NovelToon NovelToon
Dalam Pelukan Dosa

Dalam Pelukan Dosa

Status: tamat
Genre:Menikah Karena Anak / Anak Genius / One Night Stand / Romantis / Hamil di luar nikah / Cinta setelah menikah / Tamat
Popularitas:26.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ifah Latifah

“Gue ngelakuin itu tanpa ada rasa ke lo, Na.”

Hidup Alana yang sempurna berubah drastis ketika dia hamil anak mantan kakak kelasnya, Rayyan.

Mimpi Alana sudah di depan mata yaitu untuk kuliah di Seoul National University. Sedangkan Rayyan, laki-laki itu punya pacar yang sangat dicintai. Tapi bagaimana dengan bayi dalam rahim Alana?


Update hari jumat, sabtu, dan minggu!

Happy Reading, Guys

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifah Latifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 10 - Kebenaran

“Sebenarnya, Pa…

Alana menggantung ucapannya. Rasanya sangat berat untuk memberitahu kondisinya sekarang pada Fadli. Meskipun sudah sedikit lega dengan kata-kata Fadli, Alana masih takut ayahnya akan marah.

Fadli masih menunggu Alana melanjutkan ucapannya. Dia menatap Alana dengan seksama, sambil meyakinkan Alana untuk bercerita, melalui tatapan matanya.

“Sebenarnya, Alana sekarang lagi-

Tok tok tok!

Pintu kamar Alana diketuk dari luar. Kemudian pintu itu terbuka menampilkan Mbak Wati, asisten rumah tangga yang berdiri di depan pintu.

“Maaf, Pak, Non, ini ada Non Dinar,” ucap Mbak Wiwi.

Dinar muncul dari balik dinding.

“Ayo masuk Dinar,” ucap Fadli ramah. Dia berdiri dan mempersilakan Dinar untuk masuk.

“Maaf, Om, Dinar ganggu waktunya Om sama Lana ya,” ucap Dinar tidak enak.

“Enggak kok. Kamu ngobrol aja sama Lana.”

Fadli mendekati Alana dan mengusap puncak kepalanya. “Kita lanjutin ngobrol lagi nanti ya, Sayang.”

Fadli menoleh kembali pada Dinar. “Om keluar dulu ya.”

Fadli berjalan keluar dari kamar Alana meninggalkan Alana bersama dengan Dinar.

Setelah pintu kamar Alana sempurna tertutup, Dinar mendekati Alana.

“Nyokap lo yang minta gue ke sini, Na. Biar bisa temenin lo, katanya lo gak mau keluar kamar dari kemarin,” ucap Dinar menjelaskan alasan kedatangannya.

Alana hanya mengangguk pelan.

“Na, sori soal kemarin,” ucap Dinar lagi. “Gue-gue gak bermaksud buat gak nepatin janji gue ke lo, tapi gue takut, Na, gue takut lo kenapa-napa, dan gue juga gak mau nantinya lo nyesel, Rayyan… Rayyan juga ngomongnya serius banget mau tanggung jawab. Jadi gue pikir… gue pikir gak papa kasih tau Rayyan, biar lo bisa pertimbangkan lagi keputusan lo. Sori, gue gak bermaksud gimana-gimana, gue cuma mau yang terbaik buat lo. Itu aja. Sumpah!” 

Untuk beberapa saat, tidak ada suara di antara mereka. Hanya hening, sampai Alana mengulas senyum kecil.

“Gak usah sepanjang itu kali penjelasannya.”

Dinar mendekati Alana dan duduk di sebelahnya. “Lo maafin gue kan?”

Alana mengangguk.

“Thanks, Lana.” 

Dinar memeluk Alana erat.

“Gimana keadaan lo? Lo kok pucat banget sih?” tanya Dinar setelah pelukan mereka terlepas.

“Gue baik-baik aja.”

“Syukur deh kalo gitu. Eh lo gak mau keluar apa? Gak sumpek di kamar? Iya gue tahu kamar lo luas, tapi apa gak bosen di kamar terus dari kemarin?”

