Arka Zayn Albian, remaja kaya raya yang muak dengan tuntutan kesempurnaan keluarganya, memilih melampiaskan rasa frustrasinya di malam kelulusan SMA. Di sebuah club, ia bertemu Astrid, gadis asing yang memiliki beban batin serupa. Terikat oleh rasa frustrasi yang sama dan pengaruh alkohol, keduanya melewati malam bersama yang berakhir dengan kepanikan di pagi hari. Takut memicu skandal besar, Arka memilih kabur dan berharap bisa melupakan kejadian itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xora', isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Arti Sebuah Cinta
...----------------...
Kamis malam, suasana di dalam ruang kerja pribadi rumah utama Albian terasa begitu pekat dan mengintimidasi. Di tengah ruangan, sebuah meja bundar besar dikelilingi oleh lima kursi. Atas instruksi Kak Hendra, seluruh pelayan rumah dilarang keras mendekati area lantai dua. Malam ini memberikan ruang sempurna bagi kami untuk mengadakan rapat dadakan.
Aku duduk di salah satu kursi, sementara Kak Hendra berdiri di dekat layar proyektor besar yang terpasang di dinding. Tak lama kemudian, pintu diketuk perlahan. Kak Zalya masuk terlebih dahulu dengan gaya anggunnya, disusul oleh Ellisya.
Terakhir, melangkah masuk sosok yang paling disegani di antara kami berdua: Kak Andra. Kakak sulungku itu masih mengenakan kemeja kerja formalnya, wajahnya tampak lelah sekaligus dingin, memancarkan aura seorang eksekutif muda yang tidak suka waktunya dibuang buang.
"Gue cuma punya waktu lima belas menit," ucap Kak Andra dingin tanpa basa-basi sembari mendudukkan diri di kursi utama. Dia melirik arloji di pergelangan tangannya. "Kalau rapat dadakan ini cuma soal Arka yang mau minta modal usaha atau atau masalah konyol lainnya, gue cabut sekarang. Pekerjaan gue di kantor masih menumpuk."
"Duduk dulu, Kak. Ini jauh lebih penting dari sekadar urusan kerjaan lo yang nilainya gak seberapa itu," sahut Kak Hendra santai namun penuh penekanan.
Kak Hendra menekan tombol remote di tangannya. Layar proyektor langsung menyala, menampilkan rekaman video live dari kamar Pedro dua hari lalu. Suara desahan, tawa mengejek dari Sania, hingga kalimat, "Arka itu kalau udah dikasih kata kata manis dikit juga langsung percaya, anak Keluarga Albian memang tidak ada yang berguna" bergema dengan sangat jernih di dalam ruangan yang sunyi itu.
Wajah Kak Zalya yang tadinya santai langsung berubah drastis. Matanya menyipit tajam, tangannya mengepal di atas meja. "Kurang ajar. Perempuan itu benar benar gak tahu diri. mereka berani menghina Keluarga kita"
Sementara Ellisya langsung menutup mulutnya dengan mata membelalak tidak percaya. "Ih... Kak Sania kok ucapannya jahat banget sih Padahal Kak Arka selalu beliin dia barang barang mahal."
Kak Andra? Ekspresi wajahnya tidak berubah, tetap datar. Namun, aku bisa melihat dirinya yang mulai merasa kesal. Sepasang matanya yang tajam menatap draf dokumen pemerasan dana yang ikut ditampilkan Kak Hendra di layar.
"Jadi... ini alasan lo ngajak kita rapat sekarang, Arka?" tanya Kak Andra, suaranya terdengar sangat rendah dan menusuk. Dia mengembuskan napas pendek, lalu bersiap untuk berdiri. "Gue prihatin. Tapi ini urusan asmara kekanak kanakan. Gak butuh kehadiran gue buat nyelesaiin kerikil kayak gini. Urus sendiri."
