Emily tak menyangka bahwa dia masuk ke sebuah novel yang alurnya membuatnya harus menikah dengan seorang miliarder kaya.
Pernikahan absurd itu malah sangat menguntungkannya karna dia hanya perlu berdiam diri dan menerima gelar nyonya serta banyak harta lainnya.
Namun sayangnya, dalam cerita tersebut dia akan mati muda!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
《Chapter 1》
Dalam kehidupan yang cuma sekali ini, Emily bertanya-tanya mengapa ia harus di lahirkan dalam keluarga yang begitu membencinya.
"Dasar anak tidak berguna!" bentak Ayahnya, malam ini pria itu pulang dengan keadaan mabuk seperti hari-hari biasanya.
"Kalau saja kau tidak lahir! Istriku pasti masih hidup!" Perkataan ini keluar sembari tangannya yang tak berhenti memukul Emily, gadis itu hanya bisa diam menerima semua kesakitan yang terasa menjalar ke sekujur tubuhnya.
Ia sudah terbiasa di pukul, tak ada niat baginya untuk membalas atau melakukan sesuatu agar dirinya selamat, karna nyatanya ia juga sudah lelah dengan kehidupan seperti ini.
Sudah lama ia ingin mati saja dan ikut pergi ke dunia para roh agar dapat berkumpul bersama ibunya, mungkin saja Ibunya dapat memberikan penjelasan mengapa ia memilih mempertahankan Emily di saat Ayahnya tidak ingin ia lahir ke dunia.
"Kenapa kau tidak mati, hah!" sangat cocok, Ayahnya juga menginginkan kematiannya, satu pukulan terakhir di berikan Ayahnya dengan menggunakan botol minuman yang dijadikan sebagai alat melukai untuk Emily dari tadi.
Darah mengucur deras dari kepala Emily, mungkin pria itu tidak sadar bahwa pukulannya mengarah pada organ vital manusia, biasanya Emily hanya akan mendapat lebam di sekujur tubuh, namun kali ini, kepalanya mulai terasa pening.
"Mungkinkah ini bisa menjadi akhir penderitaan ku?" ucap Emily sebelum kegelapan menghampirinya, kedua matanya tertutup begitu saja.
***
"Emily!, bangun Emily!"
Emily merasa aneh, bukankah seharusnya ia berada di surga? Tapi mengapa di surga ada sebuah Cafe?, dan siapa perempuan yang berada di depannya ini?.
"Apakah aku sangat lama sampai kau tertidur pulas di Cafe?, kau tidak malu dengan para pelanggan yang menatapmu?" Emily mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan Cafe.
"Aku masih hidup?" Pertanyaan Emily sontak membuat gadis di depannya tertawa.
"Apa kau sedang stress karna sudah menandatangani kontrak pernikahan dengan orang yang bahkan belum pernah kau kenal?" tanya gadis di depannya.
"Kau siapa?" Kali ini gadis itu mengkerutkan dahi, ia bergerak menempelkan telapak tangannya di dahi Emily.
"Tidak demam, mengapa kau bisa berkata jahat seperti itu? Aku Renata, Sahabatmu satu-satunya," jawab Renata dengan wajah sedih seolah sudah di sakiti oleh Emily.
Emily yang mendengar nama Renata kemudian mengingat sebuah Novel yang dulu pernah ia baca, sebuah Novel yang tokoh utama perempuannya memiliki nama yang sama dengannya dan punya sahabat bernama Renata.
'Apa ini hanya kebetulan?,' pikir Emily.
"Apa aku telah setuju menikahi Albert?" tanya Emily, ia hanya ingin memastikan apakah ia memang telah masuk ke dalam Novel itu.
"Nah itu kau ingat, ku kira kau sudah gila," Renata meminum kopi, sementara Emily tak dapat memikirkan alasan logis mengapa ia berada disini, sebuah dunia yang mungkin bukan dunia nyata, ataukah selama ini ada banyak dunia yang belum pernah ia ketahui?
'Bisa jadi ini adalah reinkarnasi,' pikir Emily lagi.
"Apa kau begitu ingin meninggalkan keluarga mu yang hanya memanfaatkan mu sebagai ladang uang itu?"
Emily memikirkan alur cerita Novel ini sekali lagi sebelum menjawab pertanyaan Renata.
