Rencana pernikahan Amaia dengan putra kedua keluarga Tedjakusuma berakhir sangat jauh dari impian indahnya. Pembatalan pernikahan dan menghilangnya sang calon suami membuat Amaia merasa sangat kecewa. Sementara di sisi lain, Widitama si putra tertua mengajukan diri untuk menggantikan sang adik sebagai suami untuk Amaia.
Amaia yang selama ini hanya menganggap Widitama sebagai kakak, harus pura-pura menerima pernikahan untuk mencari tahu kebenaran tentang pembatalan pernikahannya. Satu rahasia besar yang Amaia lewatkan adalah Widitama sudah lama mencintainya. Bisakah Amaia mengungkap kebenaran dan menerima perasaan Widitama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yourladysan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suami Pengganti
"Lo kenapa, sih? Kayaknya akhir-akhir ini lo kelihatan nggak fokus. Tadi aja lo sampai ditegur Prof. Danu karena nggak fokus nyimak saran dia," kata Cassie saat mereka keluar dari lobi utama fakultas.
Matahari sore sudah nyaris menghilang saat kedua mahasiswa itu selesai bimbingan. Harusnya selesai beberapa menit lalu. Tapi karena Amaia yang tak fokus mendengarkan saran Prof. Danu akhirnya harus mendengar ceramahnya juga. Pelataran depan kampus bahkan sudah mulai agak sepi.
"Hello! Amaia Rembulan, gue masih ngomong sama lo, ya." Cassie menyikut lengan kanan Amaia. Gadis berambut bob itu berdecak jengkel.
"Sorry, aku cuma lagi ada masalah kecil."
"Oh, gitu. Pantesan lo nggak fokus. Gue nggak akan minta lo cerita, toh, kalau pengen, lo bakal cerita sendiri."
"Makasih, Cass." Amaia memaksakan senyum tipis. Padahal pikirannya tengah kacau. Bukan lagi tentang Rakha, tetapi Widitama.
"Em, ngomong-ngomong, gue sebenernya mau ngasih tau lo sesuatu. Tapi gue takut, Mai. Ini tentang ...."
"Cass, aku duluan, ya. Udah dijemput." Amaia menahan kalimat Cassie karena Land Rover yang dikendarai oleh Edgar terlihat mendekat ke halaman depan fakultas. "Kamu kasih tau aku besok aja. Nggak apa-apa, kan? Aku harus pergi sekarang."
Cassie mengangguk dan membiarkan Amaia berjalan menjauh sembari melambai beberapa kali. Sebenarnya Amaia masih kesal juga pada Edgar karena waktu itu ia berhasil dibodohi olehnya. Edgar membukakan pintu mobil dan Amaia segera masuk.
Mobil meninggalkan area kampus. Padahal Amaia cukup penasaran dengan ucapan Cassie tadi. Namun, hari ini dia tak boleh terlambat. Karena seminggu setelah sepakat menikah dengan Widitama, Ferdian mengumpulkan semua orang di rumah utama keluarga Tedjakusuma. Termasuk Amaia dan Atika.
Sejujurnya Amaia sudah menebak ke mana arah pembicaraan. Meski Widitama belum mengatakannya, tapi Amaia sangat yakin kalau malam ini mereka akan membahas pernikahan.
Berselang beberapa saat sehelah hari sudah gelap, Amaia dan Edgar tiba di rumah utama. Tak ada wajah ramah Sasti yang menyambut Amaia. Semua karena Ferdian Tedjakusuma, si tuan rumah, sedang ada di sana. Sudah pasti Sasti sibuk menemani sang suami. Amaia segera diarahkan ke ruang tengah oleh seorang asisten rumah tangga. Di sana Atika juga sudah bergabung dengan mereka semua.
Sepasang mata Amaia melirik Widitama yang tampak santai. Pria itu duduk menyandarkan punggung pada sandaran sofa, tepat di dekat sang ayah. Senyumnya merekah saat melihat Amaia datang. Amaia sungguh ingin menghajarnya. Terlihat jelas pria itu merasa menang atas segalanya.
