NovelToon NovelToon
Pernikahan Hangat

Pernikahan Hangat

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Pelakor / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Tamat
Popularitas:4M
Nilai: 4.8
Nama Author: Sept

Selamat datang di novel pertamaku.
IG Sept_September2020

Gagal menikah sekali, membuatnya patah hati berkepanjangan. Abbas yang sudah mengunci hatinya rapat-rapat, perlahan terbuka dengan sendirinya setelah bertemu dengan wanita yang tepat.
Bagaimana jika mantan pacar Abbas kembali dan mengusik pernikahan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apartmen Abas

Gara gara tragedi cicak, Mely dan Abas jadi sedikit lebih dekat. Bukan karena saling kasmaran, mereka lebih dekat karena Mely masih merasa takut dengan si cicak. Akhirnya dia yang nempel-nempel ke Abas, sungguh mirip seperti cicak betulan. Abas sih seneng-seneng aja di dekatin Mely terus. Karena sejak awal Mely selalu jaga jarak dengan dirinya.

"Mel, kamu tidur saja di kamarku, Aku akan tidur di sofa!" ucap Abas memecah kesunyian di antara keduanya.

"Gak usah, aku tidur di sofa saja. Aku gak mau ngerepotin," tolak Mely dengan halus.

Dalam hati Mely sendiri bertanya tanya. Apartment sebesar ini mengapa cuma ada satu tempat tidur? padahal kalau dilihat lihat. Apartment Abas cukup besar. Mely pun melirik pintu sebelah kamar Abas. Menurut Mely disana ada kamar kosong. Mely mencoba memberanikan diri bertanya.

"Emmm... itu sepertinya ada kamar lain, bolehkan aku tidur disana dan kamu bisa tidur dengan nyaman di kamar kamu sendiri!"

"Oh... Sebenarnya itu kamar cukup lama kosong. Nanti kamu alergi, banyak debunya."

Abas mencoba membuat alasan agar Mely percaya. Sebagi seorang tamu, Mely sudah gak berani lagi tanya tanya. Ia sudah menerima saja keputusan Abas. Malam sudah cukup larut. Mely sudah mulai mengantuk. Entah berapa kali sudah ia menguap. Mely pun masuk kamar Abas dan menguncinya dari dalam.

Bunyi pintu kamar yang dikunci membuat Abas tersenyum kecut. Abas sendiri tak langsung tidur, Ia memilih menonton televisi seorang diri di ruang tamu. Sedangkan Mely langsung merebahkan tubuhnya. Rasanya hari ini cukup melelahkan bagi Mely. Tidak butuh waktu lama, kini ia sudah terbang jauh menuju alam bawah sadarnya. Mely sudah tertidur pulas di atas ranjang milik Abas.

Suara adzan subuh membangunkan Mely dari tidur lelapnya. Mely terbangun, ia membuka pintu kamarnya dengan sangat pelan. Dilihatnya Abas tertidur di atas sofa dengan televisi yang masih menyala. Ia berjalan secara perlahan mendekati meja televisi, memunggut remot lalu mematikan televisi yang masih menyala itu.

Mely membetulkan letak selimut Abas yang terkulai di pingir sofa. Ia meletakkan selimut dengan perlahan di atas tubuh abas. Mely takut, membangunkan pria di depannya itu. Dilihatnya Abas dengan saksama.

Jika dilihat ketika tidur seperti ini, wanita manapun pasti terpesona dengan paras Abas yang nyaris sempurna. Tidak ada cela sama sekali untuk sosok Abas, kecuali sifatnya. Mely sedikit tidak suka dengan peragai Abas. Ketika hendak pergi, Abas yang setengah mengigau memegang ujung pakaian Mely.

"Jangan pergi!"

"Jangan pergi!"

"Aku mohon.....!"

Abas masih mengigau, ia mengucapkan kata kata tersebut berkali kali. Mely pun duduk bersimpuh di sebelah Abas. Ia mengusap dahi Abas. Berusaha menenangkan pria tersebut. Namun usapan tangan Mely ternyata justru membuat Abas terbangun dari tidurnya.

