Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.
Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.
Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.
Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.
Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?
***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.
Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.
by Senja Cewen...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10 Gelisah Hati...
Pernikahan ini akhirnya berlangsung. Di sinilah dia. Nyonya Alves. Tanpa melepaskan atribut pernikahan, Rania melemparkan tubuhnya ke ranjang dan ingin segera terlelap. Bibir kaku, lidah kelu, rahang membatu, diakibatkan tersenyum sepanjang hari. Seluruh tubuhnya sakit.
Aku berharap bisa menciptakan pembersih wajah otomatis.
Rania tertidur lelap. Sementara mata seseorang mengawasinya dari kamera pengintai. Tanpa berkedip. Tangannya terulur menyentuh layar monitor berukuran raksasa. Di kamar tidur bernuansa akuamarin, Rania tampak seperti seorang Puteri tidur. Pria itu mengambil untaian rambut Rania, menghirup dalam dan mencumbu rambut itu dengan tatapan menggairahkan.
Ketika pintu kamar terbuka dan Raavero menjulang di depan pintu kamar, pria itu memaki.
"Bajingan kau, jangan berani sentuh dia! Aku akan memotong kedua tanganmu. Jangan! Jangan sentuh dia! Aku akan memotong tangan kotormu!"
Raavero menatap berkeliling seakan mencemaskan sesuatu. Pria itu berbalik dan hendak pergi, akan tetapi instingnya berbunyi. Raavero mendekati pembaringan Rania. Pria itu ragu sejenak sebelum menggendong Rania keluar dari kamar itu.
Pria yang mengawasi tayangan itu marah menjadi-jadi. Dia memukuli dinding tembok dengan kuat sampai tangannya terluka dan berdarah.
"Keparat kau, Raavero. Bajingan sialan! Aku akan membalasmu!" raungnya menakutkan. Pria itu merobek foto Raavero menjadi serpihan.
***********************************************
Rania terbangun oleh perasaan ganjil. Dia tertidur di kamar besar yang asing. Semalam dia tidur di kamarnya. Mengapa dia terbangun di sini? Kamar ini begitu indah, dihiasi bunga-bunga mawar peach yang indah. Beberapa kuncup peony terselip di antara mereka. Rania serentak bangun dan wajahnya bersemu merah ketika melihat gaun tidur peachnya. Astaga, apa Raavero yang melakukannya? Pandangan Rania menyapu sekeliling dan terkejut mendapati sesosok wanita muda belia sedang menungguinya.
"Selamat pagi, Nona. Saya Septi, asisten baru anda. Maaf sebelumnya, saya yang membantu anda mengganti gaun pernikahan anda semalam dan membersihkan wajah anda," ujarnya memperkenalkan diri. "Bisakah anda turun untuk sarapan setelah membersihkan diri? Pak Raavero, Nona Summer dan Ibu Margaret menunggu anda di bawah," katanya lagi.
"Terima kasih."
Rania bangun dengan malas dan menyeret tubuhnya ke kamar mandi. Setelah berdandan sedikit, Rania bergabung bersama keluarga barunya di meja makan.
"Aku akan keluar kota untuk urusan pekerjaan. Kamu, tak boleh ke kantor selama seminggu. Istirahatlah!"
Summer begitu sumringah menyambutnya berbanding terbalik dengan Tante Margareth. Rania begitu sungkan, ini karena Margareth bersikap acuh. Rania memang tidak mengharapkan apapun dari Margaret. Wanita itu mungkin telah terluka untuk waktu lama. Jadi, Rania memaklumi.
"Kak, makasih untuk gaunku dan gaun Mommy. Sungguh cantik," kata Summer memecah kecanggungan.
Rania tersenyum lembut. "Kamu suka?"
"Tentu saja, teman-temanku sangat ingin punya gaun peach seperti punyaku."
"Makan dulu baru bicara, Summer!" tegur Margaret.
