Qilla, gadis ceroboh yang kabur ke Jogja karena menolak perjodohan yang digagas oleh ayahnya, Dion. Pada saat itulah, ia bertemu dengan pemuda bernama Arvin Narendra seorang pengusaha muda yang perfectsionis yang juga sedang melarikan diri dari masalah yang sama.
Keduanya kemudian sepakat untuk menjalin kasih. Bagaimana kisah cinta keduanya akan bermuara, jika alasan keduanya menjalin kasih hanya karena ingin berciuman?
Follow akun
=> fb : Samudra lee
=> Ig : samudra_lee_19
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samudra lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar baru
"Sial! Kenapa dia sudah datang sebelum aku pergi sih?" Arvin mengumpat dalam hati.
"Dari mana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Arvin dengan wajah tanpa ekspresi.
Wanita yang baru saja datang itu langsung memeluk Arvin dan memperdulikan pertanyaan dari Arvin barusan.
"Din, tolong lepaskan aku!" suruh Arvin, kali ini sikapnya lebih dingin dari sebelumnya.
"Tidak! Aku tahu kamu hanya marah padaku, kamu tidak benar-benar membenciku," ucap Nadin dengan pede-nya.
"Apa maksudmu?"
"Kamu ke Jogja karena kamu tahu aku ada pekerjaan di Jogja juga kan?" tanya Nadin sambil tersenyum.
"Jadi, kemarin itu menejernya si Nadin beneran sedang mengurus pekerjaan Nadin di sini?" batin Arvin.
"Kalau aku tahu dia ada pekerjaan di kota ini, aku tidak akan datang ke sini," sesal Arvin yang lagi-lagi hanya dikatakan dalam hati.
"Ar, aku tahu kamu masih mencintaiku. Aku janji, aku tidak akan melakukan hal apa pun lagi yang tidak kamu sukai. Aku janji tidak akan lagi mengkhianatimu," ucap Nadin dengan senyum yang terus tersungging di bibirnya.
Arvin menjauhkan tubuh Nadin dari dirinya, dia berjalan mendekat ke arah Ira kemudian merangkul bahunya.
"Sepertinya kamu sudah salah paham, Din. Seperti yang pernah aku katakan padamu sebelumnya bahwa perasaanku padamu sudah hilang tepat di hari yang sama saat aku memergokimu berselingkuh. Jadi, terimalah itu."
"Ar, aku tahu kamu bohong. Aku tahu kamu masih mencintaiku."
"Kau tidak lihat siapa gadis yang sekarang sedang bersamaku?" Kali ini Arvin menjadikan Ira sebagai tameng.
"Aku tahu, kamu sengaja mengatakan itu agar kamu bisa menghindariku kan?"
"Kamu salah! Aku di sini memang sengaja menghabiskan waktu untuk berdua dengannya di sini di kota ini," jawab Arvin.
"Tidak! Aku sangat yakin kalau kamu masih mencintaiku."
"Namanya Ira, dia kekasihku." Tanpa memperdulikan Nadin, Arvin memperkenalkan Ira sebagai kekasihnya.
"Kamu bohongkan? Kamu sengaja mengatakan itu agar aku tidak mengharapkanmu lagi kan? Kamu salah, Ar. Aku akan tetap berusaha untuk mendapatkanmu kembali." Nadin masih kekeh dengan keyakinannya bahwa Arvin masih mencintainya.
"Terserah jika kamu tidak percaya. Yang jelas sekarang ini dia adalah kekasihku dan kami sudah tinggal bersama," ucap Arvin yang memperkenalkan Ira sebagai kekasih barunya.
"Pak kenapa Bapak harus bilang kalau kita sudah tinggal bersama sih?" protes Ira dengan suara yang hanya bisa didengar oleh Arvin.
"Sudah diam saja!" suruh Arvin dengan suara yang sama pelannya.
"Kamu bohong kan, Ar?" sekali lagi Nadin bertanya. "Aku tahu kamu hanya menjadikan wanita itu pelarianmu, iyakan?"
Keributan itu menjadi perhatian dari beberapa pengunjung restoran.
"Kalau wanita ini tidak pergi juga, bisa-bisa akan semakin banyak orang yang memperhatikan kami," batin Ira ketika mengetahui mereka mulai menjadi pusat perhatian pengunjung restoran mewah itu.
"Mbak Nadin. Mbak Nadin masih memiliki harga dirikan?" tanya Ira sambil menatap Nadin.
"Apa maksudmu?"
"Kalau Mbak Nadin masih memiliki harga diri, Mbak Nadin tidak akan memaksakan diri hingga seperti ini." Nadin menatap Ira.
"Mbak sudah dengarkan dari pacarku ini kalau dia sudah tidak memiliki perasaan apa pun kepada Mbak Nadin, tetapi kenapa Mbak Nadin masih memaksakan diri? Bukankah itu terlalu lucu?" ejek Ira.
Nadin mengepalkan tangannya.
"Pergilah, Mbak. Jangan pernah mengganggu pacarku lagi!"
Nadin dan Ira sama-sama memberikan tatapan tajamnya. Mereka seolah benar-benar sedang memperebutkan satu laki-laki.
"Din, lebih baik kita pergi dari sini!" bisik menejernya, dia menarik artisnya itu agar meninggalkan restoran.
suka banget deh pokoknya..
bener2 dibuat ngakak pas bab2 awal tentang kecerobohan Qilla yg bikin Arvin pusing tapi akhirnya malah ngangenin.. 😁
pas bab konflik, rasanya ikutan tegang n deg2an..
ternyata tebakanku salah tentang dalang penculikan.. 😅
sedikit saran aja ya kak, diperhatikan lagi tentang waktu (usia para tokoh2) biar nyambung sama novel lain yg masih ada korelasinya..
kan klo g salah, Qilla ma adeknya jarak 5 tahun dan sebaya ma anak2 Keenan dan Tama, kan hamilnya barengan..
jadi harusnya klo Qilla umur 20 tahun berarti mereka umurnya 15 tahun.. tapi di akhir2 cerita itu Dita masih umur 10 tahun, padahal udah ketambahan Qilla kuliah 3 tahun klo g salah..
mohon pencerahannya, takut saya yg salah baca dan sepertinya saya bacanya tidak sesuai sama urutan novel2 itu dibuat.. 🙏🏻
anyway apapun itu, aku tetep suka banget sama semua karyamu.. 😘
tetep semangat ya kak, g usah dengerin komen negatif (klo ada) dan terakhir semoga sehat selalu.. 💪🏻🥰
apa aku salah baca urutan novel yg kakak buat yah? 😁