Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.
Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Pembalasan Masa Lalu dan Takdir yang Terbelah
Suasana di tengah pasar gelap perbatasan yang padat dan penuh intrik tersembunyi terasa begitu mencekam. Gelombang tekanan dari Perebutan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit dan pengkhianatan Faksi Sekte Kuno mendatangkan keheningan luar biasa bagi Kaelen dan Lyra.
Di tengah ketegangan tersebut, Kaelen secara tak terduga berhasil memecahkan teka-teki enkripsi data rahasia yang ditinggalkan oleh musuh. Situasi ini memaksa mereka untuk mengubah strategi bertahan secara drastis demi menyelamatkan misi keseluruhan.
"Jangan gegabah, situasi kali ini melibatkan jaringan yang jauh lebih besar dari perkiraan kita," bisik Lyra memperingatkan.
Langkah demi langkah kaki mereka menyusuri lorong sunyi, bersiap menyambut babak baru pertarungan yang jauh lebih menantang di depan.
Penyusupan di Lorong Bawah Tanah
Udara di lorong bawah tanah itu berbau logam berkarat dan lumut basah, seolah-olah waktu telah berhenti di tempat yang terlupakan oleh cahaya. Kaelen mengeratkan genggamannya pada gagang pedang besi berkarat yang terselip di balik jubahnya. Sensasi dingin merambat dari bilah pedang itu, sebuah resonansi samar yang menandakan bahwa Jiwa Artefak Reruntuhan Langit tidak lagi berada jauh dari jangkauan mereka.
Namun, di balik keheningan yang membekukan, indra tajam Kaelen menangkap distorsi pada aliran Qi di sekitarnya—pertanda kehadiran seseorang yang sangat mahir menyembunyikan diri.
"Berhenti," desis Kaelen, tangan kirinya terangkat memberi isyarat.
Lyra segera merapat ke dinding, jemarinya yang lentik memancarkan pijar kemerahan dari Jurus Tangan Pemurni Racun Api, bersiap meledakkan kabut toksin jika situasi memburuk.
Tepat di ujung lorong, sebuah bayangan memanjang bergerak melawan arah cahaya redup lentera yang tergantung di langit-langit. Liliyana melangkah keluar dari kegelapan dengan senyum meremehkan yang menghiasi wajah pucatnya. Gaun hitamnya tampak menyatu dengan bayangan, menciptakan ilusi optik yang membuat sosoknya seolah-olah bisa berpindah tempat dalam sekejap.
"Kaelen, anak bodoh yang terobsesi dengan sampah," suara Liliyana terdengar dingin, bergema di sepanjang lorong sempit. "Data yang kau curi itu hanyalah umpan. Kau pikir dirimu cerdas karena berhasil memecahkan enkripsi kuno, padahal kau baru saja berjalan masuk ke dalam mulut harimau yang lapar."
Kaelen menatap tajam, tidak membiarkan provokasi itu menggetarkan ketenangannya. Ia tahu, di balik bayang-bayang, para pembunuh bayangan dari Faksi Sekte Kuno sedang bersiaga menanti aba-aba.
"Umpan atau bukan, Liliyana, Artefak Reruntuhan Langit ini tidak akan pernah jatuh ke tangan iblis yang hanya tahu cara mengkhianati sekutunya sendiri," balas Kaelen tegas. "Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa-ku tidak diciptakan untuk memotong angin, tetapi untuk memutus ambisi orang-orang sepertimu."
Bentrokan Qi dan Bayangan Iblis
Tanpa membuang waktu, Liliyana menggerakkan tangannya dalam sebuah pola rumit. Energi hitam pekat memadat di telapak tangannya, membentuk cakar bayangan yang mendesis, siap merobek ruang.
"Mari kita lihat apakah 'besi berkarat' itu sanggup menahan Jurus Telapak Bayangan Iblis!" tantangnya.
Ledakan Qi meletus di lorong yang sempit itu. Kaelen melompat maju, pedang besinya kini diselimuti oleh aura keperakan yang tajam dan tak terlihat, sementara Lyra mulai memuntahkan gelombang panas dari tangannya, memaksa bayangan-bayangan di sekitar Liliyana mundur.
Dentuman keras mengguncang fondasi lorong bawah tanah itu. Kaelen merasakan getaran hebat menjalar dari gagang pedang besinya saat beradu dengan cakar bayangan Liliyana. Percikan api astral menari-nari di udara, menerangi wajah keduanya yang kini berada dalam jarak yang sangat dekat.
Kaelen memutar pergelangan tangannya, mengaktifkan Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa. Bilah besi berkarat itu seolah-olah lenyap dari pandangan, menyisakan resonansi hampa yang memotong aliran Qi milik Liliyana secara paksa.
"Teknik murahan!" Liliyana memekik, matanya berkilat penuh amarah saat merasakan pertahanannya sedikit koyak. Ia melompat mundur dengan gerakan tidak wajar, tubuhnya tampak terdistorsi sebelum kembali memadat beberapa meter di belakang. "Kau pikir bisa mengalahkan Sekte Kuno hanya dengan trik murahan dari sekte yang sudah hancur itu?"
Sebelum Kaelen sempat membalas, Lyra melangkah maju. Tangannya yang berpijar kemerahan melepaskan gelombang panas yang membakar udara, menciptakan barikade api di antara Kaelen dan para pembunuh bayangan yang mulai merangkak keluar dari dinding.
"Kaelen, jangan dengarkan dia! Fokus pada resonansi artefak itu. Aku akan menahan mereka di sini, tapi jangan terlalu lama!" seru Lyra. Kulit tangannya yang terlapisi Jurus Tangan Pemurni Racun Api mulai mengeluarkan uap beracun yang mematikan, membuat para pembunuh Sekte Kuno terbatuk-batuk hebat.