Amia segera duduk di dekat Atika. Sesaat setelahnya, Ferdian menatap semua orang yang berkumpul di ruang tengah. Kedua anggota keluarga datang, kecuali Rakha yang belum ada kabar. Ia menghilang seolah-olah ditelan bumi.
"Sepertinya saya nggak perlu berbasa-basi." Pria tua berambut setengah memutih itu melirik Amaia dan Atika. "Saya minta maaf pada Bu Atika dan Amaia atas apa yang terjadi. Saya benar-benar merasa bersalah atas kekecauan yang disebabkan oleh putra kami. Bahkan sekarang dia menghilang seperti pengecut. Sampai detik ini kami belum tahu alasan dari tindakan kurang ajarnya."
Semua orang terdiam. Amaia tersenyum tipis mendengarnya. Ingatan tentang rekaman suara Sasti memenuhi isi kepalanya. Ia melirik wanita itu tampak berpura-pura memasang wajah bersalah. Seolah-olah dia tak tahu apa pun. Begitu juga Denara yang hanya tertarik untuk menatap Widitama.
"Amaia ...," panggil Ferdian, "Om benar-benar minta maaf. Kamu pasti sangat kecewa dan marah. Kalian sudah mengenal lama, saling jatuh cinta, dan berencana menikah. Tapi lihatlah apa yang dilakukannya. Dia hanya membuatmu terluka."
"Itu semua bukan sala Om." Amaia terpaksa menyunggingkan senyum tipis.
Akhirnya Sasti angkat bicara. "Sebagai ibunya Rakha, Tante nggak nyangka hal seperti ini akan terjadi. Tante minta maaf, Amaia. Setelah Rakha kembali, Tante pasti akan memarahinya."
"Tidak perlu." Ferdian menjawab sang istri. "Begitu dia kembali, dia akan menghadap saya. Hubungannya dengan Amaia sudah selesai. Dia sendiri yang memutuskan pilihannya. Bukan begitu, Amaia?"
Enggan bersuara lagi, Amaia mengangguk. Sejak tadi Atika didekatnya hanya diam aja menyimak. Amaia tak sabar ingin menyelesaikan pembicaraan memuakkan ini. Ia ingin segera pulang dan istirahat.
"Tapi, Mas ...." Suara lembut Sasti terdengar.
Nyaris saja Amaia berdecih melihat wajah calon ibu mertuanya itu. Bagiamana bisa aktingnya terlihat begitu sempurna?
Ferdian mengangkat tangan di udara untuk mencegah siapa pun bicara. Menandakan bahwa hanya dirinya yang boleh bicara banyak saat ini.
"Saya sudah memutuskan solusi yang terbaik. Hubungan keluarga kita dengan keluarga Airlangga sudah lama terjalin. Kalau saya membiarkan seperti ini, saya tak tau harus bersikap seperti apa jika bertemu Erwin di akhirat ...."
Kenapa dia bawa-bawa nama papa segala? Amaia ingin sekali beranjak dan pergi. Namun, Atika akan memarahinya karena dianggap tak sopan.
"Bagi saya, Bu Atika dan Amaia sudah seperti keluarga sendiri. Rencana pernikahan Rakha juga sudah disebarluaskan. Kita tak bisa membatalkannya begitu saja," lanjut Ferdian.
"Tapi kita bahkan nggak tau Nak Rakha di mana, Mas Ferdian." Atika akhirnya bersuara. "Kami akan tetap menganggap kalian keluarga meskipun akhirnya Amaia tak akan menjadi menantu keluarga ini."
Ferdian menggeleng. "Amaia tidak akan menikah dengan Rakha."
Semua orang terdiam sekaligus kaget. Terkecuali Ferdian, Amaia, dan Widitama yang tampak santai. Dari sudut ekor matanya, Amaia melihat Denara terperanjat dan menatap nyalang ke arahnya. Mungkin gadis itu sudah menyadari arah pembicaraan sang papa.
"Apa maksudnya, Mas?" Sasti menanggapi.
Sepasang mata Ferdian melirik Widitama yang duduk tenang sejak tadi. "Widitama akan menikah dengan Amaia."
