Karya pertama.
Masih tahap revisi.
Banyak typo bertebaran.
Hana seorang gadis yang cantik dan lembut, dirinya harus berurusan dengan Reihan, pria yang mencintainya tapi tidak suka di bantah.
Nb: Aku buat ceritanya enggak berat-berat tapi ringan dan datar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yulia.l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps10
Reihan membuka kenop pintu ruangan tempat beristirahat kekasihnya. Ia melihat Hana yang tertidur dengan sangat lelap. Perlahan ia mendekati Hana lalu berjongkok memandang wajah kekasihnya itu, tangannya terulur merapikan rambut Hana yang menutupi wajahnya ke belakang telinganya.
Tak perlu buang waktu. Detik itu juga Reihan mengangkat tubuh Hana perlahan menuju pintu keluar dan menggendongnya dengan hati-hati agar wanitanya itu tidak bangun.
Saat Reihan turun dari tangga dengan membawa Hana, Tika dan Amel di buat kagum oleh kelakuan kekasih Bosnya yang sangat perhatian menurut mereka.
"Mel... Aku juga mau di gendong seperti itu... Kapan ya....?" kedua mata Tika berbinar-binar sembari menggoyang-goyangkan lengan temannya yang tidak lain adalah Amel.
"Beneran... kamu mau? yaudah, kamu pura-pura pingsan saja di pinggir jalan, supaya ada seseorang yang gendong kamu sampai ke rumah sakit. Hahaha..." Amel sampai tertawa membayangkan temannya dilarikan ke rumah sakit.
"Ih, amit-amit. Ogah aku kalo yang kaya gitu mah." jawab Tika bergidik ngeri.
Di saat Reihan akan membawa Hana masuk ke dalam mobil, supir pun buru-buru membukakan pintu belakang. Setelah itu Reihan memerintahkan kepada supirnya melajukan mobilnya ke kediaman Hana.
Kini mobil berjalan melewati padatnya jalanan kota di sore hari. Reihan terus memperhatikan Hana yang masih lelap. benar-benar begitu lelapnya entah kelelahan atau memang kebiasaan tidurnya? gadis yang sangat aneh bukan.
"Aku baru tahu kebiasaan mu ini, kalau sedang tidur sampai-sampai tak sadar. Seperti orang pingsan saja... Hehe..." gumam Reihan sambil terkekeh melihat kekasihnya itu yang seperti putri tidur.
"Hhhmm... Mulai sekarang, aku akan memanggilmu putri tidur saja," sambungnya lagi berbisik di telinga Hana seakan-akan wanitanya itu mendengarnya, walau pada kenyataannya Hana masih tertidur sangat pulas.
Saat mobil sudah sampai di kediaman Hana, supir segera berlari membukakan pintu mobil. Kebetulan Juna sedang duduk di teras rumah sambil menyeruput kopi buatannya. Lalu ia bangkit dari duduknya karena melihat Reihan keluar dari dalam mobil sambil menggendong tubuh adiknya melangkah ke menuju teras.
"Han? apa yang terjadi dengan adikku Bos?" tanya Juna penasaran.
"Iya tadi adikmu ini ketiduran di toko roti miliknya. Sudah cepat, antar aku masuk dulu ke dalam rumahmu."
"Oh, iya iya." Juna mengangguk dan mengajak Reihan masuk kedalam rumahnya, lalu menunjukkan letak kamar Hana pada Reihan, Bosnya itu.
Di bukanya pintu kamar adiknya itu. "Bos masuklah,"
Reihan pun masuk dengan masih menggendong Hana lalu meletakkannya dengan perlahan, lalu menarik selimut sampai ke dada.
"Sepertinya ia sangat lelah sekali." ucap Reihan yang masih memperhatikan Hana yang terlihat sangat lelap.
"Kau benar. Dia itu kalau bekerja, sangat semangat sekali. Dan sekalinya lelah, tidurnya pasti sangat pulas seperti orang pingsan saja, hehehe..." Juna menceritakan kebiasaan adiknya itu sambil terkekeh. Sedangkan Reihan menanggapi ucapan Juna dengan tersenyum. Baginya mengetahui kebiasaan tentang wanitanya itu membuatnya tak bosan. Baginya kini hanya Hana kehidupan utamanya.
"Sebaiknya kita kebawah untuk minum kopi buatan ku, Bos." ajak Juna.
"Baiklah... buatkan aku kopi yang enak, Jun..." pinta Reihan.
