Halsey Diana, itu namaku sebenarnya aku cukup dini untuk menikah karena aku baru saja beranjak usia 17 tahun dan aku juga masih duduk dibangku SMA kelas 3 semester akhir. Bukan, bukan aku bukan hamil duluan seperti kebanyakan dari pernikahan dini.
Aku menikah dengan seorang pria 15 tahun lebih tua dariku, aku ingatkan kembali aku menikah bukan karena hamil atau jadi simpanan om-om namun ini karena perjodohan orang tuaku.
Tapi, mampuhkan aku bertahan didalam pernikahan dengan pria 32 tahun itu. Aku atau dia yang akan gagal mempertahankan pernikahan ini atau pernikahan ini akan berhasil sampai aku menua dengannya.
Ayo lanjutkan membaca ceritaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon safira a, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 9
Aku sudah terbangun sejak jam 04:00 pagi sekali bukan ? Tentu saja, aku berinisiatif bantu-bantu masak bersama ibu nya mas irwan yah ibu mertuaku. Rumah ini sangat besar seperti mansion.
Karena keluarga mas irwan yang sedang berkumpul ini sangat banyak sekali, aku tidak tega melihat ibu mertuaku sedang memasak di dapur bersama beberapa pembantu sedangkan aku tidur tidak enak hati aku tuh.
Tadinya aku terbangaun karena haus dan mas irwan tidak mau bangun untuk mengantarku ke dapur hanya dia hanya menunjuk dimana dapur, disitu awal mulanya aku melihat ibu mertuaku sedang sibuk.
Terjadi percakapan juga sebelum aku pamit keatas lagi untuk meminta izin mas irwan, menggosok gigi, menyuci mukaku dan berganti baju dengan yang lebih sopan.
"Terima kasih yah udah mau bantu mama pagi-pagi sekali" ibunya mas irwan tersenyum hangat padaku, aku mengangguk dan tersenyum kembali padanya.
"Bagaimana berumah tangga dengan anak mama ? Pasti kesulitan yah ?" Aku terdiam sebentar otakku masih mencerna ucapannya. Dan memikirkan semua perlakuan mas irwan pria itu bahkan tidak merepotkan aku selama tinggal dengannya.
"Tidak kok mah, mas irwan tidak menyusahkan bahkan dia sangat baik padaku" entahlah saat mengingat mas irwan rangkaian 3 bulan yang lalu menyapa di otakku kejadian itu sangat membekas yah itu menghangatkan hatiku.
"Tentu saja dia baik padamu karena kamu istrinya" ibu mertuaku tertawa setelah berkata demikian dan aku hanya tersenyum malu-malu iya juga yah aku istrinya makanya di perlakukan begitu baik oleh dia, aku jadi penasaran bagaimana pria itu memperlakukan wanita lain di luar sana atau orang yang dia cintai dan sayangi seperti mantan pacarnya mungkin ?.
Aku dan ibu mertuaku berbicara banyak bahkan hilir mudik, sampai tidak terasa semua masakan sudah matang dan siap di sajikan.
"Nak halsey atau diana, boleh mama titip ini sama kamu ?" Aku menatap ibu yang tengah menata masakan tadi keatas meja dorong yang akan di bawa oleh para pelayan ke meja makan. "Mama boleh panggil pake halsey aja" aku menanggapi itu saja, agak gimana juga jika aku di panggil dengan nama belakangku.
Sebenarnya aku cukup bingung apa yang akan ibu mertuaku titipkan, aku terdiam menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya.
"Mama titip pesan buat kamu, jika nanti di masa depan terjadi sebuah kesalah pahaman jangan pergi yah. Bertahanlah tunggu irwan menjelaskan, tolong percaya pada anak ibu yah walau ia dingin tapi dia memiliki hati yang hangat dan rapuh" aku cukup terdiam karena ucapan ibu apa lagi di akhir kalimatnya, aku melihat mas irwan bukan tipekal orang seperti itu.
"Iya mah, aku nggak bisa janji tapi aku akan mencobanya" aku punya traumatis sendiri untuk mengucapi kata janji karena aku takut akan mengingkarinya bahkan di hadapan tuhan saja aku masih ragu dan takut.
******
Aku selesai jam 06:45 yah setelah membantu merapihkan dapur yang sedikit belatak karena acara masak tadi.
Setelah selesai mandi aku menuju ranjang yah untuk membangunkan mas irwan yang masih tidur di atas tempat tidurnya.
