NovelToon NovelToon
Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Jadi Bos Perusahaan Entertainment

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Showbiz / Reinkarnasi
Popularitas:523
Nilai: 5
Nama Author: ILikeAll9

Pernah gak sih kamu lagi enak enaknya tidur, eh bangun bangun malah pindah dunia. Ini adalah kisah seorang pemuda yang baru saja lulus dari masa SMAnya, dia berusia 18 tahun, namanya Ethan Lucifer.

Dia anak yang hidup sederhana bersama orang tuanya, Ayahnya bekerja di bengkel, Ibunya bekerja di warung kecil depan rumah mereka. Alias warung mereka sendiri, warungnya berupa warung makanan.

Ethan kadang akan membantu orang tuanya berjualan, dia juga memiliki adik perempuan yang saat ini baru duduk di kelas satu SMP, dan adik laki laki yang baru masuk SD tahun ini. Keluarga mereka beranggotakan 5 orang, dan selalu harmonis.

Pesan Author: Mungkin sebagian akan berbeda dari awal alur, tapi semoga tetap bisa menikmatinya, karena di karya ini terdapat bantuan dari Ai, mohon dimaklumi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ILikeAll9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

C010: Bakat Terendam Disekitar Warga Kota

...Selamat Baca...

Karena Ethan masih anak muda 18 tahunan, tentu saja dia memiliki jiwa penasaran. Meski dia menggantikan orang tua dan pamannya sebagai bos perusahaan, dia masih memiliki jiwa bebasnya, tapi untuk memberikan kesempatan pada bakat terendam.

Sepertinya itu adalah keahlian Ethan, dia pun meninggalkan pemuda 14 tahun itu. Setelahnya, Ethan melanjutkan perjalanan dan tiba di area pertigaan yang penuh dengan orang ramai.

Di sana, sebuah tenda kecil dibuat untuk pertunjukan teater jalanan—seorang anak remaja yang tampak berusia sekitar 14 tahun sedang memerankan karakter seorang anak yatim yang berjuang meraih pendidikan.

Gerakannya lancar, ekspresi wajahnya penuh makna, hingga membuat beberapa penonton menangis. 'Wah bukankah ini bakat akting? Aku harus merekrutnya juga! Aku yakin dia akan menjadi Aktor terkenal suatu saat nanti!' Ethan berbicara di dalam hatinya, dia mendekat untuk melihat pertunjukkan yang masih berlanjut.

Setelah pertunjukan selesai dan dia sedang membersihkan properti, Ethan mendekatinya. “Permisi, boleh kita bicara sebentar?”

Anak itu mengangkat kepala dengan tatapan sopan. “Tentu saja Tuan, ada apa?”

“Ekspresi akting dan cara kamu menyampaikan emosi sungguh luar biasa. Kamu sudah sering melakukan pertunjukan seperti ini?”

“Sudah beberapa bulan Tuan, saya ikut komunitas teater jalanan untuk belajar.”

"Wah itu adalah bakat, jika boleh tahu. Siapa namamu? Dan berapa usiamu?”

"Nama saya Daniel Hart, Tuan. Dan saya berusia 14 tahun.”

Ethan mengangguk lalu mengeluarkan kartu nama lagi dan memberikannya. “Saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment. Kami sedang mencari dan mengembangkan bakat akting untuk menjadi aktor di industri hiburan."

"Kamu bisa melihat kartu ini—ada alamat kantor dan kontaknya. Apakah kamu mau bergabung sebagai calon aktor muda kami? Kamu bisa meminta izin orang tuamu dulu.”

Daniel menerima kartu nama dengan hati-hati dan menyimpannya di dalam kantong baju, kemudian menangis senang dan mengangguk kuat.

“Ya Tuan! Saya akan ceritakan ke orang tua saya dan segera menghubungi nomornya!”

"Jangan pernah kehilangan semangatmu, kalau begitu saya permisi," kata Ethan tersenyum tulus, Daniel mengangguk dengan semangat, dengan air mata yang tak meneteskan.

Ethan pun lanjut berjalan lagi, tak lama kemudian, Ethan mendengar suara sorak dan irama musik yang meriah dari kejauhan.

Di sudut jalan yang lebih lebar, ada pertunjukan musik rakyat yang diiringi tarian—seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun sedang membawakan lagu daerah dengan aransemen modern yang menarik banyak penonton bergerak bersama iramanya.

