bulanan yang di berikan orang tua yang jumlahnya tidak seberapa cukup untuk mengcover kehidupannya selama sebulan.
Tiga bulan sekali, pihak perusahaan yang memberikan beasiswa akan mentransfer uang saku ke rekeningnya dan itu cukup untuk membayar sewa kosan selama tiga bulan kedepan.
Sebagai mahasiswi baru, gadis asal Rantau Parapat itu tidak bisa mencari pekerjaan paruh waktu. Dari pagi hingga menjelang sore jadwal kuliah pasti padat di awal-awal semester. Dalam peraturan penerima beasiswa juga telah tertulis TIDAK DIPERKENANKAN MAHASISWA/I PENERIMA BEASISWA UNTUK BEKERJA PENUH ATAU PARUH WAKTU.
Konsekuensinya, beasiswa bisa di cabut dan harus membayar uang kuliah reguler. Dirinya memang harus menahan diri dengan himpitan hidup mahasiswi perantauan serba kekurangan seperti dirinya.
Dia hanya perlu gigih belajar dan lulus tepat waktu dengan lancar.
"Hei, Bebek ! Ngapain lo berdiri disini ! Mau gue tambahin hukuman buat lo???!!!" Tepukan di bahunya di sertai suara membentak membuat gadis itu berjingkat.
Algojo pemberi hukuman yang merangkap sebagai mahasiswa senior itu menangkap basah dirinya yang daritadi mengintip adegan romantis Kalinda dan Dominic.
"Ma..maaf Bang." Gadis itu ketakutan. Kepalanya menunduk takzim. Was-was jika hukumannya akan di tambah lagi. Tadi dia dihukum gara-gara tidak menyapa para senior saat lewat di depan mereka. Sapu lidi melayang di depan wajahnya dan para senior perempuan galak itu menyuruhnya menyapu halaman kantin.
Hukuman itu sudah membuat dirinya malu dan terlihat seperti badut kampus. Banyak mahasiswa yang sedang menikmati makan siang di kantin. Dan dia menjadi tontonan. Mereka begitu menikmati makan siang dengan hiburan badut kampus. Tentu saja perlakuan ini menyentil ulu hatinya.
Teringat jika dia adalah mahasiswa baru yang ikut ospek, gadis itu hanya bisa menurut dan pasrah akan keadaan yang tidak memihak kepadanya.
"Udah sana lo bersihin lantai kelas lagi. Awas ya sampai bersih. Makanya jadi mahasiswa yang sopan. Untung ini udah hari terakhir OSPEK !" bentaknya lagi.
Sudah menjadi acara turun menurun jika OSPEK diisi dengan drama mahasiswa baru yang dikerjai mahasiswa senior. Gadis itu sudah tahu bahwa penyiksaan ini akan terjadi.
...❤❤❤❤❤❤...
Semester satu dilalui dengan lancat walaupun harus terseok-seok. Mengambil jurusan Hukum tidak semudah yang terlihat. Mendengarkan dosen menerangkan materi, itu saja tidak cukup. Setiap hari gadis itu harus bergaul dengan buku-buku tebal di perpustakaan. Membuat rangkuman yang di rasa penting. Seringkali tangannya pegal karena terlalu banyak sumber yang di tulis. Jika dia nekat beli buku, maka jangankan makan pagi, bahkan makan malam pun tidak bisa dia nikmati. Buku materi hukum harganya sangat mahal. Yang termurah kisaran 100ribu itupun bekas dan hanya dari satu sumber pengamat hukum.
Ada banyak lagi buku yang di tulis dari sumber yang berbeda. Hanya buku perpustakaan lah yang bisa menolongnya.
Setelah lama menghirup udara perpustakaan, dengan sepatu usangnya, mahasiswi semester dua itupun keluar dengan tangan yang pegal karena terlalu banyak menulis.
