NovelToon NovelToon
Cintai Aku Suamiku

Cintai Aku Suamiku

Status: tamat
Genre:Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: shanum

"Aku gak bisa cinta sama kamu, karena di hatiku masih ada orang lain. Aku minta, kamu gak berharap lebih sama pernikahan ini. Tunggu tiga bulan lagi, aku bakal bebasin kamu dari pernikahan ini."

Kalimat itulah yang terlontar dari bibir tipis Daffa pada malam pertamanya dengan Vania. Dia memang masih mencintai mantan istrinya, seorang wanita yang tak pernah ingin digantikan dengan siapa pun. Namun, ibunya justru menjodohkan Daffa dengan Vania, dan tak mampu untuk ditolak karena kondisi kesehatannya.

Akankah Vania bertahan dalam pernikahan tanpa cinta? Atau, dia justru rela diceraikan ketika pernikahan sudah berusia tiga bulan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shanum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kemarahan

Pada akhirnya, dokter pun menyerah untuk memeriksa Vania dan hanya memberikan obat saja. Alya sudah menjelaskan kondisi dari kakak iparnya melalui sambungan telepon, dokter membawakan apa diperlukan.

Daffa terus saja mencegah tangan dokter ketika hendak memeriksa, bahkan saat ingin memeriksa nadi pada pergelangan tangan pun, ditepis segera olehnya dengan berkilah takut dokter tertular demam juga.

Bagas tak hentinya membuang napas panjang serta menggelengkan kepala, melihat tingkah dari putranya yang bertolak belakang dengan apa dikatakan, beberapa waktu sebelumnya.

Surat cerai tertinggal di karpet disimpan olehnya, setelah mengantarkan dokter bersama Alya. Sementara Daffa, lelaki itu menjaga Vania seorang diri di dalam kamar.

Memaksa kedua mata untuk terjaga, walau sudah terlalu kuat rasa kantung menyerang dirinya. Daffa terus berusaha merawat dengan sangat baik, merasa bersalah atas kondisi yang disebabkan oleh dirinya.

Andai gak menarik Vania ke tengah hujan, mungkin kondisinya akan tetap baik-baik saja. Tapi, semua telah terjadi dan Daffa merasa sangat bertanggung jawab.

Hingga pagi ini, lelaki itu masih berada di dalam kamar bersama Vania, tanpa sekalipun mengarungi mimpi semalaman. Suara santai terdengar dari luar, dijawab oleh Daffa untuk mengizinkan masuk.

"Gimana kondisi Nia, Sayang?" tanya wanita yang sengaja membawakan bubur juga teh hangat untuk menantunya.

"Udah mendingan, Ma. Semalam habis Daffa paksa minum obat, keringatnya keluar semua dan sekarang udah dingin." Jawabnya.

"Syukurlah kalau gitu," lega Santi. "Di depan ada bu Rina, papa yang hubungi dan kasih tau kalau Nia sakit, manggil-manggil namanya."

Lelaki yang semalaman duduk di sofa itu mengangguk, ia izin ke kamar mandi untuk membersihkan wajah sejenak. Bagas emmang menghubungi ibu kepala panti, karena tahu jika Vania terus menyerukan namanya.

Pagi-pagi juga, wanita yang telah menganggap Vania anak kandung itu langsung datang, ingin untuknya bisa melihat kondisi Vania langsung.

Namun, wanita yang kini ditemani oleh Bagas itu tak dapat menemui, ketika dia tahu bersama siapa Vania sekarang. Santi sendiri memberanikan diri, karena dirinya merasa cemas pada kondisi sang menantu.

Dia mendengar tentang Vania semalam, tapi Bagas melarang untuk segera melihat. Pagi ini, ia memasakkan bubur dan membawakan ke kamar, mendekat pada ranjang dan menyentuh kening menantunya.

"Ma?" tegur Vania lirih, merasakan sentuhan pada kening dan terbangun.

