NovelToon NovelToon
After The Winter Ends

After The Winter Ends

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di tengah kemegahan Manhattan, Liam Vance adalah pangeran es yang hancur. Kesetiaannya dibalas pengkhianatan keji oleh kekasihnya, Gretha, yang mengandung anak pria lain.

Dunia idealisme Liam runtuh, mengubahnya menjadi sosok dingin yang mati rasa hingga ia bertemu Anne Margaretha, mahasiswi baru asal Belanda dengan keberanian luar biasa.

Saat seisi kampus menjauhi Liam, Anne justru menantang kebekuan hatinya dengan ketulusan yang tak terduga.

Di antara luka masa lalu dan tembok pertahanan diri yang kokoh, Anne bertekad membuktikan bahwa cinta sejati bukanlah kelemahan. Akankah sinar hangat Anne mampu mencairkan badai salju abadi di hati sang pewaris Vance?

Sequel Novel Elara & Leo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ciuman pemberani

Manhattan sedang diselimuti kabut tebal yang membawa aroma salju pertama yang akan segera turun. Di dalam Mansion Vance, keheningan yang sempat mencekam selama dua hari terakhir mulai pecah oleh suara langkah kaki yang berat di atas lantai marmer. Liam Vance akhirnya keluar dari pengasingannya. Pintu kamar yang selama empat puluh delapan jam menjadi saksi bisu atas berkecamuknya harga diri yang hancur, kini terbuka lebar.

Liam muncul dengan penampilan yang sangat kontras dari kondisinya yang kacau beberapa hari lalu. Ia mengenakan kemeja sutra hitam dengan kerah yang kaku, rambutnya tertata rapi tanpa cela, dan wajahnya dipaksakan sedatar mungkin.

Dari luar, ia tampak seperti Pangeran Manhattan yang kembali ke takhtanya, seolah-olah guncangan batin di balik loker kampus itu hanyalah mimpi buruk yang sudah ia hapus dari memori.

Namun, di balik mata birunya yang tajam, ada api yang baru. Harga diri seorang Vance tidak membiarkannya kalah begitu saja. Ia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Anne Margaretha—gadis yang ia anggap "biasa saja"—kini memegang kartu as atas rasa malunya. Ia tidak mau dianggap sebagai pemula. Ia tidak mau dikenang sebagai pria yang lari setelah sebuah ciuman canggung.

Malam itu, Mansion Vance terasa sunyi. Leo dan Elara sedang menghadiri jamuan makan malam amal, sementara Liana sudah masuk ke kamarnya untuk mengerjakan tugas akhir. Anne sedang duduk bersantai di area lounge yang luas, ditemani secangkir teh kamomil dan sebuah buku sketsa. Cahaya lampu dinding yang remang-remang menciptakan suasana hangat yang sangat privat.

Langkah kaki Liam terdengar mendekat. Anne tidak mendongak, namun ia bisa merasakan kehadiran pria itu. Aura Liam kali ini tidak hanya dingin, tapi juga dipenuhi dengan ketegangan yang tertahan.

Liam berdiri tepat di hadapan Anne, menghalangi pandangan gadis itu ke arah perapian yang menyala. Ia menatap Anne dengan intensitas yang hampir bisa membakar kertas di tangan gadis itu.

"Tentang kejadian itu... jangan terlalu besar kepala, Anne," Liam membuka suara. Nada bicaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar meremehkan, meski ada sedikit getaran kecil yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.

Anne perlahan meletakkan buku sketsanya, menatap Liam dengan senyum tenang yang selalu berhasil membuat pria itu merasa telanjang. "Oh ya? Kenapa aku tidak boleh besar kepala?"

"Karena itu hanya sebuah eksperimen kecil," dusta Liam dengan lancar. "Dan sejujurnya, itu terasa sangat... biasa saja. Tidak ada yang spesial. Jika kau pikir sentuhan canggung itu sudah cukup untuk membuatku bertekuk lutut, kau salah besar, Anne Margaretha."

Liam melangkah maju satu senti, memangkas ruang di antara mereka. Ia sedikit menunduk agar matanya sejajar dengan mata Anne. "Justru itu membuatku menyadari bahwa aku menginginkan sesuatu yang lebih. Sesuatu yang jauh lebih intens dari sekadar sentuhan bibir yang ragu-ragu. Aku bukan bocah yang kau tertawakan di kolam renang."

Anne tidak gentar. Sebaliknya, ia justru melihat melalui topeng keangkuhan Liam. Ia tahu pria ini sedang berjuang mempertahankan sisa-sisa gengsinya. Anne menyandarkan tubuhnya, menantang balik tatapan itu.

"Oh ya? Kau ingin yang lebih?" bisik Anne, suaranya jernih dan menantang. "Kalau begitu, buktikan padaku saat kau sudah benar-benar siap, Liam. Karena aku tidak akan ke mana-mana. Mari kita lihat apakah kau hanya bisa bicara besar, atau kau memang sanggup menghadapi apa yang kau inginkan."

Pernyataan "ingin yang lebih" itu ternyata menjadi bumerang paling mematikan bagi Liam sendiri. Begitu ia kembali ke kamarnya malam itu, hatinya tidak tenang. Kata-kata Anne terus terngiang seperti ejekan yang tak kunjung usai.

