"Setelah tiga tahun pernikahan, Dewi akhirnya sadar kalau dirinya tak lebih dari sekedar bank darah berjalan untuk Lina, wanita yang dijaga Rizky. Apapun keluhannya, semua Rizky tutup dengan uang. Hingga Dewi berpikir, 'Kalau begitu apa bedanya diriku dengan seorang pelacur? Sama-sama dibayar hanya berbeda pada apa yang ditawarkan.'
Akhirnya kata cerai keluar dari mulut Dewi dan saat itu juga, ia pergi tanpa menoleh. Namun, keduanya ditakdirkan untuk bertemu lagi, tapi kali ini dengan situasi yang berbeda.
Dewi sebagai pewaris Keluarga Konglomerat Wijaya yang jauh lebih berkuasa dari keluarga Rizky, menuntut balas Lina dan Rizky yang dulu menekannya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Chandrakanta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Aula pesta yang megah itu dipenuhi cahaya lampu kristal.
Para tamu yang hadir semuanya adalah tokoh terkenal dunia bisnis.
Gaun mewah, jas mahal, perhiasan berkilau.
Semua orang tampak seperti bintang.
Di tengah keramaian itu—
Dewi berjalan masuk sambil mengaitkan lengannya pada Arif.
Langkahnya tenang.
Matanya jernih.
Hatinya tidak lagi memiliki gejolak apa pun terhadap masa lalunya dengan Rizky.
Sebagian besar orang di ruangan itu memang tahu bahwa Rizky pernah menikah.
Namun hampir tidak ada yang pernah melihat mantan istrinya secara langsung.
Selama tiga tahun pernikahan mereka—
Rizky tidak pernah membawa Dewi ke acara resmi.
Di internet, nama Dewi memang pernah muncul.
Tetapi wajahnya hampir tidak dikenal.
Karena itu ketika mereka melihat wanita elegan di samping Arif—
tidak banyak orang yang langsung menyadari siapa dia.
Tatapan Dewi sempat melirik ke arah Rizky.
Di sampingnya berdiri Lina.
Gaun mahal.
Wajah lembut yang dibuat-buat.
Dewi tersenyum kecil.
“Cepat sekali naik pangkatnya.”
Ia berkata pelan dengan nada sindiran.
Arif mendengar perubahan kecil dalam suaranya.
Ia menoleh sedikit.
“Tak perlu memikirkan mereka.”
Kemudian ia menambahkan dengan santai,
“Ada Abang di sini.”
Dewi tertawa ringan.
Justru itu membuat senyumnya semakin cerah.
“Yang seharusnya takut bukan aku.”
Matanya menyipit sedikit.
“Melainkan Lina.”
Nada suaranya santai.
Namun penuh keyakinan.
Dewi tidak lagi memiliki beban apa pun.
Sekarang—
ia bisa menghadapi siapa saja.
Tak lama kemudian mereka berjalan mendekati tempat Rizky berdiri.
Beberapa orang di sekitar langsung memperhatikan.
Aura antara kedua pria itu hampir setara.
Ketika Dewi berhenti di depan Rizky—
suasana di sekitar mereka terasa menegang.
Dewi mengulurkan tangan dengan sopan.
“Selamat malam, Tuan Rizky.”
Rizky menatapnya beberapa detik.
Lalu akhirnya menjabat tangannya.
Namun sejak saat itu—
tatapannya tidak pernah lepas dari Dewi.
Ia hampir tidak mengenali wanita di depannya.
Gaun couture yang dikenakan Dewi membuat kulitnya yang putih tampak sempurna.
Riasannya elegan.
Senyumnya terang.
Namun di balik itu ada aura tajam yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Wanita ini…
terlihat asing.
Namun juga sangat memikat.
Rizky tidak bisa mengalihkan pandangannya.
Dalam pikirannya muncul berbagai pertanyaan.
Selama sebulan terakhir Dewi menghilang.
Apakah dia selalu berada di sisi Arif?
Apa hubungan mereka sebenarnya?
Perasaan aneh muncul di dada Rizky.
Bukan hanya kemarahan.
Ada sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak bisa jelaskan.
Lina yang berdiri di sampingnya memperhatikan semuanya.
Ia melihat dengan jelas kejutan di mata Rizky.