Abas menangkap tangan Mely yang menyentuh dahinya. Mereka berdua bertatap mata cukup lama, Keduanya hanyut dalam lamunannya masing-masing. Perlahan, Abas menyentuh pipi Mely. Mely tak bergeming ia hanya diam, ia ingin bangkit dan bangun dari situasi ini tapi apa daya. Tubuhnya menolak bangkit, Mely masih di tempat yang sama. Ia bersimpuh di sebelah sofa di depannya ada Abas yang terus menatapnya.

Abas memberanikan dirinya lagi. Ia mendekatkan wajahnya ke arah Mely. Mely yang bisa membaca situasi saat ini binggung, mau lari tapi hatinya menyuruh ia diam saja. Apapun itu, yang terjadi terjadilah.

Kini bibir mereka telah bertemu, dalam kesunyian keduanya menikmati kelembutan bibir masing-masing. Mely sendiri sudah memejamkan kedua matanya. Merasa perasaannya bersambut, berbeda dengan kejadian malam itu. Abas membuai Mely dengan perasaan yang sadar, tanpa ada pengaruh dari obat. Keduanya terlena dengan kesadaran sepenuhnya. Mereka berdua terbuai dalam lautan asmara.

Sampai beberapa saat, Mely mundur. Ia menarik dirinya, Mely masih merasa malu dan canggung. Setelah kejadian ciuman tak terduga itu Mely langsung bangkit. Dengan buru buru ia berjalan menghindari Abas yang masih tertegun, dengan ribuan rasa malu Mely menjauh dari pandangan Abas.

"Ya ampun Mely, **** banget sih kamu!"

gerutu Mely di dalam hati kecilnya.

"Mudah sekali kamu menerima bibir laki laki itu, memang sih dia ganteng... tapi kamu kan bukan cewek gampangan, yang mudah disosor sana sini." Mely memukul mukul kepalanya. Ia merasa sangat murah sekali kala itu.

Bagaimana tidak, ini adalah ciuman ke dua kali ia dan Abas. Sedangkan dia dan Abas saat ini tidak sedang menjalin hubungan apapun. Hubungan tanpa status yang membuatnya pusing. Ahhh.... ia hanya bisa menjerit dalam hati.

Dan ketika ia bercermin dalam kamar mandi, Mely memandang pantulan wajahnya di cermin. Mely terus memegangi bibirnya. Masih terasa sekali ketika Abas menciumnya. Perasaan apa ini, ia merasa ada ribuan bunga yang mekar di hatinya.

Selesai mandi Mely dikagetkan dengan suara ketukan pintu di luar kamarnya. Mely sedikit merapikan pakainnya. Pakaian yang ia kenakan semalam. Mely berjalan menuju pintu dan dibukalah pintu kamar Abas itu. Di depan pintu Abas membawa baju ganti miliknya.

"Pakailah ini dulu, nanti aku antar pulang kerumah."

Setelah menyerahkan pakaian ganti berupa baju Abas sendiri, berupa kaos pendek casual dan celana pendek selutut yang mungkin bila di pakai Mely sedikit kedodoran. Mely menerima saja, dari pada memakai baju yang kotor miliknya semalam. Abas pergi begitu saja, ia meninggalkan Mely tanpa komentar.

Mely merasa seperti tidak terjadi apa-apa diantara ia dan Abas. Laki laki itu bersikap biasa saja seperti sebelumnya. Padahal baru beberapa waktu lalu Abas mencium Mely. Kini Mely sibuk dengan pikirannya sendiri.

Setelah berganti pakaian, ia langsung keluar dari kamar Abas, dilihatnya Abas sedang membuat sesuatu di dapur. Karena peristiwa pagi tadi, Mely tidak berani mendekati Abas. Takutnya ia malah tambah baper sendiri. Mely memilih kembali masuk ke dalam kamarnya. Mely mengambil pakaian yang ia kenakan semalam, ia akan bersiap siap untuk pulang.

