Menceritakan seorang gadis anak yatim piatu , tinggal bersama paman dan bibinya , ibu dan ayahku meninggal di saat usia ku masih 8thn,
Sonya di jodohkan dengan fasya pamungkas anaknya pak bagaskara , oleh pamannya untuk membayarkan utang² mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icha Nurlaela sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Hari sudah beranjak malam,namun sonya masih terlelap di ranjangnya. Mungkin ia kelelahan karena membersihkan rumah seorang diri. Tak lama terdengar suara deru mobil yang berhenti di depan rumah. Fasya turun dari mobilnya,melihat lampu belum menyala ia mengerenyitkan dahinya bingung. 'Kemana si miskin itu?'~ pikirnya,lalu ia segera melangkahkan kakinya ke dalam rumah dengan terus berteriak memanggil nama sonya.
"Sonya! Sonya!!" merasa tak ada jawaban,fasya melangkahkan kakinya tergesa menuju kamar yang di tempati sonya dengan rahang yang mengeras marah.
Brak!!
Suara pintu yang terbuka kasar itu membuat sonya kaget dan refleks langsung terduduk di tepi ranjang,membuat kepalanya sedikit pusing akibat langsung duduk saat bangun tidur.
"Yak! Sialan! Apa yang kau lakukan hah!? Bersantai!? Bukannya menyiapkan makanan untuk suami mu kau malah enak²an santai di kamar!?" bentak fasya dan menarik rambut sonya kasar,membuat pusing di kepala sonya semakin bertambah.
"Ma-maaf om a-aku ha-hanya i-i-ingin ber-beristirahat seb-sebentar" sonya menjawab dengan tergagap juga air mata yang telah mengalir deras membasahi pipinya. Jujur ia sangat sangat takut jika fasya akan menyakitinya kembali.
"Banyak alasan! Masih mending aku mau menerima perjodohan ini dan membuat paman serta bibi miskinmu itu masih punya tempat tinggal!! Kau benar² wanita tak tau di untung!" bentaknya lagi sambil membawa sonya ke dapur dengan cara menyeretnya kasar lewat tarikan di rambutnya.
Sonya hanya bisa mengikuti langkah fasya sambil memegang tangan fasya agar tidak terlalu keras menarik rambutnya. Sesampainya di dapur fasya segera mendorong sonya sehingga perut sonya membentur keras ujung meja makan.
"Akhh!!" jerit sonya,lalu tangannya segera memegang kuat bagian perutnya yang terbentur meja,berharap dapat mengurangi rasa sakitnya.
"Ck.lemah!" decak fasya sambil memutar bola matanya malas dan melipat kedua tangannya di depan dada. "Cepat masakan makan malam untukku! Jangan cuman santai² doang bisanya! Dan ingat! Harus enak! Kalau tidak kau akan tau akibatnya!." lanjutnya lalu menarik salah satu kursi meja makan dan duduk di atasnya. Melihat sonya yang masih berdiri ditempat sambil menangis membuat fasya geram.
"KAU TULI!!? AKU BILANG CEPAT! BODOH!!" bentaknya.
Sonya pun segera berbalik dan berkutat dengan masakannya sambil sesekali mengusap perutnya yang terasa nyut²an mungkin akan menyebabkan lebam dan semoga saja tidak sampai menyebabkan luka dalam. Hening beberapa saat,hingga tak lama terdengar bunyi deringan telepon yang berasal dari handphone fasya. Fasya pun melihat nama yang tertera di layar hp-nya 'Mine💋❤' seketika senyuman merekah timbul di wajahnya. Tak butuh waktu lama ia pun segera mengangkat telepon tersebut dan mengarahkan handphone nya ke telinganya.
"Halo sayang" ucap fasya mulai membuka pembicaraan.
"..."
"Boleh dong,kamu mau aku temenin apa mau sama temen² kamu aja?" tanya nya dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.
"..."
"Iya. Ntar aku transfer ke kamu. 50jt kan?"
"..."
"Sama² sayang. Good night too" fasya mematikan teleponnya lalu memasukkan handphone nya kedalam saku celana. Merasa ada yang memperhatikan,fasya pun menolehkan kepalanya ke arah kiri,dan melihat sonya yang sedang menatapnya dengan kedua tangan yang memegang piring berisi masakannya tadi.
"Apa! Hah!" ucapnya dengan nada sinis,berbeda sekali saat berbicara dengan seseorang di telepon tadi yang menggunakan nada lemah lembut.
"Ti-tidak. I-ini ma-makanan nya om" ucap sonya dengan kepala yang menunduk sambil menyimpan masakannya di hadapan fasya.
Fasya tak menjawab ia segera mengambil sesendok dan memasukkan nya kedalam mulut. Jujur sonya takut,tubuhnya bergetar ia takut kejadian tadi pagi terulang lagi. Namun,melihat fasya yang diam sambil menikmati masakannya membuat sonya bernafas lega. Sonya berinisiatif untuk menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya,karena mungkin fasya dalam mood yang baik sekarang.
"O-om a-aku ma-mau tanya bo-boleh?" tanya sonya dengan tergagap. Fasya hanya berdeham tanda mempersilahkan sonya untuk bertanya.
"Ya-yang telepon tadi siapa? Ke-kenapa om panggil sayang?" tanya sonya hati². Mendengar pertanyaan yang terlontar dari bibir sonya membuat fasya tersulut emosi kembali.
"Apa peduli mu hah!?" bentak fasya sambil melempar sendok yang berada di genggamannya keatas meja.
"A-aku ha-hanya ingin ta-tau om,a-aku kan i-istri om" jawab sonya dengan kepala yang di tundukkan.
Mendengar hal itu fasya tertawa remeh,tak lama ia menatap sonya dengan tatapan tajam dan tangan yang terkepal erat. Lalu ia bangkit berdiri dan berjalan ke arah sonya dan segera mencengkram kedua pipi sonya dengan tangan kanannya,membuat ringisan kecil keluar dari belah bibir sonya.
"Dia pacarku! Dan apa katamu? Kau istriku? Apa kau pura² lupa hah!? Perlu ku ingatkan kembali jika kau dan aku menikah hanya karena perjodohan kuno yang tak berguna! Jadi jangan sekali² kau so peduli padaku dan jangan pernah mengaku bahwa kau istriku! Memalukan!!"
"Ma-maaf om a-aku ta-tak akan mengulanginya" jawab sonya dengan air mata kembali yang mengalir di pipinya.
"Sudahlah! Karena mu aku tak bernafsu makan lagi!" ucapnya lalu berbalik dan berjalan menuju ke kamarnya. Namun suara sonya membuat ia menghentikan langkahnya.
"O-om bo-bolehkah be-besok a-aku se-sekolah?" tanya sonya.
"Ck. Terserah! Aku tak peduli!" jawab fasya lalu kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda.
Sonya menatap sendu punggung tegap itu yang semakin lama semakin menghilang dari pandangannya. Sonya menghela napas panjang,lalu segera mendudukkan diri di kursi meja makan dan mengambil piring lalu diisinya dengan nasi dan lauk pauk. Ia sungguh lapar sedari pagi ia belum memakan apapun,mungkin mengobati lukanya nanti saja setelah mengisi perutnya sungguh tubuhnya sangat lemas. Setelah selesai makan ia menumpukkan piring² kotor dan di bawanya ke wastafel untuk di bersihkan. Lalu ia berjalan ke arah kamar untuk mengobati lukanya dan beristirahat.
Visual sonya lovina
Visual Fasya pamungkas