Giwang gadis desa yang menikah dengan pujaan hatinya, tapi dia di tinggalkan suaminya setelah tujuh hari menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Rachman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Giwang dan Bu Ima telah sampai. Rumah Bu Ima berada di jalan yang tidak terlalu besar. Bukan sebuah perumahan tempat tinggalnya, tapi seperti kampung yang berada di pinggir kota.
“Ayo Giwang,” ajak Ibu Ima. Giwang memperhatikan rumah-rumah warga yang menurutnya hampir sama dengan kampungnya hanya saja jalan di tempat tinggalnya masih berupa tanah sedangkan di tempat tinggal Bu Ima sudah di cor.
“Itu rumah Ibu,” ujar Ibu Ima sembari menunjuk ke arah rumahnya. Rumah yang asri dan bersih.
“Ayo masuk,” ajak Ibu Ima. Giwang masuk ke dalam rumah itu sembari memperhatikan rumah yang menurutnya sangat sederhana dan rapi. Terdapat dua kamar dan ruang tamu sekaligus menjadi ruang menonton dan dapur yang sangat bersih.
“Ini kamar kamu,” Ibu Ima menunjukkan kamar yang ada di sebelah kamar utama.
Giwang masuk ke dalam kamar itu. “Ini kamar almarhumah anak Ibu,” ujarnya dengan wajah murung.
“Berapa usianya pada saat meninggal?” tanya Giwang.
“Masih sangat kecil, pada saat itu usianya lima tahun,” ujar Ibu Ima bersedih.
“Maafkan aku,” Giwang merasa tidak enak ketika mengingatkan kembali kenangan almarhumah anak Ibu Ima.
“Tidak apa-apa, mungkin kalau masih hidup usianya sama seperti kamu,” ujar Ibu Ima. Dan terdengar suara perut Giwang yang keroncongan.
“Kamu lapar?” tanya Ibu Ima. Giwang menganggukkan kepalanya sembari menunduk.
“Kamu mandi dulu, setelah itu makan sama Ibu,” Ibu Ima menunjukkan kamar mandi yang berdekatan dengan dapur.
Di dapur dia mendengar Ibu Ima sedang memasak.
“Kamu bawa pakaian ganti?” tanya Ibu Ima ketika melihat Giwang keluar dari kamar mandi.
“Bawa Bu, tapi enggak banyak,” sahutnya.
“Ya sudah pakai baju setelah itu kita makan,” ujar Ibu Ima.
Giwang mengganti pakaiannya, dia terlihat lebih bersih dari sebelumnya. Menghampiri Ibu Ima yang sedang berada di dapur.
“Ayo makan,” Ibu Ima dan Giwang duduk berhadapan.
“Makanannya hanya ini, ikan goreng sambal terasi dan sayur bening,” ujar Ibu Ima.
“Terima kasih banyak Bu, aku sangat bersyukur bertemu dengan Ibu,” ujarnya sembari mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.
“Iya nak.”
Keduanya makan sembari mengobrol. “Kegiatan Ibu sehari-hari apa?” tanya Giwang sembari memakan makanan yang menurutnya sangat lezat.
“Setiap pagi Ibu ke taman, dan siang Ibu baru balik,” sahut Ibu Ima. “Ibu merasa kesepian, jadi dengan di taman Ibu bisa melihat orang lain, walaupun tidak kenal tapi rasa kesepian itu sedikitnya hilang.
Giwang menganggukkan kepalanya. “Maaf Bu, tapi dari mana makanan ini semua?” tanyanya penasaran.
“Oh ini semua dari almarhum suami Ibu, almarhum dulunya PNS jadi dari gaji almarhum untuk makan Ibu dan alhamdulillah cukup,” jelasnya.
Giwang dan Ibu Ima telah selesai makan, dia langsung mengambil piring kotor dan segera mencuci piring itu. Awalnya Ibu Ima menolak tapi Giwang memasak.
Setelah selesai beres-beres di dapur dia menemui Ibu Ima yang sedang menonton televisi.
“Bu ini untuk Ibu,” Giwang menyerahkan uang satu juta ke wanita paruh baya itu.
“Untuk apa ini?” tanya Ibu Ima bingung.
“Saya izin kos di sini sampai saya mendapatkan pekerjaan di kota ini,” jelasnya. Ibu Ima tersenyum dan menyerahkan uang itu ke Giwang.
“Ibu tidak minta uang dari kamu, dengan kehadiran kamu di sini membuat Ibu senang, simpan uang ini, kamu sangat membutuhkan uang ini,” ujar Ibu Ima.
Giwang merasa terharu, di satu sisi dia kecewa dengan sikap suaminya tapi di sisi lain dia senang karena telah di hadirkan malaikat untuknya. Orang yang tidak mempunyai hubungan darah dengannya bisa sangat baik berbeda dengan saudaranya yang tidak memperlakukannya dengan baik.
Giwang melihat ponsel yang ada di meja, dia ingin menghubungi Siti tapi di urungkan niatnya.
Jam sembilan malam Ibu Ima masuk ke kamarnya begitu pun dengan Giwang ikut masuk ke kamar almarhum anak Ibu Ima. Dia merasa nyaman tidur di situ. Dalam sekejap dia sudah tertidur.
