bersatu demi keinginan orang tua yang ingin menjodohkan anaknya,demi keperntingan bisnis dan pertemanan,yang dimana sepasang kekasih tersebut menerima keinginan orang tua mereka,tapi dengan awal yang berat akhirnya benih cinta akhirnya tumbuh di hati mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Witan Alfariski, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Disekolah
Pagi ini Lisa ingin pergi ketoilet, namun belum sampai ketoilet, tangannya di cekal oleh Jerry kekasihnya yang entah dari mana datangnya.
"Lis,aku mau ngomong sama kamu, kenapa gak kasih aku kabar beberapa hari ini ?" tanya Jerry sambil mengeluarkan 5 buah coklat batang dari dalam tasnya.
"Apaan sih loe, males gue sama play boy kaya loe," jawab Lisa ketus, mengingat foto yang dikirim oleh Sinta membuat Lisa menjadi muak kepada Jerry.
"Play boy apa sih sayang, kamu ngomong apa,"
"Ehemm," Dehem seseorang yang tengah bediri dibelakang mereka, dengan kedua tangannya yang dimasukan kedalam saku celana.
Roy menatap tajam kedua insan tersebut.
"Loe taukan peraturan sekolah, harusnya loe kasih tau pacar loe untuk gak masuk sembarangan kesekolah ini," kata Roy tegas.
"Loe masuk kelas sekarang," Perintah Roy sambil menunjuk lisa, sebelum benar-benar pergi Lisa menatap Jerry.
"Jerry sorry, tapi gue mau kita putus," ucap Lisa kepada Jerry.
"Gak, aku gak mau, kita bisa bicaraain baik-baik lis," Jerry tak terima.
"Urusan pribadi kalian selesaikan nanti, sekarang ikut gue," kata Roy dengan suara yang sangat dingin, sambil menunjuk Jerry.
"Dan loe, cepat masuk kelas sekarang"
******
Jerry kini tengah duduk berhadapan dengan Roy diruang OSIS, berserta beberapa anggota OSIS.
"Gue peringatin sama loe, jangan coba-coba untuk menyusup lagi kesekolah ini, apa lagi demi menemui seorang gadis," ucap Roy tegas sambil menatap tajam kepada Jerry.
"Bukan urusan loe, lagian gue cuman kangen sama cewek gue,"
"Gue gak mau buang waktu gue, hanya untuk murid tidak tau aturan kaya loe,"
"Sekarang loe pergi dari sini, hukuman sudah diatur ketua OSIS loe,"
Jerry keluar dari ruang osis, namun tak langsung pergi meninggal sekolah itu, dia pergi mencari Lisa terlebih dahulu, saat matanya menatap sosok Lisa yang tengah berjalan, sepertinya dia hendak ketoilet, Jerry langsung bergegas menghampirinya.
"Lis,aku pergi dulu ya, nanti malam aku jemput," kata Jerry sambil mencium tangan Lisa.
Semua yang dilakukan Jerry tidak luput dari pandangan Roy yang saat itu hendak berjalan kekelasnya, begitu juga dengan Clara yang tak sengaja melihat kejadian itu.
"Dasar murahan ciihh," Clara berdecih, lalu melanjutkan langkahnya.
"Iss, apaan sih loe," Lisa menepis tangan Jerry.
Setelah kepergian Jerry, Lisa melanjutkan langkahnya menuju toilet.
Saat hendak kembali kekelas, langkah Lisa terhenti saat melihat Roy berdiri tepat dihadapannya dengan kedua tangannya dimasukan kedalam saku celana.
"Temui gue diruang OSIS," Perintah Roy datar lalu melangkahkan kakinya untuk pergi, sebelum benar-benar pergi, Roy kembali menghentikan lagkahnya.
"lima menit setelah jam istirahat," setelah mengucapkan itu, Roy bergegas pergi.
"Lime minet seteleh jam isterahet," kata Lisa dengan mengulangi ucapan Brayn dengan merubah setiap kalimatnya.
Jam istirahat
Cekretttt
Lisa membuka ruang osis, semua mata penghuni didalam melihat kearahnya.
"Masuk,"
Lisa melangkahkan kakinya, lalu duduk dikursi tepat dihadapan Roy
"Ehemmm, taukan apa kesalahan loe," tanya Roy kali ini dengan nada santai.
"Gak,"
"Loe udah ngebiarin PACAR loe, masuk kesekolah ini, taukan peraturan disekolah ini, loe udah kelas XI harusnya loh lebih faham,"
"Murahan," celetuk Clara hal itu sukses membuat lisa menatap tajam kearah Clara.
