Pada malam badai, hidup Beatrice runtuh dalam satu ketukan pintu.
Ayahnya, sang penjudi, terjerat utang enam juta euro kepada Matteo Vitale, mafioso paling ditakuti di Sisilia. Pria dingin yang matanya sebiru langit sebelum badai itu tak menginginkan uang. Ia menginginkan Beatrice.
Untuk menyelamatkan nyawa keluarganya, Beatrice menyerahkan dirinya sebagai "pelayan" di rumah besar Matteo, sebuah benteng penuh pengawal bersenjata. Hari-harinya diatur oleh perintah, tatapan yang menelanjangi, dan kemarahan yang bisa meledak kapan saja. Namun semakin ia melawan, semakin Matteo kehilangan kendali. Dan semakin Matteo mendekat, semakin Beatrice takut pada hal yang paling tidak ia duga: dirinya sendiri.
Di balik pintu-pintu terkunci, ada rahasia yang jika terbongkar bisa menghancurkan segalanya. Di luar tembok, musuh-musuh Matteo sudah mengincar kepala siapa pun yang ia cintai.
Seberapa jauh seorang pria sanggup memiliki? Dan seberapa jauh seorang perempuan sanggup bertahan sebelum ia berhenti ingin pergi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Carolini Rodrigues, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Matteo masuk ke kamar mandi. Beatrice masih bersandar di pintu, tak bergerak. Ia menggeleng. "Tenangkan dirimu, Beatrice," bisiknya pada diri sendiri. Lalu ia mengangkat kepala dan berjalan pelan ke tempat tidur. Ia merapikan ranjang, membuka tirai, dan memungut beberapa pakaian yang tergeletak di lantai. Ia menunggu untuk memasukkannya ke keranjang cucian, yang sialnya ada di kamar mandi. Seakan bisa membaca pikirannya, Matteo keluar dari kamar mandi dengan celana bahan hitam yang entah kebetulan atau tidak mencetak jelas apa yang ada di depannya, dan kemeja putih dengan beberapa kancing teratas terbuka, memperlihatkan sedikit dadanya. Rambutnya tersisir rapi. Begitu ia keluar, Beatrice buru-buru memasukkan pakaian ke keranjang dan merapikan kamar mandi, yang ternyata hampir sebesar kamarnya.
Matteo duduk di kursi dan menyilangkan kakinya.
Beatrice berpikir keras. Untuk ukuran kamar mandi laki-laki, tidak terlalu berantakan. Tapi setelah ini apa yang harus kulakukan? Dia pasti mengurungku lagi. Aku harus bertemu Papa. Dia harus mengeluarkanku dari penjara ini. (Ia menarik napas dalam-dalam.)
Ia menyelesaikan semuanya dengan cepat dan keluar.
"Kau masih di sini?"
"Ini masih rumahku!"
"Kopimu akan dingin."
"Sudah selesai?"
"Sudah."
"Bagus. Ayo sarapan."
Matteo berdiri dan berjalan ke pintu. Ia membukanya dan menyadari Beatrice masih berdiri di tempat.
"Ada apa? Cepat!"
"Aku akan sarapan dengan Joana, di dapur!"
Matteo tersenyum dan menggeleng, menatap Beatrice. Ia memasukkan tangan ke saku dan terus memandanginya.
"Apa yang kukatakan sampai begitu lucu?"
"Aku tidak bertanya kau mau sarapan denganku atau tidak. Ini perintah! Sekarang ayo."
Ia berbalik lagi.
"Dan aku bilang aku akan makan bersama Joana di dapur."
Matteo berhenti, menyisir rambutnya yang baru saja tersisir rapi.
"Kau sedang menguji aku?" (Ia berkata dengan marah.) "Kau pikir kau siapa? Turun sekarang, kita sarapan bersama."
"Aku tidak mau. Di sini aku hanya pelayan!"
"Kau sendiri yang meminta ini."
Ia berjalan menuju tangga. Beatrice mengikutinya hati-hati; ia menutup pintu lalu menuruni tangga.
Matteo murka!
"ANTONIO! ANTONIO!" (Ia berteriak ke seisi rumah.)
"Saya di sini, Tuan!"
Matteo menyadari kehadiran Beatrice dan bicara cukup keras agar ia mendengar.
"Telepon Tuan Leonardo dan bilang dia tidak perlu datang hari ini."
