Dua tahun Sitha dan Danu berpacaran sebelum akhirnya pertunangan itu berlangsung. Banyak yang berkata status mereka lah yang menghubungkan dua sejoli itu, tapi Sitha tidak masalah karena Danu mencintainya.
Namun, apakah cinta dan status cukup untuk mempertahankan sebuah hubungan?
Mungkin dari awal Sitha sudah salah karena malam itu, pengkhianatan sang tunangan berlangsung di depan matanya. Saat itu, Sitha paham cinta dan status tidak cukup.
Komitmen dan ketulusan adalah fondasi terkuat dari sebuah hubungan dan Dharma, seorang pria biasalah yang mengajarkannya.
Akankah takdir akhirnya menyatukan sepasang pria dan wanita berbeda kasta ini? Antara harkat martabat dan kebahagiaan, bolehkah Sitha bebas memilih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upaya Danu
"Jalannya pelan-pelan, Bu Sitha. Tempatnya agak gelap," kata Dharma. Bahkan pemuda itu sesekali mengarahkan senter handphone miliknya ke tanah yang akan Sitha pijak. Dengan tujuan supaya kaki Sitha tidak terantuk batu.
"Makasih loh, Mas. Kamu malahan bantuin aku terus," balasnya.
"Saya seneng kok bisa membantu Bu Sitha," jawabnya.
Suasana gelap, udara dingin, dan gemerisik angin, bagi mereka yang penakut tentunya seperti ini akan menakutkan. Akan tetapi, Sitha bersikap biasa saja. Gadis itu tampak tenang sembari terus melangkahkan kakinya.
"Bu Sitha enggak takut gelap yah?" tanya Dharma.
"Enggak, dulu kan waktu MaBa juga mengelilingi kampus malam-malam. Asal tenang dan tidak berpikiran negatif, pasti aman kok."
"Benar, Bu. Biasanya begitu, kalau sudah berpikiran macam-macam jadi penakut."
"Panggil aku Sitha aja gak apa-apa, Mas. Kan lebih tua, Mas Dharma daripada aku."
"Duh, jangan. Walau masih muda Bu Sitha kan putrinya Bapak Bima Negara, pemilik pabrik ini," balas Dharma.
Selalu ada unggah-ungguh atau etika yang berlaku. Apalagi Dharma sangat sadar diri bahwa dirinya hanyalah pria sudra untuk sang putri ningrat. Kendati Sitha masih muda, Dharma tetap menaruh hormat kepadanya.
"Jangan dihubungkan, Mas. Ambar buktinya memanggil dengan namaku aja. Tidak masalah kok, sungguh," balasnya.
Pemuda itu menggelengkan kepalanya. "Jangan. Saya akan tetap memanggil sewajarnya."
Sitha akhirnya tersenyum, dia terus melangkahkan kakinya. Hingga rombongan staf mulai terlihat. "Staf sudah keliatan tuh," kata Sitha.
"Benar, Bu. Soalnya Bu Sitha rupanya berjalannya begitu cepat."
"Kebiasaan, Mas. Mas Dharma rumahnya di Solo juga yah?" tanya Sitha.
"Iya, di Solo, Bu. Mungkin Bu Sitha mau mampir? Area Manahan, Solo," katanya.
"Boleh, kapan-kapan mampir deh. Dekat Stadion Manahan yah, Mas?"
"Agak dekat, Bu. Lebih ke tengah kota yah, kalau ke tempat kerja ya bisa setengah jam lebih. Kalau waktunya pulang sore hingga satu jam karena jalanan macet," cerita Dharma.
"Cuma enak yah, Mas. Soalnya mau kemana-mana dekat. Ke Stadion Manahan deket, ke Mall juga dekat. Ke arah Bandara juga dekat," balas Sitha.
Dharma menganggukkan kepalanya. Memang dari tempat tinggalnya terbilang dekat ke berbagai tempat yang Sitha katakan. Namun, tempatnya bekerja memang di perbatasan kota sehingga memang harus menempuh perjalanan lebih dari setengahan jam.
"Itu rombongan udah di depan kita, Bu Sitha mau bergabung dengan Pak Danu?"
Sitha malahan menggelengkan kepalanya. "Enggak. Lebih baik, aku jalan pelan-pelan saja. Biarkan saja, aku ingin melihat sejauh apa yang bisa mereka lakukan," balas Sitha.
Dharma mengernyitkan keningnya. Kenapa Sitha justru mengatakan demikian? Padahal kalau berjalan dengan Danu yang adalah tunangannya sendiri tidak masalah sama sekali.
"Baiklah, saya akan menemani Bu Sitha."
