NovelToon NovelToon
Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot (But Lillaahita'Alaa)

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:514.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Oot Nasrudin

Judul: "LOVE IS NOT BASED ON BIBIT BEBET BOBOT" [Linbo BBB]

Pada umumnya, cinta selalu memandang harta, tahta, dan kasta. Lalu, bagaimana dengan Khumaira? Seorang gadis biasa, tidak kaya, dan berasal dari keluarga yang amat sederhana. Yang tengah patah hati lantaran bibit-bebet-bobot yang tidak sepadan. Adakah kiranya seseorang yang akan mencintai dia tanpa melihat latar belakangnya?


Dari sinilah, kisah "Love Is Not Based On Bibit Bebet Bobot" bermula ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oot Nasrudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maira Sungguh Tidak Apa-Apa

...☕🍜Bukan aku tidak percaya. Melainkan, karena aku mengerti, bahwa yang memiliki masalah bukan hanya aku. Maka, aku memilih untuk menyimpannya sendiri🍜☕...

Malam semakin pekat, bintang dan bulan sedang enggan menampakkan diri. Dinginnya angin malam menerpa wajah dua gadis yang beberapa menit lalu basah oleh hujan yang berasal dari mata.

Kini, butiran air sudah tak lagi menggenang di pelupuk mata. Kedua gadis itu termenung, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hingga cahaya lampu motor mulai menyusup halaman kontrakan yang kemudian membuyarkan pikiran dua gadis itu.

Seorang pria berusia 24 tahun mengulas senyuman. Dua gadis itu membalasnya, seolah beberapa menit lalu tidak terjadi apa-apa.

Setelah memarkirkan motor, Rizky menghampiri Maira dan Salwa yang tengah duduk menekuk lutut. Pria itu menyodorkan kantong plastik berisi 3 bungkus kebab. Salwa antusias mengambil alih kantong plastik itu dari tangan Rizky.

"Maaf, ya, lama. Lumayan rame soalnya," ujar Rizky seraya duduk di samping Salwa, tangannya sibuk melepas alas kaki.

Maira dan Salwa kompak tidak mempermasalahkan.

"Oh iya, itu ada oleh-oleh dari si mama." Salwa memberitahu, tangan kirinya menunjukkan kotak bolu berwarna ungu. Sedangkan tangan kanannya memegang kebab yang baru saja dibuka, kemudian ia melahapnya.

"Wah! Oleh-oleh dari Bogor. Kapan mama ke sini?"

"Kemarin malam. Berhubung kemarin tidak ada acara nongkrong, jadi, kuberikan malam ini." Salwa melirik Maira yang tengah sibuk dengan kebabnya.

Melihat Salwa melirik Maira, sejurus kemudian Rizky ikut melempar pandangan juga pada gadis itu. Yang dipandang menyeringai.

"Segera dihabiskan, ya. Itu tidak boleh lebih dari 3 hari."

Rizky mengangguk, meraih kotak bolu, memotongnya menjadi beberapa bagian. Ia berusaha mengabaikan situasi yang mencurigakan.

Sebelum ke pembicaraan inti, mereka menikmati hidangan terlebih dahulu. Salwa dengan lahap menghabiskan kebabnya lebih cepat. Ngomong-ngomong, lahap dan lapar itu selalu bergandengan tangan. Mungkin setelah menangis dan berkeluh kesah membuat gadis berambut sebahu itu merasa terkuras separuh energinya. Memang bukan ide bagus kalau menangis lama-lama. Bisa-bisa energinya terkuras semua, lalu jatah kebab Maira dan Rizky bisa dirampas habis oleh Salwa.

Salwa mencomot bolu yang sudah dipotong-potong oleh Rizky. Ia menyeringai senang, menggigit bolu berlapis keju itu dengan lahap. Maira cengengesan melihat tingkah sahabatnya.

"Bolu ini sudah halalan tayyiban, Sobatku!" ujar Salwa seraya memasukkan potongan bolu.

Ia tampak senang hati melahapnya, pasalnya Rizky sudah menyantap bolu itu. Jadi, sudah tidak melanggar peraturan mamanya yang pantang ia langgar.

Maira menahan tawa, mulutnya mengunyah gigitan kebab yang terakhir. Sementara Rizky senyum-senyum menyaksikan tingkah dua gadis itu.

"Memangnya, sebelumnya bolu ini haram?" Rizky yang belum paham pun bertanya, ingin tahu.

Salwa lantas menepuk bahu Rizky, ia berusaha menelan dengan baik bolu yang memenuhi mulutnya.

"Apa kamu lupa? Undang-undang nomor 1 pasal 1 ayat 1, di mana telah dibuat peraturan bahwa setiap makanan yang diberikan oleh mamaku belum halal dimakan oleh anaknya sendiri sebelum salah satu di antara kalian mencobanya terlebih dahulu. Undang-undang ini sangat keramat! Tentu saja aku tidak boleh lupa!" tutur Salwa, hampir tanpa spasi. Bibir mungil itu memaparkan dengan lancar jaya seperti jalan tol.

