NovelToon NovelToon
WADAL PESUGIHAN

WADAL PESUGIHAN

Status: tamat
Genre:Horor / Roh Supernatural / Mata Batin / Tamat
Popularitas:168.1k
Nilai: 5
Nama Author: Its Zahra CHAN Gacha

Narko tak mengira jika kebahagiaan keluarganya di raih dengan cara yang tidak wajar, ia baru sadar setelah satu persatu saudaranya meninggal sebagai wadal pesugihan sang ayah. Apakah dia bisa melepaskan diri sebagai wadal berikutnya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

40 Hari (REVISI)

Bukan hanya reaksi mereka yang biasa saja saat mengetahui kematian Dewi, namun yang membuatku sangat kesal yaitu ketika mereka melarang saat kami hendak mengadakan tahlilan. Entah kenapa bapak begitu marah saat aku menyampaikan pesan dari ustadz setempat untuk mengadakan tahlilan di rumah malam ini.

Sudah merupakan tradisi di desa kami, jika ada warga yang meninggal pasti keluarga almarhum akan mengadakan tahlilan untuk mendoakan arwah jenazah. Biasanya para tetangga dan warga lain akan datang ke rumah kita untuk mendoakan arwah setelah itu kami akan mengadakan perjamuan makanan sederhana.

Memang acara ini membutuhkan banyak dana, karena harus menyiapkan makanan untuk mereka yang datang mendoakan jenazah.

Namun karena sudah menjadi tradisi maka kebiasaan ini pun dianggap biasa dan tak memberatkan warga. Mungkin jika dulu posisi kami masih kekurangan wajar jika bapak menolak untuk mengadakan acara tahlilan.

Akan tetapi keadaan perekonomian keluarga kami sudah membaik, jadi aneh jika bapak menolak untuk mengadakan tahlilan.

Entah apa pertimbangan Bapak dan Ibu sehingga melarang untuk melakukan tahlilan di kediaman kami.

"Kenapa pak, nanti apa kata para tetangga jika kita tidak mau melakukan tradisi kampung ini?" tanyaku

Bapak hanya menjawab singkat, alasannya klasik, katanya untuk apa membuang-buang uang sedangkan dalam hukum agama tahlilan itu tidaklah wajib.

Ia mengatakan jika tahlilan itu cuma bid'ah dan tak perlu dipermasalahkan, toh itu tidak ada dalam sunnah Nabi.

*Deg!

"Ah, sejak kapan bapak jadi religius begini. Sejak kapan ia menggunakan dalil agama untuk membenarkan alibinya?" gumamku

"Bukankah mendoakan itu bisa kita lakukan sendiri, jadi tidak perlu mangga-manggil orang banyak ke rumah. Karena itu hanya merepotkan saja. Lagi pula kalian kan tahu ibu kalian ini punya adik bayi jadi dia pasti kerepotan kalau harus menyiapkan makanan untuk banyak orang," jelas bapak

"Kalau masalah itu, kami kan bisa membantu Pak. Bahkan para warga dan tetangga juga siap membantu kalau mereka dibutuhkan. Sama seperti saat aku membutuhkan bantuan untuk mengurus jenazah Dewi, bahkan mereka dengan sukarela tanpa pamrih membantu keluarga kita. Kalau masalah makanan aku masih punya sedikit tabungan jika Bapak memang tidak memiliki dana untuk membeli makanan," jawabku

Seketika raut wajah Bapak langsung berubah. Matanya melotot, wajahnya memerah seolah menampakkan kemarahannya.

"Kalau bapak bilang nggak usah ya, nggak usah, kecuali kalau kamu memang mau hal buruk terjadi pada keluarga kita, ya silakan," ancamnya

Ia kemudian pergi dan membanting pintu kamarnya.

*Brakkk!!

Semua orang terdiam. Tak ada satupun yang berani menyela atau membantah ucapan bapak.

"Sudah turuti saja keinginan bapakmu Nang," timpal Ibu

Yang kemudian menyusul Bapak masuk ke dalam kamar.

Sementara itu, Lik Yatmo yang juga ada di tempat itu, ikut diam tanpa melakukan apapun. Sebagai adik kandung Bapak mungkin sudah hapal dengan sifat kerasnya. Ia pun memilih untuk pamit pulang daripada harus melihat ketegangan kami. Adik-adikku juga mulai meninggalkan ku dan masuk ke kamar mereka masing-masing.

Kini hanya aku sendirian di ruang tengah. Menghela nafas panjang sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan.

Entah kenapa aku merasa ada yang aneh dengan rumah ini. Selama ini keluarga kami terbiasa tinggal di gubuk kecil yang sesak dan pengap, namun kami selalu merasa bahagia dan tak pernah berselisih seperti ini. Apalagi untuk meributkan hal-hal yang seharusnya tak perlu di perdebatkan seperti ini.

Rumah ini begitu besar dan mewah, namun terasa hampa dan pengap. Bahkan untuk menghirup udara segar saja aku harus keluar karena di dalam terasa begitu panas.

Begitupun dengan penghuninya, tak ada wajah-wajah bahagia yang kulihat dalam diri Bapak dan Ibu begitupun dengan adik-adikku.

Meskipun mereka tinggal di istana, namun Mereka seperti tinggal dalam Neraka.

Hari berganti hari, tak ada sesuatu yang ganjil terjadi meskipun kami tidak melakukan tahlilan untuk mendiang Dewi. Hanya cibiran tetangga yang ku dengar. Wajar saja, tak ada api tanpa adanya asap.