Di koridor depan menuju kantin ada sekelompok mahasiswa yang sedang mengobrol. Jumlahnya ada 7 orang lebih. Beberapa dari mereka adalah senior kejam saat OSPEK tempo lalu. Melihat wajah mereka dari kejauhan saja membuatnya bergidik ngeri. Daripada harus lewat di depan mereka, gadis itu lebih baik memutar balik melewati laboratorium, gudang, dan sampai di belakang Mushalla. Setelah dari Mushalla, dia harus belok kekanan dan sampai di ruangan loker. Mengambil kunci kosan yang tertinggal.
Gadis itu berbalik memutar arah melewati gudang yang rumornya angker. Di depan gudang ada dua pohon rindang berbatang besar, diameternya mungkin satu meter lebih. Saat dirinya OSPEK hingga malam ada mahasiswi yang kesurupan disini. Seketika tengkuknya meremang. Suasana masih terik namun kanopi dari dedaunan pohon rindang membuat suasana menjadi gelap. Sepi. Tidak ada satu orangpun disini.
Gadis berambut pendek itu semakin mengeratkan tas ransel di punggung. Langkahnya di percepat agar segera menjangkau belakang Mushalla. Hatinya bisa tenang jika dekat dengan tempat ibadah. Mungkin saja kan makhluk ghaib tidak betah berada di dekat Mushalla.
Suara jeritan terdengar dari dalam gudang, gadis itu berjingkat. Matanya menyapu areal halaman depan gudang. Suasana sepi hanya suara daun bergesekan terkena angin yang terdengar. Mengabaikan jeritan itu, dia setengah berlari. Rumor itu ternyata benar adanya, tempat ini berhantu. Saking angkernya, siang pun hantu berani muncul menakut-nakuti.
"Tolong....!" Jeritan minta tolong terdengar jelas dari dalam gudang di susul suara seperti benda terjatuh. Suara tawa juga terdengar keras di kombinasi suara tangisan minta tolong.
Gadis itu menghentikan langkah. Suara jeritan, tawa, dan benda terjatuh itu kedengaran nyata. Diapun memberanikan diri mengintip dari balik jendela yang kacanya sudah buram.
Mulutnya menganga seketika. Tiga orang gadis berdiri dengan wajah bengis mereka dan di sudut gudang ada seorang gadis yang tidak tahu pasti itu siapa tengah tersudut. Rambut panjangnya acak-acakan seraya memeluk lututnya. Tangisnya terisak sungguh memilukan.
Balok kayu yang di pegang salah satu gadis pembulli itu di acungkan untuk menakut-nakuti si gadis yang terpojok.
"Gue udah naksir Dominic dari dulu dan lo tau itu ! Kenapa lo tega rebut Dominic dari gue ?? Mau lo apa ha?? Lo emang nayri mati !" Bentaknya dengan nafas terengah menahan amarah.
"Gu..gue enggak maksud nyakitin lo" Kedua tangan gadis yang disiksa itu menangkup di dada mohon pengampunan.
"Lo enggak maksud nyakitin gue? Maksud lo apa? Jelas-jelas lo udah jadian ama dia. Kok seenaknya lo bilang enggak nyakitin hati gue !" Amarahnya memang sudah tidak bisa di bendung lagi.
"Udah, pukul aja kepalanya biar mampus sekalian. Kalau lo enggak bisa dapetin Dominic, cewek gatel ini juga jangan sampai milikin Dominic !" Teman gadis pembulli itu memprovokasi agar tersulut emosi dan bisa saja penganiayaan berujung pembunuhan akan terjadi.
Gadis berambut pendek itu hanya bisa mengintai penyiksaan sadis dari luar. Mana berani dia ikut campur apalagi menjadi pahlawan kesiangan menolong pacar Dominic.
"Tolong lo lepasin gue. Gue akan nurutin yang lo mau. Kalau lo nyuruh gue putus dari dia, gue bakal putus. Kasih gue kesempatan" Rengeknya.
Balok kayu itupun di lempar hingga mengenai tumpukan papan yang ada di pinggir tembok.
