Pertemuan yang tak di sengaja dalam sebuah pesawat. Hingga menimbulkan ketertarikan dan akhirnya menghadirkan benih cinta di hati seorang pria tampan
Arley Mahardika Altezza pada seorang
gadis cantik Attilah Nasya Ardilla (Ana).
Sementara sang Presdir mempunyai kekasih yang telah dijodohkan dengannya karena balas budi.
Kisah cinta mereka semakin rumit setelah di ketahui ternyata mereka adalah kakak dan adik, sementara mereka telah melakukan hubungan terlarang.
Bagaimana kisah cinta Presdir tampan bersama adiknya ini selanjutnya?
Mampir dan Ikuti yaah...🙏
Dukung author...🙏
dengan memberi like, rate, hadiah, vote, komentar biar author tambah semangat untuk up terus 😊
Karya ini di terbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia. Isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Yulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Beberapa saat kemudian lift berhenti dan pintu terbuka. Ana buru buru melepaskan pelukannya. Arley pun demikian, dia lega melihat Ana sudah tenang dan berhenti menangis.
Ana menyapu sisa air matanya, lalu segera keluar dan berlari cepat meninggalkan Arley.
"Ana___ Ana! Tunggu." teriak Arley kelabakan. Ana meninggalkannya tiba tiba, padahal dia masih ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan gadis itu.
Arley mengejarnya, Ana semakin mempercepat langkah larinya.
Arley membuang nafas berat, karena Ana tidak peduli dengan panggilannya dan terus berlari. Arley dia segera mengambil ponselnya di saku.
"Lakukan sesuatu untukku, secepatnya!" katanya kemudian, sesaat terlibat pembicaraan penting, lalu ponsel di matikan.
Arley terus melihat Ana yang sudah berada jauh di jalan raya mencegat taksi.
.
.
Setelah mandi dan shalat magrib, Ana mengunjungi neneknya di rumah sakit.
Bik Mul mengatakan besok neneknya akan mulai melakukan kemoterapi pertama.
Ana sedih, dari mana dia dapat biaya untuk kemoterapi. Sekali kemoterapi biayanya hampir 20 juta. Uang di dompetnya saja tidak cukup sejuta.
Dengan langkah gontai dia meninggalkan rumah sakit, tujuannya ke rumah mamanya.
Dia tidak mau menyerah begitu saja.
Berulang kali di telepon, nomor mamanya tidak aktif, begitu juga dengan pamannya.
Suara adzan shalat isya berkumandang saat dia tiba di depan pintu gerbang pagar rumah Nandita.
"Nona Ana?" sapa sala seorang penjaga keamanan begitu melihatnya.
"Selamat malam pak, apa mama ada di rumah? aku sudah mencoba menelpon mama dan paman berulang kali, tapi nomor mereka tidak aktif. Tolong sampaikan ke mama aku ingin sekali bertemu dengannya." pinta Ana memelas.
"Nona ingin bertemu dengan ibu Nandita?"
"Iya pak, tolong masuklah ke dalam sampaikan pada mama aku ingin bertemu dengannya, ini sangat penting sekali." pinta Ana.
"Maaf non, nona tidak bisa menemuinya sekarang, datanglah beberapa hari lagi."
"Tapi pak, aku ingin ketemu mama sekarang. Aku tidak bisa menunggu beberapa hari lagi, ini sangat penting dan darurat, tolong katakan pada mama." meletakkan kedua tangannya di depan dada memohon.
"Masalahnya mama non tidak berada di rumah! Dia pergi keluar negeri tadi pagi."
"Keluar negeri? Bukannya mama baru kembali beberapa hari lalu?" Ana kaget.
"Ibu balik lagi karena ada urusan penting." kata satpam.
"Apa yang bapak katakan benar? bukan karena untuk menghalangiku masuk ke rumah ini kan?"
"Ini benar non, ibu pergi luar negeri karena beliau akan menikah." kata satpam yang satunya.
"Menikah?" Ana terkejut.
"Mama mau menikah lagi?" ucapnya lagi.
"Benar non, pak Dito memberi perintah pada kami untuk menjaga rumah ini dengan baik selama mereka pergi! Dengar dengar mereka mau ke paris. Mungkin ibu Dita akan menikah di sana, tapi kami tidak tahu jadwal pernikahannya kapan."
Ana mengeluh sedih dan kecewa.
"Mama mau menikah lagi?" batin Ana, setelah pernikahan yang ke tiganya gagal.
"Mama mau menikah lagi, hanya mementingkan kesenangan diri sementara nenek sedang berjuang melawan penyakitnya. Ya Allah___." Kedua matanya basah. Dia tidak mengerti terbuat dari apa hati mamanya yang sama sekali tidak perduli dengan orang tua yang sakit.
Ana segera meninggalkan tempat itu setelah pamit. Dengan langkah lesu Ana berjalan menelusuri jalan kawasan itu. Pada siapa lagi dia mengadu? Ana bingung.
Hanya kepada Allah satu satu jalan untuknya mengadu, tempat selama ini dia meminta pertolongan dan memohon petunjuk serta menenangkan hati.
Dia melangkah mendekati mesjid yang berada di sekitar kawasan itu.
"Ya Allah, aku datang lagi kepadamu untuk meminta petunjuk mu, jangan pernah bosan mendengar tangisan dan keluh kesahku." ucap Ana sedih saat memasuki ruang Mesjid.
