Oliver Robert dosen tampan bersatatus duda dan dia mempunyai anak kembar, suatu hari anak kembarnya Oliver bertemu dengan salah satu mahasisa Piskolognya yang bernama Zafana
Oliver dan kedua anaknya yang sellu menutup diri dari orang lain.
Pertemuan yang tidak sengaja itu membuat Oliver sadar jika Zafana berbeda dari wanita yang lain yang pernah ia temui dari wanita lain termasuk mendiang istrinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BJP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
2 hari setelahnya Zafana baru menginjakkan kakinya kembali ke kampus setelah mengambil libur untuk menjaga Aileen atas permintaan Oliver. Clara pun memberikan izin dengan mudah, bahkan ia sudah sangat menerima Oliver untuk menjadi menantunya.
“Zafa, lo udah lihat madding belum sih?” tanya Roos saat dirinya baru saja bertemu dengan Zafana dipintu kelas.
"Madding? Belum, memang ada apa?" Zafan balik bertanya.
“Ada gosip baru, gue yakin lo pasti kepo sama gosipnya”jawab Roos.
"Gosip apa? Gue gak pernah sekepo itu sama gosip orang lain"ucap Zafana cuek.
"Justru itu ini bukan gosip orang lain! Ini gosip lo, Na"jawab Roos histeris.
"Maksud lo? Gue jadi bahan gosip?" zafana bertanya dengan kedua bola mata yang membulat.
“Sini gue kasih lihat”Roos langsung menarik tangan Zafana menuju madding yang saat ini sedang dikerumuni oleh banyak siswa baik laki-laki maupun perempuan.
“Izin”ucap Zafana dan roos sambil mendesak masuk ke dalam kerumunan itu.
Bola mata Zafana sontak membulat tatkala melihat sebuah foto mencium dirinya dengan Oliver. Ia bisa mengingat dengan jelas kapan dan dimana saat melihat foto ciuman itu. Orang yang ada dipikirannya pun langsung mengingatkan pada Sintya dan Rina.
Setelah diam beberapa saat, Zafana segera mencabut foto-foto itu dan meremasnya.
“Gak nyangka ya gue sama lo Zafa, jual diri Cuma buat nilai”ucap salah satu siswi yang seketika membuat Zafana menunduk.
'Ini gak bener! Ini semua gak bener!'-batin Zafana.
“Zafa gue tau lo mau lulus dengan nilai terbaik, tapi gak gini caranya!”timpal siswa lainnya.
"Kalian bisa diem gak? Kalian tuh gak tau apa yang sebenernya terjadi dibalik foto itu! Gak usah nuduh sembarangan deh!"ucap Roos.
"Emang apa yang terjadi? Bukannya udah jelas banget ya kalau dia itu lagi nyium pak Oliver?"seseorang bersuara dari balik popularitas itu.
Roos menatap tajam kearah perempuan yang kini sudah berada dihadapannya.
“Heh pelacur! Madep sini dong!”ucapnya sambil menarik bahu Zafana hingga ia berbalik.
“Jaga mulut lo ya!”Roos membela.
“Disini tuh paling dilarang mahasiswa jual diri ke dosennya Cuma buat nilai, ya gue tau banyak mahasiswa diluar sana yang kayak gitu, tapi disini gak ada! Dan Cuma dia!”jawab perempuan itu.
“Gue sama sekali gak ngejual diri sama pak Oliver! Gue sama pak Oliver udah resmi pacaran dan----”
“Halu lo! Mana mau pak Oliver sama mahasiswa payah kayak lo?!”sela perempuan itu.
Byurr
Rheyna memejamkan matanya saat sebuah jus disiramkan ke bajunya begitu saja.
“Sampah tau gak lo!”ucap perempuan itu lalu berbalik pergi dari sana.
“Bubar lo semua! Bubar sekarang juga!”pekik Roos sontak membuat mahasiswa yang berkerumun itu segera membubarkan diri.
“Zafa, gue anter lo ke kamar mandi yuk”ucap Roos pada Zafana.
“Gak usah Le, gue ke kamar mandi sendiri aja”jawab Zafana.
“Zafa, tapi gue takut mereka macem-macem sama lo lagi”ucap Roos.
“Gue bisa jaga diri kok”jawab Zafana cepat.