"Pagi, Sayang. Gimana badan kamu sekarang?" lembut Santi, duduk di tepi ranjang.

Vania menarik tubuh sedikit, hendak menjawab tapi tenggorokannya terasa sangat kering. Santi seolah mengetahui, cepat ia mengambilkan minum dan membantu Vania minum, setelah lebih dulu membantunya duduk bersandar pada bantal ditumpuk.

"Nia udah enakan kok, Ma. Maaf kalau ngerepotin," ucapnya.

"Ngerepotin apa? Kamu anak mama juga, di sini keluarga kamu, Nia. Gak ada kata negrepotin kalau sama keluarga."

Vania bergeming sesaat, kata keluarga itu membuatnya kembali bersedih, teringat akan perceraian yang sudah disepakati bersama suaminya.

"Ma, boleh kalau Nia nginep di panti? Nia kangen sama anak-anak di sana," katanya.

"Mau ngapain?!" suara Daffa menyela, keduanya menoleh bersamaan. "Mau ngapain nginep di sana?! Emang di rumah ini kenapa?! Kamu gak betah?!" cecar Daffa tegas.

"Kalian omongin berdua aja, mama keluar dulu." Santi berpamitan, tak nyaman ketika tahu wajah tidak suka dipasang oleh Daffa tanpa ragu.

Vania tertunduk mencengkeram tangan di atas pangkuan, suara Daffa yang seperti itu selalu saja berhasil membuatnya takut. "Aku cuma gak mau kalau mas yang antar, itu bisa bikin ibu sakit hati. Biar nanti aku juga yang jelasin pelan-pelan ke ibu." Lirihnya.

"Kamu belum sembuh beneran, jadi tetep di rumah!" tegas lelaki sudah berdiri di samping ranjang.

Vania menggelengkan kepala. "Aku gak bisa tinggal di sini lagi, Mas. Kita juga udah—," terpotong kalimat ingin mengingatkan tentang surat cerai.

"Oke, fine! Kamu bisa pergi sekarang juga! Kebetulan, ibu ada di sini sekarang, jadi kamu bisa pergi langsung sama ibu ke panti! Aku bantu kemasin pakaian kamu, Nia!" tegas Daffa.

"Tapi, kamu harus inget ini, Nia! Sekali kamu pergi dari rumah ini, kamu gak akan pernah bisa buat balik lagi! Inget itu!" peringkatnya menambahkan.

Vania menaikkan biji mata, terlebih dulu mengumpulkan keberanian. "Aku tau, Mas. Mungkin, emang itu yang terbaik buat kita semua."

Daffa tersenyum smirk, mendengar jawaban dari Vania. "Kamu emang gak pernah beneran cinta sama aku, Nia! Semuanya cuma omong kosong!"

Vania tak mengerti, mata dan wajah memasang kebingungan. Lelaki itu terlihat marah, padahal Vania hanya menuruti semua diinginkan semalam untuk berpisah.

Hanya saja, Vania tidak ingin membuat keluarganya di panti asuhan sakit hati dan merasa terhina. Akan lebih baik kalau ia pulang sendiri, dan menjelaskan secara perlahan nanti. Namun, kini justru semua terlihat salah.

"Apa maksud, Mas?" tanyanya memberanikan diri.

"Apa maksud aku?! Udah jelas, Nia! Kamu emang gak pernah cinta sama aku, dan kamu mau pergi ke panti biar bisa bebas, iya kan?! Kamu mau ketemuan sama cowok yang kemarin, terus kencan dan gak perlu ada yang larang atau halangi kalian! Iya kan?!"

"Oh, sekarang aku ngerti! Selama ini kamu masang wajah polos, nunggu sampai aku ngelepasin kamu dan kamu bisa bebas sama dia, iya kan?! Itu cuma biar kamu kelihatan gak salah, kelihatan kalau kamu perempuan baik-baik, dan aku yang salah udah nyia-nyiain kamu, gitu?! Hebat kamu, Nia! Aku gak nyangka kalau kamu sebusuk ini!"

