Alex Christopher Nozer, CEO muda sekaligus pemimpin mafia paling ditakuti di London, tak pernah percaya pada cinta. Hidupnya hanya dipenuhi darah, kekuasaan, dan pengkhianatan. Namun segalanya berubah sejak seorang wanita asing berulang kali menolongnya tanpa mengetahui siapa dirinya. Lauren Valencia Varles, gadis sederhana yang berhati lembut, tanpa sadar menjadi satu-satunya cahaya di dunia kelam Alex. Ketika takdir kembali mempertemukan mereka di perusahaan milik Alex, obsesi mulai tumbuh menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Di balik status tunangan hasil perjodohan dan musuh yang mengincar kekuasaannya, Alex bertekad memiliki Lauren dengan caranya sendiri. Di dunia mafia, cinta bukan tentang kebebasan, melainkan kepemilikan. Mampukah Lauren bertahan di sisi pria yang rela menghancurkan siapa pun demi melindunginya, atau justru ia akan terjebak menjadi Wanita Simpanan Sang Mafia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Ribka pandiangan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Obrolan lauren dan alex di meja makan
Lauren menahan napas. "Jadi benar kau yang mengaturnya."
"Ya." Jawaban itu datang cepat, tanpa penyesalan sedikit pun, seolah mengakui sesuatu yang tidak perlu ia sembunyikan lagi.
Alex menyesap rokoknya sekali lagi, matanya tidak lepas dari Lauren. "Aku yang memerintahkan HRD menghubungimu. Aku yang memastikan kau diterima, tanpa peduli ijazahmu, tanpa peduli prosedur normal yang seharusnya berlaku."
"Kenapa?" Suara Lauren nyaris berbisik, campuran antara marah dan bingung. "Kau bahkan tidak pernah bilang siapa dirimu selama delapan bulan ini. Sekarang tiba-tiba kau mengatur seluruh hidupku tanpa bertanya dulu?"
Alex menatapnya lama, ekspresinya tidak berubah, tapi ada ketegangan di rahangnya yang menandakan pertanyaan itu menyentuh sesuatu yang tidak biasa ia bicarakan. "Karena kau menyelamatkan nyawaku," katanya akhirnya, tegas, tanpa nada lembek sedikit pun. "Bukan sekali, tapi berkali-kali. Setiap kali aku pulang dalam keadaan hancur, kau selalu ada, tanpa pernah bertanya siapa aku, tanpa pernah meminta imbalan apa pun."
Ia meletakkan rokoknya di asbak, lalu berjalan mengelilingi meja, berhenti tepat di depan Lauren, menatapnya dari atas dengan sorot mata yang tajam namun entah kenapa terasa lebih intens dari biasanya. "Aku tidak suka berutang, Lauren. Dan aku tidak suka membiarkan sesuatu yang berharga berada di luar jangkauanku."
Kata-kata itu membuat dada Lauren sesak, tidak yakin harus menganggapnya sebagai ancaman atau sesuatu yang lain yang jauh lebih rumit untuk didefinisikan. "Jadi ini semua cuma soal balas budi? Kau memindahkan seluruh hidupku hanya karena merasa berutang padaku?"
"Bukan hanya itu." Alex berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan seberapa jauh ia ingin mengungkapkan hal yang sebenarnya.
Matanya menelusuri wajah Lauren, dari sorot mata hazelnya yang jernih, sampai caranya menahan diri untuk tidak gentar meski jelas ketakutan itu ada di sana. "Kau berbeda dari orang-orang yang biasa kutemui. Tidak ada yang kau inginkan dariku selain memastikan aku baik-baik saja. Itu hal langka di duniaku."
Lauren menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa, terjebak di antara rasa waspada dan sesuatu yang lain yang mulai tumbuh tanpa bisa ia kendalikan sepenuhnya.
"Aku tidak akan menjelaskan semuanya malam ini," lanjut Alex, kembali ke nada dinginnya yang biasa, seolah pintu yang sempat terbuka sedikit tadi kini ditutup rapat lagi. "Ada bagian dari hidupku yang tidak bisa kubagikan, bahkan padamu. Setidaknya, belum sekarang."