Tidak jauh daru belakangnya, dua orang mengikutinya diam diam.
Waktu menunjukkan pukul 8 malam, Ana duduk termenung di halte bus sambil menatapi kendaraan yang lalu lalang melintas di depannya. Sudah beberapa kali bus berhenti tapi dia tak kunjung naik.
Kedua matanya yang basah menatapi layar ponselnya. Pesan yang di kirim pada mamanya belum terbaca, nomor mamanya pun belum aktif hingga sekarang, dia yakin mamanya telah mengganti nomor.
"Mama, aktifkan nomor mama, dan bacalah pesanku, aku mohon." gumamnya terisak-isak.
Telepon berdering mengagetkan dirinya, juga sekaligus membuatnya senang. Dia mengira telepon dari mamanya, tapi ternyata hanya Roy. sedikit kecewa di rasakan.
"Halo An, kamu di mana?"
"Aku sedang di jalan, ada apa?" menahan Isak tangisnya.
"Gak ada apa apa, aku hanya ingin mengatakan kalau pak Riko tadi meneleponku, dia menanyakan dirimu. Bagaimana hasil pertemuan mu dengan pak Riko, apa dia bersedia membantumu?"
Ana mengeluh sedih.
"Aku gak bisa nerima syaratnya Roy."
"Dia memberi syarat kepadamu? dia meminta syarat apa?"
"Aku gak bisa ngomong sekarang, Nanti saja kalau kita ketemu."
"Baiklah An, tapi kamu baik baik saja kan sekarang?" tanya Roy menangkap suara Ana yang lemah dan berat.
"Iya Roy, aku baik. Aku hanya memikirkan nenek." ucap Ana seraya menyapu bekas bekas air matanya.
"Ya sudah, aku tutup teleponnya. Jika kau butuh sesuatu beri tau Aku."
"Baik Roy..."
Telepon di matikan.
Perkataan dari Roy membuat Ana teringat kembali pembicaraannya dengan Riko. Sungguh dia sangat jijik mendengar syarat yang di ajukan bosnya, dia tidak menyangka pimpinannya meminta syarat rendah seperti itu.
Ana menelpon beberapa tempat yang di gunakan sebagai pengajuan pinjaman, dan
hanya kata Maaf maaf dan Maaf jawaban yang mereka berikan.
Ana membuang nafas berat, Air matanya kembali mengalir.
Dia melihat jam di ponselnya, sedikit lagi pukul 21.00, Riko mengatakan batasnya hanya jam 22.00 malam.
Ana kembali menangis
"Haruskah aku menjual diriku untuk biaya pengobatan nenek?" ucapnya terisak isak.
Dia kembali teringat mamanya.
"Mama, tolong aku___hanya mama harapan ku. Aku mohon, jangan biarkan aku menjual tubuhku." air mata semakin banyak mengalir. kembali menekan nomor Nandita berulang. "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan." menjawab panggilannya sejak tadi. Suara sistem.
Ana menangis tersedu-sedu.
"Mama, aktifkan nomor mama, tolong ketuklah hati mama ya Allah" ucapnya menengadah ke atas seolah berbicara pada sang pencipta.
Tubuh Ana semakin lemah, dia jatuh terduduk melorot kebawah, sambil terus menangis pilu terisak.
Waktu terus berjalan. Detik, menit tidak ada pesan masuk dan panggilan pada ponselnya. Akhirnya dia putus asa.
Ana menekan nomor kontak Riko.
"Baik pak, aku setuju dengan tawaran anda. Tapi aku mengajukan beberapa syarat....."
"Katakan__." suara Riko dari seberang tersenyum menyeringai penuh kemenangan.
Lima syarat yang di ajukan Ana, langsung di setujui. Dia juga sudah dapat menebak syarat syarat itu pasti akan di minta oleh Ana.
"Datanglah ke hotel X sekarang, aku akan mengirim pesan nomor kamarnya." kata Riko di akhir ucapannya.
Setelah selesai menerima telepon dari Ana, Riko segera menghubungi orang kepercayaannya di perusahaan cabang 2.
Dia tersenyum tipis, membayangkan tubuh indah Ana.
Ana menyapu air matanya, tidak ada lagi yang dapat di lakukan, tidak ada yang bisa membantunya, dia tidak akan mengharapkan bantuan mamanya lagi. Tidak akan ada yang dapat menolong neneknya kecuali dirinya sendiri, dia memantapkan hati meski terasa hancur dan bertentangan dengan hati nuraninya sebagai seorang yang di ajarkan ilmu agama oleh neneknya.
"Nenek, maafkan aku! Ya Allah Ampuni Aku." ucapnya lirih dan sendu.
Ana segera berdiri melangkah ke jalan raya mencegat taksi yang melaju ke arahnya. Dia menuju hotel yang di sebut Riko tadi.
Sementara sebuah hati mendesah kecewa dan marah mendengar keputusannya menerima tawaran Riko ....
Arley___yang mendengar pembicaraannya dengan Riko, karena ponsel Ana telah di sadap oleh orang suruhannya sewaktu Ana mengerjakan shalat isya di masjid.
Bersambung.
Maaf baru bisa up 🙏
Terimakasih yang masih setia menunggu kelanjutan Ana dan Arley ❤️
Jangan lupa dukung ya. Masukkan ke favorit, bintang lima, vote dan hadiah kopi ☺️
plisss buat season 2 nya