“Na tapi---”
“Gue ke toilet dulu ya”sela Zafana cepat lalu berjalan meninggalkan Roos.
Zafana menatap dirinya yang sangat menyedihkan dari pantulan cermin didalam kamar mandi. Baru kemarin rasanya ia tertawa bahagia bersama Oliver dan kedua anaknya.
Drrrrttt
Ponsel Zafana bergetar memperlihatkan sebuah panggilan masuk dari Oliver.
Setelah mendengar kabar dari Roos mengenai Zafana yang dirundung oleh mahasiswa di kampus Oliver langsung menghubungi Zafana untuk menanyakan keadaannya. Bahkan ia sempat merasa sangat emosi saat mendengar jika Zafana disiram dengan minuman berwarna.
Hari ini ia tidak mendapatkan tugas mengajar, berganti dengan tugasnya di kantor yang sudah menumpuk sejak sepekan terakhir. Enzi dan Aileen pun sampai harus ikut ke kantornya karena keluarga Qila sedang berada diluar kota.
Tidak kunjung mendapatkan jawaban dari panggilan dan juga pesan yang dikirimkannya beberapa menit lalu, Oliver pun memutuskan untuk segera bersiap untuk pergi ke rumah Zafana.
“Sayang, hari ini kalian ke rumah eyang dulu ya, papa ada urusan dulu sebentar”ucap Oliver sambil berjongkok dihadapan Enzi dan Aileen yang sedang asik bermain.
“Papa mau kemana?”tanya Aileen.
“Papa mau jenguk mami, katanya mami kalian sakit”jawab Oliver berbohong.
“Mama sakit? Sakit apa?”tanya Enzi.
“Papa juga belum tau sayang, ini papa mau jenguk mama..kalian ke rumah eyang ya, nanti pulangnya baru papa jemput lagi”jawab Oliver.
“Gak boleh ikut ya pa?”tanya Aileen.
“Belum boleh sayang, mami pasti gak suka kalau Ai sama Enzi deket-deket mami kalau mami lagi sakit gini”jawab Oliver
Aileen menghela lalu mengangguk, diikuti oleh Enzi.
“Tapi nanti kalau mama udah sembuh Enzi boleh ya main lagi sama mama?”ucap Enzi.
“Boleh sayang”jawab Oliver lalu menuntun kedua anaknya untuk segera keluar dari ruangan itu.
“Pak, anda mau kemana?”tanya Wanda, sekertaris Oliver di kantor.
“Saya ada urusan, untuk jadwal hari ini kamu rubah aja ya”jawab Oliver.
“Baik pak”ucap Wanda lalu membiarkan Oliver pergi terburu-buru bersama kedua anaknya.
Hanya 15 menit waktu yang ditempuh Oliver untuk sampai ke mansion milik Rina. Disana ia bisa melihat ada mobil Sintya yang terparkir dibagasi.
“Jadi sepupu kamu sudah berhasil menghasut teman-temannya untuk merundung cewek itu?”
Itulah kalimat yang pertama kali Oliver dengar saat ia membuka pintu.
Sintya tertawa, “iya tante, dan tante tau? Dia nangis didalam toilet”
Oliver melepaskan genggamannya pada kedua tangan anaknya lalu berjalan menghampiri Rina dan Sintya yang belum menyadari kedatangannya.
“Jadi ini semua ulah kalian?”tanya Oliver.
Sintya sontak mendongak, “m-mas Oliver?”
“Kalian yang udah bikin Zafana dirundung di kampus?”Oliver mengulangi pertanyaannya.
“Oliver kamu salah paham!”ucap Rina.
Oliver geram lalu mengambil gelas yang berisikan jus jeruk kemudian melemparnya asal ke lantai.
“Saya tidak akan segan-segan untuk membuat hidup anda hancur seperti gelas itu jika anda masih berani mengusik hidup kekasih saya”ucap Oliver tajam kearah Sintya.
“Oliver kamu ini—”
“Dan mama! Asal mama tau, Oliver gak pernah bahagia hidup sama mama”sela Oliver.
Setelah berucap demikian Oliver dengan cepat kembali berjalan kearah Enzi dan Aileen yang terdiam sendu diambang pintu.
“Kita pergi dari sini sekarang”ucap Oliver sambil menggendong tubuh kedua anaknya dan kembali masuk ke mobilnya.