"Bukankah bagus?, aku bisa mendapat 50 juta di awal pernikahan dan 100 juta di akhir masa kontrak," jawab Emily, ia harus mengikuti alur cerita dengan baik.
Kini, ia bertekad untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik, setidaknya dalam Novel ini ia akan mati karna penyakit, bukan karna di siksa oleh keluarganya.
Bahkan keluarganya yang di sini hanya gila akan uang, mereka tidak pernah bermain fisik pada Emily dalam Novel ini, jadi setidaknya Emily bisa lega karna tidak akan merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Begitu mereka selesai berbincang, Renata terlebih dahulu pulang, meninggalkan Emily yang tidak tau harus berjalan ke arah mana untuk pergi menuju rumahnya.
"Permisi, apakah anda adalah Nona Emily Harlet?" tanya seorang pria pada Emily yang sedang berdiri di depan Cafe, Emily hanya menganggukkan kepala.
"Anda siapa?" tanya Emily penasaran.
"Saya sekretaris Tuan Albert Juan, mari saya antar ke mansion, Tuan sudah menunggu anda"
Meski tidak bisa membayangkan akan di bawa kemana dirinya, namun Emily percaya saja karna pria itu menyebut nama Albert, ia juga ingin tau seperti apa penampilan tokoh utama dalam Novel ini.
'Oh tidak, aku juga belum melihat wajahku, bisa jadi berbeda dengan sebelumnya' Ucap Emily dalam hati sambil memegang wajahnya, ia berencana untuk melihat wajahnya saat ada kesempatan untuk bercermin di sana.
"Silahkan duduk dulu nona, Tuan akan segera pulang," pria itu kemudian pergi meninggalkan Emily sendiri di tengah ruangan yang mewah.
Banyak lukisan vintage yang digantungkan di sekeliling ruangan utama mansion tersebut, sofa besar dengan corak warna emas dan silver mendominasi, bahkan dindingnya juga bermotif warna yang sama, jangan tanyakan berapa harga vas besar yang berada disana.
Menurut ingatan Emily, tokoh utama dalam Novel ini adalah seseorang dari keturunan bangsawan yang sangat kaya raya, namun yang mengejutkan adalah ia tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun, hal ini yang membuat orangtuanya khawatir karna rumor bahwa anaknya memiliki ketertarikan pada sesama jenis.
Oleh sebab itu mereka menyuruh Albert untuk cepat menikah, agar dapat menghentikan rumor tersebut.
"Tuan Albert," sapa Emily begitu ia melihat pria yang penampilannya mendominasi memasuki ruang tersebut, ia bisa menebak bahwa pria itu adalah tokoh utama.
Albert memandang Emily dengan cukup teliti lalu bertanya "Apakah kamu sudah paham dengan isi kontrak kita?"
Ia tidak suka jika ada kesalahan dalam sebuah kontrak yang akan ia laksanakan, Albert hanya ingin transaksi yang akan ia lakukan berjalan dengan baik.
"Saya sudah mengerti," Emily menganggukkan kepala, ia hanya akan bertahan satu tahun bersama pria ini untuk mendapat uang dengan nominal besar itu.
Tentu saja Emily tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, apalagi ia bisa tinggal di sebuah mansion yang megah, tidak ada yang perlu ia khawatirkan lagi, Emily tidak peduli mengenai alasan mengapa pria itu melakukan ini.
"Kalau begitu kita akan segera melangsungkan pernikahan"
Setelah mengatakan hal itu, Albert mempersilahkan Emily untuk membersihkan diri sebelum makan malam bersama.
Emily bukan orang yang suka pilih-pilih makanan, ia makan dengan lahap mengabaikan Albert yang makan dengan elegan di kursi yang sangat jauh di depannya.
Seumur hidupnya dulu, ia tak pernah melihat meja makan yang begitu besar panjang seperti yang ada di hadapannya sekarang.
"Oh ya, mulai sekarang kamu bisa berbicara santai denganku, dan jangan panggil saya Tuan," ujar Albert di sela mereka menyantap hidangan.
Setelah makan malam, keduanya pergi menuju kamar mereka masing-masing yang berada di lantai dua.
Kamar Albert berada di ujung yang lain sedang Emily di ujung lainnya, ada 4 kamar yang berada di lantai dua sedangkan lantai satu hanya memiliki 1 kamar untuk tamu dan beberapa kamar yang ukurannya lebih kecil untuk ditinggali oleh para pelayan yang ada disana.