Alya Rahmadhani, anak kedua dari keluarga Hasan dan Rahma, menerima perjodohan pilihan Ayahnya. Menggantikan Kakaknya yang bernama Tyas, Karena Ia sudah memiliki calon lebih dulu.
Dimas yang baru menyadari ternyata Anak ke-2 pak Hasan yang akan ia nikahi. Menjadi dilema karena Raka adiknya sudah menyukai lebih dulu sejak awal masuk kuliah. Tetapi Dimas juga sudah mulai suka kepada Alya.
Kini pria yang pernah Alya jumpai saat berada di Jogja beberapa tahun lalu akan menjadi pendampingnya, dan tanpa Alya sadari perlahan ia mulai menyukai Dimas.
Karena belum bisa menerima perjodohan tersebut, Raka lebih memilih ke Kalimantan sesuai permintaan Ayahnya. Mengubur jauh rasa sayang untuk memiliki Alya.
Tetapi takdir berkata lain, ada banyak polemik yang menerjang hubungan mereka.
Akankah Alya menikah dengan Dimas atau Raka akan kembali ke Jakarta menghentikan pernikahan Alya dan Dimas ?
Ikuti novelnya sampai tuntas ya readers, untuk dapat klimaks nya !!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adhel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Besar
Malam harinya Alya masih terjaga, kedua matanya menatap langit-langit kamar yang gelap. Taburan Bintang kecil dari sudut ruangan pantulan lampu kamar membuat suasana semakin tenang.
Tok .. Tok .. Tok ..
"Al udah tidur? kak Tyas boleh masuk?" Tanya Tyas dari balik pintu kamar.
Alya langsung membenarkan posisi tidurnya.
"Iya Kak masuk aja." Jawab Alya.
Ceklek !
Pintu terbuka, Tyas berjalan masuk dengan mengenakan pakaian tidur dan jilbab langsungnya.
"Ada apa Kak? Ko belum tidur?" Tanya Alya.
"Kakak kepikiran Kamu, karena Kakak menolak perjodohan itu Kamu yang harus menggantikan posisi Kakak." Jelas Tyas.
Alya berusaha memberikan senyum terbaiknya didepan Kakaknya, Ia tidak ingin melihat Tyas merasa bersalah. Walau hati berkata tidak, tetapi Alya sudah mengiyakan perjodohannya.
"Kakak jangan banyak berpikir ya, kesehatan Kakak yang terpenting. lagipula Kakak sudah punya pilihan jodoh, sedangkan aku belum ada. Mungkin dengan cara seperti ini jodoh untuk ku." Jelas Alya.
Tyas segera memeluk adik sekaligus pelindungnya sewaktu SMA setelah di diagnosa leukimia, Alya lebih banyak memperhatikan kesehatan Kakaknya.
"Makasih yak Dek, jika ada yang Kamu butuhkan bicara sama Kakak ya." Ucap Tyas.
Cup . Tyas mencium kening Alya dan beranjak meninggalkannya dikamar. Sepeninggalnya Tyas, Alya termenung dengan pilihan Ayahnya. Allah maha tau apa yang Kita butuhkan bukan yang Kita inginkan. Mungkin inilah salah satu pilihan hidup kedepan Alya sesuai pilihan Ayahnya.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
1 minggu berlalu, kini keluarga Alya sedang menunggu kedatangan Subadiyo dan keluarga. Hasan sudah memberitahu akan perjodohan diantara kedua keluarga ini. Rahma sedang kembali menata meja makan dengan berbagai hidangan yang sudah disiapkan sedari subuh, Tyas ikut membantu Bunda didapur. Sedangkan Alya terpenung dibelakang rumah sambil sesekali merapikan pakaian kemarin yang baru kering.
"Assalamualaikum." Sapa pria dewasa diluar.
Terdengar ucapan salam dari suara berat Subadiyo.
"Waalaikumsalam. Silahkan masuk." Ucap Hasan dan menyambut kedatangan keluarga besar Subadiyo diruang tengah.
Rahma segera menyusul kedepan bersama kedua anaknya. Terlihat Raka dibelakang tubuh Dimas yang belum mau beranjak dari posisinya diluar. Lestari segera menarik lengan Raka untuk masuk dan duduk didekatnya. Dimas melirik sejenak melihat keanehan dari sikap Raka.
"Terima kasih sudah repot-repot datang di gubuk Kami kembali." Ucap Hasan.
"Tidak repot Pak Hasan, justru Kami sangat senang atas undangannya kembali. Karna sekaligus melanjutkan pembicaraan perjodohan yang lalu." Jelas Subadiyo.
Deg !!
Hati Raka langsung sakit, ketika Papahnya mengucapkan perihal perjodohan, Ia terpaksa untuk ikut datang. Wajar saja mimik wajahnya tidak terlihat seperti biasanya ketika sampai dirumah Alya. Tidak ada tegur sapa kepada Bunda dan Alya terlebih dulu.
Perbincangan antara kedua keluarga berjalan baik, kedua calon saling diam dengan pikiran masing-masing. Dimas langsung duduk tegap ketika nama Alya yang disebutkan oleh ayah Hasan sebagai calon pendampingnya bukan Tyas. Selama perjalanan Subadiyo belum memberitahu perihal perjodohan itu diganti dengan anak kedua dari Hasan. Setelah dijelaskan perubahan terjadi karena Tyas sudah mempunyai jodoh yang akan menikah 1 bulan lagi.
