Sekretaris lama bernama Indira Maheswari adalah sekretaris yang memiliki kompenten tinggi walaupun penampilannya tidak menarik.Dengan kacamata super tebal dan rambut yang selalu di ikat.Indira sangat tidak menyukai bos barunya anak dari bapak Abraham yang bernama Danish Bastian Abraham karena perlakuannya yang sering membawa keluar masuk wanita cantik dan sexy di kantornya.Begitupun dengan Danish yang tidak menyukai sekretarisnya yang cupu.
Danish akhirnya terperangkap dengan sekretarisnya karena rasa tanggung jawabnya sebagai seorang pria yang telah menghamili Indira.
yuk...guys baca dan nantikan per episodenya💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Riskiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10.Direktur keuangan
Danish duduk di kursi kebesarannya yaitu kursi CEO. Ia sengaja menunggu kedatangan direktur keuangan. Beberapa menit kemudian pria tampan, namun masih tampan dan tinggi Danish tentunya, masuk dalam ruangan Danish tanpa mengetuk pintu.
" Hy pak Direktur utama, bagaimana kabarmu?lama kita tidak bertemu?" Ucap pria tersebut tersenyum meledek dan meremehkan seakan ingin menantang keberadaan Danish yang duduk santai di kursi CEO.
Dimana kedudukan yang lama ia mimpikan, dimana ia sudah penuh dengan rencana busuk untuk menggeser posisi Danish.
Ingin rasanya Danish membunuhnya sekarang juga, namun Danish tidak mau mengotori tangannya sendiri. Danish juga telah mempersiapkan trik untuk membuat anak musuhnya tersebut menyesal telah berani mengusiknya.
" Tentu sangat baik! Apakah kau tidak melihat betapa bahagianya aku duduk di kursi ini? " Ucap Danish juga ikut tersenyum lebih meledek.
" Oh benarkah? Aku rasanya juga ingin merasakan sensasi duduk di kursimu suatu saat nanti." Ucap pria tersebut yang ternyata adalah Kevin.
Tentu dia menginginkan kursi tersebut. Sudah lama ia dan ibunya menginginkan harta Abraham. Dan sekarang saatnya, Kevin beraksi dan merebut harta Abraham dari tangan Danish. Dimana Kevin juga merasa berhak mendapatkan kekayaan Abraham. Dimana seharusnya, harta Abraham adalah miliknya. Dan selamanya menjadi miliknya.
Kevin telah di kirim oleh Marisa untuk datang ke kantor atas suruhan Abraham menjadi direktur keuangan.Yaitu kedudukan yang akan menentukan masa depan perusahaan PT Fleks. Dimana tentu saja, Marisa sudah mempengaruhi Abraham untuk memasuki Kevin kedalam perusahaannya. Tentu Abraham selalu mengiyakan semua permintaan Marisa, yang Marisa tau jika Abraham sangat mencintai dirinya. Mengendalikan Abraham begitu mudah baginya.
Danish sebenarnya sangat cemas ketika Kevin ternyata diberi kedudukan sebagai direktur keuangan. Namun, jika Danish memantaunya dengan seksama mungkin Danish juga akan mendapatkan keuntungan, yaitu menghancurkan Kevin. Atau malah sebaliknya, jika Danish tidak pintar, Kevin bisa meraup keuangan perusahaannya. Danish harus berhati- hati dan terus waspada.
" Jangan bermimpi, kursi ini tidak cocok untukmu." Ucap Danish kepada Kevin yang memang tidak tau diri, menurut Danish.
Ternyata benar kata pepatah bilang, kalau buah itu tidak jatuh jauh dari pohonnya. Seperti Kevin yang ternyata sangat mirip dengan ibunya, dia haus dengan harta dan sangat licik.
"Jangan banyak bermimpi, aku sangat sibuk. Aku harap kau bisa mengelola keuangan perusahaanku dengan baik. Jika kau maen-maen. Aku tidak akan menggajimu sepersen pun."Ucap Danish mengingatkan Kevin, paling tidak harus menekannya bahwa Danish tidak mungkin mudah dipekelabuhi seperti ayahnya, Abraham.
" Hahahaha..ingat aku adalah direktur keuangan, eh salah, maksudku aku adalah adikmu. Bagaimana kau tidak menggajiku? Ayahku, Abraham sudah cukup banyak memberiku uang." Ucap Kevin tertawa meledek. Bahkan sikapnya sungguh berlagak, membuat Danish juga ikutan geram.
Danish sangat tersulut emosi ketika kaki Kevin telah di angkat ke mejanya. Entah manusia darimana asalnya, sehingga tidak mempunyai sopan santun dan kesombongan yang sangat besar.