Summer cemberut manja. Tingkahnya menggemaskan. Ketiganya punya warna mata yang sama. Mereka akhirnya makan dalam diam.
"Aku harus pergi kerja, Raav. Seminggu waktu yang terlalu lama untuk berdiam diri."
Mereka telah usai sarapan. Dia tidak ingin berdebat dengan Raavero lagi. Dia harus menjaga sikap.
"Kamu mau ikut denganku?" tanya Raavero serius.
Rania terperanjat. Membayangkan dia akan berdua saja sepanjang waktu dengan Raavero membuatnya gerah.
"Kamu mungkin akan lebih sering ku tinggal sendirian karena aku harus mengurus beberapa hal," tukas Raavero seakan membaca pikiran Rania. Wajah Rania memerah.
"Bagaimana dengan Mikaila?" tanya Margaret tiba-tiba. "Ku pikir kamu dan Mikaila berjanji akan bersama-sama keluar kota," pancing Margaret tenang.
Rania terkejut mendengar nama Mikaila disebut, tetapi berpura-pura tak peduli. Rania terus mengunyah roti panggangnya nikmat. Sekarang gadis itu memikirkan secara serius ajakan Raavero. Dia memandang Raavero yang terlihat gelisah oleh pertanyaan ibunya.
"Boleh aku tahu siapa Mikaila?" tanya Rania hati-hati.
"Bukan siapa-siapa. Mika adalah klienku. Perusahaannya sedang mengalami beberapa masalah, tersandung beberapa kasus dan aku diminta untuk menjadi pengacaranya."
"Oh baiklah. Semoga segera beres."
"Tentu...." balas Raavero cepat. "Aku akan pergi beberapa jam lagi," lanjut Raavero menunggu reaksi Rania.
"Aku tak bisa ikut. Pekerjaanku menumpuk dan aku pamit duluan. Aku akan menyiapkan barang-barangmu, Raav."
Rania berkata canggung. Gadis itu bangkit berdiri, melangkah mundur dan pergi tergesa-gesa. Sungguh tidak nyaman beraktivitas di bawah tatapan tajam ibunda Raavero. Beliau akan tinggal di sini untuk sementara waktu, itu berarti Rania akan selalu waspada.
Rania menyiapkan beberapa potong pakaian Raavero, mengemas dengan rapi dan memasukkannya ke dalam koper. Ini pertama kalinya dia mengatur koper seseorang selain punya ayah.
"Aku pikir kamu tak akan mampu karena Alya selalu melakukannya untukmu," ujar Raavero mengagetkan Rania.
"Entahlah, dulu aku mandiri. Aku masih ingat sering mengepak pakaian ayah, sebelum keluar kota."
Mereka berduaan dalam kamar tidur dan Rania selalu menghindari situasi seperti ini.
"Septi akan menemanimu dan ada Don Huan, pengawal yang aku siapkan untuk melindungimu."
"Raav, bisakah untuk tidak berlebihan? Aku baik-baik saja sendiri."
"Setelah aku kembali, bisakah kita mulai latihan bela diri?"
Raav mendorong kaca dan masuk ke dalamnya lalu kembali dengan sebuah kemeja putih bersih.
"Baiklah," sahut Rania sambil menutup koper. "Bisakah aku memberi saran?" tanya Rania terlihat ragu ...
"Tentu saja!"
Raavero memakai kemeja putih. Pria itu mengambil dasi biru tua dan memakainya.
"Kita sudah menikah, aku pikir, aku tak akan keberatan jika kamu berdekatan dengan wanita lain. Hanya saja, jangan sampai diketahui publik."
"Mengapa kamu berpikir, ada wanita lain? Apakah ada pria lain menunggumu di luar sana?"
Raavero memakai jas lalu jam tangannya. Ekor mata pria itu mengawasi Rania dari kaca cermin.
"Aku tak pernah terlibat dengan pria karena mereka melelahkan dan memuakkan."
Jawaban Rania di luar dugaan Raav. Pria itu mengawasinya, mencoba memahami Rania.