Kini di meja makan, makanan sudah siap tersaji. Beberapa sandwich hasil karya Abas serta dua gelas susu hangat. Abas mencoba melirik ke dalam kamarnya yang memang tidak jauh dari tempat duduknya. Ia penasaran mengapa Mely belum keluar dari kamar. Abas baru akan berteriak memangil nama Mely, yang dipanggil sudah muncul di hadapannya. Abas menatap Mely dari atas sampai bawah.

"Sepertinya baju ini cocok untukmu." Abas mencoba mencari bahan pembicaraan. Untuk memecah kecanggungan di antara mereka berdua.

"Ah iya..." ucap Mely.

Mely hanya mengiyakan saja. Sebenarnya ia sedikit marah. Entah ia berhak marah atau tidak yang jelas ia tidak suka sikap Abas padanya pagi tadi yang dirasanya melupakan peristiwa mengejutkan pagi-pagi buta. Sebuah peristiwa tidak sengaja yang membuat hatinya berdesir. Mungkin Mely terlalu berharap. Jadi sebelum ia terluka duluan, Mely juga memilih bersikap biasa biasa saja, sama seperti Abas.

Padahal Mely tidak tahu, bagaimana perasaan yang mendera Abas sebenarnya. Hati pria yang dingin itu, tadi pagi hampir meleleh sempurna karena Mely. Hanya saja Abas pandai merahasiakan isi hatinya. Ia tidak ingin terlalu kentara bila menyukai Mely. Abas sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Akhirnya mereka berdua sarapan ditemani kebisuan. Tidak ada perbincangan diantara mereka berdua. Hanya sebuah kebisuan, membuat keduanya semakin canggung satu sama lain.

Setelah selesai sarapan, Abas mengantar Mely seperti janjinya. Sama halnya saat mereka di jalan, keduanya sama-sama diam seribu bahasa. Tidak ada percakapan sama sekali. Hingga sampai tepat di depan rumah Mely. Ketika Mely akan melepaskan sabuk pengamanya. Abas mulai bersuara.

"Mel, Mau ya... Nanti malam kita ketemu Mama!"

Deg... hati Mely kembali berdesir. Abas pandai sekali membolak mbalikkan hatinya. Entah perasaan apa yang kini hingap di hati Mely, yang jelas ia tidak ingin terbawa suasana. Ia takut akan kecewa, Mely hanya memberi senyuman pada Abas. Entah apa arti dari senyuman Mely, Abas juga tidak bisa mengartikannya.

Bersambung

1
komalia komalia
kece badai semua visual nya
komalia komalia
udah lima tahun aja gimana kisa si evi nya dan itu siapa tuh yang menjebak si abas sama mely ko engga tau kabar kabar nya ya ntah masih hidup atau udah mati
komalia komalia
iya berarti si abas sama si evi sebelum nikah udah hubungan badan ya
komalia komalia
babu mungkin hahaha
komalia komalia
cinta buat kamu bodoh abas
komalia komalia
abas kamu jangan main api Kalau engga mau terbakar
komalia komalia
manggil nama Si sama suami
komalia komalia
ko cerita nya kaya gimana gitu karakter abas nya kaya gimana kaya kurang greget gitu
komalia komalia
ko engga ada di pingit kalau orang jawa kan harus ada pingitan kedua mempelai di larang ketemundan keluar rumah
komalia komalia
masih manis manis nya
komalia komalia
aduuh thot bisa aja kamu ya
Yelly _16
bagus
Bunda Aish
Luar biasa
Sutiah
ckckck 🤨 Evi" bener" nih kamu,ngasi warisan ke anak kok warisan dendam,gaje banget sih kamu tuh,mana sdh metong lg, tu lah kenapa kamu jd org jahat bgt,padahal kan dulu kamu yg ninggalin Abas kok jd kamu yg sakit hati sih 🙉
gk abis fikir aq
Sutiah
jiaah....aq kok baru moco judul seng iki yo 🙉
gek ono seng keri ternyata 😅
afa chai
pokok mantul karya nya kak 1 ini
Ayux Sri Ardani
mampir
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
Adelia ZahrotusShifa
terus semangat berkarya thoooor
yuli93
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!