NovelToon NovelToon
Ketika Takdir Membawa Adira

Ketika Takdir Membawa Adira

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Duda
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Siapa Adira?

Pemakaman Aruna baru saja selesai. Tanah merah yang masih basah telah menutup pusara wanita yang begitu dicintai Areksa.

Beberapa orang yang hadir satu per satu mulai meninggalkan area pemakaman.

Namun, Areksa masih berdiri di tempatnya.

Tatapannya tidak beranjak dari gundukan tanah di hadapannya. Kedua matanya sembap, wajahnya terlihat begitu lelah. Rasanya ia masih belum percaya bahwa beberapa jam lalu Aruna masih ada, dan kini namanya hanya tertulis di atas sebuah batu nisan.

Areksa perlahan berjongkok di samping makam. Tangannya menyentuh tanah yang masih basah.

“Maaf, Sayang...” bisiknya lirih. “Aku belum bisa pulang tanpa kamu.”

Air mata kembali mengalir di pipinya. “Aku masih ingin di sini sebentar.”

Dari belakang, Soraya memperhatikan putranya dengan hati yang hancur. Ia tau tidak mudah bagi Areksa menerima kehilangan sebesar ini.

Namun, ada seseorang yang sekarang membutuhkan Areksa.

Soraya melangkah mendekat dan berdiri di samping putranya.

“Reksa...”

Areksa tidak menjawab.

Soraya menarik napas panjang. “Sekarang Aretha membutuhkan kamu, Nak.”

Mendengar nama putrinya, Areksa terdiam.

Soraya melanjutkan dengan suara lembut. “Aruna sudah pergi. Tapi dia meninggalkan bagian dari dirinya untuk kamu jaga.”

Areksa menundukkan kepala. “Aretha...”

“Betul, Kak.” Felicia, adik tiri Aruna, ikut mendekat. Matanya masih sembap karena menangis. “Ayo.”

Areksa mengusap wajahnya kasar. Ia kembali menatap makam Aruna untuk beberapa saat.

“Maaf, Aruna.” Tangannya mengepal.

“Aku akan datang lagi.”

Areksa berdiri perlahan.

Sebelum meninggalkan makam, ia menatap nisan itu untuk terakhir kalinya. “Aku janji akan menjaga Aretha.”

Kemudian ia melangkahkan kaki meninggalkan pemakaman.

Setiap langkah terasa berat. Namun ia tetap memaksakan dirinya untuk terus berjalan.

Karena sekarang, ada seorang bayi kecil yang sedang menunggunya. Putri mereka.

Aretha Maharani Dirgantara.

***

Begitu sampai di rumah yang selama ini mereka tempati, Areksa langsung mendengar suara tangisan bayi dari dalam. Tangisan itu begitu nyaring hingga terdengar sampai ke halaman.

Areksa yang baru saja memasuki rumah langsung menoleh.

Di ruang keluarga, Bayu terlihat sedang menggendong Aretha yang terus menangis. Wajah pria itu tampak kewalahan.

“Untunglah kalian sudah sampai,” ucap Bayu begitu melihat Areksa dan yang lainnya.

“Kenapa, Mas?” tanya Soraya khawatir.

“Aretha terus menangis dari tadi. Sudah berbagai cara aku lakukan, tapi dia tidak juga berhenti.”

“Sini, Mas. Biar aku gendong.”

Bayu menyerahkan Aretha kepada Soraya.

Soraya menggendong cucunya dengan penuh kasih sayang. Ia mengusap punggung kecil Aretha sambil mengayunkannya perlahan.

“Ayo, Sayang... jangan menangis.”

Hanya beberapa detik Aretha terdiam. Namun setelah itu, tangisannya kembali pecah.

“Lho...” Soraya sedikit panik.

“Mungkin dia haus. Kamu sudah kasih susu, Mas?”

“Sudah. Tapi dia menolak.”

Felicia yang sejak tadi berdiri di dekat mereka segera mendekat. “Boleh Feli gendong, Om, Tante?”

Soraya menyerahkan Aretha kepadanya. “Iya, silakan.”

Felicia menerima tubuh mungil itu dan mencoba menggendongnya. “Ayo, Sayang. Jangan nangis.”

Namun tangisan Aretha justru semakin keras.

Felicia mulai panik. Ia mengayun-ayunkan tubuh bayi itu, tetapi tidak berhasil.

Tidak hanya Felicia. Sisil dan Bara yang merupakan mertua Areksa juga ikut mencoba menenangkan Aretha. Berbagai cara dilakukan, mulai dari menggendong, mengusap punggung, hingga mengayunkannya perlahan.

Namun tidak ada satu pun yang berhasil. Aretha terus menangis.

Di dalam hati, Felicia mulai menggeram kesal. Kenapa sih anak ini nggak mau diam juga?

Ia melirik Areksa yang berdiri tidak jauh dari sana. Bisa-bisanya aku gagal cari perhatian Kak Areksa gara-gara bayi ini.