Aku mendudukan diriku di sisinya, aku melihat wajah tertidur mas irwan yang sedikit berbeda tidak setengan ia saat tidur di rumah, dahinya berkerut apa dia sedang mimpi buruk ?.
Aku mengangkat menepuk-nepuk pipi mas irwan seraya membangunkan dia.
"Mas, mas bangun" ucapku selembut mungkin, mas irwan tak merespon sama sekali bahkan kerutan di dahinya semakin tebal dan keringat mulai membasahi dahinya.
"Mas" aku kembali memanggilnya dan menepuk-nepuk bahkan mengguncangkan sedikit bahunya. Waktu pria itu terbangun ia sangat kaget sekali seperti meliat siapa saja.
"Mas kenapa ?" Aku melihat gerak-gerik mas irwan yang sedang menatap kamar ini dan menyinggap keringat di dahinya. "Hah---memang saya kenapa ?" Mas irwan sedikit linglung sepertinya.
Aku menggapai tangan yang didalan pangkuannya aku memenggang dan mengusapnya hangat, entahlah aku merasa dia mengalami hal yang tak bisa di ceritakan.
Aku masih setia di sampingnya sampai pria itu benar-benar mendapatkan kesadarannya. Sebenarnya aku ingin memeluk dia karena tidak tega melihatnya seperti itu namun, aku terlalu takut haha istri macam apa aku ini.
"Mas, mandi dulu gih nanti kita sarapan bersama keluarga yang lainnya pasti sudah menunggu" tak lama mas irwan pun turun dari ranjang menuju kamar mandi. Aku menyiapkan baju untuknya dan mas irwan keluar dari kamar mandi kembali masuk saat ia sudah mengambil bajunya.
Saat kami turun ke bawah entah kenapa mas irwan begitu was-was dan cemas perubahan raut wajahnya tidak berbohong jika ada sesuatu yang tidak nyaman.
"Mas baik-baik aja ?" Aku berbisik takut pria ini sakit pertanyaanku itu di balas dengan gelengan kecil.
Di acara sarapan itu aku di puji oleh seluruh keluarga itu karena ibu mertuaku terus bilang "ini masakan menantuku, cobalah bukankah ini sangat enak" sekiranya seperti itu bahakan lebih banyak. Aku jadi nyaman berada di lingkungan keluarga mas irwan yang baik daj ramah.
Sampai siang acara di berjalan dengan menyenangkan tak terlebih ketika semua bercanda gurau, tidak dengan suamiku yang begitu tegang dan cemas entah karena apa. Sampai dia berpamitan bersama ibu mertuaku untuk berbicara sebentar katanya.
Aku duduk didekat ayah mertuaku dan nenek yang sedang tertawa karena sepupu-sepupu mas irwan terus saja melayangkan candaan.
"Nak halsey, boleh ayah berbicara sebentar" ayah mertuaku mengajak ku menjauh sedikit dari keramaian keluarga itu untuk berbicara.
Sebenarnya aku agak gugup juga berbicara dengan ayahnya mas irwan walau ramah ia memiliki wajah yang sama dengan mas irwan sama-sama keliatan garang dan dingin.
"Nak, bolehkah ayah mertua mu meminta agar kamu tetap kuat kedepannya, entah itu karena ke brengsekan aku di masa depan. Jika suatu saat nanti ada sebuah masalah tolong jangan tinggalkan anak ayah yang rapuh itu yah" aku tidak mengerti kenapa semua di keluarga ini terus berucap seperti itu entah itu dari nenek,ibu mertua bahkan sepupu-sepupu lainnya dan sekarang ayah.
Aku mengiyahkan saja, dan menerima usapan sayang di kepalaku.
******
Aku dan mas irwan memutuskan untuk kembali kejarkata waktu sore, semua keluarga meminta kami untuk menginap lagi hanya saja. Besok aku sekolah dan mas irwan ada meeting penting katanya.
Jadi kami langsung memutuskan untuk kembali. Didalam perjalanan itu hening tak ada yang bersuara kami sibuk dengan pikiran masing-masing.
Sesampai kami di rumah bahkan masih hening mas irwan masih nyaman dengan membisunya dan aku sudah lelah langsung memutuskan untuk tidur.
_____________________________________________
[Sabtu, 06 November 2021]
Author : Safira Aulia Hamidah
Wtpd : Safira Auliya Hamidah
Instagram : Safira19989
Note : Jika sehari telau up date ada dua kemungkinan itu saya yang sibuk atau revisi dari noveltoonnya melewati 2 harian. Terima Kasih telah mampir