NovelToon NovelToon
Lidah Perak Tinta Darah

Lidah Perak Tinta Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Anak Genius / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.

Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.

Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.

Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.

Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PROLOG

PROLOG: Dua Cawan di Atas Meja

Salju turun perlahan di Lembah Hening, menutupi bekas luka bakar di tanah yang hangus akibat perang bulan lalu.

Di tengah padang salju itu, berdiri sebuah paviliun kayu sederhana tanpa dinding. Di sanalah dua orang yang paling berbahaya di benua ini duduk berhadapan. Tidak ada pasukan pengawal. Tidak ada pedang di pinggang. Tidak ada penyicip makanan.

Hanya ada sebuah meja bundar kecil, teko keramik yang mengepulkan uap hangat, dan dua cawan kosong.

"Kau terlihat lelah, Sura," kata pria itu. Suaranya halus, serendah gesekan beludru, namun memiliki ketajaman yang bisa mengiris kaca.

Kian menuangkan teh ke cawan di hadapan Sura. Gerakannya anggun, presisi, seolah ia sedang melukis dan bukan menuang air panas. Jemarinya yang panjang dan pucat tidak bergetar sedikit pun, meski di luar radius lima mil dari tempat ini, seratus ribu tentara bayaran di bawah komandonya sedang menunggu satu jentikan jari untuk membumihanguskan Kerajaan Ostand.

Sura tidak menyentuh cawan itu. Ia menatap Kian—pria yang dulu pernah berbagi sisa roti dengannya, pria yang dulu pernah berjanji akan mengubah dunia bersamanya. Wajah Kian masih sama tampannya, namun matanya telah kehilangan cahaya manusia. Yang tersisa hanyalah kalkulasi dingin.

"Dan kau terlihat... bosan, Kian," balas Sura datar.

Kian tertawa kecil. Tawa yang sopan, tawa yang sering ia gunakan di pesta dansa para bangsawan sebelum ia menghancurkan reputasi mereka di pagi harinya.

"Dunia ini memang membosankan jika kau sudah tahu cara kerjanya, Sayangku," ujar Kian sambil menyesap tehnya sendiri dengan nikmat. "Manusia itu mudah ditebak. Beri mereka roti, mereka akan patuh. Beri mereka musuh, mereka akan bersatu. Beri mereka ketakutan, mereka akan menyembahmu."

"Kau membunuh tiga ribu orang di Distrik Selatan hanya untuk memancingku datang ke meja ini," suara Sura bergetar, bukan karena takut, tapi karena amarah yang ditahan sekuat tenaga.

"Koreksi. Aku tidak membunuh siapa pun," Kian meletakkan cawannya. "Aku hanya menulis surat. Surat palsu yang meyakinkan Gubernur Selatan bahwa tetangganya adalah pengkhianat. Mereka saling bunuh sendiri. Aku hanya memberikan... dorongan."

Kian mencondongkan tubuh ke depan, menatap Sura lekat-lekat.

"Ingat pelajaran pertama kita di Akademi, Sura? 'Pedang bisa patah, perisai bisa hancur, tapi satu kalimat yang tepat bisa memenggal seribu kepala.'"

Sura memejamkan mata. Ingatan itu menghantamnya. Masa-masa di mana mereka adalah dua murid nakal yang duduk di atap perpustakaan, bermimpi menjadi diplomat yang membawa perdamaian. Masa sebelum ambisi memakan jiwa Kian.

"Aku ingat," bisik Sura. Ia membuka mata, menatap lurus ke manik mata Kian yang kelam. "Dan aku juga ingat pelajaran kedua: 'Jangan pernah meremehkan lawan yang diam.'"

Sura akhirnya mengambil cawan teh di hadapannya. Ia tidak meminumnya. Ia menuangkan isinya perlahan ke lantai kayu paviliun. Cairan teh itu mendesis saat menyentuh kayu, meninggalkan noda hitam berbusa.

Racun.

Kian tidak terkejut. Ia justru tersenyum lebar, seolah bangga murid terbaiknya bisa menebak langkahnya.

"Kau selalu waspada," puji Kian. "Itu sebabnya aku merindukanmu. Tidak ada orang lain yang mengerti permainan ini selain kita."

"Ini bukan permainan, Kian. Ini nyawa manusia." Sura berdiri, menjatuhkan cawan kosong itu hingga pecah berkeping-keping. Suara pecahannya menggema di keheningan lembah.

"Negosiasi gagal," kata Sura dingin.

"Sayang sekali," Kian ikut berdiri, merapikan jubah sutranya yang mahal. "Padahal aku sudah menyiapkan kursi di sebelah singgasanaku untukmu. Kita bisa menjadi dewa di dunia baru ini, Sura."

"Aku tidak butuh singgasana di atas tumpukan mayat," Sura berbalik badan, mulai melangkah menjauhi paviliun menuju badai salju.

"Sura!" panggil Kian.

Langkah Sura terhenti, tapi ia tidak menoleh.

"Jika kau melangkah keluar dari paviliun ini, perang dimulai," suara Kian tidak lagi main-main. Nadanya berat, penuh ancaman yang nyata. "Ostand akan rata dengan tanah sebelum matahari terbenam."

Sura mendongak menatap langit kelabu.

"Kalau begitu," jawab Sura tanpa menoleh, "siapkan tinta merahmu, Kian. Karena kali ini, aku tidak akan menulis surat perdamaian."

Sura melangkah pergi, menghilang di balik tirai salju putih.

Di belakangnya, Kian kembali duduk perlahan. Ia menatap pecahan cawan di lantai, senyumnya menghilang, digantikan oleh tatapan kosong yang sunyi. Ia mengangkat tangannya sendiri, memberi sinyal pada bukit di kejauhan.

Satu detik kemudian, suara terompet perang meraung memecah langit.

1
riana rayyan
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!