"Tunggu dulu, Andra" Kak Zalya tiba tiba berdiri, menggebrak meja dengan elegan namun bertenaga. "Ini bukan cuma soal cewek jalang atau urusan asmara receh! Ini soal harga diri kita, Keluarha Albian, yang diinjak injak dan dijadiin mesin ATM berjalan sama orang luar!, serta mereka udah menghina kita. Lo mau nama keluarga kita jadi bahan tertawaan kalau berita ini bocor?! Di mana otak bisnis lo, Andra? bukannya lu pernah bilang kalo Nama baik kita itu aset!"
"Oke jadi apa rencana kita?" tanya kak Andra.
"gue sama kak Hendra udah nyusunya Rencana. nanti gue bakal pancing Sania sama Pedro buat keluar dari apartemen nya, terus kita bakal masuk apartemen mereka dengan gaya yang elegan, kita kasih Mereka pelajaran bahwa keluarga Albian bukan mainan. Keluarga Sania dan Pedro punya tunggakan hutang sama perusahaan kita, kita beri mereka waktu 1×24 jam buat lunasin hutang mereka serta bunganya kalau kaga, yaa kalian tau sendiri kan. dan terakhir kita bakal Eksekusi ini di hari sabtu sore." ucap ku yang menjelaskan.
"Gue tetep gak ikut. Sabtu ini gue ada janji sama investor dari Singapura," jawab Kak Andra dingin, tidak goyah oleh gertakan Kak Zalya.
Melihat Kak Andra yang keras kepala, Ellisya tiba tiba turun dari kursinya. Adik bungsu kami itu berjalan mendekat, lalu memegang lengan kemeja Kak Andra dengan kedua tangan kecilnya. Dia mendongak, memasang wajah paling sedih dan berkaca kaca yang dia bisa.
"Kak Andra.... please? keluarga kita udah di hina gitu," bisik Ellisya dengan nada suara yang sangat manja dan memelas. "Masa Kak Andra tega ngebiarin nama Keluarga kita di olok olok. kan kita sebagai saudara harus kompak kata Ayah. Temenin kita hari Sabtu ya, Kak? Please... kalau Kak Andra ikut, Ellisya janji gak bakal ganggu Kakak kerja lagi selama sebulan."
Kak Andra memejamkan matanya sejenak. Jika ada satu kelemahan terbesar seorang Andra Albian di dunia ini, itu adalah rengekan dari Ellisya dan amukan dari Kak Zalya. Ditambah lagi, sorot mataku yang kini menatapnya dengan pandangan dingin dan serius bukan lagi pandangan manja seperti biasanya rupanya berhasil mengetuk harga dirinya sebagai kakak tertua.
Setelah keheningan yang menegangkan selama beberapa detik, Kak Andra mengembuskan napas berat, memijat pelipisnya.
"Fine. Sabtu jam 5 sore," ucap Kak Andra akhirnya, nadanya pasrah namun tetap tegas. Dia menatap kami berempat satu per satu. "Jangan ada yang telat satu detik pun. Dan pastikan... rencana kalian gak berantakan. Gue gak suka buang buang waktu untuk sesuatu yang gak dieksekusi dengan sempurna."
Aku tersenyum tipis. "Rencana ini gak akan gagal, Kak. Mereka bakal dapet hadiah ulang tahun paling berkesan dari kita."
...****************...
Hari Sabtu yang dinantikan akhirnya tiba. Sesuai dengan jadwal yang sudah kuatur sebelumnya, hari ini seharusnya adalah jadwal kencanku bersama Sania. Namun, tepat pukul sebelas siang, aku melancarkan rencana tahap keempat.
Aku membuka aplikasi perbankan di ponselku, mengetikkan nominal yang fantastis, lalu menekan tombol kirim ke rekening Sania.
[Mutasi Berhasil: Rp100.000.000,-]
Setelah dana terkirim, aku mengirimkan pesan singkat ke WhatsApp Sania dengan mengetikkan kalimat penuh dusta yang sudah kurancang bersama Kak Hendra.
Arka: Sayang, maaf banget ya hari Sabtu ini tiba tiba ada rapat keluarga besar Albian mendadak banget sama Ayah. Aku gak bisa nemenin kamu jalan hari ini. Sebagai gantinya, itu aku udah transfer 100 juta buat kamu jajan dan belanja barang mewah sama temen temen kamu ya. Have fun, Sayang! Sorry banget ya.
