SYNOPSIS:
HANNA GRACE, Atau Yang lebih akrab di sapa Anna, adalah gadis Yang hidupnya di penuhi oleh KE-MA-LA-NGAN.
Saking Tragis nya, bahkan KEMATIAN pun enggan untuk menghampiri-nya.
Maka pertanyaan nya; mampukah Anna meluluhkan Sang Pembuat takdir dan menemukan seberkas cahaya untuk menerangi hidupnya Yang begitu gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Christ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ANNA-10
...🍁🍁🍁...
Fred menepikan mobilnya saat mereka sudah tiba di depan kampus baru putrinya, "Kau yakin tak ingin Dad temani sayang?" Tanya Fred yang hanya mengantarkan Anna sampai di depan gerbang.
"Dad, aku yakin. Aku sudah mempelajari semua prosedurnya dan aku bisa melakukan nya sendiri" sahut Anna, sambil tersenyum meyakinkan Fred.
"Baiklah sayang, Dad akan percaya padamu. Jika butuh bantuan Dad, kau tau kemana harus menghubungi Dad kan?" Fred mengulas senyum dan Anna pun mengangguk, "Semoga hari mu menyenangkan sayang. Daddy mencintaimu."
Fred mencium sesaat kening Anna, membuat perasaan Anna semakin menghangat, "Aku juga mencintaimu Dad, berhati-hatilah berkendara." balas Anna kemudian keluar dari dalam mobil.
"Bye Dad... " Anna melambai dan mulai melangkahkan kakinya memasuki gedung super luas tempat ia menuntut ilmu sampai beberapa bulan kedepan.
Setelah mendaftarkan dirinya kembali diruang administrasi, Anna langsung di arahkan untuk mengikuti jam pertama yang akan di mulai dalam satu jam yang akan datang.
"Miss Stompson, selamat bergabung di kampus kami semoga pengalaman belajar anda menyenangkan." Mrs. Laswey menjabat tangan Anna, dan setelahnya membiarkan Anna pergi.
"Terima kasih, Mrs. Laswey" balas Anna sopan,
Seraya menjelajahi kampus barunya yang begitu luas, Anna mengambil ponselnya karena teringat pesan yang Samuel kirimkan sebelumnya.
Anna menyunggingkan sedikit senyum saat membaca ulang pesan-pesan yang Sam kirimkan padanya. Entah kenapa, semua pesan itu seperti suntikan penyemangat untuknya.
"Thanks Sam.. "
Di kampus barunya, ternyata Anna memang di daftarkan ke kelas khusus untuk orang-orang seperti dirinya, persis seperti yang Daddy nya katakan.
Yang ada di ruangan itu bukanlah orang-orang yang seumuran dengannya, setidaknya begitulah yang ia lihat di dalam ruangan itu justru kebanyakan orang-orang yang lebih dewasa di atas dirinya. Semoga saja ia bisa berbaur dengan orang-orang dewasa ini.
Anna memperhatikan orang-orang di dalam ruangan itu sepenuhnya, Ada tiga pria yang seumuran dengan Daddy nya, beberapa wanita yang terlihat sangat dewasa, dengan pembawaan yang berbeda pula. Ada juga pria yang lebih muda, namun tak semuda dirinya-sepertinya orang-orang yang telah bekerja.
Anna harus menghela nafas, karena seperti nya orang-orang di sana tak akan menawarkan pertemanan seperti yang Anna harapkan.
"Hei anak muda, kau menghalangi pintu." tegur seorang pria paruh baya kepada Anna, "Ah maafkan aku pak, silahkan." sahut Anna yang langsung menyingkir dari pintu.
Sekali lagi Anna menghela nafas, sebelum menempati salah satu kursi dan berharap setidaknya ada satu atau dua orang yang bisa di ajaknya bicara.
"Hai, aku Hanna, boleh aku duduk disini?" Sapa Anna kepada wanita yang berusia sekitar pertengahan tiga puluhan, namun terlihat lebih santai di bandingkan yang lainnya, "Hai, aku Lisa-duduk saja kursi itu kosong." sahut Lisa, menyunggingkan senyum. Dan itu pertanda baik bagi Anna.
