NovelToon NovelToon
Mencintai Tentara Arogant

Mencintai Tentara Arogant

Status: tamat
Genre:CEO / Percintaan Konglomerat / Raja Tentara/Dewa Perang / Tamat
Popularitas:93.7k
Nilai: 5
Nama Author: Amelia Tan

Follow Akun Fb : Author A Amelia

BRUUKKK!!
Dhezia berbalik dengan tergesa kemudian menabrak seorang pria berseragam loreng yang sedang menerima telfon di depan toserba. Dan naas nya, ponsel merek Iphone 14 yang digenggam pria berseragam loreng itu pun terlempar ke tengah jalan raya kemudian terlindas oleh mobil picanto yang sedang melaju kencang malam itu.
"Hp saya!!!" teriak pria berseragam loreng itu.
"Arghh!! Picanto sialan!! Dan Kau!!"
Pria itu menatap Dhezia dengan tatapan tajam.
''LAKUKAN APA YANG SAYA PERINTAHKANN!!!"
Pria itu berkata dengan mata tajam dan menyala, membuat Dhezia ketakutan.
******
Dhezia Anastasya, yang sering dipanggil Dhezia, awalnya menjalani studynya dengan beasiswa di luar negeri tepatnya di Los Angeles California barusaja dipulangkan ke Indonesia karena adanya wabah yang menyerang di seluruh belahan dunia, Corona Virus. Dhezia kembali ke kota kelahirannya dan terlibat insiden dengan seorang tentara yang sedang bertugas Covid di kota kelahirannya tersebut

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amelia Tan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

10. First Kiss with Allen

"Assalamualaikum, buk!" ucap Dhezia memasuki rumahnya.

" Waalaikumsalam kak, kok lama sekali si kak? Ibuk khawatir, " kata ibunya yang sedang menunggu Dhezia di ruang tamu.

“Tuh kan ibuk sudah khawatir. Bagaimana caranya aku bisa keluar menemui Allen sehabis ini?!” pekiknya dalam hati.

"Maaf buk, tadi di Apotek antri, dan Dhezia terjebak hujan saat membeli susu beruang di toserba," ucapnya mencari alasan.

"Ini buk, susu beruangnya dan obat bapak." Dhezia menyerahkan sekantong plastik hitam berisi obat dan susu beruang kepada ibunya.

"Oh iya kak, makasih ya Kak Zia, Ibuk kira terjadi sesuatu sama Kakak tadi, yaudah Ibuk mau mengambilkan Bapak makan, terus nyuruh Bapak minum obat, kamu ganti baju dulu sana, Kak!" ucap Bu Ratia menyuruh putri sulungnya.

"Baik bu, Dhezia ganti baju dulu ya," Dhezia berkata kepada ibunya lalu memasuki kamarnya dan mengganti bajunya.

Barusaja Dhezia membuka pintu kamarnya dan hendak berganti baju, terdapat pesan masuk dari nomor baru di Whatsappnya. Dhezia segera membuka pesan itu dan seketika matanya terbelalak kaget.

(“Datang ke perpustakaan desa sekarang! -Allen”)

“Mampus gue!” Dhezia membaca pesan yang masuk di Whatsappnya. Kemudian buru buru menelfon Citra.

Dhezia mengetik nama Citra di kontak Whasapp nya, kemudian memencet tombol Call, dan berdering.

Tuuutt....tutt....

Dan Citra langsung mengangkatnya.

"Halo Zia? Sekarang?"

Terdengar suara dari arah telfon yang dituju.

"Iya, tolong jemput gue sekarang ya, Tra," kata Dhezia di telfon.

"Oke otw." Citra mengiyakan, lalu menutup telfon nya.

Sementara Dhezia buru buru mengganti bajunya yang usai terguyur air hujan, kemudian memakai parfum. Dah beres deh. Dhezia memang perempuan yang tidak menyukai jika dirinya berantakan.

***

Tak lama kemudian, Citra sampai di rumah Dhezia.

Tok Tok Tok!

"Assalamualaikum,"

"Waalaikumsalam, siapa ya?" Bu Ratia keluar dari dalam rumah melihat siapa tamu yang datang malam- malam itu.

"Hehe, saya buk, Citra." jawab Citra sembari tersenyum melebarkan bibir manisnya semanis manisnya.