Tidak butuh waktu lima menit, ponselku langsung bergetar hebat. Sania menge chatbku dengan barisan emoji hati yang banyak, bahkan nadanya terdengar luar biasa manis.
Sania: Ya ampun Arkaaa! Gak apa-apa banget kok sayang, rapat keluarga kan emang lebih utama. Makasih banyak ya kupon jajannya, kamu emang pacar terbaik dunia! Aku bakal kangen banget sama kamu hari ini. Love you more, ganteng!
Aku hanya membaca pesan itu tanpa niat membalas. Melalui layar tablet pantau yang dipegang oleh Kak Hendra di dalam mobil kami, kami bisa melihat pergerakan instan di apartemen Pedro. Begitu menerima uang 100 juta dariku, Sania tidak mengajak teman perempuannya. Dia langsung melonjak kegirangan di atas kasur Pedro, menunjukkan layar m banking nya.
"Pedro! Si bego transfer 100 juta! Yuk, langsung ke Grand Indonesia sekarang, kita borong baju sama jam tangan baru pakai duit dia!" suara Sania terdengar nyaring dari speaker tablet.
Di dalam mobil sport yang terparkir tidak jauh dari kompleks apartemen, aku, Kak Hendra, Kak Zalya, dan Ellisya bertukar pandangan penuh arti. Sementara Kak Andra yang duduk di kursi depan hanya menggelengkan kepala, menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin.
"Umpan dimakan total," bisik Kak Hendra. "Target baru saja keluar dari lobi make mobil."
...****************...
Beberapa jam kemudian, sore hari beranjak tenang. Sania dan Pedro melangkah di lorong apartemen dengan tangan penuh dengan belasan kantong belanjaan bermerek mewah hasil uang 100 juta dariku. Mereka tertawa lepas, merasa di atas angin karena berhasil mengelabui pewaris Albian Group.
Namun, langkah kaki mereka mendadak terhenti ketika mendekati pintu unit apartemen Pedro. Sayup-sayup dari dalam kamar, terdengar alunan nada alat musik keyboard yang sedang dimainkan dengan sangat rapi dan tenang.
Pedro mengernyitkan dahi, meraba sakunya memastikan kartu aksesnya masih ada. Rasa bingung dan cemas mendadak menyergap. Siapa yang bisa masuk ke dalam unitnya dan memainkan keyboard miliknya?
Dengan tergesa-gesa dan penuh rasa penasaran, Pedro menempelkan kartunya dan membuka pintu. Mereka berdua bergegas melangkah menuju kamar utama untuk mengecek. Begitu pintu kamar didorong terbuka, langkah mereka terkunci seketika. Seluruh kantong belanjaan mewah di tangan Sania jatuh berserakan di atas lantai. Wajah mereka berdua memucat, seketika berubah menjadi seputih kertas.
Di dalam kamar yang harusnya kosong itu, Ellisya sedang duduk dengan tenang sambil memainkan alat musik keyboard milik Pedro, menciptakan melodi latar belakang yang terdengar begitu dramatis sekaligus mencekam. Di sudut ruangan, Kak Zalya sedang duduk santai di atas sofa sembari menyesap sebuah gelas berisi cairan merah pekat.
"Selamat datang," ucap Kak Zalya anggun, mengayunkan gelasnya perlahan ke arah mereka dengan tatapan mata yang sangat meremehkan. "Btw, wine koleksi lo ini tidak terlalu buruk."
Saat Sania dan Pedro masih terdiam membeku karena rasa terkejut yang luar biasa, tiba-tiba sebuah kilatan cahaya lampu kilat menyala terang tepat di depan wajah mereka, mengejutkan indra penglihatan mereka berdua.
Di sana, Kak Hendra berdiri memegang sebuah kamera DSLR, menurunkan lensanya perlahan sambil menyeringai puas. "Surprise."