Felicia kemudian menyerahkan Aretha kembali kepada Soraya. “Dia nggak mau diam, Tante.”

Soraya menghela napas. “Aduh, kenapa ya?”

Areksa yang sejak tadi hanya memperhatikan akhirnya melangkah mendekat. “Sini sama Papa, Nak.”

Soraya menyerahkan Aretha kepada putranya. Begitu berada dalam gendongan Areksa, tangisan Aretha masih terdengar. Namun perlahan, tangisannya mulai mereda.

Areksa mengusap kepala putrinya dengan hati-hati. “Sudah... Papa di sini.”

Suara tangisan Aretha semakin kecil.

Beberapa saat kemudian, bayi itu benar-benar tenang. Hanya suara sesenggukan kecil yang masih terdengar dari bibir mungilnya.

Semua orang yang melihatnya terdiam.

Soraya tersenyum tipis. “Dia memang paling tenang kalau sama kamu.”

Areksa menatap putrinya. Wajah kecil itu perlahan tertidur di dadanya.

“Dia pasti haus, Reksa. Tapi dia nggak mau susu formula.” Ucap Soraya.

Areksa mengerutkan kening. “Jadi aku harus kasih dia apa, Ma?”

“Kasih dia ASI."

"ASI? Bagaimana bisa?"

"Kita cari pendonor ASI."

“Pendonor ASI?” Areksa menatap ibunya. “Memangnya ada?”

Soraya mengangkat bahu. “Ya namanya juga mencari. Kita usahakan.”

Areksa kembali menatap putrinya yang sudah tertidur. Namun tiba-tiba, sebuah nama terlintas di kepalanya.

Adira.

Ia teringat ucapan terakhir Aruna sebelum meninggal.

Selain kamu dan keluarga kamu, aku cuma percaya Adira yang bisa merawat anak kita.

Areksa mengerutkan kening. Adira. Siapa sebenarnya wanita itu?

Aruna tidak pernah sekalipun bercerita kepadanya tentang seorang sahabat bernama Adira. Setidaknya, selama satu tahun pernikahan mereka, Areksa tidak pernah mendengar nama tersebut.

“Biar aku yang cari, Ma.”

Soraya menatap putranya. “Kamu mau cari ke mana?”

“Aku belum tau.”

Areksa menatap putrinya yang tertidur dalam pelukannya. “Aku harus tau siapa Adira.” Gumamnya dalam hati.

Ia kemudian melangkah menuju kamarnya. Sesampainya di sana, Areksa meletakkan Aretha perlahan di tempat tidur bayi yang berada di samping ranjangnya. Setelah memastikan putrinya tetap tertidur, ia mengambil ponselnya.

Ia mulai mencari. Satu-satunya petunjuk yang ia miliki hanyalah sebuah nama.

Adira. Sahabat Aruna. Dan wanita yang mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk memenuhi kebutuhan ASI putrinya.

Areksa tidak tau harus mulai dari mana. Namun ia tidak akan berhenti sebelum menemukan wanita itu.

Karena sebelum pergi, Aruna telah menitipkan sebuah pesan kepadanya. Dan Areksa merasa pesan terakhir istrinya mungkin menyimpan alasan mengapa ia begitu mempercayai Adira.

Areksa menatap layar ponselnya dengan kening berkerut.

Begitu banyak nama Adira yang muncul di media sosial. Ia sudah mencoba berbagai cara untuk menemukan sosok yang dimaksud Aruna, tetapi tidak satu pun memberikan kepastian.

“Mana yang benar?”

Areksa mengusap wajahnya frustrasi. Ia tidak memiliki foto Adira. Tidak tau nama lengkapnya. Bahkan tidak tau bagaimana awal perkenalan Aruna dengan wanita tersebut.

Akhirnya, Areksa memutuskan mencari petunjuk dari barang-barang peninggalan istrinya.

Ia masuk ke ruang kerja Aruna. Ruangan itu masih sama seperti sebelum Aruna pergi. Meja kerja dengan beberapa dokumen tersusun rapi, rak buku yang dipenuhi buku-buku hukum, serta laptop yang biasa digunakan Aruna untuk bekerja.

Aruna memang seorang pengacara. Namun sejak usia kandungannya memasuki tujuh bulan, ia memutuskan berhenti sementara dari pekerjaannya demi menjaga kesehatan hingga persalinan.

Areksa duduk di depan laptop istrinya. Ia menyalakannya dan mulai memeriksa beberapa berkas pekerjaan yang tersimpan di dalamnya.

Satu demi satu ia buka. Sebagian besar adalah dokumen kasus lama yang sudah selesai ditangani. Ada pula beberapa dokumen pekerjaan yang belum sempat dirapikan.

Hingga sebuah berkas membuat gerakan tangannya terhenti. Nama yang tertera di sana hanya satu.

Adira.

Areksa langsung membukanya. Beberapa informasi muncul di layar.

“Adira Talitha Sanjaya...”

Areksa membaca nama itu perlahan. “Ini dia.”

Akhirnya, ia merasa menemukan titik terang.

