NovelToon NovelToon
The Ex'S Mission

The Ex'S Mission

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Romansa-Solidifikasi tingkat sosial
Popularitas:72.8k
Nilai: 5
Nama Author: ayy

Kana Nada Praya dilahirkan oleh ibunya dengan doa akan anak perempuan yang kuat, penuh harapan dan dicintai. Seiring langkah kecil hingga ia dewasa, doa itu kerap menuntunnya pada keberhasilan gemilang yang ia raih. Hingga ia bertemu seorang lelaki yang mengubah semua itu. Mengubah hidup Kana menjadi sebuah kenyataan yang terbalik dari doa sang ibu.

Aruna Wira Mahendra bagai titisan berlian yang diturunkan tuhan dari langit. Ia dilahirkan dari keluarga terhormat dan berwibawa. Meski berada di keluarga kaya, Aruna tak pernah sekalipun memanfaatkan apa yang orangtuanya miliki. Dengan keahlian dan bakatnya, ia meraih kegemilangan hidup terutama saat bertemu Kana, magnet dalam hidupnya. Hingga sebuah keputusan demi keputusan salah menuntunnya pada jalan yang gelap.

Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang begitu indah.
Kana & Aruna, bagai kisah cinta yang berakhir begitu saja.

Benarkah cinta adalah anugerah?
Ataukah cinta butuh lebih dari sekedar cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Our Marriage

Kana memijat-mijat kepalanya dengan handuk. Ia baru saja kembali dari kencan? Ah rasanya aneh sekali, segalanya secepat itu berubah. Statusnya kini adalah seorang pacar dari Aruna Wira Mahendra. Salah satu mahkluk sempurna ciptaan tuhan.

Melihat lagi cincin yang terselip di jari manis tangan kanannya, Kana benar-benar sulit mempercayai apa yang Aruna lakukan. Tepat setelah turun dari paralayang, Aruna berlutut dan benar-benar meminta Kana untuk menikahinya. Kejadian itu juga ternyata sudah dipersiapkan dengan matang oleh Aruna. Beberapa teman dekat mereka juga sudah ada disana, ikut merayakan kejadian penting itu.

Kana membaca sekali pesan terakhir yang Aruna kirim beberapa menit yang lalu.

"Makasih udah mau berlayar di kapal yang aku tawarkan untuk mengarungi hidup ini.

Selamat tidur, sayang.

Besok pagi jam 8 aku jemput untuk ke rumah mama kamu."

Menghela nafas, Kana memeluk dirinya sendiri lalu menundukkan kepala diantara kedua lututnya. Waktu terasa seakan berhenti dan suasana begitu hening. Kana bahkan bisa mendengar suara detak jantungnya yang berirama tenang.

Ia mengingat kembali pesan ibunya, agar selalu menjaga hatinya untuk tidak mudah jatuh cinta. Selama ini Kana dapat dengan baik memerankan dirinya yang tangguh, kuat, dan mandiri. Tetapi Aruna dan pesonanya, juga apa-apa yang ia perbuat untuk Kana, sungguh sangat memikat.

Kana meremas dadanya sebab ada perasaan tak rela yang menyebabkan degup jantungnya kini berdetak kencang. Ia merasa ada keinginan untuk tetap kuat dan mandiri, tetapi ia tak bisa memungkiri bahwa ia sekarang benar-benar suka pada pria yang memberinya cincin ini. Kana justru sekarang sadar bahwa dibalik kekuatannya mengendalikan diri, justru ada perasaan begitu besar ia menginginkan Aruna untuk jadi tempat istirahatnya, tempat ia bisa menjadi lemah tanpa berpura-pura selalu kuat.

Lagi, Kana kembali menghela nafas dan menghempaskan dirinya di tempat tidur. Sebelum menutup mata, Kana meneteskan setitik air mata. Ia harus rela menerima fakta bahwa ia sudah membuka hati dan jatuh cinta pada Aruna. Ia tak lagi perlu bersikap teguh... tak lagi perlu menahan diri. Aruna, adalah tempat yang ia pilih untuk bersandar....

