Istri pilihan menceritakan tentang.
Dina Nabila, Nabila kecil selalu bahagia, selalu ada senyum, dan canda tawa yang menghiasi hari - harinya dengan dikelilingi oleh orang - orang yang menyayanginya.
Tapi, semua itu berubah semenjak sang Ayah pergi untuk selama - lamanya.
Bukan sesuatu hal yang mudah baginya untuk menerima kenyataan setelah di tinggal pergi untuk selama - lamanya oleh orang yang sangat sangat di cintainya yaitu Ayahnya.
"Dasar anak pembawa sial, menyesal aku pernah melahirkan mu kedunia ini."
Dia pun harus berjuang sendiri melawan dan melewati seluruh rintangan yang di depannya sudah menghadangnya. Hingga suatu ketika entah nasib baik atau buruk, dia terpilih menjadi istri seorang pemuda yang terkenal kayak raya dan cukup populer namanya di dunia bisnis.
Akankah Nabila menemukan kebahagiaan setelah menikah ?
Atau malah sebalinya, penyiksaan, caci maki dan air mata menjadi teman setianya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan harus kah berpisah adalah jalan terakhir yang harus mereka tempuh?
Simak ceritanya dalam "Istri pilihan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Martina Alfarizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.
...Disuatu malam, langit menangis, seakan menemani sekeping hati yang sunyi, dan tangisan itu menghidupkan semula setiap rasa - rasa yang telah mati....
...Malam yang kian larut takkan pernah benar - benar hening bagi mereka yang di pisahkan...
...❤❤❤...
Kini aku sudah siap memulai aktifitas pagiku. Setelah semua ku bersihkan dan kurapikan, aku pun mulai kedapur untuk masak serta menyediakan sarapan pagi untuk mereka semua.
Sesaat kemudian kini aku sudah menyelesaikan aktivitas dapur dan sudah menata seluruh makanan ku di atas meja.
Tidak lama kemudian kini mereka sudah mulai sarapan paginya.
"Nabila, cepat siap - siap ayo temani aku berbelanja sama ibu setelah selesai sarapan!" ujar Arumi membuka suara ketika sudah duduk dan mengisi makanan di piringnya.
"Iya kak," ucapku tetap pada aktivitasku membersihkan dapur dan meletakkan wajan dan panci kotor kedalam westafel.
Setelah semua yakin sudah bersih aku pun segera naik kelantai 2 di mana kamar aku berada.
Setelah di kamar aku pun segera membersihkan tubuhku dan mengganti bajuku dari baju rumahan menjadi baju santai.
Sesaat kemudian kini aku sudah selesai dan sudah berada di lantai bawah. Kakak yang datang dari dalam kamar, "Bagaimana sudah siap?" Aku hanya menganggukan kepala ku sebagai jawabanya. "Ibu, Bu buruan...."
"Iya bentar."
"Kak Akbar mana kak?" tanya ku pada kakak keduaku.
Dengan jutek, "Sudah berangkat kerja dari tadi."
"Ayo kita berangkat," ujar Ibu yang kini sudah berjalan kearah kami berdua.
Kamipun melangkah kegarasi untuk segera menuju kemobil. Kini kami semua sudah di dalam mobil dan sudah siap melajukan mobilnya kepusat perbelanjaan yang cukup terkenal dan populer yang ada di kota itu.
...❤❤❤...
...Di tempat yang lain....
Di rumah besar, mewah dan megah itu, Adam beserta ke dua orang tua nya sedang sarapan bersama.
Di sela aktifitas makannya, "Jadi, kapan calon mantu Bunda akan kamu bawa kerumah Dam?" tanya sang Bunda seraya menatap wajah sang Anak yang duduk berhadapan dengannya.
Sang Anak pun menghentikan aktivitas makanannya, "Bun, Adam sementara usaha, bersabarlah sedikit lebih lama Bun," ujar sang Anak yang kini sudah melanjutkan kembali aktivitas makannya.
Ayah pun menoleh ke putra semata wayangnya itu, "Benar apa yang di katakan Bundamu kapan calon mantu kami di bawa kerumah ini dan memperkenalkan kepada kami. Iya kan Bun?" ucap sang Ayah yang kini sedang mentap ke arah istrinya itu.
