NovelToon NovelToon
AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

AYAH TIRI UNTUK ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Duda / Komedi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: La Rumi

Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.

Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.

Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.

Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.

Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. JANDA BUKAN PENGGODA

"Bi-bistiknya... yaaah..."

Erina mengeluh sedih usai mematikan kompor dan melihat potongan-potongan daging menjelma gundukan hitam di atas wajan yang kini mengepulkan asap pekat dan bau sangit.

Padahal itu potongan daging terakhir yang didapatnya dari panitia masjid dekat rumah dalam rangka perayaan Idul Adha pekan lalu. Ia secara mujur mendapat bagian has dalam, sehingga tercetuslah ide memasak bistik spesial untuk menyenangkan anak-anaknya di hari libur kali ini.

Tetapi karena keteledorannya, yang tersisa dan bisa dimakan siang ini hanya nasi, lalapan, dan sambal.

"Hari apes emang nggak ada di kalender," gerutu Erina, terpaksa membuang daging gosongnya ke tempat sampah.

"Tik tok! Pukul 11.00. Minggu. Waktunya main balok!"

Suara Nala dari ruang tengah terdengar sampai dapur dan sudut-sudut rumah kontrakan yang memang kecil dan sempit itu--juga berdinding tipis. Ia seperti biasa rutin mengecek arloji atau jam dinding setiap satu jam (kecuali saat tidur), mengucap keras waktu dan jadwal kegiatan yang sudah dihafal di luar kepala sebelum melakoninya dengan tenang.

Nala mengidap autis. Ia sempat tak bisa bicara. Tatapannya seringkali hanya fokus ke satu titik--juga dunia dan isi pikirannya. Sangat mudah marah jika sesuatu terjadi tak sesuai harapannya.

Tetapi terapi khusus yang rutin dijalani Nala selama bertahun-tahun membuatnya kini bisa berkomunikasi dan menanggapi sekitar, juga beraktivitas normal meski dengan cara berbeda.

Nala sekarang sudah bisa bicara lancar meski singkat, dan seringkali menyisipkan unsur-unsur kimia dalam pilihan kalimatnya. Bagi Nala, huruf-huruf dan angka-angka unsur kimia sangat menarik, sehingga ia bisa fokus bicara dan memahami arti dunia di sekitarnya melalui istilah yang bagi banyak orang terdengar seperti bahasa planet Mars.

Emosinya sekarang juga lebih terkendali--asal ia menjalani kegiatan rutin sesuai jadwal yang membuatnya nyaman. Jika ada yang membuatnya tak nyaman, ia akan bertepuk tangan keras dan cepat--sehingga orang sekitarnya bisa lekas tanggap dan meredam sumber masalah sebelum segala sesuatunya bergulir lebih parah.

Seperti ketika ia mencium bau masakan gosong di dapur barusan. Ia bertepuk tangan dan memperingatkan dengan caranya sendiri. Dan sekarang ia asyik menyusun balok di depan televisi seakan tak ada hal berarti yang terjadi.

Erina ikut melirik jam. Pukul dua belas adalah waktunya makan siang. Ia harus menyajikan makanan tepat di saat itu agar tak mengacaukan rutinitas Nala atau membuatnya tantrum parah.

Masih ada waktu. Belanja dulu deh... mudah-mudahan masih ada yang bisa dibeli di warung Umi Surti.

Dengan cepat Erina melepas celemeknya dan menyambar dompet khusus uang sayur di atas rak bumbu, lalu berlari keluar menembus cuaca panas menuju warung sayur langganan di ujung gang.

"Umi...! Belanja...!"

Kata-kata itu spontan saja terlontar dari bibir Erina sementara matanya dengan cepat menaksir stok dagangan Umi Surti di meja kayu dan rak-rak panjang.

"Mau belanja apa, Rin?" tanya perempuan tua berperawakan kurus mungil yang dipanggil Umi Surti itu ramah.

"Mmm, apa aja yang bisa dimasak jadi lauk, Umi. Ayam atau ikan atau udang, sebungkus aja..."

"Jam segini ya udah pada habis, Rin. Adanya tinggal telur, sama tahu putih nih sisa sebungkus," sahut Umi Surti. "Lagian kok tumben nyari bahan lauk siang begini... ada pesanan katering mendadak?"

"Enggak. Ini kan Minggu, kateringku libur. Aku nyari bahan lauk karena daging yang kumasak barusan gosong, Umi," Erina meringis seraya memilih-milih telur yang bagus untuk dibeli.

"Walah... kamu kok jadi kayak Umi, suka bikin masakan gosong," Umi Surti tertawa.

"Pasti ditinggal tuh masakannya buat godain suami orang, makanya jadi gosong...!"

Celetukan tajam itu membuat Erina memutar lehernya cepat--hingga urat lehernya nyaris tertarik.

"Ngomong apa barusan kamu, Mbak Zahra?!"

Erina melotot kesal ke tetangga yang berjarak dua rumah dari kontrakannya, seorang wanita berwajah lonjong dengan gigi berkawat yang hampir selalu manyun seperti kuda, dan entah bagaimana kini juga ikutan belanja di warung Umi Surti.