"Eh, nak Citra kok malam- malam ada apa ya nak? silakan masuk dulu," ucap Bu Ratia mempersilakan Citra masuk ke ruang tamu.

"Eum itu buk, Citra mencari Dhezia. Gini buk, Citra kan selaku staff balai desa yang juga mengurus pendataan tentang COVID, nah Citra kesini mau membawa Dhezia ke Balai Desa, Buk. Soalnya Dhezia kan baru pulang dari LuarNegeri tadi malam."

Citra mencari- cari alasan agar bisa membawa Dhezia ke Balai Desa bertemu Allen.

"Jadi, maksud nak Citra si Dhezianya mau diisolasi?" Bu Ratia tampak bertanya dengan khawatir.

Melihat raut muka bu Ratia yang tampak khawatir jika Dhezia diisolasi, maka Citra buru buru menjelaskan kepada Bu Ratia.

"Eum boten (tidak), Buk. Dhezia nanti cuma saya suruh untuk mengisi data diri saja. Masyarakat Desa yang barusaja dari Luar Negeri," kata Citra menenangkan Bu Ratia.

"Bener kan, nak? Dhezianya ndak diisolasi kan?"

Bu Ratia masih bertanya kembali, seolah tidak percaya pada perkataan Citra barusan.

"Tidak, bu. Karena Dhezia sudah melakukan Vaksin saat di Amerika katanya. Dhezia juga  sehat, tidak ada tanda tanda dia batuk atau pilek, bu. Tidak usah khawatir ya bu," kata Citra yang masih saja berusaha

menenangkan Bu Ratia.

"Baiklah, Ibu panggilin Dhezia dulu sebentar ya Citra." Bu Ratia meninggalkan ruang tamu, menuju kamar Dhezia dan mengetuk pintunya.

Tok!

Barusaja Bu Ratia mengetuk sekali sontak Dhezia membukakan pintu.

"Kak Zia, katanya kakak mau dibawa ke balai desa mengisi data warga yang baru pulang dari luar negeri, kakak mau tidak?" Bu Ratia bertanya pada Dhezia.

“Ya jelas mau lah buk, kalo Dhezia tidak ke Balai Desa sekarang maka hidup Dhezia akan hancur dibuat Allen nanti!” pekik Dhezia dalam hati.

Dhezia menatap mata ibunya sembari tersenyum agar ibunya tidak khawatir,

"I-ya tidak apa- apa bu, Dhezia sudah ganti baju, Dhezia berangkat sekarang ya bu, Assalamualaikum," pamit Dhezia pada Bu Ratia

"Kami pamit dulu ya bu," ucap Citra yang juga berpamitan pada Bu Ratia.

"Iya hati hati, sudah larut, nanti selesai mengisi data langsung pulang ya Kak!" kata Bu Ratia.

"Baik, buk," sahut Dhezia pada Ibunya.

***

Dhezia membonceng Citra menuju Balai Desa. Di kawasan Balai Desa terlihat beberapa orang yang tengah sibuk masing- masing. Ada Tim Satgas COVID Desa bambu yang terdiri dari beberapa Kepala Dusun dan Staff sedang asyik mengobrol di Ruang Staff. Adapula Tim Satgas COVID yang dikirim dari Semarang beranggotaan tentara muda itu tengah berada di Aula Balai Desa. Kawasan Balai Desa bambu masih sama. Persis dengan saat terakhir kali Dhezia menginjakkan kakinya ditempat itu sebelum Ia ke Amerika. Dhezia yang sudah sampai di Balai

Desa, tampak mencari keberadaan Allen.

"Biasanya mereka di Aula, Re." kata Citra pada Dhezia yang hanya diam memandangi Kawasan Balai Desa itu.

"Oh, iya," sahut Dhezia singkat.

"Oke, aku ke Ruang Staff dulu ya mau mengambil dokumen, kamu telfon aja Allen ada dimana," kata Citra pada Dhezia kemudian berlalu ke Ruang Staff.

Perpustakaan Desa. Ya, tadi Pria  itu menyuruh Dhezia untuk menemuinya di Ruang Perpustakaan Desa. Dhezia tampak berjalan menuju Ruang Perpustakaan yang tidak pernah dikunci pintunya selama ada Tim Satgas Covid di Balai Desa.

