Yang dikejar tak akan pernah lari. Walaupun tidak di cari namun ia akan hadir sendiri. itulah Jodoh!!
Siapakah yang akan menjadi jodoh Mila?
Dengan siapakah dia berdiri di pelaminan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shakar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TINGGAL BERDUA
Hari minggu pagi ini seperti rencana Mila dan Gilang akan membicarakan tentang tempat yang akan mereka tinggali berdua.
Kini mereka sudah ada di ruang keluarga, ada Bu Riris dan Pak Harja beserta Gladys yang duduk di sofa panjang, sedangkan Mila duduk disofa tunggal dan Gilang ada di hadapannya terhalang oleh meja.
"Kenapa duduknya jauh-jauhan gitu sih?" tanya Gladys yang aneh melihat kakak-kakaknya ini malah duduk berjauhan layaknya musuh.
"Timbang duduk doang, ribet amat nih bocah" jawab Gilang namun dia tetap berdiri menghampiri Mila yang sepertinya terlihat canggung, kemudian Gilang duduk dibawah yang sudah dilapisi karpet berbulu.
"Diih kenapa dibawah?" bisik Mila.
"Set ribet amat, sofa yang lu dudukin kan muat satu orang doang" kata Gilang yang juga ikut berbisik.
Melihat tingkah mereka berdua membuat Bu Riris dan pak Harja tertawa, ingat dulu pas lagi baru-baru nikah katanya juga sering berantem.
"Jadi kalian mau tinggal dimana? Disini juga gak apa-apa kita gak keberatan" Pak Harja memulai obrolan.
"Iya disini aja ka" Gladys berbinar kesenangan membayangkan Mila tinggal dengannya.
"Enggak bisa Gladys, kita dah mutusin buat tinggal di apartemen gue"
"Kita bakal sering kesini kok" ujar Mila pada Gladys yang terlihat merengut kecewa.
Pak Harja meminum teh yang ada di meja tampaknya seperti kurang setuju dengan usulan Gilang "Apartemen kecil begitu, kasian si Mila" katanya.
"Mila yang mau kok pah? lagian apartemen Gilang deket dari cafe" Mila meyakinkan mertuanya, dia memang berniat membangun rumah tangga yang mandiri dan tak bergantung pada orang tua.
"Laaah memangnya kamu masih mau kerja?" tanya Bu Riris.
"Gilang, kamu ngebiarin si Mila kerja?" ucap pak Harja.
"Laaah dia yang mau mah, pah" jawab Gilang yang bingung malah dia yang mendapat omelan mama dan papanya atas keputusan Mila sendiri.
"Iya aku yang mau ko mah, pah"
" Ya udah terserah kalian, kalian yang menjalankan, senyamannya kalian aja, papah sama mamah hanya bisa mendukung kalian" kata Pak Harja dengan bijaksana.
"Adeh si papah bijaksana banget" gumam Bu Riris dengan manjanya, namun terdengar oleh Gladys yang berada disampingnya.
"Aduuuh aku jadi kambing conge nih dekat kalian, kalian semua pasang-pasangan mamah sama papah, ka Mila ama ka Gilang... malesin" Gladys berdiri lalu pergi ke kamarnya dan diikuti tawa oleh mereka.
Mila yang melihat itu semua tersenyum namun matanya terlihat berkaca-kaca dia bahagia sekaligus tidak menyangka akan mendapat keluarga sehangat mereka. Ini adalah hal yang dia impikan. Mempunyai mertua yang dapat menyayanginya setulus hati. Itulah mengapa dia ragu melanjutkan hubungannya dengan Rehan saat tau Ibunya Rehan tidak setuju jika Mila menjalin hubungan dengan anaknya.
"Kamu kenapa Mil?" Bu Riris yang melihat mata menantunya penuh genangan air mata itu bertanya, membuat Gilang ikut menengadah ke arah Mila dan mengerutkan keningnya.
"Aku bahagia mah, punya keluarga kalian" Bu Riris langsung menghampiri Mila lalu memeluknya ikut terbawa suasana malah ikut menangis juga.
Setelah bersedih-sedih ria, mereka makan siang bersama kemudian Gilang membantu Mila merapihkan barang-barang yang akan dibawa nanti ke apartemen.