Ada senyuman yang tercetak di wajah Sitha. Sedangkan terlihat Danu berjalan paling belakang dengan Ambar yang berjalan di sisinya.
"Kok Sitha enggak kelihatan yah, Mas Danu?" tanya Ambar.
"Gak tahu juga. Enggak ikut kali yah, soalnya sejak api unggun selesai enggak kelihatan lagi," balas Danu.
Ambar mengangguk. Dia berjalan sembari melirik ke Danu. Bagaimana pun, Danu itu tampan, perawakannya juga tinggi, jangan lupakan bahwa pria itu juga wangi.
"Tampan dan mapan, sempurna banget sih Mas Danu."
Ambar bergumam demikian. Di matanya Danu ini seolah sosok pria yang sempurna. Tampan iya, tinggi juga, dan tentunya mapan. Tidak mungkin kalau Danu hanya orang biasa bisa bertunangan dengan Sitha, putri pemilik Pabrik Jamu.
"Kenapa liatin, Mbar?" tanya Danu.
"Enggak. Kamu tinggi juga ternyata yah, Mas."
"Masak sih?"
Ambar memukul lengan Danu. Rasanya dia ingin memiliki Danu. Kalau bisa menggoda Danu dan juga memperdaya Danu, seumur hidup dia akan bahagia. Lagipula, siapa yang tidak mau memiliki pria tampan dan mapan, selain itu pastilah Danu juga keluarga Jutawan.
"Kamu udah punya pacar, Ambar?" tanya Danu.
"Belum. Pacar mana, Mas? Mana mau cowok sama aku? Rumahku aja di desa loh, Mas."
"Emangnya siapa yang gak mau, kamu juga ayu kok," balas Danu.
Ambar tersipu. Rupanya Danu sendiri saja mengatakan bahwa dirinya cantik. Lalu, Ambar memberanikan diri melangkah lebih.
"Cantik Sitha lah," balasnya.
"Kamu juga."
"Ish, Mas Danu. Nanti kalau Sitha denger bisa marah loh. Jangan begitu," balasnya.
Kemudian Danu terkekeh. Dia malahan menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Ambar. Beberapa meter dari belakang tentu Sitha melihat semua itu.
Cemburu? Ya, pasti ada. Semua wanita juga pasti cemburu melihat tunangannya bersikap seperti itu kepada sahabatnya sendiri. Walau begitu, Sitha masih berusaha tenang.
"Bu, jangan lihat. Bisa menyakiti hati Bu Sitha sendiri," kata Dharma.
"Bagus sekali yah? Mereka pikir aku tidak melihatnya?"
Tak perlu menunggu lama, Sitha segera mengambil handphonenya dan memotret Danu dan Ambar. Setelah itu, Sitha menghentikan langkah kakinya sehingga Dharma turut berdiri. Tangan Dharma terangkat perlahan, rasanya ingin menyentuh bahu Sitha. Benar, Sitha masih tenang, tapi di dalam hatinya tidak ada yang tahu bukan? Sementara Dharma merasa rasa sakit itu pastilah menjalari hati Sitha.
"Apa perlu aku menghajarnya untuk Bu Sitha?"
"Tidak usah. Kita bukan anak kecil yang harus baku hantam. Percaya padaku, aku akan selesaikan semuanya."
"Kenapa Bu Sitha bisa setenang ini?"
"Emosi hanya akan merugikan diri sendiri. Benar kan?"
Usai itu, Sitha memilih duduk sebentar ada tempat duduk dari batu. Gadis itu kemudian berkata kepada Dharma.
"Mas Dharma duluan aja, aku agak nanti. Aku ingin di sini dulu," kata Sitha.
"Saya tungguin kok, Bu. Kalau memang sakit diungkapkan saja tidak apa-apa kok, Bu. Menangis boleh, asalkan setelah itu Bu Sitha harus janji akan bangkit dan tidak akan pernah menyerah."
Sitha tersenyum getir mendengarkan ucapan Dharma. Andai saja Danu bisa bersikap baik dan tulus seperti Dharma pastinya Sitha akan senang sekali. Sayangnya, Danu justru seperti bermain api dengan Ambar, sahabatnya sendiri. Jika sudah seperti ini, rasanya hatinya merasa bimbang.
tetap semangat ✊
Gusti Allah tansah mberkahi 🍀🌸❤🌸🍀
disyukuri walaupun hanya ada selintas ingatan yang masih samar di benak Shita
Terlebih didalamnya banyak terdapat sentuhan wawasan Budaya Jawa yang tentunya akan memperkaya pengetahuan si pembaca.
Saestu...sae sanget 👍