***

Sementara itu, tepat di tepi sebuah danau, Aruna dan Chas sedang duduk dibawah pohon. Chas sudah beberapa kali melirik Aruna yang masih saja diam sedari tadi, tak kunjung bicara.

Chas berdehem, "paralayang, lisensi terbang level intermediate. Wah, lo dapat uang segitu banyak untuk lisensi dari mana?"

Sempat terdiam sesaat, Aruna bangkit berdiri dan mengambil sebuah batu. Ia melemparkan ke danau dengan 3 percikan sebelum batu itu tenggelam. "Dari lomba-lomba yang gue menangkan."

"Wah, hebat juga masa muda lo. Ide nembak di atas langit itu juga keren. Tapi, gue yakin sih, ada sebagian perasaan Kana takut nolak lo karena takut di jatuhin dari parasut. Hahaha," Chas tergelak, membayangkan Kana yang memucat di atas langit mengetahui dia akan di tendang dari parasut Aruna.

"By the way, kenapa lo nolak menyaksikan momen dimana lo datengin ibunya Kana?" tanya Chas yang kini ikut mengambil batu mencoba untuk mencontoh lemparan Aruna.

Aruna mendengus, "bener kata lo. Perjalanan memori ini benar-benar akan membuat manusia menyesal. Mengingat betapa egois dan bodohnya gue dulu."

"Gue ingat, meski tanpa harus menyaksikan momen itu lagi. Siang itu gue mendatangi Ibu Kana dan menyatakan keinginan gue untuk menikahi putrinya," Aruna bercerita tanpa menoleh pada Chas. Seolah ia berbicara pada air danau yang tenang.

"Ibu Kana marah. Beliau sangat tidak setuju saat tahu bahwa kehidupan dan latar belakang keluarga gue jauh berbeda dengan apa yang mereka miliki. Dia bilang bahwa ini hanya keegoisan darah muda gue. Terlebih saat tahu alasan jujur gue, yang bilang bahwa setelah gue tamat kuliah maka gue gak bisa ambil keputusan pribadi sehingga gue ingin menikahi Kana sebelum kemampuan memutuskan itu direnggut orangtua gue nantinya."

Aruna melanjutkan, "Ibu Kana marah menilai bahwa Kana seolah hanya gue gunakan untuk pembuktian kemampuan gue. Bukan bagian dari komitmen hidup. Buat Ibu Kana, apa yang saat itu gue rencanakan dengan matang seolah non-sense."

Memandang hampa ke langit, Aruna berbicara pelan. "Sayangnya saat itu Kana sudah terlanjur membuka hati pada gue. Dia justru membela gue dan bersikeras dengan rencana saat itu. Meski tidak sepenuhnya setuju, Ibu Kana akhirnya merelakan pernikahan kita. Gue baru sadar, alasan Kana tak pernah mengeluhkan semua pertengkaran kami adalah karena Kana malu pada ibunya. Ia malu dan merasa bersalah tidak memihak ibunya saat gue melamarnya dulu."

"Jadi mau lo gimana?" Chas meletakkan kedua tangannya di pinggang. "Kita ga usah lanjutkkan perjalanan memori ini?"

Tak ada jawaban dari Aruna.

Chas menimbang-nimbang, lalu bertanya. "Tapi gue penasaran. Gimana caranya lo bisa menikahi Kana? orangtua lo setuju?"

Aruna menggeleng pelan. "Tapi gue mengancam mereka. Gue ingatkan lagi, kenapa gue memilih untuk memutuskan menikah sebelum gue tamat kuliah. Gue gak sudi jodoh gue ditentukan oleh orangtua gue. Yang gue tahu, alasan perjodohan yang nantinya mereka buatkan itu sudah pasti untuk kepentingan bisnis keluarga dan demi mempertahankan garis keturunan 'mulia' itu."