“Males, Din.”

“Ayolah keluar, cari angin, temenin gue makan, lo mau makan apa? Chinese? Korean? Japan? Mau apa? Yuk makan di luar sama gue?”

“Gak ah Din, gue gak pengen makan.”

“Ih! Badan udah kurus kering, muka pucat gitu masih aja gak pengen makan. Lo tuh harus makan, Na. Kasihan badan lo, kasian juga-”

Alana menunggu Dinar melanjutkan ucapannya, tapi dia malah mengalihkan pembicaraan.

“Udah sih, ayo makan!”

“Iya deh, iya. Gue pengen makan topokki, temenin gue ya?”

“Siap!”

Dinar menunggu Alana untuk mandi dan bersiap-siap sebelum keluar. Tidak lama kemudian, Alana siap dan mereka turun dari kamar menghampiri kedua orang tua Alana yang sedang duduk di halaman depan rumah.

“Ma, Pa, Lana pergi dulu sama Dinar,” ucap Alana sambil menyalimi kedua orang tuanya, disusul oleh Dinar.

“Iya, hati-hati ya, Sayang. Pulangnya jangan kemalaman,” ucap Dewi.

“Iya, Ma.”

Alana dan Dinar berjalan menjauh menuju mobil Dinar yang terparkir di depan rumah. Saat hendak membuka pintu mobil Dinar, tiba-tiba saja kepalanya pusing, kemudian pandangannya menggelap.

Alana jatuh tidak sadarkan diri.

...***...

“Assalamualaikum.”

“Wa'alaikumsalam.”

Ira menatap Rayyan yang sedang duduk di kursi ruang tamu dengan heran.

“Tumben kamu jam segini udah di rumah?” tanya Ira pada Rayyan. Biasanya cowok itu akan pulang dini hari, tapi sekarang Rayyan sudah di rumah padahal matahari baru saja menghilang.

“Ya elah, Bun. Sekali-kali lah anaknya ini jadi anak rumahan.”

“Anak rumahan apanya?” Ira tertawa pelan. Ira masuk ke dalam kamarnya.

“Bun, Ray mau ngomong," ucap Rayyan di depan pintu kamar Ira.

“Tinggal ngomong aja.” 

Ira keluar dari dalam kamar dengan membawa handuk dan berjalan ke kamar mandi yang ada di samping dapur. Kamar mandi di rumah Rayyan memang hanya satu dan letaknya di samping dapur, bukan di dalam kamar.

“Ray mau ngomong serius, Bun.” 

Rayyan mengikuti langkah Ira menuju dapur.

“Apa sih? Paling juga kamu mau minta izin buat touring sama temen-temen kamu. Iya kan? Bunda gak izinin kalo weekdays.”

Ira mengambil gelas di rak kemudian menuangkan air dari dispenser.

“Bunda sok tau sih. Bukan itu! Dengerin Ray dulu!”

“Terus apa?”  

“Ray ngehamilin anak orang, Bun.”

Prang!

Gelas yang ada di tangan Ira terlepas begitu saja dari genggaman tangannya. Dia menatap Rayyan tidak percaya.

“Kamu ngomong apa?” 

Rayyan menghela napas pelan. Rayyan belum jadi memutuskan hubungannya dengan Vanya, jadi setidaknya dia harus mengatakan kebenaran itu pada Bundanya.

“Ray ngehamilin perempu-

Plak!

Sebuah tamparan mendarat keras di pipi kiri Rayyan. 

“Bisa-bisanya kamu ngelakuin itu, Ray?!”

“Bun, maafin Ray. Ray udah kecewain Bunda-

“Iya! Kamu udah kecewain, Bunda. Bunda udah kasih kepercayaan ke kamu, Bunda udah bebasin kamu melakukan apapun yang kamu mau, karena Bunda percaya sama kamu. Tapi apa? Kamu hancurkan kepercayaan Bunda kayak gini, Ray.”

"Astaghfirullah, Ray, Ray."