***
Agung di undang makan malam di rumah Pak Wahyu, dan ini kesempatannya untuk dekat dengan Marina.
Makan malam dengan sajian yang sangat mewah membuatnya benar-benar senang.
Pak Wahyu bersikap ramah ke karyawannya tapi tidak dengan istrinya Ibu Marisa. Setelah selesai makan wanita paruh baya itu menarik tangan suaminya ke tempat lain.
“Apa maksud Papa?” tanya istrinya.
“Maksud kamu apa?” tanya suaminya.
“Dia karyawan kita dan Papa ingin menjodohkan dia dengan anak kita," ujar Marisa marah.
"Mama dengar dulu, Agung itu sangat pintar, dia baru beberapa bulan sudah mencapai posisi seperti sekarang ini, dengan kehadirannya di perusahaan kita sangat menguntungkan untuk perkembangan perusahaan kita," jelasnya.
Wanita paruh baya itu mencebikkan bibirnya, dia kurang setuju jika Agung yang tidak mempunyai apa-apa harus menikah dengan anak semata wayangnya.
"Melihat Agung seperti melihat diri Papa sendiri, Papa awalnya juga seperti dia," jelas suaminya.
"Ya terserah Papa kalau begitu, tapi Mama masih tetap tidak setuju," ujar istrinya.
Di ruangan lain.
Agung duduk berhadapan dengan Marina. Gadis cantik yang baru saja lulus kuliah dari luar negeri.
"Hemm aku manggil kamu apa?" tanya Agung membuka pembicaraan.
"Terserah," sahut Marina jutek.
"Boleh aku panggil kamu adik?" tanya Agung.
"Aku bukan adikmu," sahut Marina ketus sembari memainkan ponselnya.
Agung harus cukup sabar melunakkan gadis di depannya.
"Kalau begitu, aku panggil kamu Marina saja," ujarnya pelan.
"Terserah," sahut Marina ketus dan Papanya memperhatikan sikap anaknya.
"Marina," panggil Papanya.
"Iya Pa," sahut gadis itu.
"Ikut Papa," pria paruh baya itu membawa anaknya ke ruangan lain.
"Kenapa kamu bersikap seperti itu?" tanya Papanya.
"Aku harus bersikap seperti apa padanya?" tanya Marina dengan nada tinggi.
"Papa mau kamu bersikap baik kepadanya!" pria paruh baya itu menuding wajah anaknya dan segera berlalu menghampiri Agung.
"Mariana memang seperti itu, manja dan ketus kepada semua orang yang belum di kenalnya tapi dia akan bersikap baik kepada kamu ketika kamu telah dekat dengannya," jelas pria paruh baya itu.
"Tidak apa-apa Pak," ujarnya. "Kalau begitu saya pamit," ujar Agung.
Pria paruh baya itu mengantar karyawannya sampai ke depan. "Bagaimana perceraian kamu?" tanyanya.
"Dalam proses Pak," sahut Agung.
"Saya akan menikahkan kamu dengan Marina ketika kamu telah resmi bercerai," ujar Pak Wahyu tegas.
"Iya Pak, secepatnya akan saya kabari," Agung pamit pulang dengan mobilnya, mobil pemberian Pak Wahyu tentunya.
Marina mengadu ke Mamanya.
"Mama, bilang ke Papa kalau aku tidak suka dengan pria itu," rengek Marina.
"Mama sudah mengatakan kepada Papa, tapi Papa tetap menginginkan kamu dengannya," jelas Mamanya.
"Tapi kenapa Ma?" tanyanya kesal. "Mama tau, kalau aku menyukai Adlan," ujar Marina.
"Tidak ada Adlan," ujar Papanya yang mendengar percakapan anak dan istrinya.
"Adlan pengacara dan dia tidak bisa meneruskan perusahaan otomotif kita, hanya Agung yang cocok untuk kamu," jelas Papanya.
"Tapi aku dan dia bagai bumi dan langit, dia hanya orang kampung yang beruntung," sahut anaknya.
"Marina diam!" bentak Papanya. "Papa juga orang kampung dulunya," ujar Papanya marah. "Adlan sangat sombong, pernah Adlan memedulikan kamu?" tanya Papanya.
Marina diam sembari menggelengkan kepalanya. "Ya mungkin karena Adlan sangat sibuk jadi dia mengacuhkan anak kita," timpal istrinya.
"Pokoknya Papa tidak setuju, Agung akan menikah dengan kamu, dia lebih cocok di bandingkan dengan Adlan," Pak Wahyu pergi meninggalkan anak dan istrinya.
"Mama bagaimana ini?" tanya anaknya bingung.
"Mama juga tidak tau," sahut wanita paruh baya itu.
"Ma, bisa bantu aku bertemu dengan Adlan?" tanya anaknya.
"Mama tidak yakin, tapi Mama akan mencoba menghubungi teman yang bekerja di sana," sahut Mamanya.
Marina tergila-gila pada Adlan, dan dia bertemu hanya sekali dengan pengacara sukses itu. Bertemu dalam acara amal, di mana Adlan sebagai tamu kehormatan dan membuatnya langsung tertarik.
Bersambung...
Bantu vote ya.
Ig anita_rachman83
🌷🌷
Plagiarisme melanggar Undang-undang Hak Cipta Nomor 28 Tahun 2014!