NovelToon NovelToon
THE ECLIPSE PROTOCOL: THE ELEVENTH COORDINATE

THE ECLIPSE PROTOCOL: THE ELEVENTH COORDINATE

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Tiga abad lalu, "The Eclipse Protocol" diaktifkan—sebuah proyek rahasia umat manusia untuk mematikan matahari demi menghentikan perang global. Rencananya berhasil, tapi efek sampingnya jauh lebih mengerikan: dunia jatuh ke dalam kiamat es abadi.

Kini, sisa peradaban manusia hidup di sembilan "Sovereign Spires"—menara kota raksasa yang ditopang energi geotermal dan dikelilingi kubah pelindung. Di luar sana, "The Drowned Lands" menjadi kuburan bagi siapa pun yang berani keluar.

Kian Veyr adalah produk gagal dari sistem ini. Seorang jenius taktis yang dipecat dari pasukan elit karena menolak menjalankan perintah yang akan mengorbankan ribuan warga sipil demi "kebaikan yang lebih besar".

Dia kini hidup sebagai pemulung informasi, menjual data rute aman ke para pedagang gurun hitam. Hingga suatu hari, dia menemukan peta usang yang menunjukkan adanya "Koordinat Kesebelas"—wilayah yang tidak tercatat di peta resmi Dewan Menara.

Peta itu menyebut tempat itu sebagai "Titik Nol",

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HUKUM RIMBA SEKTOR LUAR

Bunyi konstan indikator tekanan uap Iron Crawler 07 menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan di dalam kabin. Kendaraan baja seberat dua puluh ton itu merayap perlahan melewati celah ngarai batu kapur mati di wilayah utara, daerah yang bahkan tidak tercantum dalam peta militer Menara Pusat.

Viona mencengkeram setir kemudi dengan kedua tangan yang masih gemetar. Kakinya nyaris tidak cukup panjang untuk menekan pedal gas dengan nyaman, tetapi ia memaksa dirinya tetap mengendalikan kendaraan. Di kursi navigator di sampingnya, Kian terbaring tak sadarkan diri.

Jubah hitam pria itu telah digunting untuk memudahkan perawatan luka. Balutan darurat di bahu dan selangkanya sudah basah oleh darah yang terus merembes. Namun yang paling mengkhawatirkan adalah mata mekanis kirinya. Probability Lens yang selama ini menjadi senjata terbesar Kian kini mati total. Cahaya biru yang biasanya menyala telah lenyap, digantikan bola kaca retak berwarna kelabu yang sesekali mengeluarkan desis halus dan aroma logam terbakar. Tanpa lensa itu, Kian tampak jauh lebih manusiawi dan rapuh dibandingkan sosok kalkulatif yang selama ini dikenal Viona.

“Bertahanlah, Kian... kumohon,” bisik Viona pelan.

Matanya sesekali melirik indikator bahan bakar di dasbor. Jarumnya berkedip merah, menunjukkan cadangan yang tersisa hanya lima persen. Reaktor kendaraan telah dipaksa bekerja melampaui batas selama insiden di Sektor Sebelas, dan sekarang Iron Crawler berada di ambang menjadi bangkai besi di tengah gurun kelabu.

Tiba-tiba radar taktis yang masih berfungsi mengeluarkan bunyi bip pendek. Tiga titik merah muncul di layar, bergerak cepat dari arah puncak ngarai. Viona langsung menegang. Bahkan tanpa bantuan Probability Lens milik Kian, ia bisa memahami arti sinyal itu.

Mereka sedang dikepung.

Belum sempat ia mengambil keputusan, mesin Iron Crawler batuk keras. Asap putih menyembur dari kap depan, lalu kendaraan itu kehilangan tenaga dan berhenti tepat di tengah jalur sempit ngarai.

“Tidak... jangan sekarang...” gumam Viona panik.

Namun semuanya sudah terlambat.