Alih-alih tidur nyenyak, Liam justru terduduk di depan laptopnya yang menyala di tengah kegelapan kamar. Jari-jarinya yang biasa mengetikkan analisis hukum internasional dan strategi merger perusahaan, kini bergerak dengan sangat rahasia, gemetar karena malu.

Dengan napas tertahan, ia mengetikkan kata kunci yang tidak akan pernah ia biarkan siapa pun di dunia ini tahu:

"Teknik berciuman profesional," "Seni bercumbu yang benar," dan "Bagaimana memberikan ciuman yang mendalam bagi pria."

Sang pangeran Manhattan, yang dikenal memiliki kecerdasan di atas rata-rata, kini berakhir mempelajari anatomi bibir manusia melalui artikel-artikel gaya hidup dan video referensi yang ia tonton dengan volume paling rendah. Ia mencatat posisi tangan, cara mengatur napas, hingga titik-titik sensitif di sekitar leher dan pinggang. Baginya, ini bukan lagi sekadar romansa; ini adalah proyek bisnis paling krusial dalam hidupnya. Ia harus menjadi yang terbaik. Ia harus membuat Anne terdiam.

Sejak malam penuh deklarasi itu, dinamika di antara mereka berubah secara drastis. Liam tidak lagi lari. Sebaliknya, ia bertransformasi menjadi pemburu yang sangat waspada. Ia mencari setiap celah, setiap detik ketika mereka hanya berdua.

Perubahan itu dimulai di koridor mansion yang sepi saat sore hari. Anne baru saja keluar dari perpustakaan ketika sebuah tangan besar menariknya ke balik pilar besar. Liam tidak berkata apa-apa. Ia menatap Anne dengan pandangan posesif yang baru, lalu tangannya merayap ke pinggang Anne, menarik tubuh gadis itu hingga menempel erat pada tubuhnya yang kokoh.

Tanpa peringatan, Liam menunduk dan menciumnya.

Ciuman itu tidak lagi hati-hati. Itu adalah lumatan yang menuntut, sebuah peperangan lidah yang dipenuhi gairah yang sudah lama terpendam di balik tembok esnya. Anne bisa merasakan perbedaan tekniknya—terkadang Liam terlalu bersemangat, atau sedikit kaku karena mencoba mengingat-ingat "tutorial" yang ia pelajari. Ada kesan bahwa Liam sedang berusaha keras mempraktekkan teori yang ia baca.

Namun, di balik kekakuan teknis itu, ada ketulusan yang membakar. Anne bisa merasakan napas Liam yang memburu di kulitnya. Tangan Liam yang biasanya hanya menggenggam pena dengan kaku, kini mulai berani meraba lekuk pinggang Anne dengan cengkeraman yang posesif, seolah takut jika ia melepaskannya, Anne akan menghilang.

Di perpustakaan yang remang-remang, Liam akan menarik Anne di antara rak buku, tidak lagi untuk mengusirnya, tapi untuk memilikinya. Di taman belakang yang dingin, ia akan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Anne, menghirup aroma vanila yang kini menjadi kecanduannya yang paling berbahaya.

"Masih terasa biasa saja, Liam?" bisik Anne di sela-sela ciuman panas mereka di bawah sinar bulan yang temaram.

Liam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia justru memperdalam ciumannya, memberikan jawaban melalui lidah dan gigitan kecil di bibir Anne yang membuat gadis itu terengah-engah. Ia tidak lagi peduli pada gengsi atau harga diri.

Anne menyadari sepenuhnya bahwa pertahanan "musim dingin" Liam Vance telah runtuh sepenuhnya—bukan karena hancur, tapi karena mencair dengan sendirinya. Di balik setiap ciuman yang semakin lama semakin mahir dan menuntut itu, Liam sebenarnya sedang membisikkan pengakuan bahwa ia telah menyerah pada hatinya sendiri.

Liam Vance tidak lagi mengabaikan kehadiran Anne. Sebaliknya, ia telah menjadi kecanduan. Ia membutuhkan aroma vanila itu untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Ia membutuhkan sentuhan lembut tangan Anne untuk meyakinkannya bahwa ia masih hidup.

Sang singa kaku dari Manhattan itu telah kembali ke dunia yang penuh warna. Ia menyadari bahwa kekuasaan, uang, dan nama besar Vance tidak ada artinya dibandingkan dengan getaran di dadanya setiap kali Anne tersenyum padanya. Strategi panjang sang gadis Belanda telah berhasil membawa hasil yang lebih indah dari yang ia bayangkan.

Malam itu, saat salju pertama benar-benar jatuh di atas kota New York, Liam Vance berdiri di jendela kamarnya, bukan lagi dengan rasa kesepian, melainkan dengan harapan. Ia menoleh ke arah pintu, menunggu hari esok, di mana ia tidak perlu lagi bersembunyi di balik topeng esnya. Musim dingin telah berakhir, dan di pelukan Anne Margaretha, Liam menemukan musim semi yang abadi.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

Happy Reading 😍

1
MissCuek🍂
nangiss banget😭
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
baguss bangettt tau" udah end ajah
Rosdianah 🌷: heheh singkat padat jelas ya kak🤭🥰
jangan lupa baca Novel ku yang lain kak. "The End of Before" Ndak kalah seru kak 🙏🏼
total 1 replies
Sulati Cus
ending yg manis
Triana Oktafiani
Selalu menunggu karya2mu thor 👍
Rosdianah 🌷: Ma'aciww 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!