"Sip..." jawab Juna sambil mengacungkan jempolnya ke arah Reihan. Lalu mereka turun ke bawah untuk minum kopi bersama
Di paviliun belakang rumah, sambil menikmati langit sore yang mulai tenggelam di kuasai malam, mereka berdua masih asyik mengopi sambil mengobrol-ngobrol ringan.
"Jun, ku dengar kau mempunyai tetangga pria." ucap Reihan menyelidik.
"Tetangga pria? siapa Bos?" tanya Juna karena bingung.
"Yang selalu mendekati adikmu. Masa kau tidak tahu?"
"Oh... pria itu... aku baru ingat, dia pria yang baik, humoris dan juga sopan. Dia memang menyukai adikku, dan sempat meminta izin padaku untuk mendekati Hana."
Refleks Reihan langsung memukul meja di depannya sampai cangkir yang berisi kopi miliknya bergoyang karena guncangannya. "Apa?! Kau memberikan izin pada pria itu untuk mendekati wanitaku??"
"E, eh. Kau dengar dulu... aku kan belum selesai bicara..." Juna menenangkan teman sekaligus Bosnya itu.
"Memang... aku sempat memberikan izin padanya untuk mendekati Hana. Tetapi Adikku menolak, dikarenakan dirinya masih trauma akibat Ayah yang pergi meninggalkan Ibu dalam keadaan sakit-sakitan dan kami masih terlalu kecil saat itu." ucap Juna menjelaskan semuanya.
"Mulai sekarang aku yang akan menjaga Hana dan menghilangkan rasa ketakutannya itu. Jadi kau tidak perlu khawatir lagi."
"Aku percaya padamu Bos. Ya... walaupun awalnya aku sempat ragu, karena melihat sifat mu yang arogan, galak, dan tidak mau mengalah. Sangat bertolak belakang dengan yang Hana sukai. Kau tahu tidak, waktu Hana baru pertama kali mengenalmu, ia berharap itu terakhir kalinya bertemu denganmu. Hehe... aku sampai lucu melihat ekspresi nya saat itu,"
"Benarkah...? tapi kau bisa lihat kan, bahwa sekarang adikmu bisa jatuh hati kepadaku."
"Iya iya... aku sekarang percaya kepadamu Bos..., puas!"
"Ya harus!" Reihan pun bangkit dari duduknya. "Kalau begitu aku pulang dulu. Oya, Mami menanyakan mu terus. Sepertinya Mami ingin membicarakan sesuatu hal yang penting."
"Tentang?" tanya Juna.
"Nanti kau juga akan tau..." jawab Reihan lalu berjalan meninggalkan Juna yang masih mencerna ucapan sahabatnya itu.
*
Kini malam sudah hadir dengan langit yang tiba-tiba mendatangkan mendung. rintik hujan perlahan mulai berjatuhan.
Merasa dirinya sudah tidur cukup lama, Hana pun akhirnya terbangun. "Kenapa aku ada di kamar...?" gumam Hana seraya mengusap kedua matanya. "Bukankah tadi siang aku tertidur di toko? ... Mungkin Kakak yang sudah membawaku pulang."
Karena seharian ini dirinya lelah mengurus toko roti, Hana memutuskan untuk mandi dengan air hangat supaya lebih rileks. Lalu membawa baju ganti, berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, ia keluar dari kamar mandi dengan setelan kaos oblong dan celana pendek favoritnya.
Hana melihat ke arah luar jendela, membuka gorden ya sedikit, dan ternyata hujannya semakin deras saja. "Duarrr...." suara petir terdengar begitu kencang.
"Akhhh..." pekik Hana ketakutan, sambil menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.
Berbarengan dengan suara petir yang menggelegar, listrik pun ikut padam dan itu membuat Hana semakin bertambah takut saja.
"Kak Jun... Kakak di mana? aku takut..." lirihnya sambil meraba setiap sudut dinding kamarnya yang gelap dan hanya ada cahaya kilatan petir. Hana berjalan pelan membuka pintu keluar, lalu menuruni anak tangga menuju lantai bawah.
"Kakak..." panggilnya lagi namun nihil tak ada yang menjawab, karena di rumah itu hanya ada dirinya saja.
"Duaarr...." terdengar lagi suara petir yang semakin malam semakin menyeramkan.
"Akkhh... Kakak aku takut..." teriak Hana yang semakin ketakutan sehingga membuatnya menangis.
"Dorrr.... dorrr.... dorrr..." suara gedoran dari arah luar pintu membuat Hana tersentak. Segera ia membuka pintunya.
Pintu pun terbuka. "Kakak... aku takut sekali... hik... hik..." Hana langsung memeluk erat pria yang berada di hadapannya.
