Jadi anak dari seorang duda ganteng nan kaya raya merupakan hal yang sangat merepotkan bagi Artika, gadis manis berusia 17 tahun yang masih duduk di bangku kelas dua SMA.
Alih-alih sibuk dengan dunia percintaannya sendiri, Tika malah disibukkan dengan kisah cinta sang ayah.
Pasalnya, hampir setiap hari selalu ada wanita-wanita yang datang menitipkan salam untuk sang ayah melalui dirinya. Hal itu tentu saja membuat Artika kesal dan memutuskan untuk membantu mencarikan beliau pendamping hidup.
Pilihannya tiba-tiba tertuju pada Anissa, guru bahasa indonesia berusia muda yang langsung menarik perhatian gadis itu.
Berhasilkah Artika menyatukan mereka berdua demi kelangsungan dan ketenangan hidupnya sendirii?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim O, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Tawa lepas Ari.
Tempat makan yang ingin ditunjukkan Anissa ternyata merupakan kawasan taman jajan yang cukup terkenal di daerah tersebut. Beberapa kafe kecil terlihat berjejer menghadap danau besar nan indah di sana. Tak hanya kafe-kafe kecil, ada banyak juga restoran menenangah ke atas meski letaknya tidak tepat menghadap danau.
"Ayo, Pak, saya harap Anda berkenan makan di sini," ujar Anissa begitu Ari selesai memarkirkan mobil mereka.
"Bu Anissa sering makan di sini?" tanya Ari.
"Dulu sekali, saat saya masih kuliah dan ngekos di tempat ini." Jawab Anissa.
Ari mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka pun lantas keluar dari mobil menuju salah satu tempat makan yang tidak cukup ramai.
Melihat kedatangan Anissa, seorang wanita cantik dengan penampilan cukup berani tiba-tiba memekik kegirangan. Sembari menunjuk-nunjuk Anissa, wanita itu bergegas lari menghampirinya.
"Nissa, Nissa, Nissa, ya Tuhaaaaan!" teriak wanita cantik itu hingga membuat para pengunjung mengalihkan pandangan mereka.
Mendapat serangan mendadak dari orang dikenalnya, Anissa hanya bisa meringis dan membalas pelukan tersebut.
"Nissa, kamu apa kabar?" tanya si wanita begitu melepaskan pelukan mereka.
"Baik, Ka. Ka Inge apa kabar?" tanya Anissa lembut. Keduanya pun sempat berbincang sesaat, hingga tanpa sadar melupakan Ari yang datang bersama wanita muda itu.
Ari sendiri cukup terkejut melihat kedua wanita berpenampilan kontras itu. Pasalnya, Anissa di mata pria itu merupakan wanita anggun yang lemah lembut, berbeda sekali dengan kenalannya yang ... Ari bahkan tak sanggup berkata-kata.
Sadar bahwa dia melupakan kehadiran Ari, Anissa segera meminta maaf dan memperkenalkannya.
"Pak, ini Ka Inge, pemilik kafe sekaligus teman baikku. Beliau lah yang banyak membantuku semasa kuliah dulu." Anissa kemudian mengalihkan pandangannya pada Inge dan balik mengenalkan Ari. "Ka, ini Pak Ari, em ... rekanku."
Anissa memilih untuk tidak mengatakan hubungan keduanya demi menghindari pandangan buruk dan aneh dari Inge mau pun orang-orang lainnya
Ari menganggukkan kepalanya sekali sebelum kemudian menerima uluran tangan Inge yang halus. Sementara Inge sendiri tanpa sungkan dan malu menatap wajah Ari dengan penuh kekaguman, sembari menggenggam erat tangan besar Ari.
Anissa yang sadar bahwa Inge enggan melepaskan jabatan tangan Ari, buru-buru memberi kode pada wanita itu. Bila saja Anissa tidak menyadarkan Inge, dia pasti akan terus menggenggam tangan Ari.
"Ah, maafkan saya. Maklum, rasanya tak banyak pria tampan matang yang saya temui," ujar Inge seraya terkikik. Pergaulannya yang luas membuat Inge bisa membedakan mana pria-pria matang atau bukan.
Ari tersenyum simpul. "Tidak masalah." Jawabnya.
Mendengar suara Ari yang dalam dan menenangkan, Inge kembali mengikik. Segera dia merangkul lengan Ari dan membawa mereka berdua menuju salah satu meja makan yang masih kosong.
"Jadi, katakan apa hubungan kalian berdua sebenarnya?" Alih-alih menanyakan pesanan, Inge malah ikut duduk di sebelah Ari dan mengajukan pertanyaan demikian dengan wajah penasaran.
Anissa melotot. Dia pun dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak seperti itu, Kak!"
Mendengar jawaban Anissa, Inge tersenyum menggoda. "Ah, masa? Benar itu Pak Ari?" Kini Inge mengalihkan pandangannya pada Ari.