Giginya langsung terkatup.
Tanpa bisa menahan diri, ia berkata tajam,
“Kenapa kamu ada di sini?”
Suara Lina cukup keras sehingga beberapa orang di sekitar menoleh.
Ia menatap Dewi dengan sinis.
“Bukankah kamu hanya…”
Ia berhenti sejenak.
Lalu menekankan kata-katanya.
“mantan istri?”
Seolah ingin mengingatkan semua orang tentang “status rendah” Dewi.
Rizky belum sempat berbicara—
ketika Arif tiba-tiba berkata dengan dingin,
“Dan kamu siapa?”
Lina langsung terdiam.
Pertanyaan itu membuat wajahnya memerah.
Ia buru-buru berkata, “Aku hanya ingin mengingatkan bahwa dia baru saja bercerai dari Rizky.”
Nada suaranya berubah lebih tajam.
“Wanita seperti dia seharusnya tidak terlalu cepat mendekati orang berpengaruh.”
Maksudnya jelas.
Ia ingin menyiratkan bahwa Dewi mencari perlindungan dari Arif.
Namun Arif justru tersenyum tipis.
“Jadi apa masalahnya?”
Ia menatap Lina dengan dingin.
“Orang yang bercerai tidak boleh datang ke pesta?”
Kemudian ia melirik ke arah Rizky.
Nada suaranya penuh sindiran.
“Atau mungkin selera seseorang dalam memilih pasangan memang kurang baik.”
Beberapa orang di sekitar hampir tertawa.
Lina langsung merasa dipermalukan.
Ia menoleh ke arah Rizky dengan ekspresi meminta bantuan.
Namun Rizky tidak mengatakan apa pun.
Tatapannya masih tertuju pada Dewi.
Seolah Lina bahkan tidak ada di sana.
Dewi menunduk sedikit.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Ia berkata dengan santai, “Aku datang ke mana pun yang aku mau. Dan bersama siapa pun yang aku pilih.”
Matanya menatap Lina dengan tenang. “Aku tidak perlu melapor kepadamu.”
Arif kemudian berkata dingin, “Kamu merusak suasana pesta.”
Ia menoleh ke Dewi.
“Ayo.”
Tanpa menunggu jawaban, ia membawa Dewi pergi ke sisi lain aula.
Seolah percakapan itu sama sekali tidak layak untuk dilanjutkan.
Lina berdiri di tempatnya dengan wajah merah.
Ia dipermalukan oleh orang dengan status jauh lebih tinggi darinya.
Ia hanya bisa menarik lengan Rizky dengan manja.
“Rizky…”
Namun Rizky tidak memperhatikannya.
Ia hanya menatap ke arah tempat Dewi dan Arif pergi.
Wajahnya dingin.
Matanya gelap.
Dalam hatinya muncul rasa tidak puas.
Dewi baru saja bercerai darinya.
Namun sekarang ia terlihat bebas dan bahagia.
Seolah tidak pernah peduli pada dirinya.
Dan bahkan…
berjalan bersama pria lain.
Beberapa rekan bisnis datang menyapa Rizky.
Ia akhirnya mengalihkan perhatian dan mulai berbicara dengan mereka.
Tanpa sadar—
ia meninggalkan Lina berdiri sendirian di sampingnya.
Di sisi lain aula pesta.
Di dekat jendela kaca besar.
Cahaya bulan memantul di permukaan kolam renang di luar.
Suasananya jauh lebih tenang.
Dewi berdiri di sana dengan segelas anggur merah di tangannya.
Ia menatap permukaan air yang berkilau.
Angin malam bertiup pelan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
hatinya terasa sangat tenang.
Namun di sudut yang agak gelap—
beberapa orang berbisik pelan.
Salah satu dari mereka berkata dengan nada meremehkan,
“Bukankah dia mantan istri keluarga kaya itu?”
Orang lain menjawab dengan sinis,
“Kenapa wanita seperti dia bisa masuk ke pesta seperti ini?”
Nada suaranya penuh keraguan dan penghinaan.
“Seorang mantan istri kaya…”
“apa pantas berada di tempat seperti ini?”
ᴋᴇʀᴇɴ ᴀʙɪs ᴄᴇʀɪᴛᴀɴʏᴀ....