Maira menggelengkan kepala mendengar penuturan sahabatnya, ia meletakkan botol softdrink yang baru saja ia minum.

"Hih dasar, kirain apa." Pria berusia 24 tahun itu berkata sembari mengacak-acak rambut gadis yang tadi riuh bertutur.

Maira mengulum senyum menyaksikan Rizky mengacak-acak rambut Salwa. Ia melihat ada perasaan lebih dari sekadar gemas saat pria dua tahun lebih muda itu mengacak-acak rambut sahabatnya.

Namun, sayangnya gadis berambut sebahu itu sama sekali tidak menyadari. Dia malah tergelak, sibuk menertawai gurauannya sendiri. Sehingga ia tidak melihat sorot mata penuh cinta dari pria itu. Jangan-jangan keduanya sama-sama tidak menyadari jika ada perasaan yang tumbuh di hatinya lebih dari sekadar sayang antar sahabat?

Gadis berjilbab warna mustard itu memandangi dua sahabatnya, ia membiarkan perasaan itu tetap tumbuh hingga keduanya saling menyadari. Untuk orang berhati baik dan tulus, biarkan mereka menemukan jalan cintanya sendiri. Entah akan seperti apa nanti ketika akhirya perasaan itu diungkapkan. Apa pun, semoga akhirya sama-sama menemukan kebahagiaan. Demikian yang ada di benak Maira.

Salwa memperbaiki anak rambut yang tadi diacak-acak oleh Rizky. Gadis itu memang memiliki pesona tersendiri, wajahnya yang eksotis, sifatnya yang selalu sok kuat, senang bergurau, sedikit jahil, jika sudah bicara ia berisik sekali, memiliki kemampuan berbicara dengan kecepatan 120km/jam, dan terkadang muncul sikap tegasnya. Mungkin bawaan diri sebagai seorang polisi.

Meski begitu, Salwa nyaris tak berani melawan orangtuanya. Hanya sebatas pulang terlambat saja, itupun hal yang cukup dirahasiakan. Pasalnya ia tinggal sendiri di kontrakan, tentu saja orangtuanya tidak tahu menahu, lagi pula orangtua Salwa percaya saja, sebab, di sebelahnya ada Maira dan Rizky yang dikenal sebagai sosok yang baik. Orangtua Salwa percaya, bahwa kebaikan Maira dan Rizky dapat memberi pengaruh baik untuk putri semata wayangnya.

***

"Jadi, gimana, Mai?"

Salwa mengingatkan Maira yang katanya hendak menyampaikan sesuatu. Rizky siap menyimak. Maira memperbaiki posisi duduk.

"Aku akan pulang," ucapnya.

Mereka bertiga saling memandang, sejenak napas tertahan.

"Aku akan pulang kampung." Maira mengulangi ucapannya.

Samar-samar napas kembali dihembuskan. Raut wajah Salwa dan Rizky pasrah dengan apa pun alasan yang akan disampaikan Maira. Ini hanya sekadar pulang ke kampung halaman, bukan ke kampung akhirat. Tapi, wajah muda-mudi itu tampak harap cemas.

"Kenapa, Kak?" Rizky bertanya, ingin tahu.

Maira terdiam sejenak. Lalu ungkapnya, "Bapakku sakit ...." Seperti ada yang ingin dilanjutkan, namun, tampaknya ia berpikir cepat dan memilih untuk tidak mengungkapkan. Sebuah senyum menggantung di sudut bibirnya.

"Sakit apa?" Kini Salwa yang bertanya.

"Sakit biasa, kok. Tapi, aku ingin pulang. Kasihan, 'kan? Walau sebiasa apa pun tapi tidak ada yang membantu mengurusnya. Zidan sekolah, ia tak bisa menemani bapak full time."

Salwa dan Rizky memafhumi. Mengingat bahwa orangtua Maira sudah bercerai, jelas tidak bisa berkata 'Kan ada ibu?'

"Semoga lekas sembuh," kata Salwa, turut prihatin.

Ia tersenyum berusaha mencairkan suasana. Ia menatap manik mata Maira. Mencoba mencari tahu apa yang tersembunyi di sana. Salwa tak bisa percaya begitu saja. Sangat jelas bahwa tadi ada sesuatu yang ingin diungkapkan lebih dari sekadar bapak sakit. Bahkan, ia yakin, Rizky pun ikut merasakan kejanggalan pada raut wajah Maira.

"Kapan Kak Mai berangkat?"