"Kita punya sudut pandang yang sama. Wanita juga seperti itu. Mereka itu makhluk terapuh sekaligus ular berkepala dua. Jadi, jangan cemas. Meskipun, agak susah bagiku untuk melepas image yang terlanjur melekat. Banyak orang tahu aku berkencan dengan banyak wanita, mereka sedang menunggu. Apakah aku bertobat? Atau bertambah buruk," sahut Raavero acuh tak acuh. "Inilah sebenarnya pernikahan itu, Rania. Nikmati saja!"
Rania menahan napas dan tidak ingin memaknai perkataan Raav. Rania tidak punya pilihan untuk kembali, walaupun dia ingin.
"Tidurlah di sini selama aku tak ada, kamarmu butuh persiapan. Lagipula, akan menimbulkan kecurigaan dari Ibuku jika kita tidur di kamar terpisah. Paham?"
"Baiklah."
"Summer akan pulang ke asrama hari ini. Kamu sering-seringlah temani Ibu," saran Raavero sambil membenarkan rambutnya.
"Baiklah," jawab Rania patuh. "Kapan kamu kembali?"
"Setelah urusanku beres."
Raavero berlalu dari ruangan kamar. Derap langkah kaki itu menuruni tangga, menjauh lalu menghilang bersama suara deru mobil. Meninggalkan rumah, meninggalkan Rania dan secercah perasaan aneh.
"Apakah anda akan ke kantor hari ini, Nyonya?"
Septi mematung di depan pintu masuk kamar. Gadis belia itu cepat akrab dengannya.
"Yah, seharusnya. Saya ada banyak kerjaan."
"Ibu Margaret meminta saya menyampaikan ini pada anda, Nyonya. Nyonya Rania mengurus diri sendiri mulai saat ini. Nyonya juga harus menyiapkan sendiri sarapan dan makan malam dan ...,"
"Baiklah Septi! Aku paham. Aku akan ke kantor dan pulang lebih awal untuk menyiapkan makan malam."
"Apakah aku bisa ikut ke kantor, Nyonya?"
"Tidak, Septi. Temani ibu Margaret untukku."
"Pak Raavero memintaku ikut ke manapun Anda pergi, Nyonya. Begitu pula Don Huan," ekspresi tidak nyaman Septi mengganggu Rania.
"Aku bisa melakukan, apa saja yang Nyonya inginkan," pinta Septi.
"Baiklah."
Rania harus menyesuaikan diri pada Septi dan Don Huan. Ponsel Rania berdering. Alya.
"Maafkan aku, Non. Anda harusnya beristirahat hari ini tetapi seorang klien memaksa bertemu anda. Beliau baru saja mendaftar pada bagian resepsionis untuk Diamond Member, Non."
"Aku memang akan ke kantor segera, katakan padanya untuk menunggu."
Rania bergegas ke ruang belakang mencari Ibunda Raavero, tetapi wanita itu telah pergi berbelanja sejak setengah jam lalu.
Rania memutuskan untuk segera ke kantor. Di hari pertama kehidupan pernikahannya, Rania merasa tak bersemangat. Ia memikirkan banyak hal. Ayah dan kehidupannya nanti. Raavero terlihat tertarik padanya tetapi hanya untuk dijadikan sandera. Pria itu terkadang seperti halaman buku yang mudah terbaca. Namun, dia terkadang seperti potongan puzzel, butuh untuk disatukan.
"Kamu berdua, bantu teman-teman lain beres-beres," pintanya pada Don dan Septi setelah sampai di Bridal. Alya menyambutnya seperti biasa dengan catatan-catatan di tangannya.
"Non, beliau datang dari luar pulau sendirian. Tunangannya akan tiba beberapa minggu lagi."
"Okay, apa yang dia inginkan?"
Alya menyodorkan map hijau. "Pernikahan dengan konsepfairytale. Beliau ingin beberapa gaun peri dan konsep pure negeri dongeng."