Di dekat jendela besar kamar yang menampilkan pemandangan luar kota, Kak Andra sedang duduk tenang di atas kursi putar, posisinya masih membelakangi Pedro dan Sania seolah enggan mengotori matanya untuk melihat mereka. Sedangkan aku, berdiri tegak tepat di sebelah Kak Andra, juga membelakangi mereka berdua sembari menatap lurus ke luar jendela.
"Tidak perlu banyak alasan lagi, Sania. Semua bukti sudah terkumpul," ucapku dengan nada suara yang teramat tenang, datar, namun bergaung dingin di dalam kamar yang sunyi itu.
Sania gemetar hebat. Dia maju selangkah, air mata kepalsuannya mulai mengalir deras, mencoba meraih punggungku. "Ar-Arka... ini gak kayak yang kamu pikirin! Aku bisa jelasin, Arka! Aku dipaksa sama Pedro, aku cuma sayang sama kamu—"
Namun sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Sebelum tangannya yang kotor sempat menyentuh jaketku, aku berbalik badan dengan cepat. Dengan kasar, aku menepis tangannya hingga dia terhuyung ke belakang, mencampakkan perempuan itu dari hidupku untuk selamanya.
"Gak usah sebut nama gue pakai mulut murah lo itu," ucapku dingin, menatapnya dengan pandangan jijik yang belum pernah dia lihat sebelumnya. "Mulai detik ini, hubungan kita selesai."
Pedro mencoba maju, memegang bahuku dengan wajah panik. "Ka, please, kita temenan dari SMP, Bro. Jangan kayak gini"
Aku menatap Pedro, sepasang mataku mengunci manik matanya hingga pria itu menciut ketakutan. Aku merapikan kerah jaketku sendiri, lalu berkata dengan nada yang begitu mencekam hingga menusuk ke tulang.
"Tenang, Pedro... lu itu temen gue. Sebagai Arka temen lu, gue gak bakal main kasar sama luar," ucapku sembari tersenyum tipis sebuah senyuman tanpa kehangatan. "Tetapi... sebagai seorang Albian, hidup lu dan keluarga lu bakal hancur mulai sekarang."
Mendengar kalimatku, kursi putar yang diduduki Kak Andra perlahan berputar. Kakak sulungku itu menatap lurus ke arah Sania dan Pedro dengan pandangan mata elangnya yang luar biasa intimidatif.
"Keluarga Albian akan memutus seluruh kontrak kerja sama bisnis dengan keluarga kalian berdua per sore ini," ucap Kak Andra dengan suaranya yang tegas tanpa emosi. "Dan jangan lupa... kembalikan sisa seluruh hutang serta bunga yang dimiliki keluarga kalian kepada perusahaan kami dalam waktu 1x24 jam. Jika tidak, pengacara kami yang akan menyita aset rumah kalian."
Wajah Pedro langsung lemas. Dia tahu betul bahwa tanpa suntikan dana dari Albian, bisnis ayahnya akan bangkrut total dalam sekejap.
"Oh, dan ada satu bonus lagi," Kak Hendra menyela, mengangkat ponselnya dengan senyuman yang teramat memuaskan. "Yang terpenting sekarang, semua foto-foto bukti perselingkuhan kalian di apartemen ini, baru aja selesai gue kirim ke email orang tua kalian berdaya, dan juga email kantor orang tua kalian bekerja. Nikmatin malam minggu kalian."
Ellisya menghentikan dentingan keyboard-nya dengan satu hentakan nada minor yang tajam, menandai berakhirnya permainan.
Aku membalikkan badan, melangkah dengan tenang keluar dari ruangan itu tanpa menoleh lagi, diikuti oleh Kak Andra, Kak Zalya, Kak Hendra, dan Ellisya di belakangku. Kami berjalan beriringan meninggalkan apartemen itu dengan langkah tegap.
Di dalam kamar yang kini tertinggal, harga diri Sania dan Pedro jatuh sejatuh-jatuhnya hingga ke dasar bumi. Sania hanya bisa jatuh terduduk, menangis histeris meratapi kehancuran hidupnya di atas lantai marmer, sementara Pedro mematung bodoh dengan tatapan kosong, tidak bisa berkata apa-apa lagi karena menyadari bahwa mereka telah salah mencari musuh.