Alya hanya menunduk tidak berani menatap kearah Dimas maupun Raka, terlihat kedua kakak beradik itupun tak lepas menatap kearah Alya. Masih tidak percaya dengan ucapan yang diberikan oleh Ayah Alya.
"Ehem,, nak Dimas apakah pernikahan ini bisa menunggu tahun depan setelah kakaknya Alya melangsungkan pernikahan? Karena selain dalam adat Kami tidak diperbolehkan menikah dalam 1 tahun 2 anak sekaligus, jadi harus menunggu tahun yang berbeda. Dan Alya juga meminta untuk menikah setelah kelulusan nanti." Jelas Hasan.
Subadiyo melihat kearah Dimas mengisyaratkan bahwa mereka setuju saja dengan permintaan yang diberikan Hasan.
"Baik Pak tidak masalah. Saya akan menunggu tahun depan." Jawab Dimas.
"Alhamdulillah." Ucap kedua orangtua Alya berbarengan sambil tersenyum.
Tyas meraih lengan kanan Alya untuk menguatkan. Alyapun tersenyum menatap kakaknya.
Setelah perjodohan selesai, kedua keluarga menyantap makan siang beserta sesekali ada pembicaraan santai yang dilontarkan Lestari. Menjelang sore keluarga Subadiyo pamit pulang.
(Raka masih terdiam tanpa menegur dirinya, bingung dengan sikap Raka. Tidak seperti biasanya, apa ada sesuatu yang disembunyikan. Monolog Alya).
Suara mobil Mereka sudah hilang dari kejauhan, Rahma dan Alya berjalan kembali kedalam rumah setelah menutup pagar.
"Al tunggu Nak, bisa kita berbicara sebentar disini?" Ucap Bunda sambil menunjuk kearah kursi kayu dibawah pohon cerry.
"Kamu tau kenapa dengan sikap Raka tadi?" Tanyanya kembali.
"Alya kurang tau Bun, nanti Alya coba tanyakan langsung ke Raka ya." Jawab Alya.
"Ya sudah, yuk kita masuk." Ajak Rahma.
Keduanya pun berjalan kearah pintu masuk, terdengar merdu suara adzan berkumandang dari masjid komplek. Lembayung senja perlahan masuk dari celah jendela depan rumah. Arah bayangan merekapun perlahan hilang ketika menutup pintu.
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
Dimas dan Raka duduk terdiam menatap lurus kedepan. Dimas memegang setir mobil dengan tangan kiri sedangkan tangan kanannya menopang dagu sambil bersandar kejendela. Jalanan kota Bogor malam minggu sudah ramai dengan kendaraan pribadi. Para pejalan kaki memenuhi trotoar, pedagang kaki lima ikut meramaikan suasana padat malam itu.
Hujan mulai turun membasahi jalan tol menuju Jakarta, Dimas sesekali melihat kearah Raka. Pandangannya masih tetap lurus diam seribu bahasa. Ada perasaan bimbang dari pertemuan siang ini. Mobil sport hitam yang dikendarai Dimas keluar pintu tol menuju jalan Menteng, hujan yang sempat membasahi perjalanan Mereka perlahan berhenti menyisakan rintik air hujan yang membasahi kaca depan mobil.
Pintu gerbang kediaman Subadiyo terbuka, penjaga keamanan memberi salam tetapi keduanya hanya diam tanpa membuka jendela, mobil sudah terparkir didekat teras rumah. Tanpa basa basi Raka berjalan mendahului langkah Dimas masuk kedalam rumah.
Kedua orang tua Mereka sudah lebih dulu sampai, melihat tingkah laku keduanya Merekapun bingung.
"Assalamualaikum Pah, Mah, Dimas langsung ke kamar ya." Ucap Dimas langsung berlalu menaiki tangga menuju kamarnya.
"Iya Dim, Adik Mu baik-baik saja?" Tanya Subadiyo.
"Entahlah Pah, mungkin kecapean." Jawab asal Dimas agar kedua orangtuanya tidak curiga.
Dimas berjalan menuju kamar yang bersebelahan dengan kamar Raka. Tadinya Ia ingin mengetuk pintu kamarnya untuk memastikan dia baik-baik saja, tapi niatnya Ia urungka ketika melihat keatas lampu kamar padam. Mungkin Ia tidak ingin diganggu saat ini.
Ceklek !!
Dimas masuk kedalam kamarnya, merebahkan diri diatas ranjang membuang asal sepatu. Memejamkan kedua matanya. Ia menjadi semakin bimbang dengan pilihan ini, semakin tidak enak kepada Raka. Kedekatannya langsung berubah total saat dihadapi urusan wanita. Dimas segera mengusap wajahnya, lalu berjalan menuju toilet bergegas mengambil wudhu dan mendirikan sholat isya dengan khusu. Melantunkan sholawat atas nabi, berdzikir dan menuntaskan dengan doa-doa terbaik.
.
.
.
Renata nya Thor