Ketika matahari terbenam, dunia gaib dan nyata melebur menjadi neraka yang dipenuhi makhluk mengerikan. Hanya para Esper—manusia yang mampu mengendalikan energi spiritualnya—yang menjadi benteng terakhir umat manusia melawan penguasa kegelapan.
Ryan memilih menarik diri dari dunia luar. Selain karena dikucilkan oleh lingkungan sekitar, ia sama sekali tidak tahu bahwa rasa malasnya adalah satu-satunya hal yang menahan kehancuran dunia—atau justru mempercepatnya?
Namun, takdir sialan tidak membiarkannya hidup dengan tenang. Sebuah tantangan besar yang dibalut tragedi mengerikan tiba-tiba mendobrak masuk, dan mengancam nyawa orang-orang di sekitarnya.
Di ambang keputusasaan dan di tengah emosi yang meluap, apakah Ryan akan menemukan alasan untuk mulai bekerja keras demi menjadi lebih kuat? Ataukah situasi ini justru akan memaksa kekuatan besar yang tertidur di dalam dirinya lepas kendali, bahkan sebelum ia sempat mempelajarinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Origin-Reynvold, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembalinya Sang Anomali
Mundur beberapa menit sebelum keheningan mencekam itu terjadi, area di depan gedung olahraga SMK Media Kota Cirebon telah menjelma menjadi medan pertempuran yang kaca. Di bawah langit merah menyala, Rahman berusaha keras menstabilkan napasnya yang terburu‑buru. Sisa rasa syok akibat intimidasi makhluk kasta tinggi sempat membuat lututnya lemas, namun adrenalin yang membakar dada memaksanya untuk kembali bangkit berdiri tegak.
Sebagai seorang Esper yang memiliki indra paling peka lebih dari tipe Sensory lainnya, Rahman mampu merasakan distorsi sekecil apa pun di sekitarnya. Pandangan matanya mungkin sedikit terhalang oleh kabut merah tipis yang menyelimuti area tersebut, tetapi radar batinnya bekerja sepuluh kali lebih tajam. Di dalam kepalanya, gambaran medan perang tersusun dari riak-riak energi spiritual yang bergolak.
"Di atas atap! Sisi kiri!" seru Rahman memberikan komando kepada roh penjaganya.
Slaasszh!
Harimau Putih khodam milik Rahman melesat bak kilatan perak murni. Cakar raksasanya mengayun membelah udara, tepat menghantam makhluk kecil berkulit pucat keabu-abuan yang hampir menggigit leher seorang siswa yang sedang meringkuk ketakutan. Makhluk itu berteriak melengking sebelum akhirnya terlempar dan berguling di tanah.
Mereka adalah tuyul, makhluk dalam kategori Phantom tingkatan Tier B. Tidak seperti hantu tingkat rendah yang bergerak pelan, tuyul‑tuyul ini berukuran kecil dan sangat gesit. Mereka terus melompat dari satu titik tersembunyi ke titik tersembunyi lain, memanfaatkan kabut tebal untuk mengejar mangsa. Bagi siswa biasa atau Esper yang tidak memiliki kemampuan pelacakan, menyingkap keberadaan tuyul‑tuyul ini hampir tidak mungkin dengan mata telanjang.
Namun, berkat radar batinnya yang presisi, Rahman berhasil berulang kali mengarahkan sang harimau untuk menyelamatkan para siswa dari terkaman tak kasat mata itu.
Di sisi lain, Agil juga bergerak maju untuk membantu. Pemuda berambut pirang itu melapisi kedua kepalan tangannya dengan aura energi spiritual biru muda. Namun, tidak seperti Rahman yang bisa memprediksi arah datangnya musuh, Agil harus bertarung dengan mengandalkan refleks murni yang membuatnya sangat kesulitan.
"Sialan! Makhluk kecil bajingan! Bisa diam tidak, hah?!" ucap Agil dengan kasar.
Ia melayangkan pukulan lurus ke depan, tetapi tinjunya hanya membelah kabut kosong. Sepersekian detik kemudian, seekor tuyul tiba-tiba muncul dari arah bawah dan berhasil mencakar lengannya hingga robek sebelum melesat pergi sambil tertawa mengejek.
"Kurang ajar! Dasar botak!" Agil kembali melontarkan umpatan sambil menghela napas berat, menahan rasa perih di lengannya. Ia benar-benar dibuat naik pitam oleh taktik tabrak-lari yang merepotkan dari para kurcaci astral tersebut.