"Bagian apa?" desak Lauren, meski jauh di dalam hati ia sudah menduga jawabannya berkaitan dengan luka-luka yang selalu menghiasi tubuh Alex setiap kali mereka bertemu.
"Itu bukan urusanmu," jawab Alex tegas, memotong cepat, tidak menyisakan ruang untuk perdebatan lebih jauh.
Nadanya kembali dingin, seolah dinding yang biasa ia bangun kembali berdiri tegak di antara mereka. "Yang perlu kau tahu, kau sekarang bekerja untukku. Dan aku akan memastikan tidak ada yang menyakitimu selama kau berada di bawah naunganku."
Lauren menatapnya, mencoba mencari celah untuk memahami pria yang begitu kompleks di hadapannya ini, tapi Alex sudah kembali memasang topeng ketenangannya, tidak menyisakan satu pun retakan yang bisa Lauren manfaatkan untuk melihat lebih dalam.
"Ngomong-ngomong," kata Alex, nadanya berubah sedikit lebih ringan, meski tetap terjaga dalam batas formalitas yang biasa ia jaga, "aku mengundangmu makan malam. Bukan cuma penerimaan kerjamu yang perlu dirayakan, tapi juga sebagai ucapan terima kasihku, karena kau sudah berkali-kali menolongku tanpa pernah mengharapkan apa pun."
Lauren mengerjap, tidak menyangka undangan itu datang begitu cepat setelah percakapan yang begitu berat. "Sekarang? Aku bahkan tidak—"
"Sudah disiapkan," potong Alex, tidak memberi ruang untuk penolakan. Ia melangkah ke pintu, membukanya sedikit, memberi isyarat kepada seseorang di luar. "Anggap ini caraku membalas budi. Kau tidak perlu khawatir soal apa pun malam ini."
Lauren berdiri perlahan, masih dipenuhi ribuan pertanyaan yang belum terjawab, tapi entah kenapa, ia tidak menemukan alasan kuat untuk menolak. Ada sesuatu tentang cara Alex bicara malam ini, sesuatu yang meski tetap dingin dan tegas, terasa lebih jujur dari semua percakapan singkat mereka selama delapan bulan terakhir.
Ia mengikuti langkah Alex keluar dari ruang kerja itu, pikirannya masih dipenuhi kata-kata yang baru saja ia dengar.
"Aku tidak suka membiarkan sesuatu yang berharga berada di luar jangkauanku".
Kalimat itu terus terngiang di benaknya, membawa firasat samar bahwa malam ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih rumit dari yang pernah ia bayangkan.
Alex memandu Lauren menyusuri lorong menuju ruang makan dengan langkah tenang seperti biasanya. Ruangan itu jauh dari kesan klasik yang sempat dibayangkan Lauren.
Sebuah meja makan panjang berbahan kaca dengan kaki logam hitam berdiri di tengah ruangan, dikelilingi kursi-kursi minimalis berlapis kulit abu-abu.
Lampu gantung bergaya industrial menggantung rendah di atas meja, sementara dinding kaca besar di salah satu sisi ruangan memperlihatkan taman belakang yang diterangi lampu-lampu kecil, menciptakan suasana hangat di tengah malam.
Mereka duduk saling berhadapan. Tak lama kemudian, seorang pelayan menyajikan makan malam berupa steak medium dengan saus lada hitam, sayuran panggang, kentang tumbuk, serta segelas anggur merah untuk masing-masing.
Lauren memotong steaknya perlahan, berusaha menyembunyikan rasa canggung di tengah suasana yang begitu formal.
"Kau tinggal di mana?" tanya Alex, memecah keheningan sambil menyesap anggurnya.
"Di Camden," jawab Lauren singkat. "Aku menyewa apartemen kecil bersama temanku."
Alex mengangguk pelan.
"Sendirian di London? Lalu, di mana keluargamu sampai kau harus tinggal di apartemen kecil?"
Lauren menarik napas pelan sebelum meletakkan pisau dan garpunya.
"Orang tuaku sudah meninggal, itu karena kecelakaan mobil empat tahun yang lalu."