"Serius? Hanya bejalan beberapa langkah saja, aku sudah melihat bakat lainnya, luar biasa... apakah kemarin aku sedang melakukan kebaikan besar, hingga sangat beruntung hari ini?" Gumam Ethan, lalu mampir ke tempat pemuda itu membawakan lagu daerah.

Setelah ia menyelesaikan pertunjukan dan sedang beristirahat minum air, Ethan menghampirinya. 'Setidaknya, para anak muda berbakat ini harus debut! Dan debutnya di perusahaanku!' Kata Ethan dalam hati, dengan semangat membara.

Ethan menyapa ramah dan memujinya, "Wah, saya lihat performa kamu sangat energik dan menyenangkan. Kamu benar-benar paham bagaimana cara membuat orang lain senang ya?”

Pemuda itu menoleh dan tersenyum ceria. “Saya suka melihat orang lain bahagia Tuan, itu membuat saya juga senang.”

"Kamu menghibur orang lain dengan sangat baik, boleh saya tahu nama kamu siapa? Dan sejak kapan kamu belajar musik dan tari?”

“Tentu, nama saya Samuel Cooper, Tuan. Saya belajar musik dan tari dari keluarga saya sejak kecil.”

“Baik Samuel, perkenalkan saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertaiment yang ingin bangkit kembali.” Ethan memberikan kartu nama dengan ramah.

"Kami sedang membangun divisi budaya di perusahaan kami untuk mengembangkan bakat dalam musik dan tari tradisional yang diolah dengan gaya modern."

"Kamu bisa datang ke kantor sesuai alamat di kartu ini atau hubungi kontaknya jika tertarik untuk bergabung, selain pengembangan bakat kamu akan memiliki kesempatan debut sebagai Idol Solo jika kamu berminat."

Ethan berkata dengan percaya diri, meski uang daruratnya tersisa 3,7 juta Aurelia. Tuan Henry menghubunginya siang tadi, bahwa uang warisan perusahaan yang terbuang sia sia oleh pamannya akan di kembalikan kepadanya sebagai pemilik awal.

Bisa dikatakan itu kompensasi untuk Ethan, karena pamannya tidak bertangung jawab untuk memberikan uang pada Ethan. Jadi kompensasi akan di berikan dalam empat hari kedepan.

Samuel menyimpan kartu nama dengan hati-hati dan tersenyum lebar. “Tentu saja Tuan! Saya akan datang ke kantornya besok pagi!”

Saat hendak melanjutkan perjalanan lagi, Ethan melihat sekelompok orang yang berkumpul di alun-alun kota. Di tengahnya, pertunjukan tari kontemporer sedang berlangsung.

Seorang pemuda berusia sekitar 16 tahun sedang menari dengan gerakan yang presisi dan ekspresi yang mampu menyampaikan cerita mendalam tanpa kata-kata. "Lagi bakat baru, sangat keren dan luar biasa!" Gumamnya, saat menatap ke arah pertunjukkan itu.

Setelah acara selesai dan dia sedang menaruh kostum tari, Ethan mendekatinya. "Tarianmu luar biasa sekali—setiap gerakanmu punya makna sendiri bukan?”

Pemuda itu mengangguk dengan senyum hangat. “Ya Tuan, setiap gerakan saya buat untuk menyampaikan pesan yang ingin saya sampaikan.”

"Itu sangat bagus dan berbakat, jika boleh tahu nama kamu siapa? Dan belajar tari sejak kapan?”

"Saya Ryan Scott, Tuan. Saya sudah belajar tari sejak saya berusia 8 tahun.”

"Baiklah, saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment.” Ethan menarik kartu nama dan memberikannya.

"Kami sedang mencari bakat tari untuk menjadi bagian dari grup pertunjukan maupun sebagai tari solo."

"Kamu bisa lihat informasi lebih lanjut di kartu ini. Apakah kamu berminat untuk bergabung sebagai trainee kami?"

Ryan menerima kartu dengan gembira dan mengangguk kuat. “Ya Tuan! Saya akan hubungi nomornya segera setelah saya bicara dengan keluarga saya!”

Setelah Ethan berkeliling, dan menemukan banyak bakat yang terkubur disekitar warga kota, dia berjalan pulang dan kemudian melihat seorang pemuda lagi yang sedang duduk di tepi jalan menulis sesuatu di buku catatan.

Dia berhenti sebentar dan mendekatinya. 'Apakah ini bakat lainnya?' Gumamnya dalam hati, saat sampai di depan pemuda itu. "Permisi, kamu sedang apa?"

