Timin dan Satina berhasil menemukan alat berupa gerbang masuk ke dimensi ruang dan waktu yang berbeda. Menjelajah ke tempat yang belum mereka temui sebelumnya.
Pertemuan Satina dan Marion membuat mereka saling jatuh cinta. Hati Satina menjadi terbagi dua ketika Timin mengungkapkan isi hati yang sesungguhnya pada Satina.
Pertarungan seru, cinta dan pengorbanan akan menjadi satu dalam kisah ini.
selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary dice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10. Wajah Berseri
Suasana malam yang gelap gulita tak mengurungkan keinginan Timin untuk bersembunyi di balik bebatuan. Tak peduli nyamuk dan semut mulai hinggap dan menyerang.
"Aduuhh." Timin menggaruk jari kakinya gatal karena digigit semut kemudian beralih menggaruk betis karena digigit nyamuk.Lengkap sudah penderitaan Timin malam itu. Sendiri mengamati dari kejauhan perkampungan Tatuka.
Dari balik teropong mini sebuah bayangan bergerak berjalan ke arah Timin. Bayangan orang itu mengendap mengubah haluan menuju tempat Satina dan Marion berada.
Semakin dekat semakin jelas. Siapa gerangan sosok misterius. Seorang anak lelaki remaja. Tak salah lagi anak itu berasal dari warga Tatuka. Timin melihatnya kemarin duduk diantara penduduk yang lain. Tak banyak bicara,hanya duduk memandangi tamu. Tak ada gerak mencurigakan yang dilakukannya saat itu.
Dengan mudah Timin menyergap anak remaja itu dari belakang.
"Jangan bergerak atau bersuara kalau tidak mau mampus,"ancam Timin sambil mengikat pergelangan tangan anak remaja itu dengan tali.
Seakan mengerti ucapan Timin,anak itu mengikuti semua perintah Timin tanpa perlawanan. Hanya sesekali meringis kesakitan akibat salah satu jari ikut terikat .
"Ohhh ternyata ini biang kerok bikin kita panik." Marion melihat Timin datang bersama tersangka.
"Siapa namamu?"tanya Marion.
"Totomonososo,"jawab anak itu ketakutan setengah mati. Dia tak menyangka telah terjebak diantara orang-orang asing.
"Baiklah Totomonososo, kembalikan benda yang telah kau curi dari kami?"
Totomonososo diam kemudian menggeleng. Berceloteh dengan bahasanya sendiri. Kesabaran Marion mulai berkurang. Ia tanyakan lagi dengan menggunakan bahasa isyarat.
Totomonososo menggelengkan kepala. Seakan tak mengerti apa yang dimaksud Marion.
Timin menggeledah Totomonososo dari tas salempang terbuat dari kulit hingga celana pendek dari jerami yang melekat ditubuh Totomonososo.
"Dimana kamu menyembunyikannya?"tanya Marion setelah tak menemukan apa-apa.
Totomonososo menundukkan kepala. Tak berani melihat wajah Marion maupun Timin. Remaja itu seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kami sangat membutuhkan benda itu untuk kembali pulang ketempat asal."
"Sssttt jangan beritahu Dia tentang alat itu. Itu sangat rahasia. Bisa saja Dia menggunakannya untuk hal yang tak baik,"Timin menghentikan penjelasan Marion. Mereka harus tetap waspada menjaga alat Dimensi Waktu.
"Ikat Dia di pohon. Kita akan menyiramnya dengan darah kelinci buruanku tadi. Sebagai umpan agar harimau datang memangsamu"
Timin menarik tubuh Totimonososo kemudian mengikatnya pada sebatang pohon."Ide yang sangat bagus. Tubuhmu akan digerogoti harimau.Hmmm..atau serigala. Hewan-hewan itu akan memakan kakimu terlebih dahulu. Lalu Dia akan merobek perutmu hingga memakan satu persatu organ tubuhmu," kata Marion tetap dengan bahasa isyarat untuk menakut-nakuti Totomonososo.
Remaja itu menangis tersedu mohon ampun. Dan akhirnya mengakui bahwa Ia telah menyimpan alat itu di rumah.
Marion dan Timin saling tersenyum kemenangan.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Satina.
" Kita serahkan saja pada pada Tatuka. Biarkan Totomonososo dihukum sesuai hukum adat mereka yang berlaku.