***
Mila dan Gilang sudah siap untuk berangkat menuju apartemen, Bu Riris dan Pak Harja ikut mengantarkan anak-anaknya itu.
Setelah meletakkan koper yang berisi baju-baju Mila di depan pintu apartemennya, Bu Riris dan Pak Harja pamit pulang karna emang Gilang memaksa mama dan papahnya untuk tidak ikut masuk dengan kilah akan membereskan dan membersihkan apartemennya, takut tidak selesai sampai malam nanti.
"Oh iya jangan lupa siapin berkas-berkas kalian untuk mendaftarkan pernikahan kalian, biar cepet di urus" kata Bu Riris mengingatkan dan mendapat anggukan dari anak dan mantunya itu.
Setelah Orang tuanya pergi, mereka langsung masuk kedalam, Mila terkejut melihat suasana apartemen yang terlihat jauh seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Wow Berantakan.
"Lu kapan terakhir kali datang kesini sih?" tanya Mila yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Pantes aja lu ngelarang mama papa masuk, kalo masuk mah bisa syok mereka, yang ada kita bisa dibawa lagi pulang"
"Udah lama gue gak kesini terakhir seminggu yang lalu sebelum nenek meninggal"
"Baru itu mah, ini kalo diberesin mo kapan kelarnya?" gerutu Mila.
"Gue lupa nyuruh bi Inah kesini, udah gak usah beresin tar suruh Bi inah aja, mending istirahat dulu aja, gue juga cape nih dari tadi beberes mulu"
Gilang masuk ke kamar dan menjatuhkan dirinya ke kasur seketika itu juga dia terlelap.
Mila duduk disebuah kursi kemudian melihat sekeliling, 'Gak bisa kayak gini gue' kata Mila dalam hatinya. Dia memang tak terbiasa dengan keadaan rumah yang berantakan, sedari kecil dia sudah diajarkan untuk membersihkan dan merapihkan rumah.
Akhirnya diapun bangkit dari duduknya, menyemangati dirinya sendiri bahwa dia pasti bisa merapihkan semuanya namun dia kebingungan untuk memulai dari mana. 'apa yang harus gue bersihin dulu'
Walaupun Mila sudah mengenal Gilang lebih dari 20 tahun hidupnya namun dia sama sekali tak menyangka bahwa dia sejorok ini.
Bayangkan saja saat ini keadaan yang ada di depan Mila, meja berantakan penuh dengan buku dan berkas-berkas yang Mila tidak tau masih terpakai atau tidak. Belum lagi sampah makanan yang tercecer dimana-mana. Ada beberapa baju, jaket, hodie yang di letakkan di sandaran sofa di gantung sembarangan, walaupun dapur terlihat tidak pernah digunakan namun banyak bekas bungkus makananan siap saji dan sisa-sisa makanan yang tak habis hingga berlumut dan menimbulkan bau yang tak sedap.
Mila menetapkan hatinya untuk memulai, pertama dia merapihkan buku-buku dan berkas yang dimeja, dia tidak berani membuang apapun karna takut bahwa itu berkas penting, dia hanya menumpuknya menjadi satu lalu meletakkan semuannya di rak buku yang memang tersedia disudut ruangan.
Setelah itu dia memunguti sampah-sampah dan mengumpulkannya menjadi satu di sebuah kantong plastik bekas, mengikatnya dan meletakkan di pintu keluar. Kemudian mengambil pakaian yang berantakan tadi dan menaruhnya, masukkan ke mesin cuci lalu menyalakan tombol untuk mencucinya. Sambil menunggu cucian dia menyapu setelah itu mengepel.
'Ya ampun gue udah bisa ngeliyat kehidupan gue selanjutnya seperti apa'
'*Masya Allah, gak tau gue ni orang joroknya minta ampun'
'Untung ganteng lu, coba kalo enggak mati aja gue'
'Ini sampah bekas kapan kali, baunya Astagfirullah'
'Kalo bukan karna gue juga bakal tinggal disini mangkanya gue mau bersihin'
'Ya Allah tolongin aim ya Allah*'
itu geruta Mila didalam hatinya yang dia luapkan sambil membersihkan dan merapihkan. Sepertinya jiwa emak-emaknya udah keluar, walau ngomel tetep aja dikerjain. Cung ah yang emak-emak......