"Apa?!" Bukan Atika atau Sasti, tetapi Denara yang langsung berteriak dan berdiri dari tempat. "Papa nggak bisa begitu, dong! Ini semua perbuatan Kak Rakha, kenapa Mas Widi yang harus bertanggungjawab atas kesalahanya?!"
Semua pasang mata di sana langsung melirik Denara. Bodoh, pikir Amaia. Sekarang terlihat jelas bahwa Denara memang menginginkan kakak angkatnya.
"Papa tidak bicarakan padamu. Duduk dan diam!" Ferdian memerintah.
Denara hendak membuka mulut, tapi Sasti melotot padanya agar dia segera duduk kembali. Hening membungkus selama sekian detik. Sampai deham pelan dari Widitama terdengar membuat semua atensi orang-orang di ruagan di itu beralih padanya.
Widitama menatap Atika. "Saya sudah bicarakan dengan Amaia dan ayah, Bu Atika. Izinkan saya menikahi putri Anda."
Suaranya dibuat pelan, sopan, dan lembut membuat Amaia kian muak. Padahal pernikahan itu—meskipun Widitama menyebutnya buka permainaan—adalah permainan yang dia ciptakan. Entah karena apa, tapi setelah ini Amaia akan mengetahuinya.
Ucapan Widitama membuat Atika menoleh pada sang putri. "Amaia ...." Tatapan matanya terlihat tak percaya.
"Itu benar, Ma." Amaia menghela napas dan menatap semua orang bergantian. "Aku bersedia jadi istrinya Mas Widi." Tatapan Amaia berhenti pada Widitama yang tersenyum tipis.
*****
Acara pernikahan digelar tak lama setelah pengumuman itu. Meski beberapa pihak yang mengetahui tentang rencana pernikahan Amaia dan Rakha sebelumnya, tampak heran karena tiba-tiba mempelai pria bukanlah siapa yang mereka ketahui. Namun, tak ada satu pun yang berani melayangkan pertanyaan tentang hal itu. Amaia yakin, itu pasti karena mereka sengan bersikap tak sopan mengorek kehidupan pribadi keluarga bos besar mereka.
Seperti yang sudah Amaia duga, Denara menyeretnya beberapa hari lalu setelah pembicaraan di rumah utama. Gadis itu memaki-maki bahkan nyaris menamparnya karena dianggap tak tahu malu. Namun, Amaia dengan berani menepis lengan Denara. Untuk apa dia takut pada orang yang mungkin saja tahu sesuatu tentang menghilang Rakha?
"Amaia, kamu sudah siap?" Tiba-tiba Atika masuk ke ruang pas.
Amaia duduk di depan cermin. Hari ini adalah hari pernikahannya. Beberapa tamu undangan di acara akad sudah berkumpul. Bikin Amaia merasa bahwa hari ini bukalah mimpi belaka.
Rambut dan wajahnya dihias cantik hari ini. Dia mengenakan kebaya berwarna putih dihiasi ukiran payet. Rambutnya dibuat seperti sanggul kecil dengan hiasan. Untuk sesaat ia tak percaya dan berharap semua hanyalah mimpi. Lalu dia terbangun dan semuanya membaik seperti sedia kala. Rakha tak berkhianat dan mereka membicarakan pernikahan.
Namun, Amaia kalah oleh fakta. Nyatanya, di sinilah dia sekarang. Sebentar lagi akan resmi menjadi istri Widitama. Pria yang rela menjadi suami pengganti untuknya.
"Kamu yakin mau melanjutkan ini? Sebenarnya Mama masih nggak percaya kamu mau menikah dengan Widitama. Bukan Mama nggak setuju, justru Mama senang karena dia orang baik. Tapi selama ini bukankah kamu mencintai Rakha?" tanya Atika.
"Kenapa aku harus pusing memikirkan orang yang mengkhianatiku, Ma? Lagi pula, Mas Widi sudah janji ...." Amaia menatap yakin pantulan wajahnya di cermin. "Dia akan memberitahu apa yang terjadi."
"Maksud kamu?"
"Ma ...," kata Amaia sambil meremas lembut jari-jari ibunya. "Aku nggak bisa memberitahu Mama sekarang. Tapi yang pasti, aku membutuhkan dan menginginkan Mas Widi."