"Pernikahan itu berlangsung cepta dan sangat sederhana, dan..." suara Aruna memberat. Ia tampak bersusah payah melanjutkan ceritanya.

"Gue bisa lihat bagaimana Kana begitu bahagia dan percaya sama gue setelah melihat bagaimana gue memperjuangkan pernikahan itu. Dia percaya bahwa gue benar-benar mencintainya. Dan gue juga mempercayai itu. Tapi... apa yang Ibu Kana katakan saat menentang gue dulu sesungguhnya tak sepenuhnya salah. Saat itu, jauh di lubuk hati gue... Gue memang merasa memenangkan apa yang gue mau."

Chas menahan diri untuk tidak mendesis kesal. "Darah muda sialan," maki Chas pelan.

"Gue terus menerus membuktikan cinta gue pada Kana. Terus menerus berusaha membuatnya bahagia dalam pernikahan itu. Awalnya, ya, awalnya begitu.

Menggaruk rambutnya yang tidak gatal, Chas lalu memegang tangan Aruna. "Maaf, tapi meski lo mengingat semuanya sekarang, lo tetap tidak bisa melewatkan sebagian besar perlanan memori ini. Uh, perjalanan ini.. Uh, mungkin, memang dirancang untuk disasali."

Lagi, tanah yang Aruna pijak serasa amblas. Dan tak butuh waktu lama, Aruna kembali pada sebuah rumah kontrakan kecil.

Rumah itu sederhana dan sepi, tidak banyak barang. Sebagian besar barang yang ada disini merupakah barang kost milik Aruna dan Kana. Belum ada barang baru yang khusus untuk menopang kehidupan rumah tangga yang layak. Seperti sofa yang empuk, ataupun kitchen set serta meja makan.

Menurut Kana, ini dapat diterima. Toh mereka baru 6 bulan menikah dan saat itu sednag tren untuk hidup seminimalis alias sesederhana mungkin. Tapi tidak bagi Kana. Aruna cukup kesal mendapati bahwa seisi rumah kontrakan ini kecuali kamar terasa sangat panas. Benar, hanya ruangan kamar yang ber-AC. Dan membayar bulanan listrik dengan satu AC pun sudah sangat membebani keuangan rumah tangga mereka.

Tabungan Aruna perlahan menipis, dan pemasukan uang dari lomba-lomba yang tak lagi banyak sudah tidak bisa diandalkan. Ia terpaksa harus bekerja sebagai freelance di internet. Untuk bekerja di luar dengan hanya mengandalkan ijasah SMA? Aruna ternyata belum punya cukup mental. Sementara Kana, hanya bisa mengambil kerja part-time disebuah toko buku. Oh ya, uang bulanan Aruna? Selain tak sudi menggunakan uang orangtua Aruna, semangat muda Aruna saat itu masih tentang pembuktian, bahwa ia bisa memperjuangkan kemauannya sendiri.

"Yang? Lihat HP ku dimana?" tanya Kana yang baru selesai mandi sore. Ia baru pulang dari kerjanya di toko buku.

"Tuh," jawab Aruna yang tengah duduk di karpet sambil menunjuk ke arah atas meja laptopnya.

"Kok bisa disini ya?"

"Iya, tadi kan HP nya ada di saku celana kerja kamu. Belum di keluarin. Untung pas masukin ke mesin cuci aku ngecek dulu," keluh Aruna. Ia selalu cukup kesal mengingat kejadian Kana yang lupa membuang tissue dari celana dan menyebabkan seluruh cucian berpartikel putih dari serat tisu.

Kana menghela nafas, antara merasa bersalah sekaligus cukup terkejut dengan reaksi kesal Aruna yang berlebihan. Dari pada ikut terpancing marah, Kana justru berbaring menyelipakn dirinya diatas paha Aruna.

"Makasih sayang," ucap Kana dengan senyuman manis.