Sesampainya di depan perputakaan, Dhezia melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan. Dhezia berdoa agar ada orang lain disana yang sedang mencari arsip atau membaca buku, agar Allen menggagalkan syaratnya itu malam ini. Tetapi, takdir tak berpihak kepadanya, Dhezia tidak menemukan orang yang sedang membaca

ataupun mencari-cari arsip dokumen di perpustakaan itu. Kemudian Dhezia berjalan mengelilingi rak rak buku. Dan pandangan matanya terbelalak ketika melihat seorang pria tengah menunggu kedatangannya di sudut ruang perpustakaan itu. Allen!

"A-Allen?!" panggil Dhezia pada Pria itu.

"Lama!" jawabnya ketus.

"Ma-af tadi ganti baju dulu, basah soalnya," kata Dhezia menjelaskan.

"Ok. Yaudah sini cepet," Allen menarik pergelangan tangan Dhezia kearahnya.

“Gimana ini, gimana ini?” pekik Dhezia dalam hati.

Dhezia belum pernah mencium ataupun dicium sama cowok! Terakhir kali hanyalah adegan ia dipeluk oleh Gabriel, tidak ada Kiss Kiss seperti sekarang!

"Se-sekarang?!" Jantung Dhezia berdegup kencang.

Hanya ada Allen dan Dhezia di Ruang Perpustakaan itu. Ah, bagaimana bisa Allen menemukan tempat seaman itu? Sangat sepi!

"Iyalah sekarang, masa iya besok!" sahut Allen masih saja ketus.

"Yaudah merem dulu si jangan lihat, malu gue!" Dhezia berkata pada Allen.

Allen kemudian memejamkan matanya, menahan senyum di bibirnya mendengar gadis di depannya itu kesal karena tingkahnya. Allen tidak menyangka gadis di depannya itu mau- mau saja dikerjainnya.

Dan akhirnya-- Cup, Muach!!

Dhezia mendaratkan ciumannya di pipi kanan Allen. Kemudian buru- buru berlari meninggalkan ruangan. Sementara Allen masih terdiam terpatung di ruangan perpustakaan. Allen merasakan dirinya sedikit memanas akibat ulah Dhezia.

Allen kemudian mengirim pesan via Whatsapp kepada Dhezia yang barusaja berlalu meninggalkannya.

(“Thanks ya. Besok lagi!”)

Lalu Allen memencet tombol send.

***

1
Wati Watipristika
Luar biasa
suka_baca
ndak ada sequel kak?
Devi Handayani
aaahhhh... akhirnya nya the end😍😍😍😍
Devi Handayani
itu baru anak pintar👍👍🥰🥰🥰
Devi Handayani
ya Allah ga masuk angin neng...kok ya telanjang bulat gitu sih🤨🤨🤨🤨
Devi Handayani
ya ampun neng blom halal.....kok ya bisanya badanmu diobral untung Allen tabah dan tawakal klo ada setan lewat habis kamu neng Zia🫣🫣🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Devi Handayani
borong makanan mas'e😁😁😁😁
Devi Handayani
tadi ziazia.....kenapa sekarang jadi Rere 🤔🤔🤔
Rosalinda Dua mano
mba ko lama sekali upx.. seru ceritax
Tri Winarni
mana nih thor kok lama ngak up ditgg kelanjutannya🙏👍👍👍💪💪
Rosalinda Dua mano
mba up lagi yahh
Devi Handayani
PD bgt tuh si Novia.... kayak aliennya mau aja😏😏😏😏😏
Devi Handayani
wow... mari kita belajar pengetahuan umum bersama thorrr/Bye-Bye//Bye-Bye//Bye-Bye/
Devi Handayani
hayolohhh allen.... kamu ketauan/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Devi Handayani
aahh udah jatuh cinta kamu.... kenapa pelet bibirnya si allen yaa zia.... jadi ga bisa kelain hati lagi/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Devi Handayani
waduhh dingin dingin empukkk/Smirk//Smirk//Smirk//Smirk/
Devi Handayani
wiihh pasti tlp dari si tukang sosor/Slight//Slight//Slight/
Devi Handayani
dhezia tinggal binggung pilih tentara yg suka nyosor apa tuan muda yg dengan label polisi berkharisma/Slight//Slight//Slight//Slight/
Devi Handayani
lanjut thorr/Determined//Determined//Determined/
Devi Handayani
woww.... amazing kata kata terakhirnya/Sneer//Sneer//Sneer//Sneer/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!