NovelToon NovelToon
Muhasabah Cinta

Muhasabah Cinta

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Berbaikan / Tamat
Popularitas:548.8k
Nilai: 5
Nama Author: Uki Hara

Follow instagram @Ukiii__21 untuk info karya ini

ANGKASA SERIES
Seri 1: MENIKAHI TEMAN KELAS (END)
Seri 2: MUHASABAH CINTA (END)
Seri 3: (BUKAN) PERNIKAHAN SEMPURNA

***

Kegagalan pernikahan di masa lalu menghentikan niat Angkasa menikah lagi. Kehidupannya yang dulu kosong dan tanpa arah seolah terulang kembali, bahkan lebih buruk.

Angkasa tenggelam dalam kesedihan, hingga Sakti yang merupakan sahabat sejak SMA rela melepas kesenangan demi kesembuhan dirinya.

Kehidupan berjalan sesuai takdir. Bersama Sakti, Angkasa mulai membangun mimpinya yang pernah hilang. Namun, saat semua fokus Angkasa terarah pada pekerjaan dan pencapaian, mantan istrinya kembali.

"Kasa, kamu ingat aku?" Wanita bermata bulat dengan cadar hitam di wajahnya itu bertanya pelan.

Bibir Angkasa tertutup rapat, tetapi hati berbisik, "Bagaimana aku bisa lupa saat tajamnya namamu mampu memutus semua syaraf di kepala sampai aku nggak ingat lagi kehidupan yang sebenarnya, Myria?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uki Hara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

“Halo, aku Myria. Karyawan baru hari ini, mohon bantuan ke depannya kalau ada kendala.”

Satu tim desainer menanggapi ramah sesi perkenalan pagi jelang siang itu. Mereka saling menyambut dan menerima kehadiran Myria. Kemarin sore, Myria baru dapat kabar untuk bekerja di perusahaan Angkasa. Hal itu tentu tidak ditolak sama sekali.

“Oke, kamu bisa mulai bekerja. Duduk di sebelah Faiza.” Ketua tim memberi intruksi sembari menjulurkan tangan ke depan.

Seorang wanita bercadar hitam melambai pada Myria. Dari gerakan mata yang menyipit, Myria tahu dia tersenyum.

Myria menghampiri wanita tadi, lalu segera duduk di kursi sebelah, tepat di kursi paling ujung berhadapan dengan satu teman yang lain.

“Panggil aja aku, Iza. Kayak yang lain.”

“Oh, iya.” Myria patuh. Dia nyalakan komputer yang ada di mejanya sendiri sebelum memulai pekerjaan. “Apa yang bisa aku bantu, Iza?”

“Kebetulan sekali, kamu bisa pahami desain yang aku tangani sekarang. Ini proyek terakhir tanganku dan teman teman sebelum aku pergi.”

Myria mengerutkan kening. “Pergi? maksudnya?”

“Resign. Aku mengundurkan diri dan kamu penggantinya.”

“O-oh, gitu, ya. Aku baru tahu.”

Myria yang gagap terlihat lucu di mata Faiza hingga membuat wanita itu kembali tersenyum tipis. Mereka melanjutkan pekerjaan sembari berdiskusi.

“Berapa umurmu?” Di tengah keseriusan, Faiza bertanya pelan. Suaranya lembut dan enak didengar menurut Myria.

“Dua tujuh tahun ini.”

Kepala Faiza mengangguk. “Masih muda, satu tahun di bawahku.” Dia kembali fokus dengan slide-slide gambar dari layar monitor. Myria di sampingnya memperhatikan saksama karena  harus pandai mengambil ilmu selama beberapa hari ke depan.

“Apa ini rancanganmu semua?”

“Enggak semua. Kita bekerja dalam tim, satu rancangan bisa saja dari pemikiran tiga atau lebih banyak orang.”

Myria manggut-manggut. Setiap kursor bergerak, dia lihat tanpa ingin terlewat.

“Ini hanya salah satu rancangan yang ditolak Pak Dirut kemarin. Sebenarnya nggak ditolak sepenuhnya, hanya butuh penyesuaian dan detail lebih matang buat catalog periode yang akan datang. Pihak HRD pasti udah jelasin alur perusahaan ini gimana.”

