Iveline yang menderita setelah ayahnya menikahi selingkuhannya, ternyata mendapatkan keajaiban dari kalung yang diwariskan oleh ibunya yang telah meninggal.
”Apakah aku sudah mati?“
”Anda belum mati, anda saat ini telah berada di ruang ajaib yang berada di dalam kalung anda!“
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dee hwang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Berbalik arah
Alea tidak percaya dengan penglihatannya. Tidak mungkin… pasti itu bohong. Bagaimana bisa seorang gadis cantik jelita, dengan kulit mulus tanpa cacat, rambut panjang yang berkilauan, wajah cantik alami yang dipoles sedikit makeup itu— Iveline?
BRAK!
Alea tidak sadar jika dia berkali-kali menggebrak meja saat itu.
“Nggak mungkin dia si jelek itu! Dia udah mati, dia kabur sendiri dari rumah, terus nggak ada kabar lagi, jadi pasti udah mati, lah. Heh kamu, ngaku aja kalau kamu bukan—”
“Alea, anak dari hasil selingkuhan ayahku, berusaha keras untuk mendapatkan title sebagai anak kandung yang paling disayang. Kalian mungkin tidak tahu, tapi dia banyak mendekati cowok-cowok ganteng, seperti kak Jovan. Setelah dia menyiksaku, dia akan mengancam kak Jovan untuk menjauhiku dengan menunjukkan foto—”
“CUKUP!! HENTIKAN!”
Iveline tersenyum kecil, puas sekali setelah memberanikan diri untuk mengatakan semua itu. Tidak mudah mengatakannya di depan banyak orang, dengan menunjukkan wajah penuh percaya diri.
Jantung Iveline berdebar-debar tak karuan, antara bersemangat dan juga ketakutan. Namun, dia harus berusaha untuk membela diri sekarang, seperti yang diajarkan para peri padanya selama ini.
Alea mulai malu karena ucapan Iveline barusan. Para siswa-siswi di kelas membicarakan Alea, yang menyiksa Iveline di rumah, lalu mengancam Jovan menggunakan Iveline untuk mendapatkan perhatiannya.
Menurut mereka, itu sangat berlebihan.
Mereka juga menatap Iveline, mulai percaya jika dia benar-benar Iveline.
“Apa lagi yang kau ketahui tentang Alea?” tanya seorang siswi, yang dulunya sering membantu Alea untuk membully Iveline. Tapi, Iveline tahu, dia sangat membenci Alea dan ingin lebih unggul darinya.
Orang-orang seperti itu, harus dimanfaatkan dengan baik. Karena Iveline tidak mau berusaha payah untuk menjatuhkan Alea, biar mereka saja yang melakukannya untuk Iveline.
“Apa ya? Ada banyak… misalnya, Alea sebenarnya suka semur jengkol, dia juga sangat suka sambal petai, dia menyukai seblak… oh, kak Jovan juga bukan satu-satunya yang dia incar.” ucap Iveline.
Dengan cepat, mereka mengerubungi Iveline, seperti semut yang bertemu dengan gula.
Alea? Dia mati-matian berusaha menahan emosinya. Dia pun pergi dari kelas, berusaha menghubungi ibunya untuk mengadu. Namun guru telah datang, dan dia adalah guru killer, yang berasal dari kalangan atas. Investor muda yang mengajar untuk mengurangi kebosanan, Pak Jayden.
“Mau kemana kamu? Cepat masuk dan duduk di kursi masing-masing!“
Tidak ada yang berani pada pak guru tampan yang satu ini. Mereka segera duduk di kursi mereka.
”Cepat kumpulkan PR matematika kalian, siapapun yang tidak mengerjakan, akan saya hukum.“
Iveline merasa lega karena dia telah mengerjakan Pr-nya, terimakasih pada Kaivan yang telah memberikan contekan padanya. Ini kali pertamanya Iveline mencontek pada seseorang, dia merasa sangat bersalah, sekaligus bersyukur.
Iveline pun menoleh pada Kaivan, lalu tersenyum. Kaivan hanya memasang wajah datarnya, lalu melengos.
'Sialan, dia manis banget.' pikir Kaivan.
Sementara itu, Iveline pikir, Kaivan kesal karena dia terpaksa memberi contekan pada Iveline.
Kaivan adalah anak yang biasanya menjadi rival Iveline dalam hal nilai pelajaran.
