Setelah dikhianati, Vivian bersumpah. "Aku akan buat dia menyesal...!"
Kesempatan itu datang ketika ibunya menikah kembali. Dan tanpa diduga, ayah sambungnya adalah paman dari kekasihnya.
Sempurna...
Vivian memanfaatkan kakak tirinya. Pura-pura dekat, pura-pura mesra, hanya untuk membalaskan rasa sakit hatinya.
Rencana berjalan lancar.
Sampai suatu malam Vivian sadar...
Ia terjebak dalam permainannya sendiri, benih cinta mulai tumbuh diantara batas yang tak seharusnya. Cinta terlarang yang sulit dilepaskan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ramen putus
Ucapan Stela masih terngiang di kepala, bagai duri yang tertanam, menusuk, tajam dan perih.
Vivian melangkah keluar, mengikuti stela yang berjalan tanpa beban. Meski dadanya sesak namun ia telan dalam diam, menikmati kembali segala rasa perihnya.
Tak ada air mata yang jatuh. Hanya satu tekad yang menguat di dadanya "aku tak akan selamanya di posisi ini."
Kepadatan manusia memenuhi pusat pembelanjaan mewah. Sekelompok orang keluar masuk toko yang berderet rapi, sedikit berbelanja, hanya melihat, atau sekedar adu gengsi.
Sedangkan Vivian? Ia hanyalah gadis kampung yang merasa asing di tengah kemewahan ini.
Menapaki lantai tiga dengan langkah tergesa, hingga tiba di sebuah kafe yang hangat dan nyaman.
Di sana, Raynor sudah duduk tenang di salah satu meja. Vivian semakin mempercepat langkahnya, walau dengan wajah sedikit muram, seakan ada beban yang tak terucap. Tapi ia tetap diam, karena sakit hati juga butuh energi.
Berbanding terbalik dengan Stela yang senyumnya mengembang lebar sepanjang jalan.
"Sayang... kamu tau ajah aku sedang ingin makan ramen!" seru Stela riang. Ia segera menarik kursi tepat di samping kekasihnya, lantas duduk di sampingnya.
Namun Raynor tak sedikit pun melirik ke arah wanita itu. Sepasang matanya tetap terpaku pada sosok Vivian yang berjalan mendekat. Tatapannya lembut namun penuh perhatian, seakan sedang membaca setiap perubahan ekspresi di wajah adik barunya.
"Apakah dia masih ketakutan karena film horor tadi?" gumamnya dalam hati, tak mengalihkan pandangan sedikit pun.
Raynor menyodorkan buku menu tepat ke hadapan Vivian. Gadis itu hanya melirik sekilas, lalu menatapnya ragu. Ia sama sekali tak tahu harus memilih yang mana.
"Pesan apa pun yang kau inginkan!" ucap Raynor lembut.
Vivian menutup buku menu perlahan, lalu mendorongnya kembali pelan ke arah pria itu. "Samakan saja seperti kalian" jawabnya polos. Baginya, semua yang terlihat di gambar tampak sama-sama lezat.
"Sayang... kenapa aku tidak ditanya?" protes Stela, menyandarkan kepala di bahu Raynor dengan nada manja.
Raynor tak menoleh, suaranya tenang dan tegas. "Ramen tomyam."
Wajah Stela seketika berseri-seri. "Sayang... kau selalu ingat apa yang kusuka!" Spontan ia melingkarkan lengannya erat di lengan Raynor. Namun di balik senyum lebarnya, sepasang matanya melirik tajam tepat ke arah Vivian yang duduk di hadapan mereka.
Mangkuk panas pun datang mengepulkan aroma harum kenikmatan. Vivian menatap bingung, lagi-lagi tidak ada sendok dan garpu.
"Kenapa mereka senang sekali makan menggunakan kayu panjang begini sih... Mengusahakan saja. Aku kan malu, belum bisa cara pakainya..." dengan ragu, ia mencoba memegang sumpit, namun tangannya gemetar.
"Tidak bisaaa... Tuhan tolong, aku lapar..." ia menjerit frustasi dalam hati. Berkali-kali ia mencoba menjepit mienya, namun selalu terlepas dan jatuh kembali ke dalam mangkuk. Wajahnya perlahan memerah menahan canggung dan marah.
Melihat itu, Raynor tanpa ragu bergerak maju, mengambil alih sumpit itu hendak menyuapi Vivian, dan gadis itu menyambutnya dengan senang.
Belum sempat suapan menyentuh bibir gadis itu, tangan Stela tiba-tiba merenggut paksa, menarik sendok dari tangan Raynor.
"Sayang... biar aku saja yang bantu Vivian" ucapnya cepat, memaksa tersenyum lebar meski matanya menyiratkan kemurkaan yang tak tertahankan.
Akhirnya Stela yang menyuapi Vivian. Wajahnya tampak masam dan penuh kekesalan di balik senyum yang dipaksakan, setiap gerakannya terlihat kasar namun tak berani berbuat berlebihan.
Sementara Vivian yang duduk tenang justru diam-diam menyunggingkan senyum kecil di balik sikap tunduk nya.
"Jadi kamu suka mie kuah pakai udang begini ya, Stela? Padahal cuma begini, aku juga bisa bikin, sampai harus beli di mall segala," celetuk Vivian polos.
Bibir Raynor seketika bergetar menahan senyum yang hendak merekah.
"Benar-benar kampungan sekali..." gerutu Stela dalam hati, giginya gemeretak menahan kesal.
"Ini namanya Ramen, Vivian. Makanan khas Jepang. Wajar saja jika kamu tidak tahu, di kampung mu mana ada makanan seperti ini kan" jawab Stela dengan nada menyindir, berharap melihat wajah Vivian merona malu.
Namun Vivian tampak acuh. Ia mengangkat bahu tenang. "Sama saja kok. Ini tetap mie pakai kuah, ya mie kuah."
Stela hampir meledak menahan amarah. "Dasar orang kampung! Dijelaskan sejelas apa pun tetap saja kampungan. Tak akan pernah mengerti!"
Di depannya, Raynor mati-matian menahan tawa melihat perdebatan sederhana itu.
Namun kehangatan ini tak bertahan lama. Ketika sosok pria dan wanita berjalan melintas, seperti tengah mencari kursi kosong, namun seluruh meja tampak penuh sesak.
"Satria..." sapa Raynor, tangannya melambai ringan.
Mendengar nama itu, Vivian seketika membeku. Ia mendongak perlahan, lantas sepasang mata itu langsung bertemu pandang.
Mata mereka saling menatap dalam keterkejutan. Bukan karena kehadiran Satria, tapi wanita di sampingnya adalah orang yang sama, yang gadis itu saksikan sendiri, tengah merajut kasih, di ruangan pribadi.
"Berani sekali kamu menggandeng wanita itu di depanku mass... kalian berdua memang pantas bersanding. Sama-sama tak tahu malu."
Vivian seketika memalingkan wajah. Rona wajahnya berubah pucat seketika.
Lagi-lagi serpihan sayap patah menggores hatinya. Napasnya sesak, seperti ada yang menghimpit dadanya, berat. perih merambat cepat hingga ke ulu hati, merobek sebagian sayap cinta, hingga tak mampu terbang lagi.
"Kenapa rasanya masih sesakit ini? ku pikir cinta ini sudah ku buang jauh-jauh hari."