Beatrice membeku mendengarnya. Apa maksudnya? Papa mau datang hari ini?
"Tidak! Apa maksudmu? Papa mau datang ke sini?"
Ia bergegas menuruni tangga.
"Bukan urusanmu, tapi ya. Kukira itu ide bagus, tapi kulihat kau tidak pantas mendapatkannya. Selama kau tidak patuh dan belum mengerti bahwa akulah yang berkuasa di sini, kau tak akan bertemu siapa pun. Dan mulailah berdoa, karena kalau kau melanggar aku, adikmu yang akan menjadi berikutnya."
"Kumohon, aku akan sarapan bersamamu, tapi biarkan Papa datang menemuiku!"
"Tidak!"
"Bajingan!"
Ia menerjang Matteo dan memukul dadanya berkali-kali. Matteo berusaha menangkap tangannya, tapi Beatrice sedang murka.
"Penjahat! Mafioso menjijikkan! Aku benci kau, aku benci kau!" teriaknya sambil terus memukul.
Sampai tangannya mengenai wajah Matteo. Begitu sadar apa yang ia lakukan, Beatrice mundur dengan kedua tangan menutup mulut.
Matteo meletakkan tangan di wajahnya, matanya terpejam. Ketika terbuka lagi, kemarahan di dalamnya tampak jelas. Ia mendekati Beatrice, yang melangkah mundur...
"Kalau kau melangkah satu kali lagi, akan lebih buruk!"
Meski ketakutan, Beatrice berhenti dan berusaha menahan air mata yang terus ingin jatuh.
Matteo mencengkeram lengannya dan menyeretnya ke belakang rumah.
"Ada orang yang baru belajar kalau dikasari."
"Kau menyakitiku!"
"Sayang, kau tidak tahu apa artinya disakiti!"
Ia mencengkeram lebih kuat.
"Berhenti!"
Di luar rumah besar itu, di belakang berdiri sebuah pondok kecil. Matteo membuka pintunya. Di dalamnya ada kursi dengan penahan tangan, rantai di langit-langit, drum berisi air, beberapa tongkat bisbol, dan perkakas yang kemungkinan besar untuk menyiksa, belum lagi noda darah di lantai.
"Jangan lakukan ini, kumohon!"
Dalam benaknya, pria itu akan menyiksanya. Tetapi Matteo membuka pintu sebuah ruangan kecil dan melemparkannya ke lantai.
"Kau akan tinggal di sini sampai kau belajar siapa yang berkuasa."
Ia keluar dan mengunci pintu. Beatrice berlari menggedor pintu, tapi pria itu sudah pergi, meninggalkannya dalam gelap total. Di ruangan itu hanya ada kasur tua, tanpa selimut, tanpa kamar mandi. Di sinilah mereka menyekap para pengkhianat atau siapa pun yang keluar jalur atau berbuat bodoh.
Beatrice terus menggedor pintu. "Keluarkan aku, keluarkan aku!" teriaknya berkali-kali. Melihat semuanya sia-sia, ia tak punya pilihan selain duduk dan menangis!
Matteo kembali ke rumah dan sarapan. Setelah puas, ia pergi, memberi tahu para pekerjanya bahwa tak seorang pun boleh mendekati tempat itu.
Di markas mafia, ia mencari kabar tentang Francesco.
"Kami dengar dia bekerja untuk mafia Mancini," kata Lorenzo.
"Aku mau dia hidup-hidup! Tak ada yang menembak keluargaku dan lolos begitu saja."
Mereka terus mencari Francesco. Dua hari berlalu dan belum ada kabar apa pun.
"Sialan! Dia tidak mungkin menghilang seperti hantu. Dengar baik-baik, cari bajingan itu sekarang juga, atau salah satu dari kalian yang akan menggantikan tempatnya!"
Para anak buah mendengarkan dengan mata terbelalak.
"PERGI! APA YANG KALIAN TUNGGU?"
Para pria itu keluar cepat-cepat.
"Apa yang mengganggumu?" tanya Lorenzo.
"Apa dikelilingi orang-orang tak becus belum cukup membuatku kesal?"
"Selain itu, apa yang mengganggumu? Masih perempuan itu?"
"Aku tidak mau membahasnya. Aku pulang. Kalau ada apa-apa, kabari aku."
"Baik, Nak."
Matteo masuk ke mobil dan berangkat pulang...