'Haruskah aku minta maaf dengan memberinya sesuatu — oh! Aku punya kue yang ku bawa dari ruang Imajinasi. Kaivan suka makan, jadi dia pasti suka.' pikir Iveline. Dia tidak sabar menunggu bel istirahat berbunyi, agar bisa membagi kuenya dengan Kaivan.
***
”Ini… enak.“ gumam Kaivan, dia tertegun setelah mendapat sekotak kue kering dari Iveline.
”Ini sebagai rasa terimakasih ku karena kamu membantuku— kau tahu… tentang PR tadi itu. Aku bisa dihukum pak Jayden jika saja aku tidak tahu apapun. Makasih ya.“
Kaivan pun terbengong sampai berhenti mengunyah, saat menatap senyuman manis Iveline.
Dulu, dia pikir, dia aneh karena menganggap senyuman Iveline itu manis sekali. Karena anak-anak yang lainnya selalu mengatakan dia jelek. Padahal setelah wajahnya diperbaiki, dia secantik ini.
Oh, sadarlah Kaivan! Kau sedang diperhatikan banyak orang di kelas.
Kaivan berdehem, lalu kembali bertingkah cuek seperti biasa.
”Makasih kalo gitu.“
”Apa ada PR lain selama aku nggak ada?“ tanya Iveline.
Kaivan berdehem kembali, lalu menunjukkan PR untuk besok, dan juga catatan selama Iveline tidak masuk sekolah.
Iveline menganggukkan kepalanya, memperhatikan iPad yang Kaivan tunjukkan padanya. Kaivan itu anak yang rajin, dia selalu mencatat semuanya.
”Bisakah aku meminjam ini? Aku akan mengembalikannya lagi nanti.“
”Terserah aja.“
Meski Kaivan bertingkah sok cuek, Iveline tahu dia adalah pemuda yang baik.
”Makasih, ya.“
Iveline pun menyalin cacatan Kaivan, juga menandai PR PR yang akan datang.
Kaivan kembali tertegun melihat wajah serius Iveline.
Sangat cantik.
Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama, Alea datang, menggebrak meja Iveline.
”Hei kau! Dapat uang dari mana bisa oplas kayak gitu? Kamu kan nggak punya duit! Nggak mungkin ayah ngasih uang buat kamu, kan?“ ucap Alea.
Iveline pun mendongak, menatap Alea dengan senyuman geli.
Alea yang bodoh, kenapa dia malah bangga saat ayah mereka tidak memberi Iveline yang sepeserpun?
”Emang enggak, ayah nggak pernah ngasih uang, karena uang yang ayah berikan untukku, diambil oleh kamu dan ibumu untuk berfoya-foya, bukan? Tenang aja, aku pernah punya ibu juga, yang meninggalkan banyak harta untuk ku.“ ucap Iveline.
Alea kembali menggebrak meja, Iveline bersyukur mejanya sangat kuat.
”Omong kosong! Ibu mu tidak punya harta apapun! Semuanya hanya rongsokan!“
Iveline menyeringai, membuat emosi Alea makin memuncak.
”Itu kan, yang kalian tahu…“
Alea buru-buru pergi dari sana, sudah tidak tahan dengan cibiran teman-teman sekelasnya.
Sekarang, tiba-tiba saja anak-anak di kelas tidak berpihak padanya, malah mencibirnya habis-habisan.
Mentang-mentang sekarang Iveline tiba-tiba jadi cantik.
Alea mengeluarkan ponsel pintarnya, lalu menghubungi ibunya.
”Mama! Si jelek itu nggak mati, Ma! Dia Dateng ke sekolahan!“
Iveline yang diam-diam mengikuti Alea, tersenyum puas. Dia tahu Alea akan mengadu pada ibunya.
Itu bagus, biar mereka tahu jika sekarang Iveline telah berubah, bukan lagi Iveline yang bisa dirundung seperti dulu.
Tap!
Iveline segera berbalik saat bahunya ditepuk oleh seseorang.
”Kaivan?“
”Aku ingin bicara, ayo ikut aku.“
Kaivan menarik lengan Iveline, tanpa meminta persetujuan, dia membawa Iveline ke suatu tempat.
”Tu-tunggu!“
Mampir dan dukung karyaku, yuk!
- TRUST ME
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Jangan lupa juga untuk Like, Komen, Share, dan Subscribe, ya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