"Sepertinya ini hari pertama mu bergabung di kelas ini, welcome." kata Lisa kembali memulai percakapan. "Kau mendaftar di salah satu perusahaan juga? perusahaan yang mana?" tanya Lisa, membuat Anna harus berbalik agar bisa bicara lebih nyaman dengan teman barunya itu.
"Terima kasih." Anna tersenyum, "Sejujurnya aku belum mendaftar, tapi akan." jelasnya, dan Lisa hanya mengangguk.
"Boleh kita bicara informal saja?" Anna bertanya dengan sopan, dan Lisa pun tersenyum, "Tentu, kau bisa bicara informal kepada ku, kita teman sekelas sekarang,- meskipun ada beberapa orang yang tak bisa kau ajak bicara seperti itu." Lisa mengangkat satu alisnya sambil memberi kode ke sudut kanan posisi duduknya.
Di baris ketiga sudut belakang, ada seorang pria dengan tampilan yang luar biasa superior dan wajahnya juga terlihat begitu kaku. Tipe pria dingin dan Arogan. Pria dewasa, yang Anna perkirakan berusia di atas tiga puluh. Mengamatinya sekilas, pria itu mengingatkan Anna kepada Sam.
Apa Sam akan terlihat seperti itu jika mengenakan setelan? Anna hanya membayangkan. Ia tidak tahu apapun tentang Sam. Setidaknya mereka masih belum sedekat itu untuk saling bercerita tentang hal-hal pribadi.
"Ahh.." ujar Anna membuka dan menutup kembali mulutnya. "Baiklah, kalau begitu aku hanya akan bicara santai pada mu." tambah Anna lagi sambil tersenyum senang dengan suara yang sedikit dikecilkan.
"Lakukan saja sesuka mu," ujar Lisa yang juga turut tersenyum.
Sambil menunggu jam pertama di mulai, Anna lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bicara kepada Lisa. Wanita itu ramah dan juga baik kepada Anna, meskipun Lisa terkadang bersikap cuek kepada yang lain tapi bersama Anna, Lisa bisa menjadi lebih perhatian meskipun ini hari pertama mereka.
"Maaf jika terdengar tidak sopan, tapi apa kau punya kekasih?" tanya Lisa tiba-tiba, membuat Anna sedikit terkejut atas pertanyaan nya, "Tidak. Belum, maksud ku aku belum memikirkan untuk memiliki seorang kekasih." jawab Anna sedikit tersekat.
Lisa mengangguk sambil tersenyum jahil, "Ah, bagus lah. Kau memang harus fokus di bulan-bulan pertama mu, karena memiliki seorang kekasih di saat seperti ini, menurutku kurang tepat." kata Lisa yang terlihat sungguh-sungguh dengan perkataan nya.
"Kau juga tidak?" ujar Anna perlahan, "Maksudku, apa kau juga tidak memiliki,- Lisa mengangkat tangan nya dan menghalaunya ke udara, "Aku tidak memikirkan tentang itu sekarang. Aku hanya akan fokus pada karier ku, itu saja." sahut Lisa dengan gamblangnya, sementara dari sudut lain, ada yang menajamkan telinga untuk mendengarkan percakapan mereka.
...🍁🍁🍁...
Jam pertama pun sudah selesai, dan sekarang waktunya untuk pergantian mata kuliah selanjutnya. Sementara itu, mereka di berikan waktu untuk makan siang selama satu jam.
...To: Sam...
..."Aku akan makan siang di kampus bersama dengan teman baru ku. Mungkin kita akan makan siang lain kali."...
"Ingin makan siang bersama?" Anna bersuara setelah merapikan buku-buku dari atas meja nya. "Tentu, lagi pula aku harus makan sebelum kembali ke kantor." sahut Lisa, bersemangat karena telah mengakhiri jam kuliahnya.
Anna menyukai wanita di hadapannya, Lisa sangat mudah di ajak bersosialisasi dan juga sangat terbuka dan terlihat tulus dalam berteman.
Belum lagi Anna berdiri dari kursinya, pria yang disinggung Lisa sebelum nya justru sudah berdiri di samping Anna dan menghadangnya, "Antonio." katanya mengulurkan tangan dengan sedikit frontal.