" Keluar dari ruanganku sekarang juga!" Ucap Danish menarik kerah Kevin yang saat itu juga langsung berdiri menjinjit. Danish sudah berusaha sekuat mungkin untuk bersabar. Sikapnya sungguh keterlaluan, bisa-bisanya anak tidak tau diri ini di lahirkan.
" Tenang-tenang...aku akan keluar." Ucap Kevin berkeringat dingin. Ternyata anak mama ini hanya berani di mulut saja. Kevin membenarkan kerahnya yang sempat di tarik itu dan melongos pergi dari ruangan Danish.
Danish melihat kepergian Kevin dan beberapa saat ikut keluar juga. Danish menemui Indira yang terduduk lemas.
" Kau kenapa?" Ucap Danish menatap Dira yang terlihat pucat.
" Saya hanya sedikit pusing dan mual pak." Ucap Indira memijat sambil menekan pelipisnya.
" Apa kau perlu beristirahat di rumah?" Ucap Danish terlihat cemas dengan keadaan sekretarisnya dan tentunya tetap terlihat datar.
" Tidak pak, sebentar lagi mungkin saya akan baikan. Bapak ada perlu apa dengan saya?" Ucap Dira kepada Danish.
" E...begini, kau ikut ke ruanganku. Ada yang ingin ku bicarakan. Penting!" Ucap Danish dengan jawaban anggukan dari Indira seraya mengikuti langkah bosnya.
" Hal penting apa? Semoga saja dia tidak mengingatnya! " Batin Dira lagi- lagi langsung mengingat kejadian malam itu.
Merekapun telah sampai di ruangan Danish.
" Kau tau kan sama pria yang baru saja keluar?" Tanya Danish.
" Direktur keuangan yang baru kan pak? " Ucap Dira.
" Benar. (Indira mendekatkan telinganya ke depan Danish, begitupun Danish mendekatkan mulutkan ke telinga Indira) Kau tau dia sangat licik! Dia ingin menghancurkan perusahaan ini." Bisik Danish, padahal ruangannya kedap suara. Bisa- bisanya Danish masih berbisik.
" Apa??? Tapi dia kan masih sepupu pak Danish." Ucap Indira menjauh terkejut mendengar pernyataan Danish.
" Ya, Benar!" Danish sangat sulit membenarkan publik mengetahui jika Kevin adalah sepupunya. Padahal Kevin adalah anak haram Abraham.
" Aku sangat percaya denganmu. Aku ingin kau mengawasi dia tanpa ada sedikit pun yang terlewatkan. Dari data keuangan, pengeluaran hingga ke pemasukan."Jelas Danish kepada Dira memberinya tugas.
"Jika kau melewatkan sedikit saja, aku pastikan dia akan berhasil menghancurkan perusahaan ini." Lanjut Danish kembali mengingatkan.
" Apa? Bagaimana bisa adiknya sendiri ingin menghancurkan perusahaan ini? Entahlah, terkadang keluarga orang kaya memang serumit itu. Lebih baik menjadi keluarga biasa- biasa saja tanpa kekurangan apapun. Yang penting cukup dan bahagia. Tidak seperti mereka yang sering merebutkan hartanya. " Batin Dira.
Indira mendengarkan dengan benar walaupun ia masih juga belum paham mengapa sepupu Danish menginginkan kehancuran PT.Fleks.
...****************...
Indira mengeluarkan semua isi perutnya. Sudah beberapa kali ia bolak balik pergi ke toilet. Rasa mualnya juga belum berhenti. Ini sudah ke tiga harinya. Setelah itu ia keluar dari toilet dan bertemu karyawan yang bernama Kiki.
" Dir, kamu kenapa? kok pucet." Ucap Kiki melihat Indira, dimana wajah Indira benar- benar terlihat pucat.
" Gak tau, aku mulai tadi mual sama pusing." Ucap Indira memegang pelipisnya yang terasa berputar.
" Seperti kamu hamil aja dir, mual-mual terus. "Ucap Kiki. Pernyataan kiki itu berhasil membuat Indira mengingat tanggal datang bulannya. Dan gawat..Indira telat datang bulan, Indira langsung terkejut kembali mengingatnya.
" Emang kamu waktu hamil, sering mual-mual ya ki?" Tanya Indira penasaran dan takut.
" Ialah, sering mual. Namanya juga hamil Dir. Tapi kamu gak lagi hamil kan? " Ucap Kiki kepada Dira yang membuat Dira semakin terkejut.
" E..mungkin aku lagi masuk angin ki." Jelas Indira.
Dira berharap semoga yang diucapkannya adalah kebenaran. Buru-buru Indira meninggalkan Kiki bergegas pergi. Hatinya di selimuti rasa cemas.
Disisi lain Kevin mengamati perbincangan mereka.
" Hahaha kalau dia hamil, hamil sama siapa coba? Muka buruk kayak gitu siapa yang mau?hahaha..." Ucap Kevin tertawa meremehkan dan berlalu begitu saja.