Senyuman itu tak dihiraukan Aruna untuk sesaat. Tetapi wangi semerbak tubuh dan kilau bersih wajah Kana sehabis mandi sungguh menggoda. Aruna lalu menegcup kening istrinya itu. Kecupan singkat itu dengan ajaib mengubah moodnya.

"Kamu kenapa, sayang?" tanya Kana lembut.

"Tadi pas aku mau submit uang semester sekaligus ijin perpanjangan skripsi, malah diomelin sama Pak Arief. Dia bilang harusnya kalau aku sudah menikah dan jadi kepala keluarga lebih semangat untuk cepat lulus dan dapat kerja yang baik agar bisa memberikan kehidupan yang layak untuk rumah tangga kita. Gila ya, dosen pembimbing berubah jadi konsultan pernikahan," keluh Aruna.

Kana menelan ludah, ia sudah hapal konflik semacam ini. Mungkin maksud dosen pembimbing itu menasehati sekaligus memotivasi Aruna. Tetapi suaminya itu sangat sensitif jika dinilai tidak mampu akan sesuatu apapun. Kana lalu memikirkan kalimat tepat untuk mendukung Aruna.

"Hm, harusnya kamu bilang, Yang. Pak, saya gak harus menunggu lulus untuk dapat kerjaan. Saya justru sekarang sudah bekerja, jadi freelance, gitu yang!" sahut Kana dengan nada semangat.

Melihat tampang istrinya yang berubah, Aruna terkekeh. "Tapi kerjaan freelance aku sekarang ini gak banyak duitnya, yang. Belum bisa memberikan kehikan kehidupan yang layak untuk kamu," jawab Aruna pelan.

Aruna bisa dengan mudah mengakui kelemahan didepan istrinya, adalah hal yang selalu menghangatkan hati Kana.

"Siapa kamu bisa menilai pandanganku? Buatku kehidupan yang kita jalani ini layak dan cukup menyenangkan. Di kost ku dulu, aku bahkan gak pakai AC. Cuma kipas angin. Di kost ku dulu, aku gak punya penghangat ruangan, sekarang ada kamu yang menghangatkan aku, Di kost..."

Kana tak lagi dapat berbicara, bibirnya sudah dilumat oleh Aruna. Kana tahu bahwa ia sedang membela harga diri suaminya yang terluka. Dan sejujurnya, Kana memang berbicara tulus. Kehidupan pernikahan yang ia jalani ini terasa sangat layak dan menyenangkan.

Tapi, jauh dalam lubuk hati Kana, ia tahu. Bahwa ketidak layakan hidup yang Aruna keluhkan bukan sepenuhnya tentang Kana, melainkan tentang standar dan kemewahan hidup yang terbiasa Aruna jalani sepanjang hidupnya sebelum ini.

Ciuman Aruna turun menjelajahi jenjang leher dan bahu Kana. Desir lenguhan Aruna menikmati aroma wangi tubuh Kana membuat Kana terpejam dan melupakan suara kecil dari lubuk hatinya. Membawa dua pasangan itu dalam gelut hangat kenikmatan dunia.

***

Aruna berpiyama putih mengerjapkan matanya berkali-kali dan terlihat panik. "Lho?! Lho kok?! Kok berhenti!"

Chas yang mendengar kmplain Aruna mengerutkan alisnya. "Ya menurut lo? Kita bisa melihat tayangan memori kehidupan ranjang lo itu?"

Aruna menelan ludahnya, entah kenapa adegan ranjang yang hampir ia saksikan itu sungguh ingin ia 'rasakan' kembali. "Ta.. tapikan itu kenangan gue sendiri. Kan gue sendiri yang lihat! Kalau lo gak mau lihat ya gak usah lihat! Biar gue sendiri aja. Balikin gue ke sana lagi!"

"Haissssh, memangnya gue ini mesin waktu apa bisa seenaknya bolak-balik!" sahut Chas membalas tak kalah sengit. Ia lalu berjalan meninggalkan Aruna.