“Ah, saya sedang menulis lirik lagu Tuan,” jawab pemuda itu dengan malu-malu.

“Boleh saya melihatnya?”

"Tentu, Tuan." Dia memberikan buku catatannya, dan Ethan menerimanya dan melihat setiap lirik dan not musik yang sepertinya akan hits besar.

Setelah melihat lirik yang penuh makna dan not musik yang terstruktur, Ethan bertanya lagi. "Baiklah, lirik dan not musik buatanmu sangat bagus, mengapa kamu tidak masuk sekolah khusus musik? Dan bolehkah saya tahu namamu siapa?”

"Nama saya Alfian Vale, Tuan. Saya ingin sekali sekolah musik tapi saya tidak memiliki cukup uang.”

Ethan tersenyum tipis, lalu memberikan kartu nama dengan lembut. "Baiklah saya Ethan Lucifer dari Lucifer Entertainment. Kamu bisa bergabung sebagai anggota trainee kami yang fokus pada produksi musik dan penulisan lagu."

"Kami juga akan membantu pendidikanmu. Jadi tolong simpan kartu ini, hubungi kami kapan saja jika kamu setuju.”

Alfian menangis senang dan menyimpan kartu nama dengan hati-hati, mengangguk berkali-kali. “Terima kasih banyak Tuan! Saya akan hubungi anda besok pagi!”

Ethan menghembuskan napas lega saat melanjutkan perjalanan menuju mobil di parkiran supermarket untuk pulang ke rumahnya.

Dia melihat sisa kartu nama di dompetnya dan tersenyum—setiap kartu yang diberikan bukan hanya kontak perusahaan, tapi juga harapan baru bagi setiap anak muda berbakat yang dia temui.

"Aku berjanji. Aku tidak hanya membangun karir,” bisiknya pelan sambil menatap jalan yang menerawang ke depan. "Tapi Aku akan membangun masa depan bagi mereka yang punya impian besar.”

Setelah mengakhiri serangkaian pertemuan dengan anak-anak berbakat, Ethan berjalan perlahan keluar dari kawasan alun-alun menuju tempat dia memarkirkan mobil di depan supermarket.

"Ayah... Ibu... doakan Aku bisa membuat mereka meraih impiannya, Aku tahu ini akan sulit, jadi Aku berharap kedepannya akan berjalan lancar untuk membuat mereka mencapai impian besar mereka." Gumamnya dengan senyum, kemudian dia teringat sesuatu.

"Yah... anak anak berbakat yang aku temuin, sepertinya bertambah sekitar 5 orang, trainee perusahaan akan berkembang lebih banyak nantinya, aku harus merekrut beberapa lagi, tidak mungkin aku sendirian mengurus mereka." Gumamnya, dan dia memasuki mobilnya.

Hari ketiga Festival Bunga & Kebun tengah meriahkan kota ini—ranting pohon-pohon di pinggir jalan penuh dengan kelopak sakura muda yang bergoyang lembut tertiup angin, sementara hamparan mawar merah, kuning, dan putih menyusun pola indah di median jalan.

Ratusan warga berkumpul di trotoar yang dipasangi tenda-tenda kecil penjual tanaman hias, keranjang bunga, dan makanan khas festival.

Suara tawa anak-anak yang sedang mengejar gelembung sabun berpadu dengan musik akustik yang dimainkan oleh berbagai musisi jalanan, menciptakan irama yang hangat dan meriah.

Saat mobil melintas melewati taman kota, dia bisa melihat matahari mulai tenggelam menunjukkan hari sudah hampir malam.

“Musim semi memang musim yang tepat untuk menemukan bakat baru,” bisik Ethan sambil menekan pedal gas perlahan.

Mobilnya melaju melewati lorong yang penuh dengan dekorasi balon berbentuk bunga dan lampu gantung kecil yang mulai menyala perlahan seiring matahari mulai tenggelam.

Cahaya keemasan matahari sore menerangi kelopak bunga yang jatuh ke jalan, menciptakan jalan yang bersinar seperti ditutupi permata.

Di dalam mobil, Ethan melihat kartu nama yang tersisa di dasbornya—setiap nama yang tertera di sana adalah cerita baru yang akan ditulis di sejarah Lucifer Entertainment.

Suara radio yang memutar lagu musim semi membuat suasana semakin hangat, sementara di luar jendela kota Adelia terus bersinar dengan kehidupan dan harapan baru yang tumbuh bersama setiap tunas bunga di musim semi ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!