Pak Dirut? Pasti Angkasa yang dimaksud sama Faiza ini.

Bukannya menanggapi omongan Faiza, Myria justru membatin. Lagi-lagi pikirannya penuh akan Angkasa, padahal dia bilang niat bekerja untuk tambah pengalaman. Memang hati dan pikiran wanita sering tidak sinkron.

Belum sempat selesai dengan tebak-tebakannya sendiri, sosok yang dibicarakan dalam hati itu muncul mendadak. Myria refleks turun dari kursi dan sembunyi di kolong meja. Entah, tingkah macam itu yang seharusnya tidak pantas dilakukan apalagi sebagai karyawan baru.

“Myria, kamu kenapa?”

Myria membisu. Dia justru membuat Faiza bingung dengan menggeleng beberapa kali.

Faiza yang panik karena takut rekan kerja barunya itu kenapa-kenapa, dia inisiatif memanggil ketua tim. “Pak David, tolong ini ….”

David, ketua tim desain yang sedang bicara pada Angkasa menoleh. Bahkan Angkasa juga ikut melakukan hal yang sama karena teriakan Faiza cukup mengundang perhatian.

“Eh, Iza ….” Buru-buru Myria bangkit, tetapi sayang ketua tim dan pimpinan perusahaan sudah berdiri tepat di depannya.

Dua pasang sepatu hitam ada di hadapan Myria. Dia mendongak perlahan, lalu mendapati wajah Angkasa. Rasanya, Myria ingin mengecil seperti semut lalu kabur.

“Myria, apa yang kamu lakukan?” David bertanya heran. Lembaran kertas ada di tangan kanan pria itu, sehingga tidak bisa membantu karyawannya berdiri.

“Ah, itu, Pak … tidak, saya hanya mencari pensil yang jatuh tadi.” Alasan klasik dan sulit diterima terlontar begitu saja. Setiap bertemu Angkasa, Myria merasa langsung jadi sedikit bodoh. Padahal dia harus memunculkan kesan baik sebagai karyawan baru.

Tubuh berbalut gamis hitam itu berdiri sempurna. Myria menunduk dan enggan menegakkan kepala. Dua tangan di samping badannya meremas rok pelan hingga tanpa dia sadari, hal itu justru menjadi perhatian Angkasa.

“Kamu karyawan baru hari ini?” Suara Angkasa mengudara. Nada bicaranya datar tanpa ada kesan ramah apalagi akrab.

“Benar, Pak. Namanya Myria.” David yang menjawab.

“Aku tanya padanya, bukan padamu, Vid.”

Ganti David yang kehilangan kata-kata. Pria itu mengangguk sungkan. “Maafkan saya, Pak. Myria, jawab pertanyaan Pak Kasa,” katanya memberi intruksi.

“Be–benar, Pak. Saya baru hari ini mulai kerja.”

Dua insan yang dahulu pernah satu kelas bahkan satu kamar dan tempat tidur itu, kini terasa asing karena salah satu dari mereka telah mendirikan sekat pembatas. Angkasa yang memulai dan Myria hanya mengikuti sikap pria itu agar tidak terkesan murahan.

“Ikut ke ruanganku agar kamu tahu peraturan di perusahaan ini.”

Semua tim yang jadi saksi kericuhan kecil itu langsung kaget. Bahkan Faiza dan David sama-sama hendak menghalangi.

“Biar saya yang memberi arahan padanya, Pak.” David menengahi karena sadar Myria adalah bawahan yang menjadi tanggung jawabnya.

“Benar, Pak. Biar saya juga membantunya menjelaskan apa saja yang harus dilakukan di sini,” kata Faiza karena ikut khawatir.

Akan tetapi, meski dibela dan berusaha diselamatkan oleh rekan satu timnya, Myria tetap diminta ke ruang pimpinan. Angkasa sudah tak menggubris dan melenggang lebih dahulu meninggalkan tempat.

“Myria, ada-ada saja kamu.” David mendesah frustrasi. Ketika Angkasa sudah tidak mau mendengar apa pun, saat itulah nasib para karyawan seolah di ujung tanduk.