Dari lereng batu di kanan dan kiri, tiga kendaraan beroda rantai yang dipenuhi duri besi meluncur turun dengan kecepatan tinggi. Tengkorak monster anomali tergantung di badan kendaraan mereka sebagai trofi. Belasan pria bermasker gas melompat keluar sambil menodongkan senapan uap dan tombak bergerigi ke arah Iron Crawler.

Salah seorang di antara mereka maju ke depan. Tubuhnya besar seperti beruang, dilapisi zirah besi karatan yang penuh bekas luka pertempuran. Kapak hidrolik raksasa berada di tangannya.

“Turun dari rongsokan itu, Tikus Menara!” teriaknya sambil menghantam pintu kabin dengan kapaknya. Dentuman keras menggema di seluruh kendaraan. “Serahkan bahan bakar dan persediaan medismu jika tidak ingin kami menjadikan kalian umpan Phantom Echo!”

Tubuh Viona membeku. Secara naluriah ia menoleh ke arah Kian, berharap pria itu tiba-tiba membuka mata dan mengeluarkan salah satu kalkulasi gilanya seperti biasa.

Namun Kian tetap tidak bergerak.

Saat itulah sebuah kalimat lama kembali terngiang di benaknya.

Di Sektor Luar, tidak ada hukum moral. Hanya ada predator dan mangsa. Jika kau bertingkah seperti mangsa, kau akan mati sebelum sempat memohon.

Viona menarik napas panjang.

Ketakutan masih ada. Jantungnya masih berdebar kencang. Namun kali ini ia tidak membiarkan rasa takut mengendalikan dirinya.

Perlahan ia membuka kotak perkakas mekaniknya dan mengeluarkan sekring kinetik cadangan serta obeng magnetik beraliran uap tegangan tinggi. Jemarinya bergerak cepat, merakit keduanya menjadi perangkat darurat yang belum pernah ia uji sebelumnya.

Dalam waktu kurang dari lima belas detik, sebuah granat EMP improvisasi selesai dibuat.

Viona menurunkan kaca jendela sedikit lalu melemparkan perangkat itu tepat ke bawah kendaraan pemimpin para penyamun.

“Apa itu? Mainan anak me—”

Ledakan biru terang memotong ucapannya.

Gelombang elektromagnetik menyapu seluruh area. Mesin kendaraan para penyamun langsung mati. Senapan uap kehilangan tekanan. Lampu-lampu indikator padam serentak.

Kekacauan pun terjadi.

“Sial! Mesin kita mati!”

“Peralatanku tidak berfungsi!”

“Lumpuhkan gadis itu!”

Tanpa memberi mereka kesempatan bereaksi, Viona membuka pintu kabin dan melompat keluar sambil membawa Nail Gun pneumatik miliknya.

Rentetan paku baja melesat cepat.

Dua penyamun langsung tumbang sambil menjerit saat kaki mereka tertancap ke tanah berbatu.

Viona kemudian mengarahkan senjatanya ke wajah sang pemimpin.

“Aku bukan tikus menara,” katanya dingin.

Nada bicaranya begitu mirip dengan Kian hingga bahkan dirinya sendiri terkejut mendengarnya.

“Pindahkan kendaraan kalian dari jalur kami. Atau paku berikutnya akan menembus tabung oksigen di punggungmu.”

Keheningan menyelimuti ngarai.

Pemimpin penyamun itu menatap dua anak buahnya yang terkapar kesakitan, lalu kembali menatap Viona.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa gadis kecil di depannya bukan mangsa yang mudah.

“Baik...” katanya akhirnya. “Kami mundur.”

Perlahan para penyamun menyingkirkan kendaraan mereka dan membuka jalan.

Baru setelah Iron Crawler kembali bergerak meninggalkan ngarai, Viona membiarkan tubuhnya rileks.

Tangannya mulai gemetar lagi.

Air mata perlahan mengalir di pipinya.

Namun tepat saat itu, ia mendengar suara lemah dari kursi navigator.

“Tindakan yang tidak rasional...”

Viona menoleh cepat.

Mata kanan Kian perlahan terbuka.

“Tapi kalkulasinya cukup efektif, Viona.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!