Sambil menghalau serangan hantu lain, Agil menatap Rahman dengan ekspresi sangat gelisah. “Hei, Rahman! Di mana anak itu?! Sial, keributan yang kita buat ini sudah sangat berisik! Seharusnya cukup membuat Ryan mengetahui posisi kita sekarang!”
Rahman yang mendengar keluhan itu hanya bisa meringis getir di tengah kepungan musuh. Di dalam hatinya, ia membatin penuh kepasrahan. Agil tidak menyadari bahwa persoalan utama Ryan bukan pada pendengaran yang kurang tajam, melainkan pada struktur otaknya yang tidak memiliki kemampuan navigasi dasar. Jangankan mencari suara auman harimau di tengah labirin dimensi gaib, sekadar melangkah di koridor lurus pun mungkin dapat menuntunnya ke kandang angsa.
Semakin lama, situasi justru semakin memburuk. Jumlah hantu Tier C berwujud gumpalan daging abstrak dan kawanan tuyul Tier B yang bermunculan dari balik bayang-bayang gedung seolah tiada habisnya. Mereka terus merangkak keluar dari kegelapan seolah diproduksi secara massal oleh pilar energi merah di dalam gedung olahraga.
Tenaga Rahman mulai terkuras habis. Fokusnya yang terus-menerus dipaksa bekerja memetakan posisi musuh membuat pelipisnya berdenyut nyeri, dan pancaran aura birunya mulai meredup ganjil. Di garis depan, Khodam Harimau Putih miliknya juga mulai menunjukkan gejala kelelahan; gerakan cakarnya melambat dan raungan roh suci itu terdengar semakin berat. Agil sendiri sudah bertumpu pada satu lututnya, berjuang keras mengumpulkan sisa energi spiritualnya yang hampir habis. Keputusasaan yang pekat kembali menyelimuti, mengikat sisa keberanian mereka.
Tepat ketika Rahman dan Agil berada di ambang batas kemampuan mereka, sebuah fenomena aneh terjadi secara instan.
Tawa melengking para tuyul mendadak terputus di tengah jalan. Gumpalan-gumpalan daging abstrak Tier C yang semula melayang agresif terdiam membeku di tempatnya masing-masing. Bahkan, Khodam Harimau Putih milik Rahman ikut kaku tak bergerak, cakarnya terhenti beberapa sentimeter di atas kepala musuhnya dengan tubuh yang gemetar hebat.
Atmosfer merah darah yang tadinya panas bergolak oleh amarah pertempuran, seketika turun drastis hingga mencapai titik beku yang menyiksa.
Jantung Rahman berdegup kencang hingga memicu rasa ngilu di dadanya. Ia mengenali sensasi mengerikan ini dengan sangat baik.
Dia... sudah dekat, batin Rahman, matanya terbuka lebar.
Keheningan yang mencekam itu berlanjut ketika seluruh hantu di area lapangan, mulai dari kroco Tier C hingga kawanan tuyul, secara patah-patah memalingkan pandangan mereka ke satu arah yang sama. Mereka semua menatap lurus ke arah sebuah sudut dinding beton tebal di koridor luar gedung olahraga.
BOOM!!!
Sebuah suara hantaman keras yang luar biasa mendadak mengguncang fondasi seluruh area sekolah. Getarannya begitu masif hingga meretakkan kaca jendela gedung olahraga dan menerbangkan debu-debu semen ke udara.
Mendengar dentuman destruktif tersebut, insting bertahan hidup kawanan hantu Tier C langsung pecah berantakan. Mengabaikan perintah yang mengikat mereka, makhluk-makhluk kasta rendah itu menjerit ketakutan dan langsung kabur tunggang-langgang menembus tanah dan dinding, melarikan diri demi menyelamatkan eksistensi mereka sendiri.
BOOM!!!
Hantaman kedua menyusul secara instan tanpa jeda. Dinding beton tebal yang berdiri kokoh itu hancur berkeping-keping, meledak menjadi puing-puing semen yang berhamburan ke segala arah.
Dari balik kepulan debu tebal dan reruntuhan batu yang ambruk, sesosok pemuda melangkah keluar dengan sangat santai, seolah-olah ia baru saja melangkah keluar dari pintu minimarket. Ryan Lee telah kembali dengan prinsip navigasi lurusnya.
Agil yang melihat kemunculan Ryan hanya bisa tersenyum kecil dan membatin, Cara dia muncul sudah seperti pahlawan super saja.