Pintu Menuju Takdir
Kaelen tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia menutup matanya sesaat, membiarkan pikirannya terhubung dengan frekuensi yang dipancarkan oleh Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Di tengah kekacauan, ia merasakan denyut nadi di balik dinding batu di ujung lorong—sebuah ritme kehidupan yang purba dan megah.
Dengan satu hentakan kaki, ia melesat meninggalkan pertarungan sengit di belakangnya, mengabaikan seruan Liliyana yang kini meraung penuh kebencian.
"Kejar dia! Jangan biarkan tikus itu menyentuh segel artefak!" perintah Liliyana dengan suara melengking. Ia melepaskan ledakan bayangan yang lebih besar, menghantam pertahanan Lyra hingga wanita itu terhuyung. Kendati demikian, Lyra tetap teguh berdiri, memblokir jalan dengan dinding racun yang terus melebar.
Kaelen sampai di depan sebuah pintu batu besar yang diukir dengan relief langit yang runtuh. Tanpa ragu, ia menempelkan pedang besinya ke tengah ukiran tersebut.
"Jika benar kau adalah kunci dari segala kekacauan ini, maka buktikan padaku bahwa takdir bukanlah sesuatu yang bisa dikendalikan oleh para pengkhianat," bisik Kaelen pada pedang berkarat di tangannya.
Sekejap kemudian, pedang itu bergetar hebat. Besi berkarat yang menyelimutinya mulai terkelupas, mengungkapkan cahaya biru pucat yang menusuk mata. Pintu batu itu perlahan berderit, menyemburkan aura kuno yang membuat atmosfer lorong seketika menjadi berat.
Kebangkitan Sang Artefak
Cahaya biru pucat yang memancar dari bilah pedang Kaelen merambat naik melalui relief batu, menelusuri ukiran naga langit yang seolah hidup kembali di bawah sentuhan energi tersebut. Gemuruh rendah menggetarkan fondasi reruntuhan, seolah-olah gunung yang menopang tempat ini sedang menjerit karena dibangunkan dari tidur abadinya.
Tepat saat pintu batu terbuka separuh, tekanan gravitasi yang luar biasa menekan bahu Kaelen, memaksanya berlutut dengan satu kaki. Di balik pintu itu, bukan emas atau permata yang menyambutnya, melainkan pusaran nebula yang berputar lambat dalam kehampaan—sebuah celah dimensi tempat Jiwa Artefak Reruntuhan Langit bernaung.
"Tidak! Hentikan ritual itu, kau bocah bodoh!" pekik Liliyana dari kejauhan. Suaranya terdengar parau akibat kepanikan yang luar biasa. Ia berhasil menembus pertahanan Lyra—bahu kanan gadis itu kini terkoyak oleh sabetan bayangan—namun Lyra masih bertahan, menahan para pembunuh dengan sisa-sisa tenaga terakhirnya. "Jika kau membuka segel itu sepenuhnya tanpa penguasaan teknik yang benar, kau tidak akan menjadi pemilik artefak, melainkan tumbal bagi kerakusan langit!"
Kaelen tidak menoleh. Ia bisa merasakan tarikan magnetik yang kuat dari dalam pusaran nebula itu, mencoba menarik kesadarannya ke dalam labirin memori purba. Pedang besi berkarat di tangannya kini telah berubah menjadi konduktor murni. Jurus Teknik Jiwa Pedang Hampa miliknya beresonansi secara liar, menyerap energi kacau dari artefak tersebut dan mengubahnya menjadi lapisan pelindung yang menyelimuti tubuhnya.
"Aku lebih memilih hancur sebagai manusia bebas daripada hidup sebagai pion dalam permainan Sekte Kuno," gumam Kaelen dingin. Dengan raungan tenaga dalam yang meledak dari dantian-nya, ia menghujamkan pedang itu tepat ke inti pusaran.
Ledakan energi tak kasat mata menyapu seluruh lorong, melontarkan para pembunuh hingga menabrak dinding batu dan hancur berkeping-keping. Lyra, yang hampir kehilangan kesadaran, tersentak saat melihat Kaelen kini melayang di depan pintu yang terbuka lebar. Cahaya biru itu menyelimuti tubuh Kaelen, menyatu dengan urat nadinya, membuat matanya bersinar dengan intensitas yang mengerikan. Artefak itu telah memilih.
Liliyana mendarat dengan kasar beberapa meter dari pintu, napasnya tersengal-sengal. Wajahnya yang biasanya angkuh kini sepucat kertas saat melihat aura pedang Kaelen yang membelah kegelapan lorong menjadi dua.
"Itu... itu mustahil," bisiknya gemetar. "Kekuatan itu seharusnya hanya bisa dikendalikan oleh para tetua sekte tertinggi. Siapa sebenarnya kau, Kaelen?"
Kaelen memutar tubuhnya perlahan. Pedang yang dulunya berkarat kini berkilau dengan ketajaman yang mampu mengiris ruang dan waktu. Ia menatap Liliyana dengan tatapan kosong namun menghujam, seolah ia bisa melihat benang takdir yang mengikat sang antagonis.
"Aku hanyalah sisa dari masa lalu yang kalian musnahkan," ucap Kaelen dengan suara yang bergema, seolah diucapkan oleh ribuan jiwa sekaligus. "Dan hari ini, masa lalu itu datang untuk menagih hutang darah."
Tanpa peringatan, ia mengayunkan pedangnya ke arah lantai, membelah tanah di bawah kaki Liliyana dan mengirimkan gelombang kehancuran yang tak terbendung menuju sang pengkhianat.