Roy yang melihat keadaan mulai tak terkendali segera berbicara kepada Rendy.
"Ren, tolong suruh semuanya keluar,"
Perintah Roy kepada Rendy, dan laki laki itu langsung menyuruh semua anak OSIS untuk keluar dari ruangan, terkecuali Clara yang masih diam ditempatnya.
"Termasuk loe," kata Roy datar sambil melirik Clara.
"Tapi gue.." belum sempat Clara berbicara, Roy sudah menatapnya tajam, akhirnya dengan terpaksa gadis itu juga mengikut keluar.
Kini hanya tinggal Roy dan Lisa yang ada didalam ruangan itu, laki laki itu menatap gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa loe ngelihatin gue, loe nyuruh gue buat keluar juga, ngomong dong," Ujar Lisa dengan santai dan segera berdiri hendak keluar dari sana, pasalnya gadis itu dari tadi malah menulis-nulis kertas yang ada di atas meja tanpa memperdulikan Roy.
"Silahkan aja loe keluar,"
"Oke,"
Belum sampai langkah Lisa kepintu, kakinya berhenti melangkah saat mendengar suara dingin dari Roy.
"Tapi gue bakalan laporin semua kelakuan loe ini kepada om Wijaya,"
"Bodo amat gue gak takut," Jawab Lisa lagi, sambil kembali melanjutkan langkahnya.
"Dan....," Roy menggantung ucapannya, tapi Lisa tetap berjalan tanpa perduli apa yang akan diucapkan Roy.
"Pernikahan kita tentunya akan dipercepat,"
Langkah Lisa langsung terhenti, dia berbalik dan berjalan ke arah Roy dan menatap laki laki itu dengan tajam.
"MAKSUD LOE APA NGOMONG KAYA GITU HAAA," tanya Lisa dengan suara tinggi, pasalnya sejak tadi berusaha menahan rasa kesalnya akibat ulah laki laki itu.
Roy berdiri dari duduknya dan berjalan kearah Lisa.
"Om Wijaya sudah nitipin loe sama gue, loe taukan kewajiban seorang istri adalah patuh kepada suaminya," ucap Roy sambil terus berjalan kearah Lisa yang juga tengah memundurkan langkahnya.
"Terus ?"
"Tentu saja om Wijaya akan mempercepat pernikahan kita, agar loe bisa nurut sepenuhnya sama gue,"
Lisa yang melihat laki laki itu semakin mendekat mulai panik dan terus memundurkan langkahnya hingga tubuhnya terbentur ditembok.
"Loe jangan macam-macam, atau gue teriak," ancam gadis itu dengan wajah yang mulai memucat.
Roy tersenyum miring, dia merasa kemenangan ada ditangan dia kali ini.
"Coba aja loe teriak, dan gue bakalan lap..,"
"Laporin kan, udah buruan bilang mau loe apa, dasar tukang ngadu,"
"Jauhin cowo tadi,"
"Hey loe buta ya, loe lihat sendirikan gue udah mutusin dia, dan loe tau sendiri jawabannya,"
Roy lagi-lagi terdiam, sampai akhirnya dia bersuara.
"Loe itu tunangan gue, dan gak seharusnya loe pacaran bahkan berniat jalan dengan orang lain,"
"It's oke gak masalah, Tapi jangan salahkan gue kalau gue juga deket sama orang lain," sambung Roy dengan suara santai, lalu tersenyum manis, senyuman yang memabukan.
Sampai-sampai Lisa seperti terhipnotis karena senyum dari laki laki itu, kemudian Roy melangkahkan kakinya dan pergi meninggalkan Lisa yang masih mematung ditempat.
Setelah kesadaran Lisa kembali, saat Roy tak sengaja menutup pintu ruang OSIS cukup kuat.
Lisa yang telah tersadar, bergegas keluar menyusul langkah Roy.
******
Lisa kini tengah berada dikantin bersama kedua sahabatnya, nafsu makannya tiba-tiba saja hilang setelah mengingat perkataan yang diucapkan terakhir oleh Roy tadi, sejak tadi dia hanya memainkan sendok dimakanannya tanpa berniat untuk memakannya.
"Loe kenapa sih," tegur Sinta, yang tak biasa melihat sahabatnya seperti itu.
"Masalah ortu loe lagi ya," kini giliran Wanda yang bertanya.
"Hemm," jawab Lisa singkat.