"Mas, aku gak pernah ada pikiran kayak gitu sama sekali. Mas sendiri yang mau buat aku tanda tangan semalam, mas juga mau aku pulang ke panti. Kenapa sekarang mas jadi ngomong kayak gini ke aku?"

"Aku cuma mau nguji kamu, nguji perasaan kamu ke aku! Tapi, ternyata semua cuma palsu! Pergi aja, gak ada yang halangi kamu sama sekali!"

Daffa terlihat begitu murka, ia berbalik badan dan pergi meninggalkan kamar, membanting kasar pintu. Vania terangkat kedua pundak, terkejut dengan suara kencang ditimbulkan.

Begitu pula dengan mereka yang ada di ruang keluarga, mengalihkan perhatian pdny yang berteriak memanggil asisten rumah tangga. "Bibi!" teriak Daffa, bergegas bi Marni berlari mendekat.

"Iya, Den?" jawabnya sedikit gemetar.

"Kemasin semua barang-barang Vania, dan bawa ke sini!" kata Daffa.

"Ba-baik, Den!" membungkuk bi Marni, lekas pergi.

Daffa memejamkan kedua mata, tangan berada pada pinggang. Menghirup semua oksigen dalam ruangan, namun itu tak berhasil membuat dada sesaknya terasa lebih lega.

Santi mendekati putranya, menyentuh lengan dan memancing perhatian dari putranya. "Kenapa sih marah-marah gitu? Ada apa?" lembutnya bertanya.

Daffa membuang kasar napas, mata menoleh pada ibunya. Tapi, pandangan itu terhenti pada seseorang yang tanpa sengaja tertangkap mata, mengepal kedua telapak tangan Daffa kuat.

"Dasar kurang ajar!" geramnya, berjalan lebar untuk menghampiri Arif, yang memang mengantarkan bu Rina pagi ini.

...Terima kasih banyak sudah baca....

1
Lenika Ariska Milala
ktNy end... tpi kok gk ada lanjutany,,
Isti Rahayu
kenapa sih bilang cinta aj susah .emang cintanya cuma buat Nessa yg udah jdi tanah bawa tu cintamu Dafa Sampek ke liang lahat kenapa Dafa gak ikut masuk kubur aj kalo cinta mati .untung ketemu istri yg berhati emas seperti Vania bisa terima apa adanya😱
Anneke28 Annetje
ceritanya sdh tamat ya kak ke ingin vania berubah apa tdk ada ke lanjutannya ceritanya bagus lo
Rudi Yanto
bacakan
Nun Umshar
sellu is the best
Wati_esha
Terima kasih informasinya.
Omi Rohimah Omi
Luar biasa
Grace Kristianti
lanjut Kak ceritanya bagus, Maaf bintangnya baru dikasih
Rosikh Nurhayati
semangat thor,,
Rosikh Nurhayati
ngakak banget
Rosikh Nurhayati
sukaa tp gengsian
Rosikh Nurhayati
sediiiih
Rosikh Nurhayati
haduhhhh amit2
Ani
banjirrrrr air mata q
Ilham Risa: Hai kak, mampir yuk ke novel aku "Tentara Itu Ayah Dari Putraku" makasih kak🙏
total 1 replies
Tri Soen
Woalaaaah Dafa bilang nya gak cinta sama Vania tapi kok bisa2 nya cemburu gitu 😂
Tri Soen
Apa sich mau nya Daffa ...mau nya marah2 trs je Nia ...ntar darting lho 🤭
Yeti Budiawati
bagus ceritanya, di tunggu kelanjutannya 👍👍👍😘😘😘😘😘
Yati Maryati
keren banget
Yati Maryati
Daffa udah mulai bucin
kasian yang namanya Arif jadi sasaran hehehe
Poni Puspasari
Lanjutttt Thorrrrrr..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!