NovelToon NovelToon
Madu

Madu

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Fantasi / Tamat
Popularitas:1.4M
Nilai: 4.9
Nama Author: Noktafia Diana Citra

Aisyah, seorang gadis yang memilih berhijrah dan menutup wajah nya dengan selembar kain (cadar) semenjak SMA. Gadis yang membuat banyak laki-laki ingin menikahi nya, namun lagi-lagi ditolak oleh nya.

Kemudian, hatinya terperangkap oleh seorang pemuda bernama Fatih, yang ternyata adalah dosen baru di Kampusnya. Meneguk manisnya rumah tangga, hingga akhirnya harus berpisah dengan Fatih suaminya dengan cara yang sangat menyakitkan.

Cerita lengkapnya akan temen-temen baca di novel "MADU" ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noktafia Diana Citra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Malam ini, aku dan Aldi serta Umi dan Abi menghabiskan waktu untuk makan bersama dengan lauk ikan goreng dengan kuah santan. Ternyata Abi dan Aldi membawa hasil memancing dari kolam belakang rumah paman, dan hasilnya lumayan banyak. Alhamdulillah.

Setelah makan bersama, dan membereskan sisa piring dan gelas yang kotor. Aku lantas bersiap-siap untuk tidur. Sebelum tidur, aku mengatur alarmku tepat pada pukul 03:00 dini hari. Aku ingin shalat tahajud dan shalat istikharah. Ingin quality time dengan Rabb yang telah Menciptakan diri ini.

Seperti biasanya, selesai wudhu dan membaca doa tidur. Aku lantas segera memadamkan lampu kamar. Karena memang aku termasuk orang yang tidak bisa tidur jika ada cahaya. Lagi pula Rasulullah menganjurkan untuk memadamkan cahaya, dan menurut sisi medis, saat tidur dalam kondisi gelap akan memudahkan tubuh dalam meregenerasi sel. Setelah lampu sudah padam, aku kemudian membentangkan selimut agar menutupi seluruh tubuhku. Udara malam ini cukup dingin.

Sebelum pukul 03:00, tepatnya saat pukul 02:45 aku terbangun karena ingin buang air kecil. Aku sekalian mengambil wudhu. Lagi pula sebentar lagi waktunya tahajjud dan shalat istikharah, jadi sekalian saja mengambil air wudhu agar tidak usah bolak-balik. Aku kemudian menuju kamar setelah selesai wudhu.

Aku menggunakan mukenah yang aku gantungan dibalik pintu kamarku. Aku menggelar sajadah berwarna coklat muda dengan gambar kubah masjid, dan membuka mushaf Al-Qur'an terjemahahan berwarna pink milikku. Sambil menunggu pukul 03:00 tepat pikirku. Ada baiknya aku membaca Al-Qur'an saja.

Malam Ini aku membaca QS.An-Nisa dari ayat 1-10 lengkap dengan terjemahannya. Aku memang terbiasa membaca Al-Qur'an per ayat dan kemudian membaca terjemahan nya. Karena dengan membaca ayat dan artinya, maka aku akan tahu bagaimana Allah begitu sangat mencintai hamba-Nya.

"Audzubillahi minasyaitan nirrajim

Bismillahirrahmanirrahim...,". Aku mulai membaca dan murojaah QS.An-Nisa : 1-10.

Tepat ketika selesai membaca ayat ke-10. Alarm handphone berbunyi nyaring. Aku kemudian meraihnya dan mematikan alarm itu.

Kemudian lantas menunaikan shalat tahajjud disambung dengan shalat istikharah.

Setelah selesai shalat, aku berdoa kepada Allah agar diberikan kemantapan.

"Ya Allah ya Rabb. Bismillah dengan menyebut asma-Mu ya Allah. Aisyah memutuskan akan menerima ustadz Fatih sebagai pelengkap separuh agama hamba. Aisyah mohon ya Allah, bimbing Aisyah menjadi istri yang taat kepada suami dalam kebaikan, istri yang bisa menjadi penyejuk jiwa suami Aisyah, istri yang mampu mengingatkan suami dan keluarga Aisyah dalam ketaatan kepada-Mu dan menjalankan sunnah-sunnah nabi-Mu. Istri yang bisa menjaga harta dan kehormatan suaminya. Jika engkau kehendaki Aisyah kelak menjadi seorang ibu, maka jadikanlah Aisyah seorang ummah yang mampu sabar dan penuh cinta kasih sayang dalam mendidik anak-anak Aisyah dalam ketaatan kepada-Mu, dan kuatkanlah Aisyah dalam mengahadapi badai-badai rumah tangga yang akan Asiyah hadapi kelak. Aamiin,".

"Rabbana atinna fiddunya khasanah wa fil akhirotihasanah waqina 'adzabannar,".

“Ya Allah, berikanlah kepada Kami kebaikan di dunia, berikan pula kebaikan di akhirat dan lindungilah Kami dari siksa neraka,". (QS. al-Baqarah : 201).

