"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAWARAN
"Wilona tak sebaik itu," tiba-tiba saja Gesta membahas Wilona, model langganan perusahaan miliknya yang mati-matian ia tolak untuk next project. Tentu saja membuat Niar mengerutkan dahi, yakin nih makan siang bahas pekerjaan.
"Kok?" tanya Niar heran.
"Emang lo pikir gue maksa makan siang ini karena pengen berduaan sama kamu?" sindir Gesta, padahal ajakan makan siang sebelum-sebelumnya tak pernah terwujud, baru kali ini dan Gesta menganggap sudah berada di titik akhir bekerja sama dengan Wilona, jangan sampai next project ada kerja sama lagi. "Sejak aku pegang kantor, tentu mencari tahu siapa yang berkontribusi, termasuk Wilona. Lo sih gue ajak makan siang gak pernah mau, tolak mulu, kalau lo langsung mau, tentu dia gak bakal lanjut project dengan kita!" kesal Gesta.
Niar meringis, otaknya dangkal sekali ya berarti selama ini, atau dia terlalu ke-ge-er- an saat Gesta mengajak makan siang. "Ya lo kenapa gak langsung to the point bilang, ya gue pikir lo iseng dan memang menciptakan rumor!" balas Niar dengan sewot.
"Umur kita itu udah 24 tahun kali, Cay (panggilan sayang Gesta saat masih pacaran di SMA dulu), dewasa dikit lah, gak mungkin aku yang baru pegang kantor menciptakan rumor yang membuat heboh, murni gue memikirkan kantor. Jangan sampai setelah gue pegang malah merosot omsetnya, gagal gue jadi pewaris nanti," jujur Gesta, entah mengapa Niar terdiam. Melihat intens lelaki yang dulu mana bisa serius soal pelajaran, alhasil Niar ya menganggap Gesta main-main saja. Ternyata dia bertanggung jawab atas kemajuan kantor juga. Salut.
"Ya udah, gak usah bahas masa lalu kalau gitu. Panggilan juga gak usah menyangkut masa lalu, Niar aja!" protes gadis itu, dan Gesta hanya mengacungkan jempol. Gaya santainya ini loh yang bikin orang bingung, serius apa enggak sih dengan kinerjanya.
"Terus kenapa lo bilang Wilona gak baik?" tanya Niar kembali pada topik utama. Gesta tak menjawab, hanya memutar ponselnya dan menunjukkan sebuah room chat, nama kontaknya "Jalang".
"Siapa?" tanya Niar lagi.
"Itu nomornya Wilona, gue kasih nama kontak kayak gitu!" Niar pun membaca room chat sejak awal Gesta bergabung di kantor ini hingga minggu kemarin. Niar hanya bisa meneguk ludah kasar, dan sesekali melihat Gesta.
"Sumpah?" Niar masih tak percaya, tapi chat dan video atau foto yang Wilona kirim pada Gesta sangat tidak masuk akal.
Kenalin aku Wilona, model langganan di setiap produk perusahaan kamu. Aduh kamu kok ganteng banget. Umur kita gak jauh beda loh, boleh dong kapan-kapan kita meet up, fi luar pekerjaan.
Mr. Gesta kalau gak balas bikin penasaran loh. Tuh dada bidang kamu nikmat banget kalau dipeluk.
Aku gak yakin kalau kamu kembali mengabaikanku, ditambah sebuah foto Wilona menggunakan baju dinas istri yang menonjolkan bagian dadanya.
Belum lagi video saat dia mengeringkan rambut dengan memakai kemben handuk saja. Sesama perempuan padahal, Niar saja merinding disko apalagi Gesta.
Aku bisa kasih full service asalkan aku tetap kamu jadikan model utama di perusahaan kamu.
Kamu mau video yang lebih hot lagi agar mau balas chatku?
Niar membaca chat Wilona rasanya ingin muntah. Sekotor itu dia mempertahankan posisi model utama?
"Jangan-jangan sama papa kamu?" tebak Niar tak enak meneruskan dugaannya. Gesta mengedikkan bahu.
"Gak tahu, setahuku papa setia sama mama. Cuma ya gak tahu di belakang mama pernah icip Wilona atau enggak," jelas Gesta sembari makan.