"Benar, kami hanya rekan kerja saja." Jawaban yang dikeluarkan Ari membuat raut antusias di wajah Inget menghilang.
"Sayang sekali, padahal kalian cocok, loh! Yah, mungkin sekarang belum terjadi saja. Jangan lupa kabari saat undang-undang ya? Aku akan mengambil papan menu dulu." Inge tertawa kecil seraya berlalu dari hadapan mereka berdua.
Mendapati tingkah ajaib Inge, Anissa berulang kali meminta maaf pada Ari. "Maafkan teman saya ya, Pak? Saya pikir, dia tidak ada di kafe. Biasanya Ka Inge baru akan pergi ke kafe pada siang hari."
Ari tersenyum. "Tidak apa-apa. Sepertinya saya paham bagaimana tabiat teman Anda itu. Justru teman seperti itu biasanya setia kawan."
Pandangan mata Anissa berubah teduh. "Ya, Ka Inge memang wanita yang sangat baik. Meski kebanyakan orang menilainya sebagai wanita tidak, tetapi dia telah banyak membantu orang, termasuk saya."
Anissa terdiam sejenak guna menjelajahi suasana kafe yang cukup banyak berubah. "Di kafe ini lah saya banyak menghabiskan waktu sambil mengerjakan tugas, dan Ka Inge sering memberi saya makan saat uang bulanan sudah menipis. Jadi, sampai kapan pun saya tidak akan pernah melupakan Ka Inge mau pun tempat ini."
Ari tertegun mendengar sedikit perjuangan Anissa semasa kuliah dulu. Dia benar-benar wanita muda yang mandiri dan kuat. Saat Ari hendak membuka suaranya, Inge kembali datang membawa papan menu sekaligus dua gelas ice lemon tea. "Gratis untuk kalian."
Ari sempat menolak, tetapi Inge dengan wajah galaknya memelototi Ari. Begitu Ari menerima minuman tersebut, wajah Inge kembali seperti semula.
Ari hanya bisa meringis melihat perubahan raut wajah Inge yang begitu cepat. Dia pandai memainkan mimik wajahnya.
...**********...
"Ah, maaf Pak, saya tidak tahu kalau Bapak biasa makan di sana. Saya malah mengajak Bapak kemari, dan bahkan bertemu dengan teman ajaib saya!" Anissa dengan wajah panik dan tidak enak hati segera meminta maaf, begitu mendengar jawaban Ari perihal tempat makan yang biasa dia kunjungi saat kemari.
Ari memang bercerita bahwa dia sering datang kemari untuk meeting atau sekadar makan malam bersama kliennya, dan tempat yang biasa dikunjungi Ari adalah salah satu restoran menengah atas di sana, bukan kafe murah pinggir jalan seperti ini.
Melihat kepanikan Anissa, Ari juga merasa tak enak hati. Dia tidak bermaksud membandingkan atau apa pun, dia hanya menjawab pertanyaan Anissa apa adanya saja.
"Sekali lagi saya meminta maaf ya, Pak," ucap Anissa. Dia bahkan mengajak Ari untuk pindah tempat ke sana, tidak peduli harga makanan tersebut bisa sepuluh kali lipat lebih mahal dari kafe ini.
"Perlu reservasi tidak Pak? Apa datang langsung tidak apa-apa? Pakaian saya tidak malu-maluin, kan?" Anissa tiba-tiba bergumam tidak jelas soal hal yang tidak penting, dan entah mengapa, kali ini membuat Ari tertawa terbahak-bahak.
Pria yang biasanya hanya menampilkan tawa kecil nan berwibawa, kini benar-benar tertawa lepas.
Hal tersebut mengejutkan Anissa seketika. "Pak," cicitnya pelan.
Ari masih tertawa selama beberapa detik, sebelum berhenti dan meminta maaf.
"Kamu ternyata panikan ya? Lucu sekali!" ucapnya spontan.
Anissa termangu. Namun, bukan pada tawa Ari, melainkan pada bahasa yang baru saja digunakan pria itu padanya.
Ari yang menyadari kesalahannya kini bergantian meminta maaf karena telah berlaku tak sopan. "Maaf, saya kelepasan bicara."
Anissa tersenyum. "Tidak apa-apa, Pak," jawabnya. "Bagaimana ketika kita di luar, panggilan formal itu kita tanggalkan saja? Mohon maaf, bukannya saya bermaksud lancang, hanya saja terkadang saya merasa tak enak menggunakannya." Entah sadar atau tidak, Anissa dengan berani mengajukan usulan pada Ari.
Ari mengangkat alisnya sedikit, lalu mengangguk sebagai tanda menerima usulan Anissa.
❤❤❤❤
Ari Annisa❤❤
mbak Author
👍❤🙏
favorit
👍❤
PaMud mampir
Selanjutnya
Ry Benci Pakpol Mampir