Melihat kemunculan sang predator puncak yang diselimuti riak samar energi hitam, sisa-sisa tuyul Tier B yang tadinya begitu lincah dan merepotkan langsung memekik horor. Tanpa membuang waktu satu detik pun, mereka serentak berbalik dan melesat kabur secepat kilat, menghilang sepenuhnya ke dalam kegelapan lorong seberang gedung. Area lapangan yang tadinya riuh kini mendadak bersih dari hantu kasta rendah.
Atmosfer di depan gedung olahraga berubah drastis menjadi sangat menekan. Di tengah keheningan baru yang mencekam itu, sosok Sundel Bolong Tier A yang semula hanya diam mengawasi di depan pintu gedung bagai patung, kini mendongak patah-patah. Sepasang mata putih tanpa pupil miliknya langsung menatap waspada penuh permusuhan ke arah Ryan.
Semua orang yang berada di sana, termasuk Agil, Isabella, dan Rena, terbelalak tidak percaya dengan mulut terbuka lebar. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana entitas Tier A yang begitu mengerikan dan sanggup menghancurkan satu kota, kini justru menunjukkan gestur defensif.
Namun, meski berhadapan dengan aura mengerikan Ryan, Sundel Bolong itu tidak berniat melarikan diri seperti para hantu lainnya.
Slaaszh!
Ryan yang tidak sempat menghindar sepenuhnya terpaksa menahan serangan yang datang mengarah ke dadanya.
Bugh!
Dampak hantaman fisik dari Sundel Bolong itu begitu masif. Tubuh Ryan terdorong mundur sejauh tiga meter, membuat sol sepatu sekolahnya berdecit keras dan meninggalkan bekas gesekan di tanah.
Sundel Bolong tidak memberikan celah sedikit pun bagi Ryan untuk membalas. Rambut hitam panjangnya yang pekat tiba-tiba memanjang secara tidak masuk akal, membelah udara dan mencambuk maju bak puluhan cambuk berduri yang sangat menyusahkan. Ryan terpaksa bergerak lincah ke kanan dan ke kiri, berulang kali melayangkan pukulannya untuk menangkis dan memukul mundur lilitan rambut yang mengincarnya. Pertarungan di antara keduanya berlangsung seimbang dan intens, beradu kekuatan fisik murni yang memicu gelombang tekanan udara di sekeliling mereka.
Melihat fokus sang hantu sepenuhnya teralih pada pertarungan sengit melawan Ryan, Rahman yang mengamati dari balik perlindungan segera menyadari sebuah peluang emas yang krusial.
Saat ini, area pintu masuk gedung olahraga sama sekali tidak ada yang menjaga. Pilar laser merah darah itu masih berdiri tegak menjulang dari dalam sana menembus langit, menandakan bahwa inti yang memicu barier dimensi ini masih utuh tersembunyi di dalam aula.
Ini kesempatanku, masuk ke gedung sekarang! Perintah mutlak itu Rahman kirimkan langsung ke dalam batin khodamnya.
Roh penjaga yang energinya sempat pulih akibat hilangnya tekanan musuh itu langsung melesat, menyelinap melewati celah pertarungan Ryan dan menerobos masuk ke dalam pintu ganda gedung olahraga yang terbuka lebar.
Melalui kemampuan khususnya, kesadaran batin Rahman seketika terhubung langsung dengan mata sang khodam. Pandangannya berganti menampilkan area dalam aula gedung olahraga yang gelap gulita dan diselimuti hawa anyir yang pekat.
Di tengah aula yang luas, tepat pada titik koordinat menjulangnya pilar laser merah yang menembus atap, sebuah simbol misterius yang terbuat dari cairan hitam yang anehnya tidak mengering. Tepat di pusatnya, melayang sebuah batu merah delima sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Batu merah delima itu memancarkan pendaran cahaya merah darah yang luar biasa padat dan menyengat, melepaskan pilar energi vertikal raksasa yang merobek langit sekolah.
"Hancurkan batu itu! Cepat!" teriak Rahman memberikan komando terakhir dengan sisa seluruh energi spiritual yang ia miliki.
Khodam Harimau Putih itu mengaum keras hingga menggetarkan seluruh isi ruangan aula. Roh suci itu melompat tinggi ke udara, mengumpulkan seluruh pendaran cahaya perak murninya ke kedua cakar depan, lalu menghempaskannya dengan daya hancur maksimal langsung ke arah batu merah delima yang melayang.
PRANG!!!
Suara hancurnya batu merah delima itu bergema keras, seolah-olah ada ribuan cermin raksasa yang pecah bersamaan.