Anna yang tidak terbiasa dengan sikap seperti itu sempat terkejut, dan melirik kepada Lisa. Tapi anehnya wanita itu justru berwajah cuek sambil mengangkat kedua bahunya tak ingin ikut campur.
"Hanna." katanya membalas uluran tangan Antonio. Bisa saja kan Antonio tak sekaku wajahnya, "Makan siang bersama, aku akan mentraktir mu." ujar nya lagi, membuat Anna kembali terperangah, "Aku tidak menerima penolakan," kata Antonio, "Bukan hanya kau. Tapi kalian berdua." kata Antonio, tapi kali ini ia memandang kepada Lisa.
Bukan tipe yang kaku, melainkan seorang pria diktator.
Kedua wanita itu saling bertatapan dengan heran kemudian mengikuti Antonio dalam diam.
"Dia memang seperti itu?" bisik Anna, yang hanya berjarak sekitar satu meter di belakang Antonio, "Kau bertanya padaku?" sahut Lisa, "Oh ayolah, kau lebih dulu mengenalnyakan?"
"Entahlah, mungkin dia memang seperti itu. Kau pikir aku ahli psikologi?" Lisa tertawa hambar, kemudian kembali bersikap masa bodoh, "Selagi dia berbuat baik terima saja." ujar Lisa lagi, "Jarang-jarang melihatnya bersikap baik seperti ini, tak ada ruginya kan?" Anna mencubit pelan tangan Lisa, "Tapi ini akan terasa canggung ku kira kalian berteman."
Lisa melirik kepada Anna dan mengulas senyum menggoda, "Kau lupa? kitakan memang teman, tapi hanya teman sekelas- toh bukan kita yang minta, dia yang menawarkan, Jadi terima saja." kata Lisa bersikap cuek.
"Hiss, kau ini!"
Antonio yang berjalan lebih dulu di depan keduanya bersikap seolah tak mendengar apa yang di perbincangkan kedua wanita itu, ia hanya membawa keduanya ke kantin dengan layanan khusus, yaitu kantin VIP.
"Tidak masalahkan jika kita disini?" Antonio kembali bersuara setelah terlihat nyaman dengan posisi duduknya, "Ini jauh lebih baik, setidaknya kau tau jika wanita tidak suka tempat yang panas dan sesak." Sahut Lisa, membuat Anna tercengang.
Teman barunya itu memang sangat terang-terangan. "Disini nyaman, terima kasih." timpal Anna merasa sedikit canggung, berbeda dengan Lisa yang biasa saja.
"Pesan saja apapun yang kalian inginkan," Antonio mengambil buku menu dan memilih makanan untuk dirinya. Dan Lisa pun melakukan hal yang sama, "Aku samakan saja seperti milikmu." bisik Anna pada Lisa, "Baiklah nona," Lisa tersenyum jahil.
Dan sekali lagi Anna kembali di buat tercengang, pasalnya Lisa memilihkan semua menu dengan harga termahal. Mereka memang bukan di restoran, tapi anehnya makanan di sana layaknya makanan di restoran mewah,
"Kau yakin ingin memesan itu?" bisik Anna, sambil tersenyum canggung kepada Antonio yang sempat melirik pada keduanya, dan pun Lisa mengulas senyum karena pertanyaan teman barunya itu, "Tentu, ini enak." sahut Lisa yang terlihat tidak peduli berapapun harga makanan yang dipesan nya.
"Bisa berikan nomor ponsel mu?' Antonio menyerahkan ponselnya kepada Anna, "Nomor ku?" beo Anna sedikit terkejut, "Ya, nomor mu, aku bertugas untuk mengumpulkan semua nomor telpon untuk profesor." jelas Antonio, "Ah, begitukah?" Anna pun mengambil ponsel dari tangan Antonio dan menuliskan nomor ponselnya.
"Ini," kata Anna mengembalikan ponsel Antonio.
Antonio melihatnya sekilas dan mengangguk, "Kau juga." katanya lagi pada Lisa, "Kau belum?" tanya Anna dengan polosnya, "Aku juga baru, hanya saja lebih cepat satu minggu dari mu." jawab Lisa malas. "Ah, baiklah."
...🍁🍁🍁...
...SKY LAND....
