Likha Charina
Gadis desa yang merantau ke Ibu Kota Jakarta bersama temanya untuk bekerja. Bagaimana dia bisa hidup di tempat perantaun dan bagaimana dia bisa terjebak dengan pergaulan bebas.
21 +
di tunggu kritik dan saranya
jangan lupa vote like dan komen ya guys.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti solikhah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengingat
Kini Likha dan Maya membantu mengeringkan piring dan gelas.
Meski itu bukan perkerjaan mereka, tapi jika waktu senggang mereka saling membantu, begitulah seharusnya rekan kerja.
"Sebentar lagi jam makan siang, yuk kedepan". ucap Maya
"Ayo" sembari berdiri Likha mejawab Maya.
"Kita kedepan dulu dah" imbuh Likha kepada temanya yang di bagian cuci piring.
Likha melambaikan tangan ketemanya sembari melangkah keluar dari tempat pencucian piring yang berada di dekat dapur restoran
"Likha anaknya baik ya !" Ucap Aini
"Iya, biar anak baru tapi mudah bergaul" jawab si Rina.
"he eh"
Aini dan Rina adalah teman Likha di bagian belakang restoran tempat mereka bekerja.
***
"Loe tunggu disitu, loe yang jaga pintu. Nanti kalau ada tamu loe sapa ya" Maya memberi tahu Likha.
"Siap"
"Nanti loe bilang gini 'SELAMAT DATANG DI RESTORAN KAMI' dah gitu ajah hahaha"
"Kalo gitu doank nggak usah di ajarin kali" ucap Likha dengan nada kesel.
Dia serius mendengarkan ucapan Maya, ternyata Maya malah mengerjainya.
"Hahaha rilex biar nggak tegang" ujar Maya yang masih sedikit tertawa.
***
"Apa yang hampir aku lakukan dengan Mas Bagas" batin Enik dengan mengigit kuku di jarinya secara bergantian.
"Aku hampir melalakukanya, Ya Tuhan aku telah berdosa. Tapi ternyata godaan setan lebih kuat Tuhan. Imanku lemah" seraya Enik memandang langit-langit kamarnya.
***
Di kantor Bagas terlihat melamun, dia memikirkan hal yang terjadi pagi ini dirumahnya.
"Aku kira si Enik itu, wanita yang tak mudah aku dapatkan. emmm ternyata segampang itu" batin Bagas dengan senyum sunggingnya.
Dia masih mengingat-ingat kejadian yang tadi pagi.
"Seharusnya gue melakukanya, hahaha" Dia tertawa sendiri.
Mengingat hal bodoh yang ia lakukan di kamar mandi.
Hampir saja dia menjebol gawang pertahanan Enik.
"Melakukan apa ?" tanya Egar
Egar adalah teman satu kantor Bagas yang sudah terkenal fuckboy nya.
Namun meski terkenal dengan fuckboy nya, masih banyak wanita yang mengejarnya.
"Hah" Bagas badanya sedikit bergoyang, karena dia terkejut mendengar suara tiba-tiba dari Egar.
"ngagetin gue ajah loe" Bagas bangun dari kursinya dan menepuk bahu Egar cukup keras.
"Sakit woy" dengan mengelus bahunya yang di tepuk Bagas.
menurutnya itu bukan sebuah tepukan tapi pukulan halus tapi sakit.
"Lagi loe ngagetin gue ajah, ngga tau ajah gue lagi bayangin yang enak-enak" dengan sebal dia menatap Egar.
Dan kembali duduk ke kursinya.
Dan Egar pun duduk di kursinya.
"Tadi loe bilang mau mekakukan apa ?" tanya Egar kembali.
Karena dia belum mendapatkan jawaban dari rekan kerjanya itu.
"Woy jawab" imbuhnya lagi
"Mau tau ajah loe!"
"Nanti gue cerita kalau gue sudah melakukanya. hahaha" tambah Bagas lagi dengan tawa yang cukup keras, Membuat rekan kerja yang lain melihatnya sebal karena mengganggu pekerjaan mereka.
"Maaf, maaf ya " ucap Bagas sambil mengangguk-anggukan kepalanya dengan senyum kikuknya itu.
Karena dia tak enak telah mengganggu kosentrasi rekan kerja.
Yang sedang fokus mengerjakan pekerjaan mereka.
"loe si" ucap Bagas dengan melihat Egar sedikit kesal.
"Loe utang jawaban sama gue" Egar membalikan dirinya kedepan layar komputer untuk menyelesaikan pekerjaan, karena sebentar lagi jam makan siang.
***
"Selamat datang, silahkan masuk" ucap Likha setiap ada tamu masuk restoran seraya membukakan pintu.
"Selamat datang, sila-" dia begitu terkejut dengan tamu yang ssat ini berdiri di depanya.
"Mas, kok kesini?" ujar Likha kepada kakak sepupunya itu
"Emang kenapa nggak boleh ?"
"Oh ya nggak apa, aku kaget ajah"
"Ini tempat kerjamu" dengan melihat-lihat di setiap sudut restoran tempatnya bekerja.
Likha menggangguk
"semangat ya" ucap Bagas dengan mengepalkan tangan ke depan wajah Likha dan berlalu meninggalkan Likha.
Likha yang mengerti mengangguk kan kepalanya
Bagas dan temanya mencari-cari bangku kosong.
Terlihat celingukan kekanan dan ke kiri.
Kini dirinya bersama temanya menuju meja angka delapan belas, yang berlihat meja itu kosong dan dekat mini bar.
"Siapa tadi ?" Egar bertanya pada Bagas
"Ade sepupu gue, kenapa ?" tanya Bagas dengan selidik.
" Awas ajah loe kalau dia jadi korban loe berikutnya ? Loe berurusan sama gue" dengan nada sedikit mengancam.
" Tenang gue masih setia hahaha" dengan tertawa renyah, tapi tak banyak yang mendengar.
***
Dari meja mini bar itu ada sepasang mata melihat ke arah Bagas dan Egar.
Dia mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.
Dan~
haloo guys visual abang Irfan nih.
cocok yah jadi bartender.
***hallo guys.
gimana cocok kan jadi bartander abang Irfannya.
Kalo aku suka yang lokal-lokal guys.
yang lokal nggak kalah kok sama yabg luar hahahhaa.
***GANTENGNYA MAKSUDNYA.
jangan lupa like vote dan komen ya guys.
Salam sayang dari mamah muda******.