"Tenang... jangan menangis. Mas ada disini untuk menemanimu." ucap pria itu yang tak terlihat wajahnya dikarenakan listrik yang padam saat ini.
Mendengar suara pria yang ternyata bukan sang Kakak, sontak membuat Hana melepas pelukannya dari tubuh pria di depannya saat itu juga.
"K- kau siapaa...?" tanya Hana ragu.
"Ini aku, Mas Diky. Tadi saat listrik padam, Mas mendengar mu berteriak. Karena panik langsung saja Mas datang ke sini," ucap Diky menjelaskan semuanya.
"Oh, iya. Tadi ku pikir kau adalah Kak Juna... dan ternyata aku salah orang. Maaf..."
"Sudah jangan di pikirkan. Sebaiknya kita menunggu sampai listrik menyala, oke?" ajak Diky.
"Hem." jawab Hana.
Sambil menunggu listrik menyala, mereka berdua berjalan ke arah sofa ruang tamu. Karena kondisi ruangan yang gelap, kaki Hana tak sengaja membentur meja kaca yang berada di depannya. "Aaww!!" pekik Hana.
"Kenapa?" tanya Diky panik.
"Ahhh... tidak apa-apa."
Diky merogoh ponselnya di saku celananya, lalu menyalakan lampu senter pada ponselnya, mengarahkan kepada Hana.
Dan betapa terkejutnya Diky melihat Hana yang meringis kesakitan, sambil memegangi kakinya yang terluka akibat benturan meja kaca.
"Ya ampun! kau terluka." sambil mengarahkan senter, Diky menuntun Hana untuk duduk di sofa.
"Duduklah dulu, Han. Mas mau cari kotak obat."
"Tidak usah Mas. Ini hanya luka lebam, dan aku baik-baik aja kok," tolak Hana karena memang tidak ada yang perlu di khawatirkan.
"Beneran...? tanya Diky.
"Heem." jawab Hana sambil manggut-manggut.
Dengan diterangi cahaya ponsel, mereka berdua hanya terdiam, bingung harus bicara apa.
"Duaarr!!" tiba-tiba petir menggelar begitu kencang seakan terdengar sangat dekat
"Akkhh!!" spontan Hana kaget sampai menutup telinganya rapat. Diky yang melihat Hana ketakutan, saat itu juga dirinya langsung memeluk tubuh Hana.
Hana memang sangat phobia sekali dengan suara petir. Semasa kecil dirinya pernah memiliki masa kelam yang tak pernah ia lupakan sampai saat ini.
Di saat merengkuhnya, Diky merasakan tubuh Hana yang bergetar menandakan ketakutan yang begitu dalam.
"Tenanglah... ada Mas di sini..." ucapnya menenangkan Hana.
Cukup lama Diky memeluk Hana, merengkuh tubuh wanita yang ia suka. Ada kebahagiaan yang saat ini ia rasakan, karena untuk pertama kalinya Diky bisa sedekat ini dengan Hana, bahkan bisa memeluknya. Karena biasanya saat Diky mendekatinya, Hana selalu menghindar dan sulit untuk ia raih.
Dirasa hujan sudah mulai mereda dan suara petir pun mulai melemah, di saat itu juga listrik kembali menyala, membuat Hana segera melepas dekapan Diky saat itu juga. Tapi sialnya anting sebelah kiri Hana tersangkut di kancing kemeja Diky.
"Adu, duhh... bagaimana ini Mas?" keluh Hana meringis menahan sakit.
"Kamu diam dulu... Kalau banyak bergerak, nanti malah tambah sakit..." ucap Diky sembari menatap lekat wajah cantik Hana dengan jarak yang begitu dekat. Diky merasakan jantungnya berdetak dengan cepat.
Lalu mata Diky kembali beralih ke kancing kemejanya yang masih tersangkut itu.
"Nah... akhirnya terlepas juga," ucap Diky bernafas lega, begitupun dengan Hana sembari mengusap-usap telinganya yang masih memerah.
Diky langsung mengusap lembut telinga Ara yang masih memerah. "Apa masih sakit?" tanya Diky.
"Ah.. enggak.. udah mendingan kok' Mas."
"Sedang apa kau? Apa yang kau mau perbuat dengan kekasihku?!" tiba-tiba Reihan datang dari arah pintu dengan wajah garangnya menatap tajam pria yang berada di samping kekasihnya itu. Sedangkan Juna yang berada di belakang Reihan merasa bingung karena tiba-tiba ada Diky di rumahnya.