Aku tak mampu menahan bulir air mataku yang semakin banyak. Hingga akhirnya jatuh lah mereka membasahi kedua pipiku. Aku biarkan diriku dalam keadaan ini selama beberapa menit. Aku tak menyangka, sebentar lagi akan mengambil keputusan besar yang akan merubah segalanya.

Bimbing Aisyah ya Allah ..., bimbing Aisyah ya Allah... Tak henti-hentinya aku mengucapkan itu, berdoa agar Allah membimbingku.

Pukul 04:01, adzan subuh berkumandang. Aku mengusap air mataku menggunakan tisu, dan kemudian melepas mukenahku. Aku ingin mengambil air wudhu lagi, setelah menangis. Rasanya akan jauh lebih tenang jika wajah tersentuh percikan air wudhu lagi.

Ketika memasuki ruang keluarga, kudapati Umi, Abi, dan Aldi sudah berlalu keluar rumah menuju masjid dekat rumah. Aku melihatnya dari jendela rumah.

Aku melanjutkan langkah kaki untuk mengambil air wudhu, dan segera kembali ke kamar untuk menunaikan shalat subuh. Setelah shalat subuh. Aku kemudian menunggu Umi dan Abi pulang dari masjid. Sebelumnya, aku menyiapkan 3 cangkir teh manis hangat untuk menemani. Aku berniat akan mengutarakan keputusanku sekarang kepada Umi dan Abi. Lebih cepat lebih baik pikirku. Setidaknya agar tidak menjadi beban lagi jika sudah disampaikan.

"Assalamualaikum,". Terdengar ucapan salam. Alhamdulillah Umi, Abi, dan Aldi sudah pulang dari masjid. Benar saja, pintu samping rumah terbuka, dan muncul lah Umi, Abi dan Aldi.

"Loh, kakak tumben pagi-pagi udah bikin teh manis hangat begini,". Tanya Umi kepadaku.

"Hehe... iya Mi, Aisyah ingin aja bikinin Umi dan Abi teh hangat. Lagi pula pasti dingin kan udara diluar sana. Apalagi semalaman habis turun hujan,". Jawabku kepada Umi.

"Oh begitu, ya ya ya,". Umi dan Abi manggut-manggut. Abi mengambil posisi dan duduk di sampingku, sedang Umi mengantarkan Aldi kekamar nya, sekaligus meletakkan mukenah yang baru saja Umi pakai untuk sholat.

"Diminum Bi tehnya. Mumpung masih hangat,". Pintaku kepada Abi, sambil mengangkat cangkir teh milikku.

Tak lama, Umi juga menghampiri aku dan Abi. Sepertinya Umi sudah tahu, kalau ada suatu hal yang ingin aku bicarakan.

"Kak, apa ada yang ingin kakak sampaikan ke Umi dan Abi ?,". Tanya Umi seraya duduk di samping Abi.

"Emm..., iya Umi, Aisyah pengen menyampaikan hasil keputusan Aisyah setelah 3 hari ini Asiyah pikirkan,".

"Oh begitu, alhamdulillah. Jadi bagaimana keputusan kak Aisyah mengenai nak Fati,". Tanya Abi penuh dengan rasa penasaran namun dengan mimik wajah yang tetap tenang dan teduh.

"Bismillahirrahmanirrahim, Aisyah sudah memutuskan untuk menerima khitbah (pinangan) dari ustadz Fatih. Aisyah mau melanjutkan ke proses khitbah nya Bi, Mi. Semoga keputusan yang Aisyah buat, Allah ridho, begitu juga dengan Umi dan Abi,". Ucapku dengan gemetar.

"Alhamdulillah ya Allah ya Rabb. MasyaAlloh tabarakallah kakak,". Ucap Umi seraya langsung memeluk tubuhku erat. Aku merasakan ada sesuatu yang menetes hingga kebahu ku.

"Umi kenapa menangis?,". Tanyaku seraya melepaskan pelukan umi dan melihat wajah umi yang sudah penuh dengan air mata. Padahal sebenarnya, aku sendiripun sedang menahan, agar air mataku tak jatuh lagi.

"Kak, Umi bahagia dan sekaligus sedih. Umi bahagia kak, karena sebentar lagi putri sulung Umi akan menjadi seorang istri dan ibu. Umi juga sedih kak, karena selepas akad nanti, surga kak Aisyah sudah berpindah. Bukan kepada Umi lagi, tapi kepada suami kak Aisyah. Dan Umi akan sangat merindukan kakak, karena kak Aisyah akan dibawa oleh suami kak Aisyah untuk menjalani kehidupan kakak yang baru,".

Tangis Umi semakin pecah. Aku sudah tidak mampu membendung air mataku lagi. Aku jatuh dipelukan Umi lagi. Aku dan Umi berpelukan sangat erat sambil menangis. Seperti dua orang yang tidak akan pernah bertemu lagi.

Aku melirik ke arah Abi. Aku melihat Abi juga menyeka air matanya. MasyaAlloh.., begitu lembutannya hati Abi, hingga menitikkan air mata. Aku kemudian memeluk Abi dan Umi. Kami bertiga saling menguatkan, tak lupa ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari mulut kami.