"Nunggu pelanggan bisa ambil jahitannya, sudah ku selesaikan hari ini. Yah, aku sih sudah bilang sebisa mungkin hari besok orangnya sudah bisa ambil. Jadi, besok lusa aku bisa berangkat," terang Maira, ia tampak tenang. Sudah sangat yakin dengan keputusannya.

Salwa dan Rizky mengangguk-anggukan kepala. Beberapa saat saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Malam bulan ke tiga. Akhirnya bulan berbentuk sabit itu menampakkan diri, walau masih malu-malu bersembunyi di balik awan. Seolah sedang mengintip-intip tiga muda-mudi yang tadi riuh berbincang, kemudian lengang.

Awan hitam tempat persembunyian si bulan sabit pun beranjak. Meninggalkan bulan sabit yang sedari tadi mengintip-intip malu di belakangnya. Tampaklah si sabit dengan rona cahaya kekuning-kuningan. Masih dengan malu-malu si sabit menyapa seluruh makhluk di permukaan bumi, terutama pada gadis berjilbab warna mustard. Yang sedari tadi tampak menanti dirinya keluar dari persembunyiannya di balik awan.

Seulas senyum tampak di sudut bibir Maira. Ia menatap bulan sabit yang kini tampak dengan jelas menghiasi cakrawala.

"Selalu ada sesuatu yang tidak dapat diungkapkan, bukan? Aku tidak tahu, entah mengapa aku selalu nyaman seperti ini. Walau kadang ada rasa ingin menyampaikan, tapi, saat itu juga perasaan takut akan banyak hal muncul secara bersamaan. Biar saja kusimpan sendiri. Aku tidak apa-apa," kata Maira dalam hati.

Senyum di bibirnya semakin mengembang, ia memejam beberapa saat. Lalu menghela napas perlahan. Kini, ia merasa benar-benar tidak apa-apa.

Baginya, untuk apa terlalu meratapi sesuatu yang memang sudah tertulis di Lauh mahfudz? Sebanyak apa pun air mata yang mengalir tetap tidak dapat menghapus tinta yang telah mengering pada lembaran-lembaran yang sudah dilipat. Setiap masalah adalah dijalani, dihadapi. Bukan diratapi.

Maira sungguh tidak apa-apa.

***

👄: "HADOOOHHH! Ini ceritanya gini-gini aja? Nggak ada konflik yang greget gitu?"

☕: "Kan dari awal sudah dibilang, Anda kalau bukan penikmat aksara, silakan angkat jempol saja. Tidak perlu misuh-misuh (dalam hati ataupun dalam komentar). Anda kalau mau nyari cerita dengan konflik yang berat, pelakor, pebinor, dipaksa, memaksa, terpaksa memaksa, adegan 69, dan sejenisnya maka mohon maaf sekali, wahai pembaca yang budiman dan pakdiman, sungguh! BUKAN DI SINI TEMPATNYA." 🙂

1
T.N
eemm... morus 🤭
matcha
duuh mbk Maira ini kalem2.. sindirannya kyk sabetan pisau.. wkwkwk
Santi Herman
bagus
Oh Dewi
Mampir ah...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Cancer
😄 aku suka gaya maira
hoomano1D
bukan meminang cucu kali thor,
menimang alias menggendong..
meminang kan tugasnya juan
hoomano1D
maaf ya thor, gw adalah golongan pembaca yg selalu bahagia. kalo gak bahagia, gw udh uninstall apk nt ini
hoomano1D
yg janji gw ada bukunya. emang keren
hoomano1D
umbel sing kuning keijoan kayane
hoomano1D
hmmm.,
malah curcol
hoomano1D
eh, bukannya punten yak?
hoomano1D
gw anggota klub tinggal baca aja nggak usah protes
hoomano1D
ganti namanya:
calon author famous
ASA
Part ini sungguh 🥺🥺🥺
ASA
masih betah di sini
Hamano Michiyo
wahh thor,,gimana caranya nyusun kata2 sebagus itu??bisa baginya ilmunya gak thor?
jadi inget sama novel lawas..yg percakapannya emang dikit dan lebih bnyk narasinya...tapi setiap kalimatnya bermakna banget....
ApriL
sukaa 🥰🥰 auto pencet favorit..
gulaJawa🐏
hiyayyay baca lagi di tahun 2022,
nyari judulnya susah, gak inget full judulnya,, yg ke inget cuma bibit, bebet, bobot😆 syukur Alhamdulillah ketemu🥺

kk othor bikin karya lain Napa di noveltoon ini🙏😍, sungguh cara penyampaian ceritanya 👍 the best.

ya udah segitu aja deh cuap2 nya
sehat2 ya kakak author 🤗🌵
salam dari green💚🌵
assalamu'alaikum 🙏🤗
Ani Dyah
masih kurang "kue satu" oleh2nya 👍
Ani Dyah
kota beriman....kebumen kah? 😀😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!