Ia membaca dokumen tersebut dengan lebih teliti. Ternyata, Adira pernah menjadi klien Aruna.

Kasus yang ditangani Aruna berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga.

Dari catatan tersebut, terlihat bahwa Aruna menangani kasus itu beberapa bulan sebelum ia berhenti bekerja karena usia kandungannya.

Areksa terus membaca. Kemudian matanya berhenti pada bagian alamat.

Ia segera mencatatnya. Alamat rumah Adira tertera lengkap di dalam berkas tersebut.

Areksa menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Jadi kamu Adira Talitha Sanjaya...”

Ia menatap layar cukup lama. Namun semakin banyak informasi yang ia temukan, semakin banyak pula pertanyaan yang muncul di kepalanya.

“Kalau dilihat dari kasus ini, kalian baru saling mengenal beberapa bulan.”

Areksa mengerutkan kening. “Lalu kenapa Aruna begitu percaya sama kamu?”

Ia teringat pesan terakhir istrinya. "Selain kamu dan keluarga kamu, aku cuma percaya Adira yang bisa merawat anak kita.'

Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.

Areksa tidak mengerti. Bagaimana mungkin Aruna bisa memberikan kepercayaan sebesar itu kepada seseorang yang baru dikenalnya beberapa bulan?

Apa yang sebenarnya terjadi di antara Aruna dan Adira?

Dan mengapa Aruna sampai yakin bahwa Adira adalah orang yang tepat untuk merawat Aretha jika sesuatu terjadi kepadanya?

Areksa mengembuskan napas panjang. Ia menutup laptop, kemudian mengambil kembali ponselnya. Alamat Adira sudah ia simpan.“Aku akan datang menemui kamu.”

Tatapannya berubah serius. “Aku harus tau siapa kamu, Adira.”

Areksa kemudian menoleh ke arah tempat tidur kecil di samping ranjangnya.

Aretha masih tertidur pulas. “Aku juga harus tau kenapa Mama kamu begitu percaya sama wanita itu.”

Areksa terdiam. Untuk sementara, hanya ada satu hal yang ia yakini.

Pertemuannya dengan Adira bukan lagi sekadar untuk mencari pendonor ASI. Ia harus menemukan jawaban atas pesan terakhir Aruna.

1
sunaryati jarum
Mama mertua the best tahu cara membantu putranya untuk dekat dengan istrinya /Good//Heart//Heart/
sunaryati jarum
Memang dia punya magnet untuk menarik kamu Nak Arka
sunaryati jarum
Emak beri dr Kenzo Adira itu istri majikannya
🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Beneran jatuh cinta Tuan Reksa
cutegirl
nah kan begtu enak Diomongin
sunaryati jarum
Jadi ternyata Little girl kamu itu Adira bukan Aruna, jangan buru-buru buru Nak Reksa juga jangan memaksa ,beri perhatian nanti trauma dengan pernikahan dulu akan hilang hatinya jadi luluh
sunaryati jarum
Jalani saja Adira ikuti kehendak Authoor , yang penting upnya lancar pembaca senang,tegang , geram dan senyum juga gemas /Drool//Drool//Drool/


🥰🥰🥰🥰🥰🥰
sunaryati jarum
Emak berharap kalian menerima dan menjalankan pernikahan ini dengan penuh tanggung jawab bersama
sunaryati jarum
Berarti malai itu kamu sadar , karena masih terbayang kemolekan tubuh Adira.Semoga Adira memang jodohmu yang akan mendampingi sama kamu menua Nak Reksa
sunaryati jarum
Jalani saja Adira.Mungkin Areksa pernah bertemu Adira,atau cinta pertama saat kecil,jadi sekarang rasanya sangat familiar
sunaryati jarum
Ayah yang bijaksana sana,kirain. terjebak Felicia ternyata dengan Adira,itu kemauan Aruna,Niki Reksa harus menikah ya dengan Adira
Syti Sarah
kyak nya udh bucin tuh areksa sama Adira 🤭🤭
Syti Sarah: tinggal mnunggu Adira mnerima nya aja lgi kak 🤭
total 2 replies
NN
lanjut
Syti Sarah
smoga suatu hari nanti mreka bisa mnjdi sbuah kluarg yg bnar2 bhgia dan bisa mnrima stu sama lain 😊
kembangperawan
kapan terungakp siapa gadis kecik areksa?
Syti Sarah
areksa juga mnyukai Adira
just a grandma
blang aja kmu mencintai adira kan Reksa🥲
Syti Sarah
apakah nanti Adira akan mambenci areksa ya 🤔
Syti Sarah: psti nya itu Thor .bikin areksa pusing 7 kliling dulu Thor demi untuk mndpatkn Adira 🤣🤣🤣
total 2 replies
sunaryati jarum
Berarti kalian.pernah ketemu saat kecil
Syti Sarah
psti di kasi obat perangsang deh oleh felicia.itu psti rncan nya dgn mama nya 😏
Syti Sarah: iya btul bnget kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!