"Kak Asiyah. Jika kelak kaka telah menjadi seorang istri. Pesan Abi, jadikan sabar dan syukur sebagai tameng kak Aisyah dalam mengahadapi biduk rumah tangga kak. Karena semakin tinggi pohon, akan semakin besar pula ujiannya, janganlah lupa kak, untuk selalu menyertakan Allah dalam setiap langkah kaka. Abi dan Umi sayang sama kak Asiyah, dan Abi serta Umi ridho kak Aisyah menjadi istri dari nak Fatih. Semoga Allah melindungi kalian,".

Aku menyeka air mataku. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi. Rasanya sangat berat akan berpisah dengan dua manusia yang sangat aku cintai. Ya Allah..., kuatkan aku.

"Jazakumullah'khoyr Abi Umi atas segalanya. In syaaAlloh, Aisyah tetap lah Aisyah yang dulu. Meskipun status aisyah sudah berubah. Terimakasih atas segalanya Abi Umi. Asiyah sangat mencintai Umi dan Abi,".

"Sama-sama nak,". Ucap Abi dan Umi berbarengan.

Tak terasa ternyata hari sudah mulai pagi. Terlihat cahaya matahari mulai memancarkan cahaya melalui celah-celah daun. Kokok ayam semakin riuh terdengar.

"Kak Asiyah istirahat saja di kamar. Nanti biar Umi yang membereskan bekas minum nya. Kak Aisyah kayanya kurang tidur. Kantong matanya agak hitam,". Ucap Umi yang seakan mengetahui keadaan ku.

Benar saja apa yang dikatakan Umi. Sudah tiga hari ini aku kurang tidur karena memikirkan masalah ini.

"Baik Umi, jazakillahkhoyr Umi sudah mengerti,". Ucapku sambil tersenyum.

"Oh iya Abi, Aisyah bisa minta tolong untuk di sampaikan ke ustadz Fatih mengenai keputusan Aisyah tadi?,". Pintaku kepada Abi.

"Iya kak, nanti akan Abi sampaikan ke nak Fatih. Sekarang kak Aisyah istirahat saja,".

"Baik Abi. Umi Abi, Aisyah pamit ke kamar,".

"Iya kak, selamat istirahat,".

Aku lantas menuju ke kamar dan berlalu dari Umi dan Abi. Alhamdulillah, rasanya beban sebesar gunung sudah lepas dari kepalaku, ucapku lirih.

1
Elisabet Sembiring
memang nyebelin, gondok, tapi namanya cerita ya ibu, mau nyebelin author nulis ceritanya, ya tetap baca. weleh weleh.
author semangat menulis dan readers semangat membaca./Smug/
Elisabet Sembiring
awal baca, hasil sholat istikhoroh nya agak meragukan. nggak terlalu mendalam, ya kan thor
Elisabet Sembiring
jujur dong ke suami.
kata ibu mertua, harus poligami
dasar novel, bikin greget.
lanjut aku baca
Elisabet Sembiring
Luar biasa
Ciankk Arumi Kirana
nyimak
Yayuk Nuri
thor pokok nya jg pisah kn aisah ama fahmi tor aq gk trima pokok nya klu di pisah kn
Yayuk Nuri
jagan pisah kan
Yayuk Nuri
jg pisah kn aisah sama fahmi thor
Yayuk Nuri
ya kenapa fahmi tidak mau nerima panjelasan nya aisah
Yayuk Nuri
lanjut seru nih
TongTji Tea
cerai nya kapan?
TongTji Tea
telan aja sedih mu ,Syah .Aneh banget sih ini
Annasya Saila
karya yang bisa di ambil pelajaranx untuk kita menghadapi setiap ujian di dunia ini. belajar tentang sabar, ikhlas dan ridho akan setiap rencana yg Allah berikan.
Annasya Saila
sungguh tulus cinta Fahmi untuk Aisyah. di dunia di uji dg begitu dahsyatx dan kelak di akhirat akan mendapatkan kebhgiaan. pasangan dunia akhirat Fahmi dan Aisyah.
amalia gati subagio
o a lahhh, bajigur basi oroknya iblis, yach turunan gen setan he
amalia gati subagio
ye kok metong sich? bikin pesta 7hr 7mlm aza, unjuk suka cita utk hasil bajigus basi pd madu1 yg kini otw bangun dari koma o on ogeb pasrahnya jd budak nafsu lu 😁
amalia gati subagio
he? mulai menggugat taqdir neh? ojo nesu2 la bojo anyarnya sempurna toh? jalang++++ suami na bajigur tengik, klop!! yach madu 1 sih mang o on ogeb culun naif halu
Sulati Cus
innalillahi kok jd mewek begini sih pdhl udh pernah baca
amalia gati subagio
perempuan ini munafik bercadar, penipu dgn sertifikatnya bintang 100, tobatnya tobat sambal he
amalia gati subagio
kereb!!!! perempuan dewasa berpendidikan berilmu cukup, sengaja menjatuhkan harga dirinya sd -0sen, terus n terus terperangkap dlm neraka demi syurga yg tak dirindukan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!