"Ya ngomongin kelakuanmu--kamu suka godain suami orang, sampai-sampai laki-laki itu pas tidur malah ngigau nama kamu...!"

Sudut bibir atas Erina sampai terangkat lebih tinggi sebelah--tak bisa menutupi jengkel sekaligus heran ada makhluk bermulut lebih absurd dari anaknya yang autis, padahal makhluk itu tidak mengidap autis.

"Heh, Mbak, kalau ngomong jangan sembarangan kayak sampah ya... kenapa nuduh aku godain suami orang? Mana buktinya?" seru Erina marah.

"Kamu ngatain aku sampah?!" Zahra mendelik.

"Lah kamu ngatain aku duluan--jangan mentang-mentang aku janda, terus kamu bisa ngatain aku seenaknya!" damprat Erina. "Aku memang janda--tapi aku bukan penggoda!"

"Kalau bukan penggoda, terus kenapa suamiku suka jelalatan kalau lihat kamu lewat? Kenapa semalam dia ngigau nama kamu?!" tuding Zahra.

"Meneketehe! Tanya suamimu lah! Yang nggak waras dia, kenapa aku yang disalahin?!" balas Erina panas.

"Hei, sudah, sudah! Kalau mau berantem, sana di lapangan bola--jangan di lapak Umi!" tegur Umi Surti.

Erina bergegas mengangsurkan uang untuk membayar sekilo telur dan sebungkus tahu putih, lalu berkata, "Udah saya beli ini aja, Umi. Ambil aja kembaliannya."

"Kembalian apanya? Kurang lima ribu ini duitnya!" protes Umi Surti.

"Lah... kok kurang...?"

"Harga telur dan tahu udah naik, Rin."

"Astaga," Erina nyaris mengelus dada dan mau tak mau menarik selembar uang lima ribu dari dompetnya. "Katanya kita orang kampung transaksi nggak pake dollar... tapi kenapa beli tahu dan telur aja bikin dompetku nangis?"

"Makanya cari suami biar punya donatur--biar nggak ngemis-ngemis perhatian suami orang lagi!" sengit Zahra, masih tak puas hati.

"Mulutmu minta dikucek atau diulek, Mbak Zahra?! Mumpung aku masih di sini--"

"Kamu yang harusnya dipotong kotak-kotak kayak tahu!"

"Eeeh, kamu mau bunuh aku?!"

"Lah kamu mau nyiksa aku atau bikin aku jadi janda kayak kamu?!"

"Hadiii!" teriak Umi Surti sambil menoleh ke belakang. "Cepat ke sini!"

Seorang laki-laki bertubuh tinggi, besar, dan berkulit sawo matang mengenakan kaos oblong putih dan celana pendek cokelat tua muncul, mata kecilnya terangkat malas dari layar ponselnya yang digenggam secara horizontal, namun senyum gigi putihnya seketika merekah saat melihat Erina tak jauh di depannya.

"Apa--ehh, ada Rina. Ada apa, Rin? Nyari aku?"

Mata melotot Erina kini tersorot ke arah Hadi, putra bungsu Umi Surti, si bujang berusia kepala tiga yang sehari-hari kerjanya push rank mobile legend sambil menghabiskan stok camilan di warung ibunya setiap mendapat giliran jaga.

"Suruh mereka berantem di lapangan bola, Di! Mereka nggak mau dengerin Umi dan ribut terus, bikin Umi pusing," tukas Umi Surti. Dia selalu memakai cara ini, mengandalkan anaknya yang bertubuh besar dan bertampang mirip algojo (tetapi sebenarnya berhati hello kitty) setiap kali ada ibu-ibu di gang yang mulai ribut di warungnya perkara anak atau rebutan stok jengkol terakhir--dan kali ini, rebutan harga diri.

"Berantem kenapa ini?" Hadi mendadak mengeluarkan suara lebih dalam dan bersikap mengayomi. "Daripada berantem, sini Rina cerita sama Mas Hadi... mau sekalian ditraktir kopi di warkop Bang Gofar depan gang?"

"Nggak usah--aku pulang sekarang. Anakku butuh makan jam dua belas siang. Permisi! Assalamu'alaikum!" ketus Erina seraya berbalik pergi.

"Wa'alaikumsalam, calon istri," sahut Hadi dengan air muka sumringah.

Ingin rasanya Erina berbalik dan mendamprat Hadi juga, tetapi ia lebih memilih melakoni jurus kaki seribu menuju rumah kontrakannya. Ia lebih memilih mencegah amukan putrinya pecah di rumah gara-gara jadwal makan siangnya terlambat daripada menyadarkan laki-laki jomblo nan jumbo di warung Umi Surti bahwa sampai kiamat mereka tak akan bersatu di pelaminan.

"Rina, habis belanja, ya?"