Ira menutup wajahnya yang sudah berlinang air mata. “Ya Allah, Ray. Bunda ngebesarin kamu bukan buat jadi laki-laki seperti ini! Kamu gak inget, hah?! Kamu lupa sama yang Mama kamu alami?!”

Rayyan menggeleng pelan.

“Terus kenapa kamu ngelakuin ini, Ray?! Kenapa?!”

Rayyan hanya bisa menunduk dalam-dalam.

“Ray, Ray khilaf, Bun. Ray gak sengaja.”

“Gimana bisa gak sengaja, Rayyan?!”

“Ray, Ray minum, Bun.”

“Kamu minum minuman keras?!”

“Itu pertama kalinya Ray minum, Bun. Ray juga udah gak pernah lagi. Itu... itu cuma coba-coba.”

“Astaghfirullah, Ray. Kamu tahu kan minuman keras itu haram, dosa! Kenapa kamu malah coba-coba? Lihat sekarang hasil coba-coba kamu! Kamu melakukan dosa besar lain! Kamu hancurkan hidup orang lain, Ray.”

"Itu dosa besar, Rayyan."

Ira menangis terisak sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Berulang kali mengucap istighfar dengan suara pelan.

“Bunda, maafin Ray.”

Rayyan melipat kedua kakinya berlutut di depan Ira. Dia mencoba meraih kaki Ira, tapi Ira selalu menyingkir, tidak ingin kakinya disentuh oleh Rayyan.

“Bunda, maafin Ray, Bunda. Ray tahu Ray salah, Bunda. Tolong maafin Rayyan, Bunda.”

Ira berjalan pelan mendekati kursi yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Kaki Ira rasanya sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Kakinya lemas. Di depannya, Rayyan masih menunduk dengan posisi berlutut dekat pecahan gelas. Entah pecahan itu mengenai kakinya atau tidak, Ira tidak tahu.

Ira menutup wajahnya, menangis. Berulangkali Rayyan mencoba meraih kaki Ira, tapi selalu ditepisnya.

“Apa yang akan kamu lakukan sekarang?” tanya Ira setelah emosinya mulai mereda.

“Ray, Ray mau menikahi Lana, Bun.”

“Menikah?”

Rayyan mengangguk pelan. Ira memegangi kepalanya yang terasa begitu pening mendengar penuturan Rayyan.

“Rayyan, menikah itu bukan hal mudah. Itu bukan cuma sekadar ucapan akad, tapi itu tanggung jawab besar. Perempuan itu akan menjadi tanggung jawab kamu dunia akhirat. Itu tanggung jawab besar, Ray. Perlu kesiapan mental dan fisik yang baik. Kamu? Kamu baru masuk kuliah Ray, kamu baru 19 tahun. Orang dewasa yang sudah siap dan mapan saja belum tentu sanggup, Ray. Apalagi kamu,” ucap Ira lemah.

“Ray gak punya pilihan lain, Bunda. Ray gak mau Lana gugurin bayi itu, Bun. Itu anak Ray, Bunda. Tapi, Ray juga gak bisa biarin Lana besarin anak itu sendiri, Bun, kayak Mama. Ray gak bisa. Ray mau tanggung jawab, Bun.”

Rayyan menunduk semakin dalam. Bahunya mulai bergetar disertai air mata yang turun dari matanya. Rayyan menutup wajahnya.

“Ray salah, Bun. Ray salah. Harusnya Ray gak ngelakuin itu ke Lana, Bun. Harusnya Ray….” Rayyan terisak semakin hebat.

“Lana, Lana harusnya bisa hidup lebih baik, kalau aja gak ada anak Ray di rahimnya. Harusnya gak pernah ada anak Ray di rahim Lana, Bun. Ray hancurin hidup orang lain lagi. Dulu mama… sekarang Lana.” 

Bahu Rayyan bergetar hebat. Laki-laki itu menangis sejadi-jadinya dengan posisi berlutut di depan ibunya. 

“Ray salah, Bun. Ray salah.”