"Di mana beliau saat ini?"
"Di ruang rapat, Non. Bisakah aku memanggil anda, Nyonya?" tanya Alya ragu-ragu.
Rania menghela napas. "Tidak, Alya. Aku akan memberitahumu ketika waktunya tiba. Kamu baru boleh memanggilku Nyonya saat itu."
"Bisakah kita persiapkan konsep terlebih dahulu dan menghubunginya untuk meeting?"
"Tidak, Non. Beliau memaksa ingin bertemu anda."
"Baiklah. Coba kita lihat, apa maunya?"
"Bagaimana malam pertama anda?"
Pertanyaan mendadak Alya membuat Rania mengamatinya seksama.
"Maaf, jika pertanyaanku aneh. Aku hanya mencemaskan anda, Nona ... " ralatnya tertunduk menghindari tatapan tajam Rania.
"Alya, kita cukup dekat. Kita bahkan lebih dekat dari sekedar 'Bos - Assisten'."
Rania menimang sejenak. Alya punya mesin kecerdasan di otaknya dan itu di atas rata-rata. Dia bisa mengendus sesuatu secara akurat. Alasan mengapa Rania mempertahankan Alya di sisinya.
"Apa yang ingin kamu dengar?"
"Lupakan, Nona. Aku bertanya hal yang terlalu privasi. Itu karena aku terganggu oleh sesuatu."
"Aku tahu kamu selalu memikirkan keadaanku. Raavero dan aku tidak tinggal di satu ranjang. Kami ada di kamar terpisah dan beliau pergi pagi ini," ujar Rania lirih.
"Maafkan aku, Nona. Nona bisa lihat ini? Inilah alasan mengapa aku bertanya. Alya menyodorkan ponsel-nya.
"Maaf sebelumnya tapi akan lebih bagus jika anda melihat ini."
Rania memperhatikan beberapa foto yang disodorkan Alya. Dia mengenali, pria itu Raavero, suaminya. Meskipun, wajah Raavero tak kelihatan karena foto itu diambil dari belakang, tetapi Rania bertaruh, itu suaminya. Seorang wanita dan seorang gadis kecil bersamanya.
"Ini Mikaila Gilsha," jelas Alya. "Wanita ini hadir di pernikahan anda bersama anak perempuannya."
"Iyah. Mikaila dan suamiku punya hubungan baik sepertinya. Raavero mengajak aku ikut pagi ini, tapi aku memikirkan kerjaan kita yang pending. Raav juga memberitahuku akan mengurusi masalah Mika. Darimana kamu mendapatkan foto-foto itu?"
"Ini ada di akun Instagram Mikaila Gilsha. Beliau menulis caption 'mini me and her daddy'. Unggahannya ini di-posting satu jam lalu sebelum take off dan menimbulkan banyak spekulasi," lanjut Alya.
"Kamu mengikutinya di Instagram?"
"Yah, Nona. Mikaila Gilsha termasuk salah satu pesaing bisnis kita, Lavender juga mengeluarkan produk-produk kecantikan. Salah satu account kita mem- follow seluruh saingan bisnis kita."
"Walaupun mereka punya hubungan, aku ingin kita fokus tentang La Belle. Aku harus segera membayar utangku dan hidup tanpa beban. Tetapi Alya, jangan berhenti memberiku informasi seperti ini jika kamu mengetahuinya. Aku perlu menentukan sikap, mengambil keputusan, atau hanya sekedar mengatur semburat wajahku saat mendapat pertanyaan suatu saat kelak."
Hati kecil Rania ingin menolak percaya bahwa dia terganggu. Rania mulai kembali menyukai Raavero beberapa hari ini. Aroma tubuhnya, wajah datarnya dan cara bicara pria itu. Yah Tuhan, apa aku jatuh cinta padanya? Atau dia terbiasa dengannya.
"Jangan sampai terjadi." Hatinya berbisik gelisah.