Alex terdiam sesaat. Wajahnya tetap datar, tetapi sorot matanya tampak sedikit melunak.
"Maaf. Aku tidak tahu."
"Tidak apa-apa," jawab Lauren dengan senyum tipis. "Aku anak tunggal, jadi setelah mereka meninggal tidak ada saudara yang bisa kuandalkan."
"Bagaimana kau bertahan selama ini?"
Pertanyaan itu terdengar lebih pribadi daripada yang Lauren duga. Namun, entah mengapa ia tidak merasa keberatan menjawabnya.
"Dulu keluargaku hidup sangat berkecukupan. Ayahku profesor ekonomi di Northbridge State University, sedangkan ibuku dokter bedah spesialis jantung di rumah sakit pemerintah. Setelah mereka meninggal, mereka meninggalkan warisan dan tabungan yang cukup untuk membiayai hidupku."
"Kau menggunakan uang itu untuk hidup?"
"Di awal, iya. Waktu itu aku belum bekerja, jadi aku memakainya untuk biaya makan dan menyewa kamar sampai akhirnya mendapat pekerjaan paruh waktu di sebuah kedai kopi."
Lauren memutar gelas anggurnya perlahan.
"Tapi setelah aku punya penghasilan sendiri, aku berhenti menggunakan uang itu. Sekarang kusimpan untuk biaya kuliah dan keadaan darurat."
"Keadaan darurat seperti apa?"
"Kalau suatu hari aku kehilangan pekerjaan dan benar-benar tidak punya pilihan lain,"
jawab Lauren jujur. "Sampai sekarang aku belum pernah menyentuhnya lagi. Selama masih bisa bekerja, aku lebih memilih hidup dari hasil usahaku sendiri."
Alex mendengarkan tanpa menyela. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah Lauren. "Kau bisa menggunakan uang itu kapan saja. Tidak ada yang salah."
"Aku tahu." Lauren tersenyum tipis. "Tapi bagiku, itu adalah bagian terakhir yang ditinggalkan orang tuaku. Aku ingin menjaganya selama aku masih mampu berdiri di atas kakiku sendiri."
Alex tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang Lauren beberapa saat. Kejujuran sederhana itu terasa begitu langka di dunia yang selama ini ia jalani.
"Kalau kau sendiri?" tanya Lauren. "Berapa bersaudara?"
Sudut bibir Alex terangkat tipis. "Aku juga anak tunggal, sapertimu."
Jawabannya singkat, seolah menandakan ia belum ingin membicarakan keluarganya lebih jauh.
"Sudah berapa lama ayahmu mengajar di sana?" tanya Alex.
"Hampir dua puluh tahun," jawab Lauren sambil tersenyum kecil. "Ayahku sangat mencintai pekerjaannya. Meskipun sibuk mengajar dan meneliti, dia selalu meluangkan waktu untukku."
Lauren terdiam sejenak sebelum melanjutkan.
"Ibuku juga sangat sibuk di rumah sakit. Tapi sesibuk apa pun mereka, kami selalu makan malam bersama seperti ini. Kadang setelah itu kami berjalan-jalan mengelilingi kota."
"Kedengarannya keluargamu sangat hangat," ucap Alex dengan nada yang lebih pelan.
Lauren mengangguk. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Memang begitu. Sampai sekarang kadang aku masih sulit percaya semuanya bisa hilang begitu saja hanya karena satu kecelakaan di malam yang hujan."
Lauren kembali memotong sepotong kecil steaknya. "Aku rasa mereka akan bangga kalau tahu aku akhirnya mendapatkan pekerjaan yang baik seperti sekarang. Meskipun... jalan yang membawaku ke sini memang tidak biasa."
Kalimat itu membuat Alex mengangkat sebelah alisnya, tetapi ia tidak berkomentar. Ia hanya menyesap anggurnya sekali lagi sambil memandang Lauren dalam diam.
Makan malam berlanjut dengan suasana yang perlahan terasa lebih hangat. Meski begitu, Lauren tahu masih banyak pertanyaan yang belum terjawab, tersembunyi di balik setiap jawaban singkat yang diberikan Alex malam itu.