"Sabar Yah, Adam lagi usaha. Secepatnya akan Adam bawa kerumah. Adam janji sama Ayah dan Bunda." ucap Adam seraya tersenyum hambar.
"Ayah pegang janjimu."
Kini sarapan mereka sudah selesai.
"Yah, Bun, Adam berangkat kerja dulu," ucap Adam seraya mencium punggung tangan sang Ayah lalu ketangan sang Bunda.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," ucap Ayah dan Bunda serempak.
"Hati - hati," teriak Ayah dan Bunda serempak.
"Yo Yah, kita siap - siap kehotel!" ajak sang Istri kemudian masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaiannya menjadi pakaian kerja
Semenjak hotel sang Istri berkembang pesat, perusahan di limpahkan ke sang anak untuk di urus. Bukan berarti 100 % di limpahkan ke sang Anak.
...❤❤❤...
...Dalam hidup tentukan sikap, karena hanya sikap yang akan membuat diri bertahan di tengah kuatnya badai....
...**********...
Kini aku, Ibu dan Kakakku sudah tiba di pusat perbelanjaan. Kini kami sudah berada di dalam dan Kak Arumi dan Ibu segera memilih dan memilah barang mana yang akan mereka beli. Setelah berputar - putar kesana kemari, akhirnya sesi belanja pun selesai. "Nabila," panggil kakak Arumi seraya melambai - lambaikan tangannya agar mendekat.
Aku pun berjalan mendekat, "Ada apa kak?"
Kak Arumi pun menyodorkan paperbag, "Nih bawa." Aku pun menerimanya. "Nih sekalian punya ibu di bawakan juga." Mereka pun berjalan dengan tangan kosong keluar dari pusat perbelanjaan dengan santainya.
Alhasil tangan kanan dan kiriku penuh dengan kantong belanja mereka. Layak nya seorang pembantu mungkin itu lah kira - kira julukan yang pantas untukku.
Kini kami sudah berada di dalam mobil dan siap melajukan mobil kak Arumi kejalan untuk segera pulang kerumah.
...****************...
...Di perusahaan Widjayakusuma...
"Ghea bagaimana dengan persiapan pemilihan calon istriku besok? Apa semua sudah di jalankan sesuai dengan perintahku?" tanya Adam yang kini duduk di sofa seraya menyilangkan kakinya.
Ghea yang sedari tadi berdiri mendampingi Tuan bosnya itu, "Sudah tuan semua sudah di laksanakan sesuai perintah Anda." ucap Ghea hati - hati, Ghea sudah tau pasti bagaimana tabiat bosnya itu apa bila melakukan kesalahan.
"Bagus," ucapnya dengan tegas.
...*************...
Kini aku, Ibu dan Kak Arumi sudah tiba dirumah.
"Capek," ucap Arumi seraya menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa yang berwarna maroon itu. Diiringi dengan Ibu yang duduk di sofa yang sama dengan Arumi.
Aku yang masih berdiri di pintu terlihat kepayahan berjalan dengan paperbage di tangan kakan dan kiri.
"Bila, buruan dong jalannya jangan kayak orang yang tidak makan, lelet benar jalannya."
"Iya kak tunggua bentar," ucapku yang kini berlari kecil sambil bawa belanjaan kearah mereka berdua.
Kini aku sudah berada di dekat mereka dan segera meletakkan paperbag belanjaan di atas meja. Kakak Arumi pun segera membuka satu persatu paperbage belajaannya dan mengeluarkan satu persatu isinya dan meletakkan ke atas meja barang - barang apa yang sudah di belinya.
Aku hanya berdiri mematung melihat belanjaannya itu, hingga, "Kakak, boleh aku mencoba sepatunya?" tanya ku seraya ingin mengambil sepatu itu. Tapi, belum juga aku menyentuhnya tanganku di tampik secara kasar, "Jangan pegang - pegang," ucapnya dengan kasar.
...❤❤❤...
...Mari saling mendukung...
...Terima kasih...
...❤❤❤...
...Maaf ya komentar - komentar tidak bisa saya balas satu persatu. Jadi, yang promo tinggalkan saja jejak like dan tulis di kolom komentar nanti aku balik berkunjung ke karya anda - anda semua....
...Terima kasih...
...🙏🏻🙏🏻🙏🏻...
...❤❤❤...
I love you pulll😘😘💋💋
ini sekedar masukan doang thor