"Alasan ini yang membuat kamu menolak Wilona di next project?" Gesta mengangguk. "Bukannya kamu senang ya dikasih tawaran gratis begitu?" ledek Niar tepat saat Gesta menyuapkan ayam gepreknya, spontan saja laki-laki itu tersedak, dan membuat Niar tertawa ngakak.
"Biasa aja kali. Bukannya semua cowok begitu, gak mungkin kamu mengabaikan?" ledek Niar lagi, tangan kiri Gesta langsung menyentil kening sang mantan.
"Cowok emang gampang travel otak, tapi banyak juga yang masih punya iman. Apalagi kayak gue, jelas gue menolak perempuan murahan kayak dia. Yakin, dia masih perawan? Pastinya enggak lah. Enak aja gue yang menjaga perjaka ting-ting harus gue serahkan ke lubang umum begitu," Niar mendelik. Kaget dengan ucapan Gesta yang makin berani dan terlalu frontal.
"Mulutnya!" protes Niar.
"Ya emang. Gak semua cowok murahan juga. Dan gue salah satunya, gue mau melakukannya sama istri gue, dan harus perawan!" jelas Gesta tegas.
"Huh, siapa tuh!" bukan kepo, hanya meledek saja.
"Lo kali." Sengaja memancing emosi Niar, apalagi menyangkut status mereka sebagai mantan.
"Ogah!" jawab Niar tegas.
"Kenapa?" tantang Gesta.
"Pakai nanya lagi. Gue gak suka sama lo yang gak bisa bedain sahabat sama pacar, makan hati, dan cukup sekali, gak perlu diulangi," ucap Niar sewot. Tiba-tiba ingat saja pertengkaran mereka saat SMA dulu, hingga keduanya putus.
Sedangkan Gesta tertawa ngakak, menyadari sakit hati Niar masih membekas. Salah Gesta juga sih, saat SMA dulu gak peka, dan belum bisa menomor satukan pasangan dibanding sahabat.
"Udah 7 tahun yang lalu masih ingat saja!" ledek Gesta dan dijawab Niar dengan decakan sebal.
"Ingat lah, lo tuh pacar pertama gue. Gue membayangkan cukup sekali jatuh cinta sama cowok, eh sekali jatuh cinta ternyata diberikan pengalaman riil makan hati," percayalah mau setahun kek, dua tahun kek, bahkan 7 tahun yang lalu, kesalahan mantan pacar masih diingat dengan jelas.
"Maaf, Cay! Sekarang kan udah beda. Gue makin dewasa lah, dan tahu batasan buat berinteraksi sama cewe. Tuh lihat gue juga gak respon sama Wilona," sepertinya Gesta sedang promosi diri.
"Ya karena lo udah ilfeel dulu sama dia. Coba sama Angel, pasti lo juga masih menomor satukan dia!" terdengar sekali kalau Niar sangat membenci sahabat kecil Gesta dulu. Bahkan Gesta sempat melihat Niar memalingkan muka, dan mengusap matanya. Terasa sekali patah hati gadis baik itu.
"Maaf ya!" ucap Gesta tak enak hati, dia menepuk punggung tangan Niar lembut, sekedar menenangkan.
"Sekali lagi gue bilang, Ges. Gue mau kerja dengan tenang, tanpa ada sangkut paut masa lalu kita. Gue juga gak tahu kantor itu milik papa lo, terus sekarang beralih ke kamu. Kalau saja gue mengikuti kata hati gue, mungkin gue mau resign aja. Tapi gue pakai logika, gak mungkin masa lalu menang, ya udah gue tahan aja, meski resikonya tiap hari bertemu lo yang menyebalkan!" curhat Niar tanpa sungkan.
"Iya, setelah ini gue juga jaga jarak sama lo kok, Cay. Gue cuma mau ngasih tahu soal Wilona, dan gue gak mungkin bahas keburukan seseorang di chat atau saat meeting, lebih baik bertemu dengan tim talent, dan gue percayanya cuma sama lo!" jelas Gesta memberikan alasan kenapa dia terkesan mengajak CLBK pada Niar.
"Oke, gue pegang omongan lo!" jawab Niar tegas.
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭
i
cowo kaya gini nih...sat set...
ngajakin nikah...bukan pacaran...apalagi balikan...