Di atas kursi, Ira ikut menangis melihat Rayyan yang menangis sesenggukan di depannya. Ira tentu saja tidak tega melihat anak laki-lakinya itu, tapi Rayyan salah. 

Hati Ira luluh. Dia mendekati Rayyan dan memegang lengannya. “Bangun, Ray. Bangun.”

Bukannya bangun, Rayyan justru memeluk tubuh Ira erat. “Maafin Ray, Bun. Maafin Ray.”

Ira mengangguk pelan. Air matanya menetes di kepala Rayyan.

“Udah, ayo bangun. Kaki kamu kena pecahan beling. Ayo bangun, Ray”

Dengan dibantu Ira, Rayyan berdiri. Mereka berjalan menuju ruang keluarga, duduk berseberangan dengan dibatasi meja. Lutut Rayyan yang belum sembuh akibat kecelakaan kemarin kembali luka terkena pecahan gelas. 

Ira mengambil kotak obat kemudian meletakkannya di atas meja.

“Obati dulu kaki kamu, Ray.”

Rayyan hanya menurut, tidak banyak bicara. Dia mulai mengobati lukanya. Sedangkan Ira hanya bisa menatapnya kecewa dan kasihan. Perasaan Ira campur aduk melihat kondisi Rayyan saat ini.

Ira kecewa berat, hatinya sakit dengan tindakan Rayyan. Tapi melihat Rayyan yang begitu menyesal dengan perbuatannya, Ira menjadi iba.

“Tadi siapa nama perempuan itu?” tanya Ira.

“Lana, Bunda. Alana”

“Orang tuanya tahu?”

Rayyan menggeleng.

“Dia mau menikah sama kamu?”

Rayyan diam. Alana memang belum mengiyakan ucapannya kemarin. Alana hanya bilang dia perlu waktu dan dia belum memberikan kepastian akan hal itu.

“Dia bilang masih butuh waktu, Bun.”

“Ya sudah, kita tunggu jawaban dia aja. Bunda pengen ketemu sama Alana, bisa?”

“Ray tanya dulu ya, Bun.”

Ira mengangguk. Rayyan mengambil ponselnya yang ada di dalam kamar kemudian kembali duduk di depan Ira. Rayyan membuka ponselnya. Saat ponsel itu terbuka, Rayyan melihat banyak missed call dari Dinar. Rayyan yang khawatir, membuka pesan yang ditinggalkan oleh Dinar.

Dinar

Alana pingsan

Sekarang ada di rumah sakit

...***...

1
Che Putri Badar
semangat thor ..
lanjuuuut..
Eva Marlina siboro
jngan sampai alana keguguran ya thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
lnjt dong thor,,, 🙏
Eva Marlina siboro
😮‍💨😮‍💨😮‍💨
Ani Shofia
bagus ceritanya lanjutkan
Endah Ekayanti
bagus banget
Dev
semangat Thor lanjutin sampai end..ceritanya pas (gk berlebihan) dan realistis banget..
Chillzilla: Ditunggu lanjutannya yaa
total 1 replies
Dev
kurang komunikasi sih sepasang manusia ini..
Dev
cerita ini cukup menguras emosi Thor..keren ceritanya..
mayang sari
seru ceritanya🙂😚
mayang sari
duarrrr🤯
mayang sari
rayyan, rayyan, harusnya kamu ngerasa bersalah
mayang sari
duuh si rayyan😔
mayang sari
kenapa pintu kamar hotel gak dikunci Alana?
Aura Al
kasihan lana di tinggal sendiri trus
Aura Al
mobil papa padil pasti lagi ngitai
Aura Al
rayan kurang peka terhadap lana
Aura Al
bagus banget cerita thor seru
Chillzilla: makasii... ditunggu kelanjutannya yaa
total 1 replies
Kamiblooper
Wih, seruu banget nih ceritanya! Jangan lupa update ya thor!
Cô bé mùa đông
🤩Bikin baper banget deh si author ini, jangan jangan dia nyasar jadi scriptwriter
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!