Dan ini dia biang masalah--Danang, suami Zahra, muncul di teras rumahnya dan menyapa saat Erina lewat. Lelaki berkulit pucat, bertubuh gempal, pendek, berkumis lebat yang selalu ramah kepada siapa saja--bahkan terlalu ramah hingga mengundang cemburu istrinya yang gemar berprasangka buruk pada tetangga... apalagi yang janda (berbaju) kembang seperti Erina.

Erina tak menjawab--sengaja tak menjawab daripada nanti makin disemprot Zahra--dan semakin cepat berlari seakan kakinya terpanggang matahari tanpa alas berarti.

"Neng Rina... nggak beli cilok atau es kelapa?"

Kang Muslim, pedagang cilok dan es kelapa yang rajin keliling gang, sengaja mangkal depan pagar besi pendek karatan dan menyapa ramah saat Erina hendak memasuki rumah.

"Nggak, lain kali ya."

"Aku beli, Kang. Es kelapa."

Saga keluar sambil mengulurkan selembar uang dua ribu rupiah.

"Asiaaap, calon anak sulung Abah yang ganteng! Abah kasih bonus cilok sebungkus yaa!" seru Kang Muslim ceria--seakan baru diberitahu menang lotre dan langsung sedekah tanpa pikir panjang.

Saga tersenyum lebar. Ia dengan gembira menerima sebungkus es kelapa dan cilok berharga super miring, berkat pesona ibunya yang tak kalah cantik dari aktris drama Korea.

"Jangan suka bikin rugi dagangan orang, Saga!" tegur Erina setelah Saga masuk rumah sambil mengunyah cilok berbumbu kacang pedas.

"Ini namanya transaksi menguntungkan, Ma," bantah Saga enteng. "Saga dan Kang Mus sama-sama senang, di mana ruginya?"

Erina hanya bisa mengelus dada. Bahkan anak sulungnya pun memanfaatkan status jandanya dengan sangat sadar dan senang hati.

Meski begitu, sedikit rasa pedih mulai menjalar sampai kedalaman batin Erina--yang tak ada hubungannya dengan bawang merah yang kini sedang diirisnya tipis-tipis di meja dapur.

Andai aku bisa memberi Saga lebih... mungkin dia tak akan berulah begini...

Erina mulai menggoreng bawang merah dan menyiapkan adonan tahu telur sebagai menu makan siang keluarga kecilnya siang itu, berhati-hati agar tidak gosong lagi. Sesal dan getir masih membayangi ketika ia teringat daging mahal gratisannya yang terbuang sia-sia di tempat sampah.

Masa iya kudu nikah lagi supaya nggak sial lagi, supaya nggak ribut sama tetangga lagi, supaya nggak digoda tukang cilok lagi, supaya Saga nggak nakal lagi? Haissssh...!

***

1
Shamira Zee
Udah dibilang jangan ngurus langsung vin yanh ada kamu ambyaaarr
Shamira Zee
Saga nggak pulang, Alvin tiba-tiba diserang... Erina juga kayaknya belum sembuh... mulai dar-der-dorr ceritanyaa
Shamira Zee
Dari tumor ganti jamur... asbun kali Harum 😭🤣 Kayaknya konfliknya mulai naik ya /Chuckle/
Shamira Zee
Jangan macem-macem deh vin... yang ada tambah rusuh bukannya tambah beres /Hammer/
Shamira Zee
Nggak sama vin... emak dan masmu kayak es batu, sementara kamu semprul 🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
Nah lhoo kepergok ibunda ratu... astagaa malu gak tuuh 🤣🤣🤣
Nyonya Billy
😂😂😂😂 alvin ini orang kaya dan baik tapi kayaknya nasibnya kurang baik 😂
Nyonya Billy
Kasihan Saga salah paham terus punya mama kayak Erina 😂
Nyonya Billy
Walau absurd dan kocak, tapi mimpinya nyambung sama kondisi Erina yang lagi diangkat tumornya... bisa aja bikin beginian thor 😂
Nyonya Billy
Perutku sakit, ngak bisa berhenti ketawa... aduuh 😂
Nyonya Billy
Kasihan Erina... semoga lekas sembuh
Nyonya Billy
Rusuh tapi lucu 😂
Nyonya Billy
Rosalinda... makhluk berbatang pisang... astagaa 😂
Nyonya Billy
Kamar bersalin dan Alvin melahirkan... thor kamu kocak amat sih 😂
Shamira Zee
Gimana konsepnya lagi mimpi ena-ena lah kebangun sama ringtone hp sendiri yang nyeleneh 🤣🤣🤣 Alvin emang koplak 🤣🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 wes gak tahu mau bilanh apa erina absurdnya udah di luar nurul, makanya tumornya juga kocak 😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
🤣🤣🤣 capek mgakak 🤣🤣🤣😭🤣🤣🤣
Shamira Zee
Susahnya dapat restu 😭 Bu andin ngidam apa dulu bu anaknya modelan alvin 😭🤣
Shamira Zee
Jangan galak-galak Ga itu calon bapakmu udah baik banget lho mau yang spek kayak gimana lagi coba... mana mamamu absurd orangnya 😭🤣
Nyonya Billy: Setuju 😂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!