Hampir semua warga menggunjingkan keluarga kami, karena masalah tahlilan. Mereka mengatakan jika keluarga kami adalah penganut aliran sesat sehingga tidak mau mengadakan tahlilan. Bukan hanya itu saja, ada juga yang bilang kalau Bapak adalah seorang yang pelit.

Cibiran dan hujatan tak membuat Bapak malu dan bergeming. Ia tetap memegang teguh prinsipnya.

Aku pikir ia benar-benar Bapak akan mendoakan arwah Dewi karena tak ada acara tahlilan. Tapi semuanya hanya omong doang, boro-boro mendoakan Dewi, bahkan solat pun tidak pernah.

Selama tinggal di rumah ini, tak pernah sekalipun aku melihat Bapak melakukan sholat. Bahkan ia yang dulu rajin mengaji pun tak ku dengar lagi merdu suaranya.

Sama seperti bapak, ibu pun juga begitu. Alasannya karena ia sibuk mengurusi adik ku yang masih bayi.

Begitupun dengan ke tiga adikku yang lain. Karena ayah tak pernah memperhatikan solat mereka, mereka pun jadi malas untuk solat dan ngaji.

Meskipun aku bukanlah orang yang religius namun aku berusaha untuk membacakan Yasin untuk Dewi setiap malam jumat. Itupun harus bertengkar dulu dengan bapak karena ia melarang ku membaca Alquran di rumah.

Alasannya berisik, mengganggu adekku yang masih bayi.

"Kalau mau ngaji di mushola kan bisa, atau di kuburan sekalian biar gak ada yang dengar!" maki bapak saat mendengar ku membaca surat Yasin di rumah

Karena tak mah bertengkar dengan Bapak, aku memilih untuk sholat dan membaca yasin di mushola.

Tak ada hal-hal aneh terjadi di rumah kami setelah kematian Dewi. Hingga hari itu tiba,

tepat 40 hari setelah kematian Dewi aku mendengar sesuatu terjatuh dari kamar ibu.

*Prang!!!

Suaranya begitu keras hingga membuat aku terkejut dan keluar dari kamar untuk melihat benda apa yang jatuh.

Sama seperti saat kematian Dewi, bunyi benda jatuh itu begitu mirip.

Ku lihat Ibu berlari keluar dari kamar sambil menggendong adikku yang masih bayi dengan suara tangis memilukan.

Ia berlari menghampiri Bapak yang berada di ruang tamu.

"Zidni pak, zidni!" seru ibu sambil menangis tersedu-sedu

"Apa yang terjadi, katakan jangan menangis!" jawab Bapak

Tangis ibu semakin menjadi saat memperlihatkan Zidni kepada bapak. Aku yang juga penasaran berlari mendekati mereka. Tentu saja akupun ingin tahu apa yang terjadi.

Seketika aku terbelalak saat melihat kondisi adik bungsuku.

*Deg!

Kembali aku dibuat merinding saat melihat kondisi Zidni.

Ya ampun, kondisinya sama persis dengan yang dialami Dewi. Kepalanya pecah, dan tubuhnya dipenuhi dengan luka, seperti dicabik-cabik oleh binatang buas. Darah segar terus mengalir dari tubuhnya hingga membuat Ibu ikut bermandikan darah.

1
Fitrianti Sutiman
gak jelas ceritanya
kimiatie
narto bodoh tahap dewa...tidak pernah mendengarkan nasihat orang lain seperti dulu anggi membawanya lari dari rumah....warak narto di sini benar² bodoh
kimiatie
makin jauh aku membaca cerita ini makin pusing 7 keliling🤦🤦
N~R
semoga berhasil
N~R
ternyata buapak e g berubah
N~R
kirain adik" dan ibu Narko masih hidup
N~R
iki piye to....jadi semuanya POV gitu?
N~R
tumbal nya koq g ada jedanya.paan sih g jelas
ang sekaya apa tumbalnya koq begitu sering,udah kayak orang nyemil/ makan cemilan aja
N~R
sepanik panik nya,ga gitu juga kali.kalau punya iman kan bisa baca do'a walau dalam hati kan bisa.g mesti lidah yg mengucap
N~R
kakean pitakon narko.tinggal berangkat aja pergi malah banyakan tanya.sebel aku
N~R
kenapa juga ibu nya harus menangis,itu kan sudah keinginan dia dan suaminya.ya trima aja ga usah nangis.
N~R
waduh,mbokne misuh.piye anak e g curiga
N~R
baru baca udah bikin penasaran
Roewina
sebegitunya Thor kalau semua anaknya dh mati trus yg menikmati hartanya siapa? emang yg dipuja bpknya Narto siapa sih Thor kok ada banyak pocong🤔🤔
Wahyu Kasep: pesugihan Buto ijo
total 1 replies
Roewina
katanya orang tua cari uang buat anak kalau anknya ditumbalin trus mati smua, ntar warisannya buat spa?😂
Wahyu Kasep: gwa kira di jaman modern seperti sekarang ini
pesugihan sudah tidak ada
ternyata masih ada dan bertebaran di mana-mana
dari pedagang kecil sampai pengusaha pembisnis naik jabatan juga masih pake pesugihan
total 2 replies
Roewina
maaf Thor ngulangnya jngn kepanjangan🙏😄
☠ kiky ᶜᵒᵒᵏᶦᵉ
aish! narto kau terlalu baik sih
☠ kiky ᶜᵒᵒᵏᶦᵉ
bapa apaan ini!! bukan sebalik nya pak?! klo gk niat jadi bapa gk ush nikah dulu deh, ih menyebalkan!
☠ kiky ᶜᵒᵒᵏᶦᵉ
cih, kirain bapa nya udh berubah! nyatanya masih sama
Yuli Rali
gmn sih ini pusing bcanya udah mah d ulang²
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!