"Chas!"

"Sebaiknya lo fokus kepada keseluruhan cerita tentang kehidupan apa yang telah lo lewatkan! Sudah cukup untuk hari ini. Gue pergi!"

"Kemana? Lo mau pergi kemana? Hey! Trus gue ngapain disini?!" Aruna berteriak, memastikan suaranya didengar oleh Chas yang sudah melangkah jauh.

"Ngapain? Lo bisa merenung, kan? Renungkan betapa lo menyia-nyiakan perempuan yang pernah memberikan segalanya untuk lo dihidupnya!"

Jawaban telak itu membungkam Aruna. Chas lalu menghilang diantara sinar oranye mentari senja. Sekarang, Aruna sendiri lagi di lantai atap gedung rumah sakit. Angin senja berhembus dingin, mengantarkan matahari yang mulai meredup.

Aruna lalu duduk di tepi dinding, memandangi jalanan di bawah sana yang mulai ramai kendaraan orang pulang dari kerja. Air matanya perlahan menetes. Bibirnya bergetar mengucapkan sesuatu...

"Udah pulang, sayang? Cape?"

Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang selalu Aruna tujukan pada Kana yang baru pulang dari tempat ia bekerja paruh waktu. Pertanyaan usang Aruna dulu itu tak pernah benar-benar di jawab oleh Kana. Melainkan perempuan itu langsung tersenyum senang, mengubah wajahnya yang lelah dan pucat sedetik lalu menjadi wajah penuh rindu yang ditujukan pada Aruna.

***

 

 

1
Mom Dee🥰🥰
gak niat lanjut kah thor?udah setahun aja nih... ceritamu luar biasa bagus loj
Mom Dee🥰🥰
😍😍😍😍
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
keputusan yg bodoh aruna?!melepas untuk bahagia,sampai saat ini q masih mempertanyakan dimana letak kasih sayangnya???bukankah itu justru menyakiti???disaat pasangan ingin bersama kita dan siap menghadapi apapun bersama,sementara kita justru melepas hanya karna merasa tak sanggup membahagiakan.bukankah itu terlihat bullshit?!gak bisa jaga komitmen.
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa sampai sini,q jadi gedeg bnget ma aruna.bener2 labil jadi cwok.belum siap jadi suami sok2 an ngajak nikah,akhirnya jadi suami toxic
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
kenapa hati rasanya seperti diaduk aduk ya baca cerita ini??😢
Devi Kartika
bahasanya bagus bgt, kita kyk diajak untuk ikut kedalam cerita
krisbow
bagus baget ceritanya
Senandung Jelita
kpn up thor?
Novita Sari
udah stengah taun thooorr☹️
Novita Sari
dari bab sebelum ini,air mataq g bisa ditahan...sayang ceritanya gak diterusin😔
Just Love It
aduh Thor, jangan patah semangat dong...Aku seneng bgt ama karyamu terutama yg the Bridesmaids secret. serius karyamu keren bgt. sedikit diantara ribuan karya di NT yang aku suka. 😍😍😍
eve
up...up...thor...
Erna Sujan
duuhh Sam kamu di blacklist deh 🙊
ratmie lutfy
menunggu klanjutanya, duh. awal baca nyesek trus, kesini mlah kocak. 😂
ratmie lutfy
aku suka alur mundur.. nyeseknya itu brasa bgt
OFF
Masih meraba alurnya..dibaca pelan dan diresapi...
ni sepertinya alur maju mundur cantik bergabung 😂😂..tinggalin jejak thor
Siti Halimah
hadeee
🍭aiNa_SAN🦭
kasiiiian nya kana
Tri Dikman
Baru tau ada novel baru thor

Mulai baca
eve
novel kak ayy ini menyayat hati menguras emosi, masih kental dalam ingatan berdeau nya air mata maya di tinggal nikah ikhsan, lahh ini, 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!