"Apa yang kau lihat? seseorang menghubungi mu?" tegur Darco pada Sam saat ketiganya sedang makan siang, sementara ayah mereka terlihat tidak tertarik dengan apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bukan apa-apa hanya tentang pekerjaan." sahut Sam buru-buru menyimpan kembali ponselnya.
"O, ya apa kau sibuk pada hari kamis? ada pertemuan penting?" tanya Darco lagi. Sam enggan terlalu banyak bicara, alhasil ia hanya menggeleng samar.
Darco mengulas sedikit senyum di wajahnya, "Kalau begitu kau bisa membantuku." Sam mengerutkan kening, "Aku ingin kau menggantikan ku memberikan sedikit materi pada hari kamis, hanya pertemuan singkat." jelas Darco.
"Lakukan saja sendiri, lagi pula itu adalah tugas mu, kau adalah pimpinan Sky Land di masa yang akan datang, dan orang-orang itu pasti mengharapkan orang seperti mu yang berdiri di depan mereka. Bukan aku," tolak Sam, yang merasa enggan menggantikan pertemuan bulanan kakaknya sebagai pemberi materi di salah satu universitas bisnis ternama.
"Jangan menolak dik, lagi pula aku akan sangat sibuk pada hari kamis, kau tidak lupakan jika bulan depan aku akan menikah," wajah Darco terlihat memelas, "pokoknya kau harus menggantikan aku. Berikan aku waktu untuk bersantai, hem?" Darco masih berusaha membujuk Sam.
"Yang mau menikah dirimu, kenapa aku yang harus kau repotkan." protes Sam sambil meminum jus dari gelasnya yang masih terasa segar. "Kau pikir aku tidak perlu istirahat?" tambahnya malas.
"Kali ini saja, oke? lagi pula apa beda nya kau dan aku, kita sama-sama bagian dari keluarga McAdam." Tapi aku tidak di akui seperti dirimu. "Percayalah, itu tidak akan sesulit bayangan mu. Kau hanya perlu duduk dan bicara beberapa kata motivasi dan selesai. Itu saja." bujuk Darco lagi.
"Kita lihat saja nanti, jangan terlalu berharap padaku." Sam berkata sinis, "Baiklah. Aku yakin kau pasti akan melakukannya." yakin Darco.
''Terserah kau saja,''
...🍁🍁🍁...
Setelah semua jam kuliah Anna berakhir, Anna tidak langsung pulang kerumah. Ia justru pergi ke sebuah cafe atas permintaan dokter Raka yang tiba-tiba ingin bertemu dengan dirinya.
Sesampainya di cafe, Anna masih belum melihat sosok dokter Raka di sana, karena itulah ia lebih dulu memilih sebuah meja kosong untuk menunggu.
"Menunya nona?," kata seorang pelayan menghampiri meja Anna dengan sebuah tabel menu, "Orange jus dan waffle keju, itu saja." pesan Anna seraya mengecek kembali ponselnya.
"Baik, silahkan di tunggu."
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, dan Anna masih menunggu seorang diri di sana. Tak Lama setelahnya ponsel Anna pun bergetar; "Halo?" sahut Anna menjawab panggilan dari dokter Raka,
"Halo Hanna, kau sudah berada di cafe? aku akan sedikit terlambat, kau masih bisa menunggu kan?" Tanya dokter Raka dari seberang sana. "Ya, aku masih menunggu anda," sahut Anna lagi.
Terdengar suara samar-samar kendaraan dari panggilan dokter Raka, yang artinya saat ini dokter itu sedang dalam perjalanan, "Akan saya tutup panggilan anda, saya akan ada disini sampai anda datang. Berhati-hatilah," kata Anna mengakhiri panggilan di ponselnya.
Setelah panggilan dokter Raka terputus, ponsel Anna sekali lagi bergetar, tapi kali ini bukan dokter Raka, melainkan Sam lah yang menghubungi nya; Anna mengangkat ponselnya dengan cepat, "Hei,?" sapa Anna sambil mengulas senyum samar,
"Hei, kau sudah selesai dengan jadwal mu?" Tanya Sam dengan suaranya yang berat, "Ya, aku sudah selesai, bagaimana denganmu? masih sibuk?" Anna menyender ke kursi sambil mengaduk-aduk minumannya dengan sedotan,
"Tidak juga, aku sedang Free sekarang. Dan aku ingin tau apakah hari pertama mu menyenangkan?" Oh, itu lagi. Anna kembali di ingatkan dengan hari pertamanya yang sedikit tak terduga. "Ya, cukup menyenangkan. Bagaimana dengan mu?"