Sampai di hadapan kepala suku, Marion menyerahkan sang tersangka pada Tatuka.
Dalam bahasa mereka Totomonososo mengakui perbuatannya. Telah mencuri alat milik Timin saat Dia tertidur lelap. Alasannya karena melihat benda itu sangat aneh dapat mengeluarkan cahaya dan gambar serta tulisan. Totomonososo sangat tertarik untuk memilikinya. Dengan gerakan berburu yang telah Ia pelajari. Totomonososo berjalan tanpa suara mengambil benda yang saat itu berada di samping kepala Timin. Setelah benda itu berhasil di dapat,Totomonososo segera kabur secepat hyena. Jadi kecil kemungkinan korban menyadari perbuatannya kala itu.
Memdengar itu Tatuka menghukum Totomonososo untuk berburu dengan hasil tangkapan sebanyak mungkin buat persediaan makanan kelompok mereka selama satu bulan.
Tatuka juga meminta maaf atas perbuatan anggotanya yang telah berbuat curang pada Timin dan kawan-kawan.
Alat Dimensi Waktu telah kembali dalam genggaman Timin. Ia pun memaafkan perbuatan Totomonososo. Dan memintanya untuk tidak melakukan perbuatan yang sama.
Setelah itu Timin, Marion dan Satina pergi dengan hati lega. Mereka pergi sejauh mungkin sampai tak terlihat oleh penduduk pimpinan Tatuka.
"Untung alat ini tidak rusak parah hanya sedikit kotor. Totomonososo menyimpannya di bawah tempat tidur diantara barang-barang hasil curiannya yang lain. Ternyata selama ini Totomonososo sudah sering melakukan tindakan pencurian. Setiap orang asing yang sedang berkemah dan sedang lengah maka Totomonososo menjarah barang mereka. Tentu saja Ia mengambil barang berharga dan belum pernah Ia miliki sebelumnya.
Baru kali ini Totomonososo tertangkap. Sebelumnya Ia selalu berhasil dalam melakukan aksi kurang terpuji tersebut"
"Mudah-mudahan Totomonososo tidak mengulangi perbuatannya,"kata Satina dalam perjalanan dengan berjalan kaki melewati tanah gersang berdebu.
"Aku juga ragu dengan hukuman ringan yang diberikan. Apalagi Totomonososo sudah sering melakukannya.Dia tak akan jera kalau dihukum ringan seperti itu. Apalagi berburu adalah keahliannya. Dia sangat mahir. Itu tak seperti sebuah hukuman tapi tantangan bagi Totomonososo,"jelas Timin panjang lebar.
Membersihkan alat itu dengan pelan butuh kesabaran serta ketelitian ekstra. Timin melakukannya dengan bantuan senter kecil melekat dikepala.
"Mudah-mudahan kita benar sampai di istana Marion,"ucap Satina penuh harap.
Marion tersenyum mendengar Satina berdoa sambil menyebut namanya. "Kenapa Satina ingin sekali kembali ketempat itu?"tanya Marion pada diri sendiri.
"Pasti kamu sudah bosan makan kelinci atau daging rusa setiap hari," ledek Timin pada Satina.
Satina menggelengkan kepala menolak pernyataan Timin. "Kita sudah berulangkali gagal untuk membawa Marion kembali. Bagaimana kalau Ia sama seperti kita akan tersesat selamanya tanpa pernah bisa kembali." Seingat Satina kalau Marion masih punya orang tua. Mereka pasti akan cemas dan merindukan pangeran yang hilang sekian lama.
Satina tidak tahu keadaan tempat asal Marion saat ini. Istana telah hancur dan kerajaan Marion telah porak poranda. Kehidupan masyarakat di sana juga ikut memprihatinkan. Kejahatan merajalela. Siapa yang kuat maka Dialah yang bertahan.
"Kamu tidak perlu cemas atau sedih. Kita pasti akan kembali pulang, percayalah. " Timin menatap wajah Satina mencari sesuatu di mata indah itu.
"Benarkah? " tanya Satina dengan mata berbinar-binar. Timin menganggukan kepala dan tersenyum senang sebab telah menemukan wajah berseri yang sering Dia rindukan dalam diam.
~Bersambung
Ini cerita tentang dimensi waktu ya...
bagus kak👍