"Gue minta lo putus dari Dominic. Atau, gue enggak segan-segan bunuh lo ya !!" Ancamnya geram.
"Ayo kita pergi dari Sini. Tapi kita kunci pintunya dari luar !" Cewek pembulli itu keluar dengan tenang bersama dua rekannya dengan senyum menyeringai. Tak peduli jika gadis yang di bullinya menangis meraung-raung. Bangkitpun tak bisa karena kakinya sakit. Mungkin dipukul dengan balok kayu.
Dia hanya bisa beringsut seperti suster ngesot. Tangannya menggapai-gapai berteriak minta tolong.
"Minta tolong yang kenceng sana. Enggak ada yang bakalan denger" Ketiganya tertawa sambil menutup pintu gudang dan di ganjal dengan tumpukan meja, dan beberapa balok kayu. Suara teriakan tidak terdengar lagi karena akses sudah tertutup rapat.
Gadis yang mengintai buru-buru bersembunyi di balik kayu. Kalau ketahuan memergoki perbuatan kejam mereka, mungkin nasibnya tidak jauh beda dengan kekasih Dominic.
Setelah mereka benar-benar pergi menjauh, Gadis pengintai itu berusaha menyingkirkan balok kayu yang menghalangi pintu. Entah dorongan darimana dirinya iba melihat penderitaan Kalinda yang merintih kesakitan dan takut dikurung di gudang. Tidak peduli jika Kalinda tidak mengenalnya dan dirinya bukan yang di harapkan jadi penolong. Di kampus swasta ini, hukum kesenjangan sosial berlaku.
Melihat ada cahaya yang masuk melalui pintu yang terbuka, gadis yang menangis ketakutan itu mendongak. Melihat ada orang yang mendengar teriakan minta tolongnya.
Dengan cepat dia menghapus air matanya. Kelegaan terpancar di wajahnya yang sembab. Mengetahui jika bukan pembulli itu yang datang kembali.
"Tolongin gue..." Tangannya terjulur meminta tolong di bantu berdiri. Tanpa banyak bicara, gadis itu meraih kedua tangan milik kekasih Dominic dan memapahnya keluar gudang.
"Saya antar kamu ke klinik kampus ya?" Tanya gadis itu seraya memapah Kalinda.
"Enggak, aku mau pulang aja !" Dia menggeleng cepat.
"Kaki kamu sakit, kamu harus ke klinik"
"Kalau aku ke klinik, anak kampus pasti heboh dan tahu kalau aku...." Dia terisak kembali mengingat perundungan yang dia alami.
"Terus? Apa aku kasih tau pacar kamu??"
"Jangan.....! Dia sibuk persiapan wisuda. Lagian kalau dia tahu, dia enggak bakal tinggal diam dan pasti balas dendam ke Vanessa dan temen-temennya."
Bukannya laki-laki itu, sumber dari segala penyiksaan ini? Apa dia enggak harus tanggung jawab? Biar saja pacarnya balas dendam, bukankah hukum harus di tegakkan?
"Mendingan, kamu bantu aku pulang ke rumah. Di parkiran ada sopir yang standby nungguin aku. Bawa aku lewat pintu belakang kampus. Terus kamu ke parkiran depan kasih tahu sopir aku."
Gadis itu mengangguk sanggup.
"Kamu tunggu sini..." Seutas senyum terbit untuk menenangkan Kalinda.
Ketika gadis itu bangkit, tangan milik Kalinda mencekalnya.
"Hei, nama kamu siapa?" Tanyanya dengan tatapan antusias.
"Wren. Wrenny"
"Aku Kalinda"
...❤❤❤❤❤...
Aku emang kece badai kok !
Nostalgia dulu ya gaesss....
Dan nostalgianya mungkin bakalan lama......
maafff.
makasih masih inget wreni belum beres ini, penasaran sampe novel mu yang lain aku baca ulang🤣👍
masih menunggu thor,,,miss uuuuuu😍😘
kak akan dilajut kah