"Tidak terlalu buruk, tapi cukup melelahkan." sahut Sam, membuat isi kepala Anna di penuhi bayangan wajah Sam yang lelah namun tidak mengurangi ketampanan pria itu. "Kalau begitu istirahatlah, kau butuh waktu untuk dirimu." balas Anna dengan suara yang lebih lembut.
"Itu nasehat yang baik nona, terima kasih. Aku harap bisa bertemu dengan mu besok. Pada jadwal lari pagi kita tentu nya. Kau akan lari kan?" Tanya Sam, membuat Anna benar-benar tersenyum lebar, "Tentu. Sampai bertemu besok Sam." sahut Anna menahan senyuman di wajah nya, "Sampai bertemu besok Anna."
Setelah menyimpan ponselnya, akhirnya Anna bisa melihat sosok dokter Raka dari arah pintu masuk, Anna pun melambaikan tangan, tapi ternyata dokter Raka tidak datang seorang diri.
"Hai Hanna, maaf membuat mu Lama menunggu. Aku menjemput seorang teman." dokter Raka tersenyum, melirik pada wanita di sebelahnya.
"Kau masih ingat aku Hanna?" wanita itu tersenyum sambil mengulurkan tangan ramah, "Bagaimana aku bisa melupakan anda, dokter Clara."
.......
.......
.......
.......
.......
Cerita Anna & Sam ini menurut aku termasuk cerita novel yg banyak pelajaran hidupnya...dimana Anna harus berjuang melawan kegelapan demi melanjutkan masa depannya.
Mulai berani untuk kembali belajar mencintai untuk kembali meraih kebahagiaan hidupnya yg sempat hilang akibar rasa sakit yg tidak tertahankan karena cinta.
Sebenarnya melupakan sesuatu yg menyakitkan itu bukanlah hal yg mudah untuk dilakukan...dimana hidup masih berjalan dan pikiran masih bekerja...bayang2 & ingatan pahit itu pasti akan terus mengikuti.
Tetapi kehidupan yg masih harus tetap berjalan membuat kita harus mencoba untuk mendewasakan diri lagi...dimana rasa pahit itu harus kita ingat untuk kita jadikan pelajaran untuk kehidupan kita selanjutnya.
Thanks Christ...ceritamu luar biasa...semoga menghasilkan karya yg lebih bagus lagi...🥰🥰🥰🥰🥰👍👍👍👍👍
Semoga Anna & Sam selalu berbahagia dengan keluarga kecil mereka...dan semoga selalu romantis sampai mereka menua & sampai Tuhan berkata waktunya untuk pulang...Amin...🥰🥰🥰🥰🥰
Lah...Sam memangnya Anna pergi ninggalin kamu...? Kan Anna gak pergi kemana - mana...cuma jalan2 sebentar aja kok...ahh Sam mah lebay ihh.
Gini nih kalau cowok sudah bucin...cuma menghilang sebentar dari tatapan mata aja dibilang menghilang...tapi sikap Sam ini malah terlihat menggemaskan sih memang...😂😂😂😂😂
Tapi kalau melihat sifat Sam selama ini sih...gak seharusnya Sam berfikiran jelek tentang Anna...semoga saja ya..? Akh...aku jadi agak ngeri juga sih mikirin konflik selanjutnya...😊😊😊😊😊
Lagian juga kepercayaan antar pasangan juga harus ada...sehingga tidak selalu timbul kesalah pahaman yg panjang...semoga Anna & Sam selalu seperti itu...😊😊😊😊😊
Lagian Sam oon amat sih...ngapain juga berkas yg sudah tidak penting masih disimpan...demen banget sih buat perkara.
Semoga aja hubungan mereka tidak sekacau dapur yg dikacaukan sama Anna....😂😂😂😂😂
next aku mau lihat judul lain nya donk kak...
sehat selalu baby twins .