Ruangan dingin dan sunyi membuat Myria tegang. Kepala yang terus menunduk dengan jantung berdegup brutal membuatnya ingin hilang dari peradaban. Padahal, bukankah seperti ini yang diharapkan sejak kemarin? Sesuatu yang mendekatkannya pada mantan suami.

Masih berdiri di depan meja Angkasa tanpa berani duduk karena tidak dipersilakan, Myria mengunci mulut. Tidak sedikit pun dia ingin bertanya atau izin mengubah posisi.

Angkasa ada di balik meja kerjanya. Kemudian, pria itu melempar lembaran kertas ke meja. “Ambil itu dan pelajari.”

Myria melangkah dua kali. Jemarinya yang lentik menarik kertas-kertas dan mulai membaca. Beberapa kali keningnya mengerut, lalu kembali normal dan mengerut lagi.

“Maaf, Pak, apa memang seperti ini aturan perusahaan?”

“Iya. Apa kamu keberatan?”

Ingin menolak, rasanya tidak mungkin. Myria malas untuk memperumit keadaan. Meski aturan yang tertulis agak aneh, dia tetap bersedia patuh.

Tidak ada pembicaraan lebih banyak, Myria pamit kembali ke ruangan karena harus bekerja. Sampai di meja kerjanya, wanita itu disambut banyak pertanyaan dari teman-teman.

“Jam kerja, bukan waktu mengobrol. Ingat  deadline.” Obrolan belum terjadi, ketua tim sudah mengultimatum. Sengaja David melakukan itu karena tidak mau divisinya kacau karena satu kesalahan dari bawahan.

“Apa kamu dimarahi Pak Kasa?” Faiza berbisik. Dia yang paling dekat dengan Myria sehingga mencuri-curi kesempatan.

Myria menggeleng.

“Alhamdulillah kalau gitu.”

“Tapi, aku mau nanya sesuatu. Emangnya kalau karyawan baru disuruh siapin susu di meja Pak Kasa tiap pagi, ya?”

Dua alis Faiza langsung tertaut. Wanita itu ganti menggeleng. “Siapa yang suruh? Nggak ada aturan kayak gitu. Lagian jarang ada yang masuk ruangan Pak Kasa kalau bukan Pak Sakti sama OB.”

Mendengar penjelasan Faiza, batin Myria ingin mengomel. Dia sadar sekarang jika tengah dikerjai mantan suami.

Apa, sih, maksudnya? Dasar cowok aneh. Kasa, aku aduin kamu ke Bunda.

1
Uti Cimoy
Hai kakak author, aq suka tulisan mu. ini lagi baca maraton
ig: ukiii__21: udah tamat di f1zz0 kak
total 3 replies
Sri Puryani
kok gt sih sakti ....mbok yo mendekati faiza kasihan kan
Sri Puryani
ya deketin faiza dong sakti.....msk tanya sama ibrahim
Sri Puryani
myria egois....mementingkan diri sdr
Sri Puryani
kok rasanya gk percaya ya myria bs mikir gt, kirain ilmu agamanya tggi itu pinter ternyata.......
kenapa bs menekan suaminya spt itu? kyk gk menghormati & menghargai suaminya
Sri Puryani
thor faisa srh nolak nikah sama angkasa blg aja mo nikah sama sakti biar myrianya gk ngeyel
Sri Puryani
oalah myria ....jd orang kok gk sabar....br jg sethn blm punya anak dah bingung, aq aja 5 th br punya anak gk papa 🤭
Sri Puryani
oh faisa kirain friska ....ya udah faisa sama sakti aja
Sri Puryani
udah sama sakti aja friskanya
Sri Puryani
semangat angkasa myria
Sri Puryani
jangan" myria lg tekdung😀
Sri Puryani
sdh jd suami panggilannya dirubah dong my....
Sri Puryani
ternyata dendam
Sri Puryani
kyknya ada yg dendam sama angkasa
Sri Puryani
Luar biasa
Sri Puryani
ikut seneng baca 😀
Sri Puryani
kok gk rela ya thor angkasa sama orang lain
Sri Puryani
oalah thor kok gt nasib angkasa....kasihan thor, hukum bpk nya myria aja thor
Sri Puryani
ortu yg egois....myria lakukan sesuatu spy ayahmu kehilangan dirimu
Sri Puryani
kyknya yg dtg ortu angkasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!